Jatuh Cinta pada Banyumas Berkat Juguran Blogger Indonesia

banyumas juguran blogger Indonesia


"Dari Jember?", mas bertopi merah yang tampak ramah itu menghampiri saya dan suami yang baru beranjak dari duduk di depan sebuah minimarket dalam kawasan stasiun. Stasiun kereta api Purwokerto adalah persinggahan dalam perjalanan kami sejak pagi hingga malam itu. 

Tak cukup jelas ruas-ruas jalanan yang kami lewati dari dalam mobil jemputan. Saya hanya dapat berkonsentrasi kurang lebih separuh. Gagal fokus. Sambil bercakap-cakap dengan mas bertopi merah yang menjemput kami malam itu, saya tahu sekilas tentang rencana dan juga latar belakang diadakannya acara yang akan kami ikuti. Mas Pradna, kalau boleh dibilang inisiator terbentuknya komunitas blogger di Purwokerto, Blogger Banyumas. Komunitas blogger tersebut adalah panitia yang mengadakan acara bertajuk Juguran Blogger Indonesia dengan tagline "Sedikit Bicara, Banyak Wisata". Hm, keren juga. Batin saya saat membaca posternya sebelum memutuskan mendaftar :) Juguran dalam dialek Banyumasan berarti berkumpul atau kumpul-kumpul. Mirip cangkrukan mungkin kalau di Jember.

Malam Perdana di Banyumas

Saya sendiri awalnya bingung. Apa beda Banyumas dan Purwokerto. Ternyata, Kabupaten Banyumas adalah ibukota dari Purwokerto. Meski begitu, tidak ada Bupati Purwoketo, artinya semua para pemangku kebijakannya berkantor di Banyumas. Saya cuma mengiyakan dan ber "o..oo" panjang saat Mas Pradna menjelaskan. Sedangkan suami kebalikannya, antusias. 

Sambil mengikuti deru mobil yang entah membawa kami ke arah mana, saya masih merasakan rasa bosan duduk di atas transportasi publik idaman masa kini bernama kereta api dalam 12 jam perjalanan Jember-Purwokerto, 11 Juli 2017 itu. Untung saja, perjalanan kali ini terasa spesial, karena ini pertama kalinya kami di-support oleh Ashanty Tours & Travel full untuk perjalanan PP dengan memakai Ranggajati. Bukan paket hemat ekonomi Logawa dan sejenisnya yang biasanya menjadi pilihan kami. Ya, kali ini kami berada di kelas eksekutif untuk pergi dan bisnis untuk pulang. Sekali-kali bolehlah ya :)



A post shared by Prita hw (@pritahw) on


Lelah, iya. Ini perjalanan pertama saya yang paling jauh semenjak lolos trimester pertama berstatus bumil. Senang, karena akan bertemu petualangan baru. Sampai kemudian, Mas Pradna yang bak duta wisata Banyumas itu berkata, "Nah, ini Terminal Purwokerto. Ga kayak terminal loh. Ada taman lalu lintasnya, ada banner photo booth buat foto-foto. Sayang sekarang gelap.". Saya pun langsung tersadar kalau sedang diajak menjemput teman baru yang lain, Mbak Idah Ceris dari Banjarnegara dengan gadis mungilnya, Yasmin yang imut-imut.

Tak sampai disitu, saya yang sudah tak sabar ingin sekedar merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk, ternyata harus pasrah dengan rute selanjutnya, menjemput si juragan kopi dari Temanggung, Mas Dobelden. 

Entah berapa lama saya berada di mobil jemputan itu, tapi perasaan saya malam itu lama sekali :) Tiba-tiba saja ruas jalan yang kami lewati berganti menjadi lebih sepi, sejuk, banyak pepohonan samar-samar, dan bangunan-bangunan serupa villa, hotel, ataupun cottages. Oh, rupanya kami sampai di kawasan Baturaden, tempat dimana kami menginap semalam di salah satu hotel & resort disini. Ah, akhirnya, batin saya.

Malam itu, saya dan suami yang menyiapkan diri untuk berpisah kamar meski barang-barang bawaan masih bercampur jadi satu, ternyata mendapat jatah kamar bersama. Ah, panitianya pengertian rupanya :) Leganya begitu sampai kamar, makanan diantar pula ke kamar. Saya dan suami sudah kelaparan, pas lah sudah :) Kami makan dengan lahap sampai thread WA group Juguran mengabarkan kalau mereka sedang berkumpul di sebuah kamar. Walah. Cus lah kami berjingkat-jingkat berkemas sederhana menuju kamar tersebut.


Banyumas Juguran Blogger Indonesia
Suasana kumpul malam itu, masih serba jaim, maklum awal-awal :)

Meski rasa lelah merayapi saya malam itu, melihat semua teman-teman yang datang dari berbagai daerah dengan senyum mengembang, rasanya rasa lelah sedikit menguap. Beberapa saya kenal maya, beberapa sudah pernah melakukan perjalanan bersama, seperti Mas Indra Pradya asal Lampung dan Mbak Evi Indrawanto asal Tangerang. Senangnya, bertemu kembali... Usai mengobrol panjang lebar yang rasanya tak tuntas-tuntas kalau tak segera mengambil inisiatif titik, malam itu akhirnya saya bisa tidur nyenyak meski udara dingin menyergap menemani malam perdana menginjakkan kaki di Banyumas. 

Inovator Desa Banyumas dari Desa Kotayasa 

Gerimis rintik-rintik menyambut pagi di Banyumas. Alhamdulillah masih diberikan kesempatan bangun di hari dan tempat yang baru. Seusai bersih diri dan mengabadikan momen dalam bentuk video dan foto, saya dan suami bergabung untuk menikmati sarapan. Rupanya udara dingin memang membuat perut cepat lapar.

Ada yang sudah menanti dengan setia : bis yang akan membawa kami, para peserta Juguran Blogger Indonesia yang sudah kali ketiga diadakan yang sepertinya sudah tak sabar.


Banyumas Juguran Blogger Indonesia


Menurut jadwal dan penuturan panitia, rute kami hari ini, Rabu, 12 Juli 2017, adalah :

Banyumas juguran blogger indonesia


Mata saya berbinar-binar menyaksikan rute hari pertama. Padat berisi. Tak sabar untuk bertemu kejutan baru hari itu.

"Jadi tempatnya ada di bawah, kita sama-sama kesana," ucap seorang bapak dari Bappeda Litbang Banyumas, Bapak Joko Nova. yang menyambut rombongan di Desa Kotayasa saat saya menuju lokasi dimana hasil inovasi sang inovator berada. 

Bersama teman-teman Juguran Blogger, saya menelusuri jalanan kecil menurun yang kira-kira seukuran dua motor berpas-pasan. Wah, ujian bagi bumil, batin saya. Maklum, baru ini saya melakukan perjalanan dengan tracking dalam keadaan hamil. Hati-hati saya fokus pada alas sepatu kanvas dan pijakan yang saya lewati. 

Sampai pada jalan setapak di tengah pematang sawah. Saya tak meneruskan track ke bawah, khawatir licin.


Banyumas Juguran Blogger Indonesia
Letak pipa-pipa air yang menjadi sumber air yang mengaliri rumah warga desa

Barulah di rumah sang inovator yang kemudian saya ketahui bernama Sudiyanto, saya mendapatkan gambaran utuh apa yang sedang disaksikan di track bawah tadi. 

"Dulu orang sini mengatai saya orang gila. Masa bisa mengalirkan air dari bawah ke atas? Ya sekitar tahun 1997-2005 lah", Sudiyanto menuturkan kisahnya dengan binar optimisme. 

Sambil menikmati suguhan teh ndeso, buah salak, dan tempe mendoan khas Banyumas, saya mencoba memahami penjelasan mantan kepala desa itu. Tak berlebihan memang. Upayanya yang penuh rintangan dari lingkungan sekitar maupun perjalanan proses teknis alat yang digunakan untuk mendorong air dari lembah ke bukit memang butuh konsistensi.  


banyumas juguran blogger indonesia
Suguhan yang sangat menggoda setelah sedikit menanjak dari bawah

Sekarang, alat bernama hydram (hydraulic ram) sudah bertransformasi menjadi hysu (hydram Sudiyanto) dengan penemuan terbaru. Hysu tidaklah perlu menggunakan tenaga listrik atau bahan bakar, tapi cukup dengan menggunakan sumber dayanya sendiri yang memang tak terbatas : air yang berasal dari mata air lereng Gunung Slamet. Asal muasal daya dorong yang kuat hingga 500 meter itu, tutur Sudiyanto, berasal dari kejadian tak terduga, yaitu kebocoran pipa. Dari situlah, ia mendapat ilham bahwa harus ada air yang terbuang untuk mendongkrak daya dorongnya.

