Cerita Kehamilan 42 Minggu 2 Hari yang Melebihi HPL itu Bernama Tangguh



“Hm, sudah post date 42 minggu lebih 1 hari, riwayat KET (kehamilan ektopik), bayinya besar, tinggi badan 147 cm, usia 32 tahun, kalau saya sih sudah pasti saecar”, itu kata-kata dokter SpOg yang saya temui saat USG ketiga kalinya di usia kandungan 42 weeks 1 day.

***

Saat itu, saya hanya menanggapinya dengan tersenyum. Dan tetap merasa yakin kalau itu hanya opini dokter yang memang sangat subyektif berdasar teori keilmuannya. Kenapa begitu yakin? Sebab, sejak awal kehamilan, trimester pertama hingga trimester akhir, saya tak pernah mengalami gejala gangguan apa-apa, bahkan semacam morning sickness pun. Paling hanya sekedar mual dan rasa ingin muntah, tapi tidak sampai muntah.

Bahkan, saat debay berada dalam kandungan, sejak usia kehamilan 4 hingga 9 bulan, saya sering mengajaknya beraktivitas keluar sampai nge-trip. Alhamdulillah, tak pernah sedikitpun ada flek-flek tanda terlalu capek atau terlalu aktif bagi seorang bumil. Ditambah, hasil USG pertama saat 29 weeks dan kedua saat 32 weeks, menurut dokter yang sama, air ketubannya bagus dan banyak, debay juga sehat.

Kegalauan muncul saat saya menunggu masa HPL (Hari Perkiraan Lahir) tiba, tepatnya pada 11 Januari 2018. Mulai pertengahan Desember, saya pun mulai mengurangi aktivitas pekerjaan yang terlalu serius semacam lembur depan laptop atau menghadiri acara yang butuh waktu seharian penuh.

Sejak usia kehamilan 20 weeks, saya memang sudah berniat memberdayakan diri dengan mengikuti kelas ibu hamil semacam senam dan yoga, termasuk childbirth education di kehamilan trimester tiga. Segala informasi juga sudah saya lahap, termasuk afirmasi positif kalau saya bisa melahirkan normal dan gentle. 


Amunisi pengetahuan yang saya lahap, ternyata ya kayak sekolah 😆

Tapi, semua persiapan itu luput menyiapkan satu hal. Tak hanya rasa khawatir atau takut saat proses persalinannya saja, seorang bumil ternyata harus siap mental dengan pertanyaan semacam :

“Kapan HPL?”
“HPL udah lewat, kok debay belum keluar juga sih?”
“Kok lama ga lahiran-lahiran sih mbak, kamu gapapa?”

Jujur, saya yang biasanya cuek dengan apa kata orang dan lebih-lebih berpengaruh negatif pada pikiran saya, harus runtuh juga. Baper saat malam tiba, curhat ke suami, sekaligus menerima nasehatnya. “Terlalu menganalisis, percaya sama ilmunya manusia, ga percaya sama ilmunya Allah. Insyaallah semuanya sudah diatur,…”, dan tausiyah dari suami itu masih berlanjut lagi yang lainnya.

Baper juga makin terasa saat mendengar dan melihat foto juga video temen-temen sekelas pas senam hamil dulu. Dalam hati, ya Allah mereka semua udah launching, kapan giliran saya. 

Bersama temen-temen seperjuangan di kelas childbirth education

Suatu malam, saya juga pernah sengaja membuka bantal, guling, dan alas tidur debay yang sudah saya siapkan, dan saya taruh di tempat tidur sambil membayangkan kalau dia sudah hadir.

Saat itu saya juga sampai harus merasa perlu membuat status WA, atau semacam konfirmasi smooth lewat status IG, dan puncaknya, status FB. Semacam terapi juga buat saya supaya terus memasukkan pikiran positif. Plusnya, banyak doa yang mengalir dari komen-komen yang masuk. Di sisi lain, tetap harus sabar saat menanggapi pertanyaan “kapan” itu.

