Jatuh Cinta pada Banyumas Berkat Juguran Blogger Indonesia (2)

Terpesona Kearifan Bale Raos

Rasa syukur dianugerahi keindahan sejauh mata memandang di Bukit Tranggulasih masih berlanjut. Keseruan dan saling berbagi rasa diantara kami, para peserta Juguran Blogger Indonesia di hari pertama masih terus terajut di hari kedua.

Tak jauh dari tempat kami menginap, lagi-lagi kami masih asyik masyuk dengan open kap, mobil pick up terbuka yang sangat berjasa mengantarkan kami di sebuah desa yang akan terekam dalam memori kami masing-masing. Kali ini dua open kap, saya dan Mbak Idah Ceris dan ‘blogger terjunior’, Yasmin yang masih berusia 18 bulan, tak ikut umpel-umpelan ceria di kap belakang. Kami duduk di kursi VIP versi kami, disamping pak sopir yang sedang bekerja mengendalikan open kap dengan lihainya turun naik bukit :)

Selamat datang di Bale Raos.



Sebuah balai atau bale-bale yang memberikan nilai rasa tersendiri. Kira-kira itu terjemahan bebas dalam otak saya mendengar frase Bale Raos. Memasuki tempat yang dari depan lebih mirip kedai kopi bernuansa kearifan lokal ini, saya seperti disambut dengan perasaan sedang berada dalam suatu tempat yang pernah akrab dengan ingatan. Sambil terus mencari jenis perasaan apa yang saya rasakan, saya langsung melangkahkan kaki tanpa ragu ke ruang kedua, persis di belakang tempat yang saya sebut mirip kedai tadi.
“Ciit..ciit..klek..klek..”, terdengar bunyi kerja mesin tua yang sedang tekun bekerja. Benar saja, saya menemui seorang gadis muda berambut panjang sepinggang yang sedang melakukan proses roasting atau pematangan kopi dari green bean menjadi roast been. Bau harum di seluruh ruangan juga ikut menyeruak. Memberikan rasa tenang di hati, apalagi jika sekilas melempar pandangan ke seluruh penjuru ruang semi terbuka itu. 

Tak berapa lama, seorang laki-laki yang mirip vokalis band ST 12, tiba-tiba membantu si gadis muda mengambil alih pekerjaan tersebut. Rupanya proses memasak manual di atas bara api kompor tadi tinggal sedikit lagi, dan siap diangkat. 

Fresh from the oven. 

Pas sekali terjemahan kata segar itu saya sematkan pada biji kopi yang sudah bertransformasi menjadi warna hitam pekat, dark coffee. Tak berapa lama, Mas Dobelden asal Temanggung yang juga akrab dengan biji kopi semacam ini, langsung seperti terpanggil melihatnya. Dengan tekun ia melakukan proses seperti melempar-lempar biji kopi ke udara dengan menggunakan tampah, sejenis nampan dari anyaman bambu.

Selain biji kopi, juga terdapat rempah-rempah yang beraneka ragam di sudut meja yang lain. Suami yang juga suka mengamati dan kadangkala membuat minuman dari rempah-rempah seperti menemukan teman lama. Mereka saling bertatapan sepersekian detik sampai berubah menjadi menit.


Kopi, rempah-rempah, dan suasana hijau nan menenangkan hati

Saya langsung mengalihkan perhatian pada kembaran Charlie ST 12 tadi :) Ternyata ia adalah peramu dibalik kopi dan rempah-rempah yang sedari tadi saya perhatikan. Dibalik aneka kemasan produk olahannya, dan cangkir-cangkir yang bergantung rapi, ia dan seorang perempuan berkerudung merah muda, sedang membuat beberapa gelas dan cangkir untuk kami, para tamunya, yang alhamdulillah datang bukan tanpa undangan.

“Saya kopi susu, mas.”
“Kopi rempah ada ya?”
“Kalau saya, teh rempah aja…”

Begitulah kalimat-kalimat bernada request dilontarkan. Dengan senang hati, si mas dan mbak telaten memenuhi nada-nada request tadi, sambil terlihat menggoreng sesuatu yang akan dijadikan teman ngopi atau ngeteh. Paling mendoan nih, batin saya setengah berharap :) 

Sambil menunggu sajian terhidang, saya dan suami pun mengajak si mas dan mbak bercakap-cakap. 