Saya meyakini itu adalah petunjuk dari Sang Maha Kuasa atas jerih payah berniat mulia dari Sudiyanto. Kini, hasil kerja kerasnya itu sudah bisa mengalir langsung menuju pemukiman warga satu dusun sebanyak 7 RT dengan beban biaya hanya Rp. 300 per meter kubik. 


banyumas juguran blogger indonesia
Kiri ke kanan : suami tercinta-Pak Joko Nova-saya-Pak Sudiyanto

"Dulu, sebelum ada hysu ini, desa ini punya julukan Dukuh Peret atau Dukuh Pekong, karena BAB nya di sungai, dan belum sampai sungai, sudah keperet", ungkap bapak berusia 52 tahun yang kini telah mewadahi seluruh aktivitas gerakan sosial kampungnya dalam wadah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Harmoni sambil mengenang masa lalu.

Berkunjung ke Markas Oleh-oleh Khas Banyumas

Inspirasi dari Sudiyanto, inovator dari Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, masih terus saya simpan dalam memori. Hingga saya tak sadar kalau kami sudah sampai di tujuan kedua, markas nopia dan mino Pak Narwan yang telah berdiri sejak 1987.

Nopia dan mino diproduksi dari rumah memang, jadi bukan tenpat khusus semacam pabrik. Lurus melewati berbagai hewan peliharaan keluarga Pak Narwan, juga kios di bagian depan, kami menuju ke tempat produksinya. 

Jejeran nopia dan mino yang ternyata singkatan dari mini nopia langsung menyambut kami, dan menantang untuk segera dicicipi. Ingatan saya langsung melayang pada perjalanan di sebuah bis yang salah seorang penjajanya menawarkan mino dan saya membelinya. tapi saya lupa perjalanan yang mana. Untuk mengobati rasa penasaran dan aroma dejavu, saya segera mencicipi salah satu mino dengan varian rasa coklat.

Rupanya, variannya bermacam-macam. Tak hanya coklat, ada juga varian gula merah, durian, hingga brambang (bawang merah) yang setelah dicoba mirip manis gurihnya rasa abon. Mino yang masih hangat ternyata memang memiliki cita rasa yang lebih mewah.


Banyumas juguran blogger Indonesia
Menggiurkan!

Melongok ke dapurnya, hawa panas langsung menyergap. Selain karena banyaknya teman-teman yang juga penasaran ingin melihat proses pembuatannya, tungku untuk proses memasak nopia dan mino ternyata seukuran gentong super besar yang masing-masing mampu mengolah hingga 800 potong mino per hari. Sebuah tungku hanya dikuasai oleh seorang pegawai. Ada 8 tungku dengan 8 orang pekerja 'pemegang' tungku. Panasnya jangan ditanya, rupanya menjadi pengolah nopia dan mino juga harus tahan panas, persis di ruang sauna. 


banyumas juguran blogger indonesia
Tungkunya besar dan panas. Foto : Indra Pradya (Juguran Blogger Team)

Sebelum dimasukkan ke dalam tungku, terlebih dulu adonan dan isi tentu harus dikerjakan. Sambil menahan panas, saya sibuk memperhatikan para pekerja yang tugasnya membuat adonan. Bahannya sederhana, tepung terigu, mentega, susu, dan minyak sayur. Pengolahan kulit nopia dan mino telah dilakukan pada malam sebelumnya hingga pada pagi hari, tinggal memasukkan saja varian isinya sesuai takaran.

banyumas juguran blogger indonesia
Sedang mengisi adonan

Saat mendengar penjelasan Mbak Udit, anak kandung dari Pak Narwan yang kini berusia 78 tahun, rasa salut dan bangga pelan-pelan menyelimuti saya siang itu. Usaha sederhana jika ditekuni secara konsisten juga akan membawa dampak yang luar biasa. Kesimpulan ini saya dapat saat menghubungkan kisah yang dituturkan Mbak Udit, saat bapaknya berjualan nopia dan mino secara berkeliling hingga bisa berproduksi sebesar ini. Selain konsistensi, resepnya menurut si mbak juga soal kualitas rasa. "Kami disini menggunakan bahan kualitas super, untuk terigu dan semuanya.", ucapnya sebelum saya berpamitan.