11 Januari sesuai HPL, bukan gelombang cinta yang saya dapatkan, tapi malah peristiwa terpeleset saat jalan kaki keliling kompleks dekat rumah karena iseng melihat rumah kosong yang ternyata bagian tangganya penuh lumut. Alhamdulillah, debay aman. Gigi depan saya patah dan saya shocked sesaat setelah jatuh itu. Urusan makan harus kompromi dengan gigi yang ngilu. Duh duh.

Tanda Cinta itu Datang


HPL sudah lewat 7 hari. Tepat 18 Januari, saya melihat bercak darah yang biasanya saya tunggu tiap hari saat saya ke kamar mandi, tapi selalu berakhir : BELUM ADA. Dan, hari itu, saya tak menunggu, tapi ternyata tanda cinta itu datang. Menurut teori, biasanya tak lama lagi akan diikuti gelombang cinta atau kontraksi yang intens, dan berujung pada proses pembukaan.

Saya mengajak suami pergi ke bidan langganan. Setelah di-VT, ternyata belum ada pembukaan, dan darah bercampur lendir itu normal sebagai tanda cinta. Padahal keluarnya yang awalnya bercak, lama-lama banyak sevolume mens hari pertama dan menyebabkan saya harus ganti pembalut reguler 6 kali. “Bisa jadi selaput rahimnya tebal, tiap orang kan beda-beda. Apalagi baru anak pertama”, ucap bidan saya menenangkan.

Hari itu juga, saya menggenjot jadwal jalan-jalan. Keliling mall, 3 atau 4 lantai saya lupa, dari siang sampai menjelang petang. Besoknya pun begitu, jadwal keliling alun-alun kota, jalan kaki dari rumah menuju tukang sayur dan kue langganan, pelvick rocking di rumah, berdiri jongkok, makan buah-buahan yang memicu hormon oksitoksin (nanas, kiwi, kurma, durian), berhubungan intim dengan mengeluarkan (maaf) cairan sprema di bagian dalam sampai pijat oksitoksin di titik-titik tertentu, semua saya lakukan.

Saya sudah niat untuk memenuhkan ikhtiar dan doa. Saya pun saling mengingatkan dengan suami untuk melaksanakan shalat hajat dan shalat tahajud. Saya sudah buang jauh-jauh rasa ketidak ikhlasan atas semua proses yang saya lakukan ketika hasilnya tidak sesuai birth plan yang saya buat. Saya tetap berkeyakinan bisa persalinan normal menggunakan filosofi gentle birth.

Sehari dua hari setelah VT kemarin, saya pun VT ulang. Hasilnya masih pembukaan 1. Oke, semangat. Saya makin antusias dan semacam terobsesi untuk membuktikan bahwa usaha saya ada hasilnya. Membesar-besarkan hati di tengah fisik yang lelah.

Saya sempat ke Taman Botani Sukorambi yang punya track naik turun lumayan untuk orang yang sedang tidak hamil, dan berenang tanpa rencana, demi membuat diri lebih rileks. Nyatanya sudah seminggu, gelombang cinta atau kontraksi yang saya tak paham palsu atau aslinya macam apa, tak kunjung intens intervalnya. Bingung, pasti. Tiap malam pun saya rajin googling dan membaca grup-grup bumil. 

