Cek Cara Mengatasi Insecure pada Ibu-ibu Muda Menurut Islam

Insecure, belakangan populer banget jadi satu kata yang viral diperbincangkan dimana-mana. Sekuritas vs insekuritas. biasanya istilah ini ada di bidang keuangan ya. Tapi nyatanya, saat ini, terlebih di musim pandemi, kata ini relate banget dikaitkan dengan rasa ketidak amanan diri dan bagian dari mental illness. Terlebih di musim pandemi, benarkah? Jadi, siapa saja sih yang bisa terjangkit rasa insecure ini? Apakah cuma ABG tanggung, anak muda yang belum masuk fase pernikahan, atau justru ibu-ibu rumah tangga millenial yang tumbuh sebagai keluarga-keluarga muda? Oke, insecure pada ibu-ibu muda, seperti apa?

Sebagai ibu-ibu muda yang masuk golongan millenial, saya perlu banget speak up soal ini. Hehe, bukan apa-apa sih, better share daripada apatis kan, karena meski 1 ayat pun, kita wajib untuk menyampaikan. Apalagi, kemaren-kemaren mengampu kelas Public Speaking for Moms, dari batch 1 sampai mau masuk batch 8, saya punya kesimpulan mini, bahwa ada masa hibernasi yang seharusnya nggak perlu ada kalau ibu-ibu muda sejak awal bisa nggak mengalami insecure pada masa transisi dari mahasiswa, lulus kuliah, dan menikah.

O iya, tentang generasi millenial ini saya mau luruskan dulu. Banyak banget salah kaprak soalnya. Istilah millenial lalu jadi komoditas untuk mem-branding sesuatu dengan pangsa pasar anak muda, entah itu usia kuliah maupun sekolah. Padahal merujuk pada buku Generasi Langgasnya Yoris Sebastian, si creative freak di Indonesia, generasi millenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1980 hingga 2000. Artinya, ibu-ibu yang masuk usia 40 tahun hingga anak kuliahan berusia 20 tahun di awal tahun 2021 ini masuk kategori millenial. Kalau di bawah 20 tahun, dikira millenial, itu salah kaprah.

Penting banget buat dibahas?

Menurut saya iya. Sebab, karakter yang bertumbuh menurut spesifikasi generasinya punya spesifikasi yang berbeda dalam segi cara belajar, merespon sesuatu, mengambil keputusan, dan hal-hal penting lain yang menjadi life skill dan cara menyikapi hidup.

Ciri- ciri Insecure

Ciri-ciri insecure ada banyak, temen-temen bisa googling ya. Diantaranya yang saya rangkum misalnya :

  • Kurang rasa percaya diri
  • Iri melihat keberhasilan orang lain
  • Merasa minder jika melihat orang lain punya kemampuan lebih
  • Ingin diperhatikan orang atau ingin dihargai
  • Membatasi diri dari perhatian orang lain
  • Ada rasa tidak ikhlas saat orang lain menceritakan keberhasilan mereka
  • Khawatir berlebihan dan merasa bermasalah
Di era medsos sekarang, terutama di saat pandemi kita disibukkan dengan pembatasan aktivitas, memang insecure ini bisa jadi makin menjadi-jadi. Sebab, sudah jamak kan ditemui kalau feed Instagram selalu dipenuhi dengan hal-hal penuh kebahagiaan, rasa memiliki atas sesuatu, pencapaian, dsb. Kalau kita nggak punya kecakapan memilah dan memilih informasi, mana yang penting dan tidak, yang terjadi adalah we wanna be someone else. 

"Kenapa ya aku nggak seperti dia?

"Kenapa ya kok dia bisa begini dan begitu?"

"Keluarganya bahagia ya, perfect banget, kok nggak keluargaku yang begitu?"

"Anak-anaknya lucu-lucu, bapaknya perhatian banget. Seandainya punya suami begitu..."

"Enak ya punya penghasilan yang mapan... mau apa-apa terpenuhi..."