Jika kau pergi ke Banyumas, jangan lupa untuk membawa serta nopia dan mino yang bersejarah ini. Mampirlah ke Jl. Jaya Serayu No.88 untuk membeli sebungkus mino 300 gr, yang hanya ditukar dengan uang Rp. 11.000 dan untuk nopia Rp. 18.000. Membeli produk lokal adalah apresiasi atas akumulasi perjuangan. 

Menikmati Menu Ndeso dan Menguji Kesabaran dengan Membatik di Papringmas

Rupanya jam di pergelangan tangan kiri saya sudah menunjukkan tengah hari, siang semakin terik, dan perut nampaknya sudah meminta haknya. Kabarnya, di tujuan berikutnya, kami akan makan siang sekaligus membatik. 

Jujur, saya belum pernah merasakan membatik yang sering digambarkan dengan seorang perempuan yang sedang memainkan canting. Ah, akhirnya kesempatan itu datang juga :) Tak jauh dari lokasi nopia dan mino Pak Narwan, bis memberhentikan kami di semua di depan sentra batik Pringmas, Desa Papringan, Kecamatan Banyumas. 


Nafsu ingin melihat corak berbagai macam batik yang tertata apik dan sangat memanjakan mata sudah sangat menggebu dengan keinginan untuk membatik. Namun ternyata, siang ini, kami langsung dipersilahkan untuk menikmati jamuan makan siang dengan lauk yang katanya ndeso.

banyumas juguran blogger indonesia
Corak batik Pringmas, Desa Papringmas, Banyumas. Foto : berita.suaramerdeka.com

Hm, bagi saya, lauk ndeso seperti ini jauh lebih nikmat daripada western food di restoran bintang lima. Entahlah, soal cita rasa lidah memang tak bisa dijelaskan dengan pasti. Saya yang penyuka sayur akut langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat jajaran lauknya. Mulai dari urap-urap kecombrang, sayur jantung pisang, tumis kangkung dan tumis labu siam dengan variasi pete. Alamak, nikmat mana yang kau dustakan :) Yang juga spesial, juga menghadirkan ikan khas Sungai Serayu yang saya kira awalnya lele goreng krenyes. 


Banyumas Juguran Blogger Indonesia
Siapa yang tak tergiur dengan menu ini? Foto : @dobelden (Juguran Blogger Team)

Tak hanya itu, perut kami juga dituntut untuk bisa menampung penganan lokal lain dari golongan umbi-umbian yang melihatnya saja sudah seperti rasa rindu yang sekian lama ingin dituntaskan. Meski buat saya, ya harus mengatur porsi lambung juga :) Semua dipersilahkan untuk mengambil bebas si gembili (mirip ubi jalar berkulit coklat muda, berwarna putih, dan rasanya tawar), cimplung (singkong yang telah di-cemplung-kan atau dimasukkan ke dalam air nira, rasanya manis), gethuk goreng (warnanya coklat karena digoreng, dari singkong yang dihancurkan dan menggunakan gula kelapa), juga kentang iler (kentang imut-imut berwarna gelap yang telah direbus dengan kapur sirih). Tak ketinggalan, si tempe mendoan dan buah jeruk yang muncul belakangan. Kenyang sangat.


Banyumas Juguran Blogger Indonesia
Penganan lokal semacam ini bisa jadi karbo pengganti nasi


Perut sudah terisi, dan semua dari kami digiring menuju pendopo yang diperuntukkan sebagai tempat membatik. Meski suasana hati agak kurang mendukung dengan perut yang masih berusaha menyeimbangkan asupan yang baru saja dilahap, baiklah, ayo membatik. Kami diminta memilih kain putih seukuran sapu tangan dengan motif tertentu. Tentu saja saya pilih yang simple biar cepat selesai :)

Atas : saya lagi membatik dan berusaha sabar, bawah : seluruh teman-teman peserta dan staf HS Purwokerto
Dan ternyata, membatik itu tak semudah yang saya bayangkan. Saya harus mendengarkan arahan ibu pembimbing tentang memanaskan malam, cara memegang canting, berkompromi dengan kompor yang terus menyala dan menghamburkan hawa panas, dan sabar menekuri garis-garis motif. Hmm..baiklah. Dan, saya terbukti tak bisa sabar-sabar amat. Pantas saja batik tulis dihargai lebih tingi dibanding yang lain, mengingat proses pembuatannya yang ternyata memakan waktu 3-4 minggu untuk satu motif. Sambil membatik, saya sesekali mengobrol dengan ibu-ibu pengrajin yang mendampingi saya. Seorang ibu bertutur bahwa dirinya dan kawan-kawan tak bisa berbuat apa-apa saat anak-anak muda di desanya memang faktanya lebih tertarik untuk mencari penghidupan di kota besar seperti Jakarta.