Berenang dadakan pas lagi sepi, berasa kolam renang pribadi

Besoknya, masih penasaran. Saya VT lagi setelah acara berenang dadakan itu. Hasilnya, pembukaan 2. Alhamdulillah. Saya pun makin semangat. Hari itu 25 Januari, pas Dilan perdana di bioskop Jember, tahunya karena seliweran di TL IG saya. Nontonlah hari itu dengan kondisi belum mandi, demi pengen rileks juga. Hmm 😀

Dini hari kok rasanya saya merasa mules-mules lebih sering, meski masih per 30 menit sampai 1 jam. Saya mengajak suami ke bidan, dengan bayangan, kalau tar mulesnya intens, bisa kali lahiran subuh (pede banget) 😋 Mengingat, ini sudah mundur 2 minggu dari HPL. Dan menurut teori yang saya ikuti pas kelas, batas plasenta terus “hidup baik-baik” saja itu memang di minggu ke 42. Ayo dong, lahiran de, kata saya sambil mengelus perut.

Setelah jam 2 dini hari itu, dan di VT masih tetap pembukaan 2, saya malas kembali lagi ke rumah. Mungkin karena sudah membawa perlengkapan yang dibutuhkan berikut mampir ke mini market terdekat untuk membeli asupan cemilan. Ya sudah, mari kita tunggu di ruang tunggu bubid. Sambil tetap tuh muter-muter di atas gymball, berdiri jongkok, juga beberapa posisi yoga.

Posisi yang gampang diingat coba saya lakukan sendiri selepas shalat subuh. Ini pas barengan, hayo saya yang mana?

“Mendingan istirahat mbak, nanti kecapean”, kata mbak-mbak bidan yang menemani saya. Ya, saya cuma ber-iya iya sambil lalu saja.

VT kedua, tetep pembukaan 2. Ketiga, dan terakhir keempat di sore ba’da ashar, hasilnya sama. Padahal, segala treatment termasuk pijat oksitoksin oleh mbak-mbak bidan juga sudah dilakukan.

Bubid sang owner Rumah Sehat Bidan Bunda khawatir bukan main, apalagi saat itu si bubid sedang berada di rumah sakit karena sikonnya drop kecapean, dan harus selalu berkomunikasi dengan mbak-mbak bidan asistennya. Dia menelpon saya dan suami panjang lebar untuk menjelaskan bahwa ini harus dirujuk karena kondisi post date, dan batas observasi di bidan sudah memenuhi maksimal yaitu 4 kali. Dia takut saya kecewa. Maklum, saya mupeng berat ingin melahirkan di Rumah Sehat Bidan Bunda miliknya itu.

Saya menata hati lagi. Sesuai dengan plan B saya. Kalau induksi secara alami tak kunjung berhasil menambah pembukaan padahal saya sudah berusaha maksimal, saya memang siap untuk ke rumah sakit dan menjalani induksi buatan.

Persalinan Massal dan Mendebarkan Itu


Pukul 5 sore, diantar mbak-mbak bidan dan juga eyang putri dan ponakan saya yang tadi menjenguk di tempat bidan, serta suami, kami berangkat menuju rumah sakit umum. Kenapa memilih RSU? Pertama, pasti karena pertimbangan biaya. Ditambah, dokter SpOg tempat saya menjalani USG (yang dia yakin akan bertindak saecar jika saya pasiennya) menyarankan, “Kalau ibu masih mau berusaha, saya sarankan induksi jangan di RS swasta, lebih baik di RS umum”, katanya. Menurut saya, karena faktor kelengkapan alat juga mungkin ya misal terjadi sesuatu yang diluar kontrol.

Jam 6, seingat saya, saya masih di UGD. Suami mengurus antrian data pasien, dan saya ditemani sahabat dari SMA yang setia kalau saya sedang ada dalam posisi membutuhkan support. Sambil makan roti dan minum minuman isotonik, saya tetap ceria ngobrol sebelum ke ruang tindakan. 

Dan, gelombang cinta memang datang dan pergi. Sedang, perempuan 19 tahun di sebelah saya yang dirujuk dari sebuah desa yang saya lupa namanya, tak nafsu makan saat saya tawari roti, gelombang cintanya intens rupanya. Pembukaan 3 tapi tak kunjung bertambah.

