Merdeka dan Budak Cinta


Tak terasa di akhir Agustus ini, kita baru saja memperingati hari jadi negeri +62 bernama Indonesia. Tanah air tempat saya tinggal kurang lebih 35 tahun ini.

Apa yang dibayangkan saat mendengar kata merdeka?

Bebas.

Tak ada penjajahan.

Punya hak berdaulat.

Dan sebagainya.

Iya, semuanya sah-sah saja mengartikan apa itu merdeka. Tapi, kalau merujuk pada pemikiran kita sebagai muslim, maka 

merdeka itu bebas dari segala penghambaan kepada sesama manusia atau apapun, selain kepada Allah SWT. 

Ada istilah bucin, budak cinta katanya. Maka, sebenarnya cuma Allah yang berhak kita bucin-in. Bener, nggak?

Tapi kenyataannya memang banyak yang mengalihkan ekspresi ke-bucin-an ini kepada selain Allah, mungkin, mungkin loh ya, bisa jadi termasuk saya, temen-temen, dan kita semua. 

Misalnya, saat kita begitu mengagungkan kecintaan kita kepada anak-anak, keluarga, harta, sampai kehidupan fana bernama dunia. Allah sebutkan sebenarnya dunia tak lebih dari seorang musafir yang sedang dalam perjalanan, lalu berteduh di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya. 

Ya Allah, sesederhana itukah?

Keterikatan kita pada dunia, harusnya sesederhana itu. 

Tapi, dalam hal mencari bekal terbaik untuk kembali ke jalan pulang yang sebenarnya, tentu tak sesederhana itu. Harus dipikirin, karena kita nggak bisa berbalik arah.

Itulah kenapa menyiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang lebih panjang, penting banget untuk dipikirkan.

Sempat terbersit, kalau saya dan keluarga sudah bisa hidup dengan lebih baik, sehat lahir batin, punya pekerjaan yang cukup untuk menopang aktivitas keseharian, lalu sekali-kali pergi traveling untuk sekedar refresh, kemudian kembali melanjutkan aktivitas, apa iya berarti aman-aman saja?

Nyatanya, memang nggak ada yang benar-benar aman. Karena kita belum merdeka dalam arti sebenarnya. Di luar sana, kalau kita coba untuk bumbata alias buka mata, buka hati, dan buka telinga, banyak orang-orang yang tak seberuntung kita.

Mulai dari bayi yang tak tahu orangtuanya siapa, anak-anak dari keluarga broken home yang kecemplung ke dunia remaja yang serba bebas, sampai pada akhirnya terlibat narkoba karena penasaran, harus menanggung Married by Accident dan membuang bayinya, sampai persoalan janda miskin, anank-anak terlantar, dsb dsb lainnya. 

Apa iya kita bakal tutup mata?

Seharusnya kita juga menunjukkan cinta pada mereka alias jadi "bucin", karena mereka makhluk Allah juga. Seharusnya sama-sama kita bisa ber-amar ma'ruf nahi munkar sehingga semuanya itu nggak terjadi.

Tapi, dipiki-pikir lagi, sekuat-kuatnya kita menjaga dan membentengi keluarga dan lingkungan kita dengan let say membentuk komunitas dan memulai gerakan sosial, apa mampu membendung influence dari luar yang makin hari makin kayak bola salju ini?

Arrrgghh, rasanya nggak mungkin!

Itulah kenapa, saya pribadi sih, dan temen-temen mungkin ada yang sependapat, bahwa sejatinya : KITA BELUM MERDEKA. 

Kita masih terjajah oleh sistem yang mengungkung, yang arusnya begitu kuat untuk menarik kita kembali ke dalam pusaran hedonnya. Dialah kapitalisme. Ideologi yang semuanya hanya diukur dari materi semata. Semuanya dilakukan atas dasar uang, perut dulu euy, urusan lainnya belakangan! Apalagi urusan moral dan masa depan generasi yang belum jelas asal usulnya. Astaghfirullah.

Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah Refleksi tentang Arti Merdeka... . . Hawa dingin menyeruak lewat jendela dan ventilasi udara, yang kuingat ini hari Selasa. Ternyata salah, ini hari Senin. Hanya tanggal dengan angka 17 yang kuingat, maklum lagi di rumah aja. . . Kata orang, ini hari kemerdekaan. Sejenak aku merenung, merdeka dari apa? . . Bukankah sejatinya merdeka adalah lepas dari segala macam penghambaan selain kepada Allah ta'ala pastinya? . . Lantas, bila banyak dari kita masih berharap pada manusia, apa benar kita sudah merdeka? . . Memang, sudah tak ada lagi istilah hamba sahaya, sudah tak ada lagi penjajahan secara fisik yang nyata. Namun, dibalik itu semua, nyatanya banyak hal hanya berganti kemasan. Lalu, semuanya juga terikat atau diikat pada sebuah sistem buatan manusia, bukan buatan Allah ta'ala. Apa itu? Capitalism. . . Yakin kita sudah merdeka bila kita tak melepas penghambaan pada sistem buatan manusia? . . Ini hanya sebuah refleksi tentang arti merdeka 🇮🇩 . . 📝 🎙️📷 @pritahw 🎥 @teh_enung_ . . #hutri75tahun #harikemerdekaan #dirgahayu75th #artimerdeka #refleksimerdeka #merdekasebenarnya #kitabelummerdeka #notespritahw #kelasinstagramtji8

Sebuah kiriman dibagikan oleh Prita HW | Blogger Speaker (@pritahw) pada


Sistem yang dibawa para kafir penjajah dulu ini, masih terus kita pakai hingga saat ini. Hukum jual beli, norma sosial, pendidikan, kesehatan, dsb masih keukeuh pakai hukum kolonial buatan manusia yang lemah. 

Dimana peran Islam?

Baca Juga :

Kegemilangan Peradaban Islam di Masa Lalu, Kenapa Tak Terulang?

Ini yang Perlu Kita Tahu


Ia dianggap hanya agama ritual, yang tak pantas mencampuri urusan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Betapa berkhianatnya kita pada Allah dengan janji bersaksi atas keesaan-Nya namun tidak menuruti aturan yang seharusnya kita emban juga. 

Di momen merdeka ini, pas banget jika kita kembali merenung, sudahkah kita merdeka dari penghambaan kepada sistem yang dibuat oleh manusia?

Sudah waktunya kita kembali pada sistem Islam yang sempurna (kaffah) supaya kesempurnaan dan kemuliaan hidup bisa kita rasakan. Karena kebahagiaan bagi seorang muslim, bukan tentang materi, tapi ridha Allah semata. 


- Wassalam - 

   

Prita HW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar