Kegemilangan Peradaban Islam di Masa Lalu, Kenapa Tak Terulang? Ini yang Perlu Kita Tahu



Saat ini, saya sedang asik membaca buku tentang Asyiknya Belajar di 5 Benua yang merupakan pengalaman 20 penulis tentang pendidikan dasar di 18 negara yaitu di Amerika Serikat, Australia, Belanda, Czechia (Republik Ceko), Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Korsel, Malaysia, Mesir, Singapura, Spanyol, Swedia, Taiwan, Turki, Uni Emirat Arab, dan Finlandia. 

Terkagum-kagum sudah pasti saya rasakan saat membaca lembar demi lembar halaman. Program-program yang asik, membebaskan, memanusiakan manusia, ah banyaklah metode apresiatif yang mempersiapkan peserta didik menjadi leader, bukan sekedar worker. 

Wah, enak banget ya sistem pendidikan di luar Indonesia...

Kapan ya, Indonesia bisa begitu...

Ini gumaman-gumaman kecil yang terus menerus berulang. Sampai akhirnya, saya jadi desperate sendiri dan semakin penasaran. 

Kalau misalkan dunia barat saja bisa punya sistem pendidikan seperti itu, siapa ya rujukan mereka. Apa mungkin dari peradaban Islam?

***

Bangsa Romawi dan Yunani pasti sudah tak asing lagi di telinga kita. Peradabannya disebut-sebut sebagai masa peradaban emas, katanya. Tapi, tahukah temen-temen bahwa ada satu peradaban agung yang kerap dilupakan dalam sejarah? Atau sengaja kita dibuat amnesia karenanya.

Kali ini, coba kita lihat dulu video pendek yang menggugah ini :




Gimana? Masyaa Allah, merinding saya dibuatnya. Ternyata, selama ini kita dilupakan atau sengaja dibuat lupa betapa Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Buktinya tercatat dalam sejarah, tapi sayangnya tak pernah dikabarkan secara gamblang dalam dunia pendidikan kita di Indonesia yang notabene masyarakat muslimnya terbesar di dunia. 

Kita malah asik masyuk mengenal tokoh-tokoh barat seperti Aristoteles, Newton, Darwin, Wright Bersaudara, dan berbagai nama yang bahkan banyak diabadikan sebagai nama-nama ruang kelas saat saya duduk di bangku kuliah.

Padahal, sebutlah satu contoh pada tokoh Isaac Newton yang terkenal dengan teori Fisikanya. Fakta dalam sejarah mengatakan, Newton sendiri baru membahas tentang teori lensa mata 700 tahun setelah Ibnu Al-Haitsami, seorang yang meneliti dan menuliskan teori-teori tentang mata dan optik dalam kitabnya, Al Manazhir, pada tahun 1000 M. 

Jim Al Khalili, profesor Fisika dari Universitas Surrey, UK, berujar, "Sebenarnya, dalam bidang optik, Newton sebetulnya hanya berdiri di pundak raksasa seorang ilmuwan yang hidup tujuh ratus tahun lebih awal dari padanya". Hal ini disampaikan dalam acara The Empire of Reason yang ditayangkan BBC pada tahun 2010.

Pun, kalau kita bicara tentang revolusi industri yang sering digaungkan akhir-akhir ini. Revolusi industri yang ditandai dengan penemuan mesin-mesin baru dan memudahkan pekerjaan manusia di sisi lain (selain menggantikan fungsinya), ternyata jauh lebih dulu terjadi di dunia peradaban Islam.

Revolusi sejenis pernah terjadi, khususnya dalam hal revolusi pertanian yang terjadi paralel dengan berbagai penemuan lainnya. Sebut saja seperti mesin-mesin giling, teknologi irigasi, alat-alat prediksi cuaca, peralatan mempersiapkan lahan, pemupukan, pengendalian hama, pengolahan pasca panen, hingga manajemen perusahaan.

Siapa saja ilmuwan yang muncul di masa revolusi pertanian atau "industri" di zaman terdahulu?

Kita bisa melihat sosok Ahmad ibn Dawud  Dinawari (828-896 M) yang menulis Kitab Al-Nabat dan mendeskripsikan sedikitnya 637 tanaman sejak awal tanam, mengkaji aplikasi astronomi dan meteorologi untuk pertanian, seperti posisi matahari, angin, hujan, petir, sungai, mata air. Ia juga mengkaji geografi dalam konteks pertanian, seperti bebatuan, pasir, dan tipe-tipe tanah yang cocok untuk jenis tanaman tertentu.

Atau pada sosok Abu Bakr Ahmed ibn 'Ali ibn Qays al-Wahsiyah (sekitar 904 M) yang menulis Kitab al-Falaha al-Nabatiya yang mengandung 8 juz yang kelak merevolusi pertanian. Diantaranya tentang teknik mencari sumber air, menggalinya, dan menaikkannya ke atas. Dunia barat menyebut teknik ini dengan nabatean agriculture.

Di tahun 1206 M, al-Jazari menemukan varian mesin air yang bekerja otomatis. Berbagai varian mesin buatannya itu masih eksis hingga saat ini, terutama saat mesin digerakkan dengan uap atau listrik.

Dan pada abad ke-13, Abu al-Abbas al-Nabati dari Andalusia mengembangkan metode ilmiah untuk botani, mengantar metode eksperimental dalam menguji, mendeskripsikan, dan mengidentifikasi berbagai materi hidup, dan memisahkan laporan observasi yang tidak bisa diverifikasi.

Berlanjut, Ibnu al-Baitar (wafat pada 1248 M), mempublikasikan Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada. Kitab ini merupakan kompilasi botani terbesar selama berabad-abad dan memuat sedikitnya 1400 tanaman yang berbeda, makanan, dan obat yang 300 diantaranya adalah penemuannya sendiri. Ia juga meneliti anatomi hewan dan merupakan bapak ilmu kedokteran hewan, sampai istilah Arab untuk ilmu ini menggunakan namanya. 

Kegemilangan Peradaban Islam yang Perlu Kita Tahu

Tak mengherankan, dengan sejumlah daftar ilmuwan luar biasa yang hanya beberapa sudah disebutkan itu, Islam identik dengan cerdas, pintar, kaya, hebat, keren, tinggi, bersih, maju, dan mulia. Ibarat mercusuar yang menerangi dunia dengan kemajuan sainstek, begitulah Islam. Siapapun akan gentar ketika berkenalan dengannya. Masyaa Allah 😍

Kemegahan peradaban Islam terlihat pada negeri-negeri Islam seperti Baghdad yang sudah berpenduduk 1,1 juta jiwa pada tahun 932 M. Ini merupakan hasil penelitian Tertius Chandler pada tahun 1987. 




Di Baghdad sendiri, dengan banyaknya insinyur muslim yang merintis teknologi irigasi maupun mesin giling, mampu menghasilkan 10 ton gandum setiap hari pada abad ke-10! Berbagai revolusi pertanian di zaman itu mampu mengakselerasi hasil panen hingga 100 % di tanah yang sama. 

Tak hanya di Baghdad, di Kairo pun saat masa Khilafah Abbasiyah berhasil menjadi kota terbesar pada tahun 1325 M. Pun yang terjadi dengan Istanbul yang merupakan ibukota Khilafah Utsmaniyyah pada tahun 1650 M. 

Menurut penjelajah Spanyol, Cristobal de Villalon, saat kekuasaan Sultan Suleyman Al-Qanuni, populasi pada tahun 1550 M, berjumlah lebih dari 500 ribu jiwa. Sedangkan di tahun yang sama, Tim Lambert, memprediksi populasi London di daratan Eropa hanya sekitar 120 ribu jiwa saja. 

Populasi yang sedemikian ini tentu membutuhkan sarana prasarana serta fasilitas yang mumpuni di bidang pendidikan. Tak mungkin lahir berbagai ilmuwan cemerlang tanpa majlis-majlis atau forum-forum yang tumbuh di lingkungan pendidikan.

David W. Tschanz, seorang pakar sejarah mengatakan bahwa pada akhir abad ke-10 M, Cordoba di Spanyol memiliki 70 perpustakaan (satu diantaranya memiliki 400-500 ribu jilid buku) dan 300 masjid (Print edition of Saudi Aramco World, 2011, p. 34-39). Tak mau ketinggalan, Perpustakaan Darul Ilmi Kairo di abad yang sama juga memiliki koleksi 2 juta buku dengan jumlah 18 ribu judul. Dan, Perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad memiliki koleksi ratusan ribu buku.

Itu baru perpustakaan. Bagaimana dengan madrasah dan universitas? Al-Qarawiyyin, tercatat sebagai universitas pertama di dunia pada tahun 859 M di Morocco. Sedang madrasah tumbuh subur. Tercatat pada abad ke-13, Baghdad memiliki 30 madrasah yang masing-masing dilengkapi perpustakaan. Di Damaskus, terdapat 150 madrasah yang juga dilengkapi perpustakaan.

Sementara itu, Eropa baru memiliki universitas pertama di tahun 1160 M di Paris. 

Sampai disini, saya menghela nafas panjang. Bukan karena apa-apa, tapi karena dada meletup-letup dengan kobaran yang menyala-nyala. Sedemikian hebatnya Islam! Islam begitu menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan menganjurkan kita (umat muslim yang digariskan sebagai umat terbaik di dunia) untuk terus menuntut ilmu.

Seperti firman Allah dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Lalu, muncul pertanyaan besar dalam diri, yang sekaligus mengawali saya untuk berhijrah sebagai titik balik yang kedua dalam hidup :

Mengapa dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang sedemikian rupa, umat Islam saat ini tak mampu mengulangi masa kegemilangan Islam terdahulu?

Akankah Terulang Kembali? 

Apa yang kita bayangkan saat mendengar kata Islam di masa kini? Bahkan kejadian terkini yang kita temui sehari-hari di negeri kita tercinta. Islam identik dengan stigma teroris, ekstrimis, radikal, dan kata lain yang lebih sarat dengan label negatif. Umat muslim asing dengan ajarannya sendiri. Muncullah istilah Islamophobia.

Supaya kita ga terkena virus Islamophobia, anti biotiknya sebenarnya simpel. Berilmulah sebelum berkata dan berbuat, apalagi menyiarkannya. Deraslah Al-Qur'an, As Sunnah, kitab-kitab Tarikh (sejarah), dan berdiskusilah dengan orang-orang terpercaya di bidang yang dikuasainya. Think before action.

Sejarah peradaban Islam yang begitu tinggi tak layak hanya jadi lembaran sejarah yang bahkan kita kenal saja tidak. Ia tak layak hanya jadi kenangan. Sejarah dapat terulang asalkan kita menggunakannya sebagai pijakan untuk berbuat di masa mendatang. 

Dari fakta sejarah jugalah, terjawab pertanyaan : KENAPA umat Islam saat ini menjadi "terbelakang" dengan kemajuan sainstek yang begitu pesat.

Ternyata ada 3 pilar yang bila ketiganya terwujud, maka Islam tetap akan memimpin dunia seperti sedia kala. Apa itu?

Pilar pertama : individu yang bertakwa pada Allah

Pilar kedua : masyarakat yang berdakwah ('amar ma'ruf nahi munkar)

Pilar ketiga : pilar negara yang menerapkan syariah



Kalau menurut temen-temen, pilar mana yang belum kita miliki? Pilar pertama dan kedua tentu sudah banyak kita temui. Banyak gelombang hijrah yang makin menjamur dan membawa dampak positif. Pun bermunculannya majlis-majlis dan komunitas-komunitas yang berdakwah secara offiline maupun online. 

Bagaimana dengan yang ketiga? Sudahkan sistem ekonomi, politik, sosial budaya, hankam, pendidikan menerapkan dasar hukum Al-Qur'an dan As Sunnah sebagai hukum tertinggi? Karena pada dasarnya, Islam bukanlah persoalan ibadah ritual semata, Islam adalah ideologi atau way of life. 

Pilar ketiga akan membuat syari'at Islam diterapkan secara menyeluruh (kaffaah) dalam berbagai aspek kehidupan. Seperti halnya revolusi industri pertanian di Baghdad, tak sekedar soal sainstek semata. Revolusi itu ditunjang berbagai hukum pertanahan Islam yang memungkinkan orang yang membuat tanah produktif mendapatkan insentif. Tanah tidak dimonopoli kaum penguasa dengan mental "penjajah". Negara juga ikut menyebarkan informasi teknologi pertanian sampai ke para petani di pelosok-pelosok. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]

Jadi, apakah sejarah akan berulang? Insyaa Allah ketika umat bersatu dan menerapkan syari'at Islam secara sempurna (kaffaah) dalam naungan Khilafah Islamiyah, disitulah kegemilangan peradaban tidak hanya terjadi di masa lalu, tapi juga hari ini dan masa mendatang. Wallahu a'lam.

Saya kembali menekuri lembar demi lembar halaman buku ragam pendidikan di 5 benua. Kali ini, saya sudah mendapat jawaban, dari mana rujukan dunia barat yang dianggap maju itu berasal. Islamlah muaranya.


Referensi :

Media Umat, Edisi 222, 29 Syawal-13 Dzulqaidah 1439 H/13-26 Juli 2018
Khilafah Remake, Felix Siauw, Al Fatih Press, Jakarta : 2014
http://www.assunnah.mobie.in/artikel/islam_kaffah



Wassalam





Prita Hw

4 komentar:

  1. Pilar ketiga juga mulai nampak perlahan-lahan sih mbaa
    Moga2 anak2 kita bisa jd bagian d dlmny
    Berkontribusi untuk kmajuan islam
    Mngembalikan kjayaan islam
    Aamiin

    BalasHapus
  2. Wah izzah jadi ingat dulu pas di ma Ada pelajaran sejarah kebudayaan Islam. Sampai dulu izzah buat imajinasi minjam pintu doraemon izzah pribadi ingin merasakan hidup di masa-masa itu. Penasaran bagimana orang Islam bermasyarakat dengan non agama Islam. Hehe coba saja klo semua orang tua memasukkan pendidikan anaknya ke MA atau Pesantren pasti akan tahu sejarah itu hehehe

    BalasHapus