Kalau gumaman-gumaman ini diteruskan, dijamin, daftarnya akan mengular. Sebab, kita selalu membuat perbandingan yang nggak apple to apple kalau istilah orang sekarang. Starting point tiap orang itu beda, bun. Pengalaman, pengetahuan, habit, dan apa-apa yang membentuknya juga beda. 

Insecure, Bermula dari Aqidah

Kok bisa insecure dihubungkan dengan aqidah? Ya mesti bun, karena insecure sifatnya tuh muncul karena kita kurang bersyukur. Syukur ke siapa? Syukur atas apa? 

Ke siapa lagi, kalau bukan Allah Azza wa Jalla yang menciptakan kita, yang sudah memberikan kita tubuh dan panca indera lengkap di saat ada saudara-saudari kita yang dilahirkan dengan disabilitas. Allah yang sudah demikian baik memberikan kita kesempatan untuk memiliki kemampuan, kesehatan, keluarga yang menerima kita apa adanya, juga rezeki yang tak berbatas hingga kita masih bisa bernafas tanpa bantuan oksigen di saat saudara kita yang lain kehilangan keluarga dan harus berjuang untuk bisa mendapatkan oksigen buatan manusia. 

Kembalilah ke dunia nyata, janganlah menapakkan kaki secara penuh di dunia maya yang sifatnya semu. Itu semua cuma artificial. Hal-hal yang tampak oleh mata, yang seringnya tak semua orang bisa melihat apa yang tidak nampak di permukaan. Masih ingat istilah Jawa, urip iki sawang sinawang. Apa yang tampak hebat, belum tentu demikian, Apa yang tampak biasa saja, dan kurang hebat, bisa jadi hal yang luar biasa. 

Aqidah ini persoalan pondasi banget buat kita sebagai manusia beragama, terutama muslim. Sebab, Islam datang untuk menyelamatkan manusia, seluruh manusia hingga akhir zaman. Mau itu muslim, non muslim, anak-anak, anak muda, ibu-ibu, bapak-bapak, keluarga, overall. 

Pondasi keimanan yang kokoh akan membuat kita tak mudah goyah. Sadar dan yakin akan qadha yang ditetapkan Allah untuk kita adalah yang terbaik menurut Nya. Qadha adalah ketetapan, dan kita tak akan dihisab soal apa yang sudah menjadi ketetapan Nya atas kita, seperti hidup, mati, jodoh, dan rejeki. Namun, ada wilayah ikhtiar yang nanti akan dihisab. Bagaimana kita memperoleh jalan menuju jodoh, dan rejeki, mempersiapkan kematian, dan menghargao hidup yang kita punya.

Lagi, kita juga akan dihisab soal keridhaan kita menghadapi apa yang menjadi qadha kita. 

Saat kita diuji nih bun, dengan suami yang mungkin tidak memenuhi kriteria, atau tipe keluarga idaman yang ada dalam standar kita masih kurang menurut standar perfeksionis ala kita, atau kita merasa rempong tak berbatas dianugerahi anak-anak kecil yang aktif, dsb dsb, kembalikan lagi, ridha terhadap qadha. Selama itu, nggak membawa kita pada kemungkaran kepada Allah, selalu ada kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Tentu, standarnya harus diubah.

Standar kita adalah keridhaan Allah. Perbuatan-perbuatan kita tercatat sebagai amal sholih, dengan dua syarat : niatnya lillah, dan caranya benar. Jadi, white lies itu juga nggak ada ya sejujurnya.

Kenali Tiga Naluri Dasar Manusia, Cara Mengikis Insecure

Buat kita yang berislam entah sejak kapan, hanya karena lahir dalam keluarga beragama Islam, wajib cari tahu dan cari ilmu sebanyak-banyaknya. Tak terkecuali saya. Ilmu-ilmu psikologi yang bersumber dari barat nyatanya nggak perlu kok kalau kita makin dalam menyelam tentang Islam.

Sst, ini bukan kata saya aja. Seorang teman yang psikolog dan penulis buku anak, fokus sharing parenting, dan menangani klien-klien juga pernah melontarkan hal yang sama. Padahal dia sendiri mempelajari ilmu Psikologi itu sebegitu seriusnya loh bun. See?  

Kenali potensi manusia dari tiga naluri dasar (gharizah). Makin kita paham, insyaaAllah makin mudah mendeteksi persoalan, termasuk soal insecure ini.  

Naluri (Gharizah) Baqa'

Naluri ini berhubungan dengan eksistensi kita sebagai manusia. Atau disebut juga naluri mempertahankan diri. Ingin dihargai, mengupayakan sesuatu, ambisi, egoisme, dan hal-hal lain semacamnya termasuk dalam kategori ini. Hal yang sangat wajar saat kita kadang merasa iri, merasa kurang atau lebih dari orang lain, dsb.

Naluri (Gharizah) Nau'

Naluri ini berhubungan dengan naluri berkasih sayang. Mencintai, rasa peduli, kasih sayang, termasuk hal-hal baper masuk dalam kategori ini. 

Naluri (Gharizah) Tadayyun

Naluri ini juga disebut naluri beragama, kebutuhan akan mengagungkan sesuatu yang melebihi dirinya dan alam semesta. Pengagungan yang mengarahkan seseorang untuk melekukan penghambaan. Nah, setiap orang yang mengaku atheis pun, pasti memiliki naluri ini. Sebenarnya, ini pergumulan manusia yang paling mendasar. 

Ketiga naluri itu memang harus dipenuhi, karena itu ALlah menciptakan serangkaian aturan untuk hidup yang sudah jelas ada dalam Al Qur'an dan Al Hadits. Karena kalau nggak dipenuhi, bakal menimbulkan masalah, itu sudah pasti. Misalnya nih, memenuhi gharizah nau', ya Allah mensyariatkan pernikahan sebagai jalan. 

Nah, kalau balik lagi ngobrolin insecure, berarti berhubungan banget dengan gharizah baqa'. 

Maka, kurangi rangsangannya ya bun. Batasi penggunaan medsos, hindari membanding-bandingkan, dan genapkan syukur. 

Cara Mengatasi Insecure pada Ibu-Ibu Muda

Lebih baik, terapkan cara mengatasi insecure di bawah ini setelah kita berhasil cek poin aqidah 

  • Think Positive, karena ALlah mengikuti persangkaan hamba Nya. Dan, selalu ingat branding yang Allah sematkan bahwa kita adalah umat terbaik (khairu ummah) seperti firman Nya dalam QS. Ali Imran : 110.
  • Ubah Standar Bahagia, standar bahagia kita adalah Allah ridha terhadap perbuatan yang kita lakukan. Dengan begitu, Allah akan menambah nikmat Nya. Kalau menuruti standat bahagia manusia, serba absurd, bun. Contoh nih, saat keluarga-keluarga lain seusia kita sudah memiliki rumah sendiri, meski dengan jalan riba (KPR, dsb), dan kita sendiri masih menempati rumah dengan status kontrak, gimana kita menempatkan bahagia? Kalau saya, prinsipnya, yang akan dihisab adalah bagaimana kita memperoleh rumah itu, dengan jalan halal atau menghalalkan segala cara? Allah nggak akan tanya, status rumahnya kontrak atau punya sendiri. Beda dengan manusia, yang akan membandingkan dari segi kepemilikan.Belum lagi, sakinah (tenang) tidaknya isi rumah tersebut.
  • Never Ending Learning, di atas langit masih ada langit. Sampai kita ke liang lahat, ilmu akan terus ada. Saya sendiri favorit banget dengan nasehat dari Ali bin Abi Thalib : "Jika kita punya harta, kita akan sibuk menjaga harta. Jika kit apunya ilmu, ilmulah yang menjaga kita." Selalu belajar akan membuat otak kita berguna sesuai kapasitasnya, dan lebih cerdas menentukan keputusan-keputuasna berharga dalam hidup. Buat saya, belajar ini udah bagian dari aliran darah mungkin ya, hehe.
  • Tingkatkan Kapasitas Diri, ini beda dengan konsep love yourself ya bun. Yang bener ya love Allah who create yourself. Kita mah apa atuh, tanpa Allah. Kita bisa terlihat cerdas, pintar, dsb itu karena Allah menutup aib-aib kita. Semua yang mengendalikan organ-organ tubuh kita adalah Allah. Tapi, di area ini, kita bisa memilih untuk melakukan sesuatu untuk mendukung apa yang sudah Allah anugerahkan kepada kita. 
Nah, meningkatkan kapasitas diri ini adalah cara bersyukur paling efektif IMHO. Buat ibu-ibu mudah yang ingin sama-sama punya circle positif, jangan lupa ikuti komunitas positif. Pertama, ya cari komunitas kajian yang ada pembinaan intensif ya bun, jangan cuma taklim untuk tujuan siraman rohani. Kedua, komunitas yang mendukung passion. Misalnya, join di kelas-kelas seperti Public Speaking for Moms yang memang membantu meningkatkan kepercayaan diri, menggali potensi, dan bikin ibu-ibu jadi bisa berkarya seperti generasi millenial pada umumnya. Di kelas ini, nantinya juga ada wadah komunitas yang akan terus menyulut kreativitas insyaaAllah. 