“Campuran kopinya apa mas?”, tanya suami.

"Kalau disini lebih ke rempah-rempah. Sebenarnya kita ingin mengenalkan rempah-rempah. Pendekatannya lewat kopi, karena kopi kan sudah jadi budaya. Sedang rempah-rempah banyak ditinggalkan", jawabnya sedikit panjang tapi membuat saya puas sebagai pecinta rempah-rempah.

"Masyarakat kan harus sehat, harus kembali ke alam", tambahnya lagi sambil terus mengaduk racikan gelas-gelas untuk kami.

Dari si mas pula, saya tahu kalau di Bale Raos ini juga memproduksi sendiri gula merah atau gula jawa yang berasal dari air nira. Tak sabar, saya dan suami langsung mencari terus ke belakang ruang produksi yang dimaksud. Disinilah kami makin merasa takjub dengan tempat ini.

Ternyata, ruang produksi terletak di salah satu titik tempat ini. Terdengar suara Mas Indra, Mbak Evi, dan Mbak Terry yang sudah lebih dulu ada disini. Sama penasarannya. 

Si ibu yang sedang melakukan proses memasak, dan saya yang sedang mencari jeda

Seumur-umur, saya baru tahu proses pembuatan gula merah atau gula jawa yang jadi 'aktor' utama saat rujakan buah ini. Ternyata, bahan dasarnya diambil dari bunga kelapa. Setelah itu, dituang ke tempat yang sudah lebih dulu dibubuhi 'pengawet alami' dari gamping atau kayu yang disebut laru.

 

Prosesnya dituang saja ke kuali yang diaduk-aduk kemudian dibiarkan begitu saja hingga mengental kecoklatan pekat. Terakhir, tinggal dituang ke cetakan-cetakan bambu yang kemudian menciptakan bentuk bulat seperti yang kau tahu di pasaran.

Pas saya mencicipi sedikit gula jawa atau gula merah yang baru saja masak dan lagi-lagi fresh from the oven, hmm...legit layaknya permen. Dan membuat ketagihan. 

Tak lama kemudian, bapak penderas nira terlihat menghampiri kami dan menawarkan apakah kami ingin mencoba air nira yang lagi-lagi fresh seperti yang sudah-sudah. 

Dan pas melihat bentuk fisiknya, oalah, air nira ini legen kalau masyarakat Jember menyebutnya. Atau ada pula di daerah lain yang menyebutnya dengan badek.

Puas bertanya untuk menuntaskan rasa penasaran, kami bergegas kembali ke beranda depan untuk melihat suguhan apa yang sedang terjadi :) Rupanya ragam teh rempah, kopi rempah, kopi susu, dan tape goreng serta mendoan sudah siap dinikmati. Sungguh nikmat meresapi pengalaman saya beberapa menit lalu tiba di tempat ini sambil sesekali menyeruput teh rempah dan tak bosan menggigit mendoan hangat.


"Semuanya yuk kumpul di depan, kita akan berkenalan dengan Mas Edi," begitu arahan panitia, entah siapa saya lupa.

Mas Edi, peracik semua minuman nikmat yang kami nikmati dan sejak tadi sudah saya ikuti gerak geriknya ternyata bukanlah peracik kopi biasa. Dalam tutur katanya saat berkenalan dengan kami, akhirnya kesimpulan saya, Mas Edi ini bukanlah orang sembarangan.

"Bale Raos ini tempat ngpbrol dan bertemu, bukan khusus tempat makan dan minum seperti kafe. Bernaung di bawah Yasnaya Polyana Indonesia.Hanya ada dua di dunia, disini dan di Rusia. Kalau disana, banyak orang yang mau jadi pengantin berkunjung kesana. Nah, yang mau tahu cara hidup, disini.", ucapnya tanpa sedikit pun keraguan.