Di ujung keberadaan kami, Bapak Kepala Bappeda Litbang Banyumas, serta perwakilan Dispora dan Disnaker Purwokerto ikut mewarnai suasana. Saya setuju dengan Mas Indra Pradya asal Lampung dalam statement nya saat ramah tamah, Bappeda Litbang Banyumas ini sudah one step ahead dengan membuka peluang kerjasama dengan komunitas Blogger Banyumas yang mengundang blogger se-Indonesia. "Dan, ini sarana yang efektif untuk memperkenalkan Banyumas, Purwokerto kepada kami," pungkasnya.

Tak ketinggalan, tampak beberapa orang mbak-mbak cantik berseragam hitam putih dan stocking hitam. Dalam hati saya bergumam, apa iya ini SPG sentra batik. Barulah melihat pin yang tersemat di blazer yang dikenakan, saya memahami kalau mbak-mbak yang dikoordinatori oleh Gratiavika, berasal dari Hotel Santika (HS) Purwokerto.Ternyata, HS Purwokerto juga mendukung geliat produk dan pengrajin lokal dengan memberikan wadah berupa gerai showroom dalam rangka memperkenalkannya pada publik, dan berkomitmen tidak mengambil keuntungan terlalu banyak. 

banyumas juguran blogger indonesia
Gerai batik Pringmas di Hotel Santika Purwokerto. Foto : Gratiavika

Ah, semoga semangat para pengrajin lokal yang diwadahi dalam Sentra Batik Papringmas dan pertama kali diinisiasi oleh Bank Indonesia Purwokerto ini dapat terus melestarikan warisan budaya dan memberikan warna bagi ragam kekhasan Banyumas. Meski usianya baru empat tahun, ternyata batik Banyumas yang banyak mengambil corak dari flora di sekitarnya maupun pemandangan Sungai Serayu, sudah dipasarkan hingga India dan juga meraih beberapa penghargaan.

Angin Malam dan Indahnya Sunrise di Tranggulasih

Waktu sudah bergulir menjadi sore dan menuju saat-saat yang dirindukan bagi penikmat senja. Rombongan Juguran Blogger Indonesia menuju Cilongok untuk mampir di salah satu sekolah tepi sawah yang katanya sinyal di sekitarnya hanya bisa ditangkap dekat sebuah jendela di salah satu ruangnya.

Nampaknya semesta belum mendukung, Allah belum merestui kami untuk menginjakkan kaki disana karena keterbatasan sinyal nara hubungnya. Untung, bis sempat berhenti untuk sekedar menuruti keinginan usil saat melihat penjual cilok tak jauh dari tempat kami parkir :) 

Sambil menuntaskan cilok hangat dengan campuran saos kecap dan sambalnya, bis meluncur menuju tempat dimana kami akan merebahkan punggung yang diajak menyangga tas seharian. Kembali di kawasan Baturaden, kami menuju Bukit Tranggulasih. Salah satu yang dinantikan teman-teman datang juga, naik open kap. Sebutan untuk pick up dengan bak terbuka. Sayangnya, saya dan Mbak Idah Ceris yang membawa gendhuk mungilnya menaiki mobil 'normal'. Kali ini saya tak menikmati keseruan bergoyang-goyang dan berharap-harap cemas saat melewati tanjakan dan turunan di atas bak terbuka.

banyumas juguran blogger indonesia
Seperti ini penampakan open kap. Ini sebenarnya menjelang turun keesokan harinya


Rombongan open kap ternyata sampai lebih awal. Sudah menunggu Mbak Olipe, perwakilan panitia, dengan tenda-tenda dan segala peralatan yang sudah rapi disana. Saya, Mbak Idah Ceris, Mas Pradna tiba ketika langit sudah gelap. Senja telah lewat. Ya, kami sempat sedikit salah jalan karena tak cukup penerangan di ruas jalan. 

