Percaya Saja dengan Sesuatu yang Tiba-tiba : Sebuah Renungan Bulan Desember

Setelah berjibaku dengan Jambore Relawan kemarin, otak atik lagi rutinitas sebagai freelancer adalah rutinitas tetap. Aku kembali duduk di meja kerja berkusi hijau lemon di kontrakanku yang sederhana nan nyaman.

                                                           Sumber : www.peristiwa-id.com

Mataku terpaku pada angka-angka kalender yang bertengger manis di meja. Waktu. Benar waktu adalah misteri. Tiba-tiba saja kita sampai di penghujung tahun. Tiba-tiba saja semuanya bertambah umur dan sekaligus berkurang sisa hidup. Tiba-tiba saja ada rekaman berpuluh, atau bahkan beratus-ratus peristiwa. Kalau saja waktu ini tak penting, Allah dalam satu firman Nya tak mungkin bersumpah Demi Waktu.
Dari mata, kemudian otakku menjelajah. Hatiku juga merasakan pendaran-pendaran yang mencoba mencari makna. File sekian peristiwa penting tiba-tiba berjalan layaknya slide otomatis. Aku yang tiba-tiba menikah dengan jodoh yang ditentukan Allah, yang setahun lalu pun belum ada dalam daftar kontak HP ku. Aku yang tiba-tiba harus mengakhiri masa kerjaku yang hampir 5 tahun yang banyak membantu aku survive sejauh ini. Aku yang tiba-tiba dihinggapi virus penyakit yang datang dan pergi, entah apa sebab pastinya. Banyak hal.

                                                     Sumber : www.book-by-its-cover.com


Masih hangat perbincangan kami suatu pagi. Menjawab lintasan pikiran kenapa tiba-tiba menikah, suamiku bilang, menikah adalah soal pemahaman, bukan kecukupan materi. Inshaallah Allah yang mencukupi. Aku mengangguk.

Ketika menjawab lintasan pertanyaan, kenapa aku tak lagi menjabat posisi penting yang kemarin begitu 'diagungkan' di satu sisi, dan di sisi lain begitu 'menyiksa'. Aku membelah otak, mengobrak abrik folder rentetan pertanyaan yang amat banyak tentang hal ini.

Aku juga pernah bertanya, kenapa uang dengan nominal yang cukup banyak, hanya lewat begitu saja, tiba-tiba habis dalam hitungan menit. Dan banyaknya nominal juga sempat membuat kita bangga. Hmm.. Dengan sabar dan lemah lembut, dulu suamiku pernah bilang, itulah yang namanya nilai keberkahan. Ada jumlah yang banyak, tapi tak cukup memenuhi kehendak, dan pasti dalam genggaman pun tak lama. Kita selalu merasa kekurangan. Ada jumlah yang sedikit, tapi cukup memenuhi kebutuhan dan tahan lama di genggaman. Kita selalu merasa cukup. Aku cuma diam dan meresapi dalam-dalam.
Sehingga bila dirunut, Allah mengaturku untuk tak lagi berkecimpung disana, semoga dengan maksud itu. Bukan soal hasil. Tapi bagaimana lingkungan di sekitar kita memberikan aura positif untuk mencari keberkahan itu sendiri. Tentu kita semua tahu,lingkungan yang banyak mengusung sistem ekonomi ala barat akan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara. Tentu persaingan tak sehat atau ambisius berlebih tak sesuai dengan nilai yang Islam ajarkan. Karena segala perbuatan dilihat dari niatnya, karena Allah atau bukan. Di titik ini,aku kembali menghela nafas.

                                                 Sumber : www.sister-fathima.tumblr.com

Apalagi pas aku membuka jejeran salah satu thread di grup whats app, ada sharing inspirasi yang masuk, seperti ini :

Menemani Mayat Selama 40 Hari

Alkisah seorang konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat : "Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku". Dipanggillah olehnya anak-anaknya, kemudian adik-adiknya, dan tak ada satupun dari mereka bersedia. Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat. Idenya dikatakan ide gila.