Sesaat setelah saya bolak balik ke kamar kecil, saya pun harus pindah ke ruang tindakan. Tak boleh ditemani satu orang keluarga pun, bahkan suami atau keluarga perempuan. Saya pun berpisah dengan suami dan sahabat saya itu, dan berkomunikasi via WA. Saat ingin mengirim makanan untuk sekedar jaga-jaga cemilan, suami pun menitipkan lewat perawat yang lalu lalang sambil menyebutkan nama saya sebagai tujuan.

Pintu masuk ruang tindakan persalinan   


“Di VT dulu ya bu. Setelah itu diinduksi. Malam ini harus target lahiran. Nanti miring kiri aja terus”, ucap seorang perawat senior pada saya. Dalam hati, target banget ya 😁 Bismillah.

Induksi buatan adalah semacam obat kimia yang dimasukkan melalui infus untuk memicu gelombang cinta atau kontraksi datang sehingga menambah pembukaan dan mempercepat kelahiran. Setelah cek darah dan lain-lain, infus juga telah terpasang, saya merasakan bagian miss V langsung seperti kesemutan, lalu perlahan-lahan rasa mulas datang, semacam campuran sakit perut menjelang mens dan rasa ingin BAB yang amat sangat.

Beruntung, afirmasi positif dan ilmu hypnobirthing yang selama ini saya ikuti masih saya ingat betul. Prinsipnya harus tetap sadar, mindfullness. Saat gelombang cinta datang, saya tarik nafas dalam-dalam dengan menggunakan perut dan membuangnya pelan-pelan. Lumayan mengurangi rasa sakit. Sambil atur nafas seperti itu terus dan terus dengan bergantinya infus dari botol ke botol. Seingat saya jam 10 malam, saya sudah pembukaan 6.

Sambil terus menikmati gelombang cinta yang rasanya memang unik itu, mata dan pikiran saya menangkap apa saja yang ada disana. Perawat magang yang hilir mudik, suara-suara obrolan perawat riuh bercampur dengan rintihan beberapa ibu yang sedang menikmati prosesnya seperti saya. Ada sekitar 8-10 orang di ruang tindakan itu kalau ga salah.

Perempuan yang bersama saya di ruang UGD, menjalani persalinan duluan, karena ketubannya pecah dini, dan tiba-tiba terdengar tangis bayi begitu saja.  

Sepanjang malam itu, semua pasien menjalani proses induksi, dan bergantian bersalin. Dan, saya menyaksikan proses persalinan orang-orang sebelum saya satu persatu. Bagaimana para calon ibu itu merintih sampai berdzikir, ada yang dalam hati, dan ada pula yang dengan keras. Ada yang memanggil-manggil ibunya, suaminya, dan lain-lain. Dokter yang malam itu bertugas mengawal semuanya adalah dokter pendidikan spesialis obgyn, sementara dokter seniornya tak kunjung datang karena ada proses operasi di lain tempat.

Saat mendengar rintihan yang makin keras, si dokter muda itu sempat berujar, “Jangan lebay deh buibu. Semua yang ada disini dengerin ya, saat kontraksi datang, tarik nafas panjang dari perut, lalu hembuskan seperti tiup botol. Saat kontraksi ga datang, sembahyang, berdoa.” Hehe, saya sempat tersenyum mendengarnya. Ya memang ada benarnya juga. Berteriak dan semacamnya hanya akan membuat rasa sakit dan lelah bertambah.

Saat seorang bayi akan lahir, cirinya adalah semua perawat magang itu akan berkumpul di satu titik, ditambah perawat senior dan dokter muda tadi tentunya. Dan seperti supporter pertandingan olahraga, masing-masing dari mereka akan sedikit berteriak, “Ya terus, terus…” , “Bagus bu, iya seperti itu..”, “Ayo bu sedikit lagi, iya sudah keliatan…”, dan berbagai bentuk kalimat penyemangat lainnya 😊

Saya jadi membayangkan seperti apakah proses saya nanti.