Ujian berikutnya, melewati tanjakan tangga yang masih tanah liat dengan garis bambu di setiap anak tangganya. Bismillah, bumil kuat, meski sedikit ngos-ngosan. Maklum, trimester pertama kemarin banyak dihabiskan di rumah :) Mbak Idah Ceris pun tak kalah semangat dengan menggendong Yasmin di bagian depan dan memanggul daypack bagian belakang. Dalam hati saya sempat membayangkan, bagaimana kalau nanti saya sudah ditemani si kecil. Tapi katanya, sesuatu itu jangan dibayangkan akan seperti apa, tapi jalani saja :)

banyumas juguran blogger indonesia
Tanjakan yang saya lewati malam hari dengan bantuan senter handphone

Sampai di anak tangga terakhir, suara teman-teman mulai nyaring. Beberapa mulai menyadarikedatangan kami, dan suami saya tak ketinggalan menyambut di bibir tangga. Kekhawatirannya bisa saya maklumi karena dia selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang terhadap saya :)

Malam sudah semakin beranjak menuju larut, angin makin kencang berhembus menampar-nampar bagian wajah dan hijab atau rambut. Semuanya reflek mengambil jaket sebagai penghalau angin dan dingin. Makin malam, kerlip lampu Banyumas, Purwokerto dari atas bukit makin menyuguhkan ketenangan. Syahdu. Malam itu kami berkumpul berpencar sesuka hati selepas makan malam dengan menu yang tak kalah nikmat dengan siang harinya. 

Beberapa kaum laki-laki berkumpul di dekat api unggun dan entah mengobrol apa saja, hingga sampai di obrolan yang sengaja dibuat se-ngehits mungkin tentang Vika, PR HS Purwokerto yang memang menarik hati siapa saja yang melihatnya. Mungkin, banyak peserta Juguran Blogger kali ini yang masih belum paham kenapa sampai saat ini status jomblo masih melekat pada dirinya :) Semoga obrolan Vika menjadi pemantik agar di perjalanan mendatang, mereka sudah berubah status. Setidaknya :)

Sedangkan saya dan beberapa kaum perempuan menikmati teh hangat yang cepat berubah dingin di warung yang menghidangkan makan malam tadi. Dengan Mbak Terry dari Jakarta yang gampang dikenali karena keunikan kepala plontosnya, Mbak Evi Indrawanto dari Tangerang yang selalu menenteng kamera DSLR ber-casing merah yang menurut saya super berat, juga Afrianti Pratiwi yang akrab dipanggil Tiwi, mahasiswa Unsoed pejuang skripsi asal Bogor, juga Ria Lyzara asal Kediri tapi bergabung dengan komunitas Blogger Madura Plat M, saya menghabiskan waktu.

Sampai tak sadar, kalau kemudian partner mengobrol saya sudah berganti beberapa kali. Dari kaum perempuan tadi, kemudian ada Halim Santoso, si bocah hilang asal Solo, dan juga Virmansyah, coklat (cowok Klaten) yang ternyata mengelola kabardesa.com. Dan entah siapa lagi berikutnya. Ketika alarm tubuh saya berkata sudah cukup, waktunya istirahat. Saya pun tak mengelak. Saya tertidur setengah pulas di dalam tenda, beralas matras, dan berselimut sleeping bag dari @fourteen_adv bersama Ella, Tiwi, dan Mbak Terry.

Saya sempat mendengar kehebohan dan cekikikan bersahut-sahutan pas dini harinya, sepertinya kelakukan para lelaki itu, dan beberapa perempuan yang entah sengaja begadang atau terbangun dan tak bisa tertidur lagi.

***

Tahu-tahu saya terbangun alarm alami saja.  Pagi sudah menjelang. Saya bergegas hendak menunaikan shalat subuh. 

Saat keluar tenda, langit masih berusaha mengganti warnanya dari hitam, menjadi abu-abu, kuning dan jingga, hingga benar-benar putih. Rupanya langit masih setengah mendung.

Dari awal, saya sudah mengincar tempat foto paling hits untuk menyambut sunrise di bukit datar Tranggulasih ini. Pencerita yang baik itu Mbak Olipe. Tak kalah dengan Mas Pradna, mereka ini harusnya dilantik jadi Duta Wisata Banyumas :) Sukses membuat penasaran.

Dan jadilah, saya wanti-wanti ke tentmates saya supaya antri paling awal, takutnya antrinya terlalu panjang :) Tapi rupanya hari itu kami beruntung, tak ada antrian panjang.