Tahu cara hidup. Saya mendengarkan sambil menggaris bawahi tiga kata ini. Yang seperti apa? Rupanya Bale Raos sendiri berada di bawah naungan Yasnaya Polyana yang didalamnya terdapat beragam aktivitas tak biasa seperti terpampang di depan kedai tempat kami masuk tadi.



Yasnaya Polyana di Rusia berada di daerah Tula, merupakan warisan seorang filsuf dan sastrawan Rusia yang lahir pada tahun 1828, Leo Tolstoy. Karya epiknya yang tersohor adalah War and Peace dan Anna Karenina yang fenomenal. Pandangan Tolstoy banyak dipengaruhi pemikiran ajaran Timur, Budha, dan Islam.

"Kita harus ingat ketika mengunjungi sebuah tempat wisata, bukan cuma keindahan dan selfie-selfie saja. Harusnya kita melihat apa yang ada di belakang keindahan yang kita lihat. Selalu ada cerita pedih atau perjuangan dibaliknya. Seperti penderas nira misalnya, hidupnya tak semanis yang dideras. Begitu juga petani. Hargai sekecil apapun perjuangannya. Petani sendiri kepanjangannya kan pejuang tanah air Indonesia. Sejatinya pejuang ya petani.", ungkap Mas Edi yang ternyata seorang mentor pertanian organik di Banyumas, Tegal, dan Brebes.

Semua menyimak terdiam. Entah antara mencoba menelaah kata demi kata yang dilontarkan Mas Edi atau kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan opini yang terlintas di kepala masing-masing. 

Menyimak Mas Edi diantara jajaran lumpang (tempat menumbuk) yang katanya merupakan simbol ibu & bapak

Mas Edi juga mengungkapkan rasa bangga sekaligus prihatinnya pada Banyumas. Di satu sisi Banyumas adalah penghasil kayu manis terbaik di dunia, dan juga memiliki curah hujan tertinggi. Di sisi lain, ia melihat masyarakat di sekitar tempatnya tinggal ini, tak mengenal potensi yang dimiliki daerahnya karena tidak teredukasi dengan baik. Dari sinilah, ia bersama kawan-kawan di padepokan filosofi ini memberikan contoh nyata lewat cara bertani yang memperhatikan kearifan lokal. Selain kopi, juga ada nanas dan pisang raja Ambon yang dikembangkan. 

Menurutnya, intelektual bukan cuma milik mahasiswa, petani juga harus bisa meriset hasil pertaniannya sendiri. Disini saya langsung teringat kawan lama saya, Cak Slamet di komunitas petani organik di Mojokerto, bernama Brenjonk. 


"Semua awalnya kan niliki (meneliti), nerok'ake (menirukan), ngembangake (mengembangkan). Prinsipnya, sama seperti kedatangan teman-teman disini. Kita bisa sama-sama ngangsu kwaruh seperti anak yang minta diajari orangtuanya, lalu tuker kwaruh (saling bertukar informasi), dan kemudian gendu-gendu rasa (saling berdaya).", perkataan Mas Edi sebelum menutup perbincangan ini begitu mengena di hati saya. Saya seperti menemukan sebuah magnet rasa yang saya cari sejak awal datang ke tempat ini. Rasa ingin berdaya dan hidup bersama masyarakat lokal sudah lama menjadi impian saya. 

Jika berkunjung ke Banyumas, kau harus mampir kesini. Bale Raos-Yasnaya Polyana, Dukuh Peninis, Desa Windu Jaya, Kecamatan Dukuh Banteng, Banyumas. Mampir juga ke rumah maya Yasnaya Polyana disini.

Makan Siang Perpisahan di Loja decafe  

Saya berjanji pada diri sendiri, saat kembali menginjakkan kaki di Banyumas, saya harus mereguk pengalaman yang lain lagi di Yasnaya Polyana. Kata-kata Mas Edi masih terus terngiang dalam perjalanan menuju tujuan terakhir dari rangkaian Juguran Blogger Indonesia, 13 Juli 2017 itu. 

Open kap kembali menunjukkan ketangguhannya sampai ke kota dimana Loja decafe berada, yaitu di Jalan Banyuamin No. 89 Bancarkembar, Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas. 