Menjelang malam, rasa lapar menghinggapi perut. Hanya ada roti yang ketika saya berusaha mengisinya ke dalam perut, ia menolak. Muntah dan saya bersihkan begitu saja dengan tissue sendirian. Ada rasa nelangsa, tapi segera saya tepis. Saya harus bisa melalui semuanya.

Sambil terus komat kamit berdoa dan kadang saya teruskan dalam hati, saya berada antara kondisi sadar lalu tertidur, dan begitu seterusnya saking tak kuasa menahan kantuk dan lelah. Rasanya olah fisik semingguan yang terasa diforsir mengalami puncak kelelahannya sekarang. Layar handphone dan ketersediaan baterainya sudah tak lagi saya hiraukan.

Pukul 3 pagi menjelang subuh, terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat suci yang entah dari pengeras suara masjid sebelah mana. Seingat saya, sekitar pukul 4, dokter kembali melakukan VT, dengan awalan, "Sudah rutin ga kontraksinya? Masa mau sc? Kan dulu ada riwayat KET juga?", ucapnya. Alhamdulillah, setelah di-VT, dia menyatakan pembukaan sudah lengkap, 10. Sya mengucap syukur dalam hati berkali-kali.




Suasana sedikit riweuh karena di ruangan itu mirip ruang persalinan massal. Dokter muda tadi menginstruksikan bahwa saya sudah pembukaan lengkap, segera dipimpin untuk lahiran, yang sebelah bukaan 8, yang di depan saya bukaan sekian sekian dengan kondisi bla bla bla. 

Saat dokter muda yang sangat mirip dengan seorang rekan saya di Jakarta itu (sehingga sugesti saya yang ngomong itu teman saya sendiri 😁) mulai meminta saya mengejan atau ngeden, saya berusaha tapi tak mampu. Lemes banget. Efek semaleman ga makan. "Oke, karena ibunya lemes, kita kasih kesempatan buat makan dan minum dulu untuk asupannya.", katanya memberi waktu. Saya pun berusaha makan roti yang semalaman tak diterima perut itu. Tapi alhamdulillah kali ini, perut bisa diajak kompromi. 

"Sudah lumayan? Hayuk mulai ngeden yang bener, tarik nafas dari perut, kayak orang mau BAB. Kakinya ke pinggang saya aja. Yang satunya ke perawat.", ucap dokter berkacamata itu. Saya pun berusaha, tapi saking juga merasakan campur aduk rasa, tiba-tiba, "loh loh, kok ngedennya salah, kebawah, bukan ke atas.", sela dokter lagi. Iyap, saya pun mulai ambil ancang-ancang lagi, berdoa laa haula wala kuwwata illa billah terus dalam hati. Agak lama dan susah, air ketuban juga tak ada tanda-tanda pecah atau mengucur.

"Ayo bu, kepala anaknya sudah di bawah. Tadi kalo ngedennya bener, dia ikut ibunya kok. Tapi kalo ibunya ga kuat, ya naik lagi. Kita semua disini, saya, dan temen-temen ini cuma bisa membantu kok. Kekuatannya ada di ibu", ceramah pun dimulai. Dan saya cuma ber-iya iya sambil dalam hati ngomong sendiri, yang ga mau cepet keluar itu siapa, udah berusaha, tapi cara pastinya gimana buat mempraktekkan itu, ppfuuh. Allah bantu ya Allah, aku pasti bisa.