Lalu ia pun memanggil ajudannya dan mengumumkannya ke seantero negeri. Hingga tibalah hari dimana sang konglomerat dipanggil kembali ke rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, tukang kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman tersebut dan tergesa-gesa datang untuk memberitahukan bahwa dia sanggup menemani sang konglomerat yang sudah menjadi mayat. Keesokan harinya dikebumikanlah sang konglomerat dan tukang kayu pun ikut serta di dalamnya, di liang lahat sambil membawa kapaknya.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah malaikat Munkar dan Nakir. Dalam benak si tukang kayu, ia menyadari siapa yang datang dan dengan segera ia menjauh. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, malaikat Munkar dan Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan disini ?" "Aku menemani mayat ini hingga 40 hari untuk mendapatkan setengah dari hartanya," jawab si tukang kayu."Apa saja harta yang kau miliki ?", tanya malaikat lagi. "Hartaku cuma kapak ini saja, untuk mencari rezeki.", jawab si tukang kayu lagi. Bertanya lagi malaikat, "Dari mana kau dapatkan kapakmu ini ?" "Aku membelinya", balas si tukang kayu. Lalu Munkar dan Nakir pun pergi. 

Hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, "Apa saja yang kau lakukan dengan kapakmu ini ?" "Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawabnya.

Di hari ketiga, dua malaikat itu datang lagi dan bertanya, "Pohon siapa yang kau tebang dengan kapakmu ini ?" "Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jada tak ada yang punya.", jawab si tukang kayu. Dibalas lagi, "Apa kau yakin ?", lanjut malaikat lalu mereka pun pergi.


                                                     Sumber : www.rdini.blogspot.com

Datang lagi di hari keempat, bertanya lagi, "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan kapak ini sesuai ukuran dan berat yang sama untuk dijual ?" "Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata," tegas tukang kayu. Begitu terus yang dilakukan hingga tak terasa 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar kapak itu. Di hari terakhir, ke 40, datanglah dua malaikat itu lagi, "Hari ini kembali kami akan bertanya tentang kapakmu." Belum selesai Munkar dan Nakir mengajukan pertanyaan berikutnya, si tukang kayu segera lari ke atas, membuka pintu kubur dan ternyata di luar sana sudah banyak orang yang menanti kehadirannya. Si tukang kayu lari tergesa-gesa, dan meninggalkan mereka sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan itu karena aku sudah tidak menginginkannya lagi.

Sesampai di rumah, si tukang kayu bercerita pada istrinya, "Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki cuma satu, kapak ini, tapi malaikat Munkar dan Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak ? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya."

Dari Ibnu Mas'ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia peroleh, kemana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana diamalkan ?" (HR. Turmudzi)


Aku merinding. Ya Allah, benar. Aku kembali diingatkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap perbuatan manusia akan dipertanggung jawabkan kelak. di depan Sang Pencipta. Termasuk harta yang kita bangga-banggakan. Aku menghela nafas lagi. Kali ini karena rasa syukur yang tak terhingga. Tugas menjadi seorang istri dan ibu adalah jalan menuju surga-Nya. Inshaallah. Ia mulia. Tergantung bagaimana kita membuatnya bernilai. Istri yang sholihah, ibu yang cerdas dan produktif. Semoga kelak kami dipercaya mendidik generasi-generasi ladang investasi. Amien.

                                                    Sumber : www.online-instagram.com
Dan, terakhir, ada satu penyakit dalam yang tiba-tiba kambuh saat kondisiku lelah atau sedikit stres, penyumbatan di kelenjar bartolin. Ini sudah kali ketiga. di rentang waktu yang cukup lama jaraknya. Kadang ada rasa takut, wajar lah ya karena sudah fitrah manusia hidup dengan rasa nyaman. Dan khawatir ketika kenyamanannya goyah barang sedikit. Tiba-tiba juga aku merenung saat suamiku berkata, "Bakteri penyebab penyakit itu siapa yang menciptakan ? Dia juga cuma tunduk pada tugasnya." Aku tak bisa mendebat lagi. Subhanallah.

Ya, benar memang, setiap makhluk yang diciptakan Allah di muka bumi ini memiliki tugasnya masing-masing. Semua sudah diatur. Lalu kenapa kita tak melakukan tugas kita saja ? Menjadi pemimpin (khalifah) minimal untuk diri sendiri, dan kemudian menjadi rahmat bagi semesta. (02/12/15 diselesaikan di SMP Terbuka, saat menunggu Pak Adi)

Prita Hw

2 komentar:

  1. Aamiin, ya robbal'alaaminn. Itulah hidup yang penuh dengan dinamika. Very nice posting dan sangat berbobot. Bunda suka membacanya.

    BalasHapus
  2. Makasih bunda.Yati.udah berkenan.mampir.dan baca disela2.kesibukan. Thanks.apresiasinya bun,.semoga bisa saling berbagi:)

    BalasHapus