 
Dan tak lupa, foto yang mengundang banyak suitan dan bidikan kamera. Memang benar dugaan saya, mayoritas memang dihinggapi ke-baper-an tingkat dewa saat melihat pasangan. Terlebih pasangan romantis :) 



Nothing the greatfull things in my almost two years life now except his best treat~ . . PS. Maafkan yak siang2 bikin baper dikit2 (ato banyak yak?), hehe. . Masih terasa membahagiakan sekaligus geli sendiri pas sesi foto ini. Disuitin sama seluruh temen2 kece #juguranblogger @bloggerbanyumas ,dishoot sama beberapa kamera. . Unforgettable moment ini tercipta krn saat do some trip, kuncinya just enjoy the moment. Menikmati semua yang ada di depan mata, menjalin relasi dari mata dan hati terdalam, dan ga ribet dgn urusan sendiri. . Udah lega juga krn semua urusan teknis tiket PP sudah dihandle @ashantytourtravel . Jadi ga kepikiran :) . Photo : mbak @eviindrawanto Place : Bukit Datar, @bukit_tranggulasih_ , Banyumas, Purwokerto, Jateng . #juguranbloggerindonesia #banyumas #purwokerto #desabanyumas #tranggulasih #sunrise #bloggerlife #blogginglife #bloggerbanyumas #explorebanyumas #visitbanyumas #dolanbanyumas #goodmorning #instapurwokerto #thejannahtravel
A post shared by Prita hw (@pritahw) on


Saya tak sempat naik lebih tinggi lagi menuju bukit di atas tempat kami berkemoing ceria ini. Klise alasannya, takut lelah. Sepertinya saya harus kembali lagi ke Tranggulasih. Bukit yang baru dibuka sekitar tiga tahunan ini memang menawarkan pesona alam yang menjadi candu bagi siapa saja yang menginjaknya. 


banyumas juguran blogger indonesia
Kiri-kanan : Mas Pradna, Kang Geri, Ria, saya, Mbak Olipe, Tiwi, Dwi Yahya

Kami tak punya waktu banyak menghabiskan pagi di Tranggulasih. Open kap kembali menunggu. Kabarnya kami akan dibawa ke sebuah tempat bernama Bale Raos. Sebuah petualangan yang baru lagi seiring bergantinya hari telah menunggu kami. 





Seperti apa Bale Raos yang dimaksud? Baca juga tulisan perjalanan di hari kedua Juguran Blogger Indonesia :)



Tulisan ini merupakan tulisan pertama dari dua tulisan dalam rangkaian “Juguran Blogger Indonesia 2017” kerjasama antara Komunitas Blogger Banyumas dengan Bappeda Litbang Banyumas dan didukung oleh  Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto, pada 11-13 Juli 2017. Kegiatan ini juga disponsori oleh PANDI, @fourteen_adv, @lojadecafe, dan Hotel Santika Purwokerto.





 

Salam Dunia Gairah,


 





 

Prita Hw

8 komentar:

  1. Serunyaaa mba.. Sepertinya anakmu nanti bakal suka traveling, dr di perut ibunya udh jalan2 :D. Anakku yg pertama gitu, dr dalam perut usia sebulan, udh aku ajak traveling jauh :D. Skr dia hobi banget kal pi diajak jalan..

    Tempatnya bgs yaaa.. Pdhl aku prnh ke banyumas, tp cm semalam sih, dan cm sampe baturaden doang. Hrs kesana lagi kayaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, iya gitu kali ya mbak tar sifatnya, udah bawaan pas di dlm perut :D Nah, harus ulangin kesana mbak, aku aja pengen balik juga :)

      Hapus
  2. Tempat wawancara Mbak Udit, ya Mbak Prita. Kemarin aku keasikan motret dan membuat video, cari tahu waktunya sudah habis dan kita harus segera ke tempat lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, itupun ngobrolnya ngebut, wkwk

      Hapus
  3. Bumil jd makin happy ya mbk, bs jln2 di tmpt2 wisata Banyumas,
    Sehat selalu mbk prita, amin ya robbal'alamin, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiennnn, makasih mbak Inda :*

      Hapus
  4. Teknik pompa Hysu nya keren..harus ditularkan ke desa2 di provinsi lain tuh mba. Aduh mupeng banget bisa masuk dapur nopia...dan mendoannya ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya mbak, beberapa udah lewat pelatihan2 dan pompanya sekarang bisa dipesan :) Ke Banyumas mbak, mendoannya masyaallah endesss :)

      Hapus