"Kalau masih susah gini, kita bantu yang lain dulu aja nih bu, tuh sebelah udah mau lahiran", dokter pun berucap sambil menginstruksikan perawat untuk mengecek kondisi ibu sebelah saya persis yang mulai ada tanda-tanda melahirkan. Dan benar saja, mereka semua membantu lahiran ibu sebelah, prosesnya cepat, dan langsung terdengar suara bayi menangis. Masya Allah, dalam hati lagi-lagi saya takjub sekaligus nyesek 😅 

"Tuh bu, sebelah udah lahiran, gampang kok kalau ngedennya bener, jadikan motivasi itu", kata dokter lagi. Geli juga saya sebenernya, tapi lagi-lagi dalam hati. Baiklah, fighting, bismillah. Saya berusaha mengejan yang benar sebisa saya, lalu dokter menginstruksikan saya dibantu selang oksigen supaya lebih kuat nafas, dan dua perawat naik ke tempat tidur untuk menekan perut saya dari atas. Tak lama kemudian, saya melihat bayi mungil dibopong. Melihat itu, saya mengucap hamdalah tak henti-hentinya dalam hati dan merasakan kelegaan yang luar biasa.

Biar bayi ga tertukar, ada nama ortu nih di lengan debay 😁

Sisanya, lahiran plasenta dan penekanan darah dari rahim dan proses menjahit tak begitu saya hiraukan. Lepas itu, badan saya menggigil luar biasa. Saya pun memanggil perawat magang yang lewat untuk titip pesan pada suami untuk memesankan segelas teh hangat. O iya, saya juga baru sadar kalau sepanjang malam itu saya menggunakan baju gamis luaran saya sebagai bantal. Dan baju yang saya pakai untuk persalinan adalah daster sebagai baju dalam dibalik gamis. Ppfuuh.

Sambil menggigil, perawat senior yang bertugas menjahit robekan di jalan lahir itu pun datang. Saya sempat bertanya sebelum ia memulai 'aksinya', "Bu, ga dianestesi dulu? Yang dari punggung belakang ya? Dulu saya pas operasi KET gitu". 

"Loh, tadi kan udah? Oh, pernah operasi ya, kalo kayak gitu ya ibu lama sadarnya, bisa 6 jam an.", sahutnya.

"Bukan, tadi bukan suntik untuk anestesi jahitan ini.", jawab saya setengah ngotot. Barulah si ibu perawat ini menginstruksikan perawat magang untuk menyediakan obat yang diperlukan. Pffuh, hampir saja. Ya meskipun, proses dijahit itu tetep berasa macam semut angkrang menggigit, cekit cekit 😆 

"Diem toh bu. Kalo ibu gerak-gerak, ini aku susah jahitnya, banyak ini jahitan sampean. Pekerjaanku kan ga cuma jahit sampean aja. Kalo banyak gerak, ga dijahit juga ini..", ibu itu mengomel tanda tak sabar dan menyuruh perawat magang memegangi saya ketat supaya tak bergerak. Lah, gimana ga gerak, orang sayanya menggigil. Saya cuma menelan semua omelannya sebagai sesuatu yang wajar. Biasa lah, khas perawat RSU yang menangani banyak pasien. 




Selepas proses keterampilan tangan menjahit tadi, saya menunggu debay dibawa ke dekapan saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Tapi ternyata, ia masih diobservasi. Katanya menangisnya sedikit, dan meski detak jantungnya normal, tarikan nafasnya lewat hidung kurang kuat jadi harus dibantu oksigen sebentar. Katanya, karena air ketuban agak hijau. Tapi saya tetap yakin, anak saya sehat. Apalagi saat tahu BB nya 3,5 kg (lebih 2 kg dari prediksi saat USG), dan panjang 52 cm. Allahu Akbar.

Lahir pukul 06.15 pagi, dari bukaan lengkap pukul 4 dini hari itu sesuatu banget. Menjelang pukul 11 siang, saya bersiap pindah ke ruangan nifas. Saya bingung dimana suami atau keluarga yang lain, titip pesan ke petugas yang mendorong saya hinga ruang nifas di lantai 3, ternyata hasilnya nihil. Setelah di ruang nifas yang cukup ramai itu, saya masih sendiri. Baru kemudian sekitar 15 menitan, saya lihat sosok kakak kandung saya mencari saya diantara pasien yang baru pindah ruang. Tak lama, suami pun muncul.