Turun dari open kap, kami langsung disambut suasana perkotaan yang sarat lalu lalang kendaraan. Siang yang panas dan badan yang lengket sepertinya perpaduan yang pas. Maklum, saya sendiri belum menyempatkan mandi saat masi di 'atas'.

Suasana tiap sudut Loja decafe yang instagrammable

Sajian makan siang hari itu sudah dipesan khusus oleh Mbak Olipe dan panitia. Sungguh tak mengecewakan. Kami disuguhi ayam goreng kremes dengan lalapan dan sambel endesnya. Sambel bajak yang gurih dan meski sedikit porsi, rasa pedasnya mampu membakar lidah dan mulut. Mantap.



Minumannya bebas saja, kata panitia. Baiklah, saya dan suami memesan es cincau janda kembang berwarna ungu, jujur karena penasaran dengan namanya. Satu lagi, lemon tea ice dengan balutan soda yang segar. 

Tak terasa, waktu semakin terasa cepat saja menjelang detik-detik perpisahan dengan teman-teman Juguran Blogger kali ini. Hidup memang harus realistis, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Banyumas, kami tak akan lupa dengan eksotisme panorama dan cerita sarat makna tentangmu~

Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya. Foto : Indra Pradya (Juguran Blogger Team)
 
Ini agenda tambahan, berkesempatan ke alun-alun Purwokerto, bareng Mbak Olipe dan kawan-kawan yang jadwal kepulangannya molor. Foto : Evi Indrawanto (Juguran Blogger Team)


Tulisan ini merupakan tulisan kedua dari dua tulisan dalam rangkaian “Juguran Blogger Indonesia 2017” kerjasama antara Komunitas Blogger Banyumas dengan Bappeda Litbang Banyumas dan didukung oleh  Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto, pada 11-13 Juli 2017. Kegiatan ini juga disponsori oleh PANDI, @fourteen_adv, @lojadecafe, dan Hotel Santika Purwokerto.


Salam Dunia Gairah,


Prita Hw

9 komentar:

  1. Waah di yasnayanya juga ada outbond nya yaa.. :) . Banyak banget ternyata yg bisa diliat di sana mba. Aku bnr2 nyesel cm sebentar pas ke purwokerto dulu.. Walo bukan pecinta kopi, tapi aku slalu suka mencium wanginya ato cara barista2nya meracik. Pgn juga icipin rasa kopi rempah seperti apa :)

    Trs cara pembuatan gula merah jg. Slama ini gula merah sesekali aku emutin kyk permen :p. Pgn tau aja awal2 cara buatnya seperti apa

    BalasHapus
  2. Mengingat keseruan dan kegayuban antar peserta, rasanya 02 malam terlalu singkat ya Mbak. Semoga kita bertemu di kesempatan lain. Dan Kalau bertemu lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbakkkk, amien, semoga bs jalan2 lagi sama mbak Ev :))

      Hapus
  3. sempet dapet info juguran ini, tapi gagal berangkat gegara ada agenda lain mbak ^^
    banyak juga yang ikut.

    seneng juga bisa belajar langsung ke tempat pembuatan gula merah asli banyumas. taunya mah kita udah jadi gitu aja, ternyata proses dari pengambilan legen sampai bener-bener jadi gula merah butuh proses yang rumit juga.

    ngga nyicipi mendoan khas purwokerto mbak ? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener Wis. Jadi lbh menghargai proses kl kita lihat langsung gini. Wah, sayang ya jadi batal ikutan, th dpn insyaallah ada lagi mungkin :) Nyicipin lah mendoan, hampir di setiap tempat yg disinggahi malah :D

      Hapus
  4. Bener2 menenangkan banget tempatnya. Btw cantiknya tempat nongkrong Loja decafe..

    BalasHapus
  5. Aduh aku kapan yah bisa explore pulau Jawa.. Pengen bgt :(

    BalasHapus
  6. yeeyyy... ada wujud aku di Blog kece mbaa Prita...btw, aku penasaran dengan poitensi kayu manis Banyumas dan semoga bisa ke Banyumas lagi buat explorasi lebih banyak dan lebih lama dan lebih detail ...hehehe...dan semoga bisa ke Jember juga hahahahahha

    BalasHapus