Setelahnya, anak yang saya dan suami nanti-nantikan berada dalam pelukan saya. Dari kehamilan hingga proses bersalin ini, nama Tangguh rasanya memang pantas kami sematkan. Selamat datang Muhammad Tangguh Ar Rafif. Umat Muhammad yang tangguh dan berakhlak baik. Unbelivable, saat ini saya pun sudah menyandang status menjadi ibu yang penuh perjuangan.

Akhirnya ketemu debay yang dinantikan, masyaAllah


Rasa terharu itu muncul saat si bayi mulai mencoba beradaptasi menyusu dari payudara yang begitu penting buat kehidupan si kecil. Apalagi saat sebelumnya, ayahnya mengumandangkan adzan di telingan mungilnya. Masya Allah. Saya diingatkan kembali bahwa sejatinya proses kehamilan dan persalinan ini milik berdua, bukan ibu atau ayah saja. 

Setelah selesai mengadzani, suami saya menanyakan sesuatu, "Sudah baca surat ayah? Yang ayah titipin di dalem plastik makanan tadi pagi lewat perawat?". Saya cuma melongo, karena tak sempat melongok plastik yang ia maksud. Ternyata pas dibacakan, isinya :

Assalamu'alaikum bundaku yang cantik. Kalo bunda baca pesan ini, berarti bunda masih disayang Allah dan Rasul Nya. Ayah udah lihat kondisimu terbaru dan udah ayah rekam. SMADA (semangat bunda). Nanti setelah melahirkan, kita yoga disini ya sama debay juga. Ini sarapan kesukaan bunda. Untuk bunda Prita HW tersayang. Wassalam. 
Tambahan : bilang sama debay kalo ayah sayang debay 


Newborn baby lagi action


Ya Allah, melting. Ternyata suami saya melihat proses persalinan itu meski antara jelas dan samar. Ia merekam seluruh proses sampai 'lahiran' plasenta dari sudut jendela RS layaknya paparazzi. Sampai di rumah, saya menontonnya dan hanya bisa bersyukur. Ternyata suami selalu ada dan menemani saya 😭

Tips untuk Kehamilan Melewati HPL


Dari cerita teramat panjang ini, ada beberapa tips buat para bumil yang melewati kegalauan saat kehamilannya melewati HPL, berdasar pengalaman saya :

  • Pahami dari awal, bahwa HPL bukanlah Hari Pasti Lahir, tapi Hari Perkiraan Lahir yang membantu dokter atau bidan untuk selalu mengecek kondisi ibu sesuai waktu tersebut.
  • Persiapkan mental terbaik untuk menyongsong persalinan sejak awal kehamilan. Cari gentle birth support di sekitar kita yang bisa menyelenggarakan kelas edukasi kehamilan. Memang benar, knowledge is power. Saat kita tahu ilmunya, kita akan lebih percaya diri melewatinya.
  • Minta dukungan suami tentang apa yang kita alami dan rasakan. Minta dia untuk bekerjasama sesuai porsinya.
  • Sugesti diri untuk tetap positif. Inilah yang memegang kunci untuk mengendalikan pikiran kita, menjadi panik atau parnokah setiap selesai memeriksakan diri dengan suggest yang diberikan dokter atau bidan.
  • Bergabung dengan grup ibu hamil yang positif dan selalu memberi dukungan penuh dengan sharing positif.
  • Persiapkan kesiapan fisik sama perlunya dengan mental. Jangan memforsir diri di hari-hari menjelang HPL. Lakukan senam hamil sejalan dengan berjalan kaki. Porsi yang cukup akan memberi kita kondisi fisik yang lebih prima. Hindari begadang meski berolahraga ringan di dalam rumah.
  • Selalu percaya ada Allah Sang Maha Memudahkan Segalanya. Bila Ia berkata jadilah, maka jadilah. Jadi, tak ada yang sulit untuk Nya.Apalagi 'hanya' proses menghadirkan seorang anak manusia ke dunia.
Saya percaya, Allah telah mendesain tubuh seorang perempuan begitu luar biasa untuk mengalami proses persalinan ini. Tak ada yang perlu diragukan. Semoga cerita kehamilan 42 minggu 2 hari yang saya alami ini bisa memberikan gambaran, meski persalinannya tak harus massal ya 😜
Selamat menjadi ibu yang di telapak kakinya terdapat surga~

Salam Dunia Gairah,
   

 





   
  

Prita Hw

12 komentar:

  1. Perjuangan banget ya mbak... itulah sebabnya wanita itu diciptakan special dan diberikan hadiah surga ditelapak kakinya ketika menjadi seorang ibu ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul bgt ham, makanya pelengkapnya juga mesti kerjasama tar kl jd bapak, hehe

      Hapus
  2. Uwuwuwu baca ini berasa panas kek mau lahiran lagi haha. Perjuangan bener deh emang. Btw, itu dokter dan bidannya kok jutek2 ih :( aku lemah kalo digituin. Udah badmood aja kali ya bawaannya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, iya jadi bayangin ya.wkwkwk, maklum kl RSU kan kejar waktu krn pasiennya byk :)

      Hapus
  3. Wkwkwkwk, masyaAlloh mbaak... Tangguh, emakmu juga tangguh sekali hehe

    BalasHapus
  4. Sepertinya dirimu terlalu banyak "membaca" prit, jadi banyak kepikiran aneh2...wkwkwk dedek Tangguh-nya jadi malu2 keluar..hehe Bener kata mamas suami,,yang terbaik pasrah sama gusti Allah dan semua akan indah pada waktunya:) Just sharing, diriku malah menjelang hpl tanpa detil persiapan macam2,perlengkapan baju debay masih minim, suami jauh pula. Gak taunya Emir malah nongol duluan dr HPL.

    Sesuatu bgt bisa banyak dapat info segambreng dari tulisanmu ttg tips trik persiapan lahiran yang membuatku cuma bisa melongo. Ooh...mestinya dulu mesti begini begitu, makan ini itu yah :D Bener2 y mmg emak tangguh pake bangeet ;)


    BalasHapus
  5. Alhamdulillah ya mba, luar biasa proses melahirkan. Semua rasa sakit itu pergi begitu mendengar tangisan bayi.

    BalasHapus
  6. MasyaAllah...terharu... jadi inget proses lahiran Husna.. Bukaan 1 Sabtu dini hari, Husna lahir Senin subuh😂

    BalasHapus
  7. Haduh mbaaak... merinding berkaca-kaca mataku bacanya... saya anak terakhir dan belum pernah punya ponakan langsung, jadi gak tau cerita-cerita kayak beginiaan.. tapi, aku setuju banget sama kata-katanya mbak prita. "Sejatinya proses kehamilan dan persalinan ini milik berdua, bukan ibu atau ayah saja."

    Duh.. quotes of the day banget!

    BalasHapus
  8. So sweet surat dari suaminya, Mbak. Saya juga selalu suka membaca perjuangan para ibu yang melahirkan. Mendebarkan demi sesuatu yang akan berbuah kebahagiaan

    BalasHapus
  9. "Kalau masih susah gini, kita bantu yang lain dulu aja nih bu, tuh sebelah udah mau lahiran"

    Ini semacam memotivasi tapi bikin nyesek ya sekaligus pengen ketawa :')))

    BalasHapus
  10. Masya Allah, perjuangan banget ya, Mba. Tapi bener tuh kalo HPL itu bukan Hari Pasti Lahir, hehe. Tiap anak pasti punya ceritanya masing-masing untuk menyambut dunia :)

    BalasHapus

target='_blank' rel='nofollow'