Sudah siap ya bun, tinggalkan insecure dan lebih bersyukur. Siap-siap belajar terus dan terus belajar, dan semoga saya bisa menemani ibu-ibu muslimah produktif untuk terus belajar meningkatkan kapasitas diri. Karena sejatinya, saat saya sedang menjadi mentor, saya sedang berbicara dengan diri saya sendiri. Insecure pada ibu-ibu muda nggak perlu ada, makanya yuk kita kuatkan aqidah sama-sama. 


Referensi :

Nidhamul Islam, Taqiyudin An Nabhani

compaq40.wordpress.com


- Wassalam - 

@pritahw 

    

Prita HW

18 komentar:

  1. Setuju banget mbak, mulai sekarang harus belajar menemukan standar kebahagian versi kita. Dan bener syukur itu yang utama. Kita sesama manusia saling mengingatkan, untuk sabar dan tetap bersyukur

    BalasHapus
  2. Terima kasih mbak Prita sudah mengingatkan
    Memang kadang kita tidak bisa menghindari dari rasa insecure
    Tapi dibalik kekurangan pasti ada kelebihan

    BalasHapus
  3. Insecure Bisa menimpa siapa aja kak,
    Karena Insecure dalam hal apapun Bisa

    Gak kaya, gak miskin.
    Gak anak kecil, gak dewasa

    Kita harus jago mengendalikan diri,
    Semangat dan mensyukuri Nikmat dari Allah juga penting 😎

    BalasHapus
  4. MasyaAllah, makasih mba remindernya...
    Jadi inget sama film imperfect tentang insecure...Banyakin bersyukur kurangi insecure memang bisa jadi kunci untuk mengatasi insecure ya...

    BalasHapus
  5. MasyaAllah, syukron mbak buat remindernya. Tanpa sadar kita memang kerap ada di posisi insecure ini. Terlebih dengan adanya tekanan pandemi. Memang harus bnyk bersyukur dan lebih dekat ke Allah agar hati lebih nyaman

    BalasHapus
  6. milenial ada yg sudah 40+, punya encok, sering lupa, bawel. eh di kepala sebagian org anggepannya milenial itu pokoe muda aja!

    BalasHapus
  7. saya setuju dengan salah satu kutipan di atas bahwa salah satu cara untuk mengatasi rasa insecure adalah dengan meningkatkan kapasitas diri. dan tema public speaking for moms ini menarik banget nih. jadi pengen ikutan.

    BalasHapus
  8. Terima kasih sudah menhingatkan kak. Saya sebagai laki-laki juva kayaknya sudah mulai harus peka masalah beginian buat calon istri kelak.

    BalasHapus
  9. Meningkatkan kualitas diri itu penting banget bagi seorang perempuan ya. Supaya meminimalisir insecure. Aku kalau udah ada tanda-tanda insecure, mending diam sejenak dan mencari cara supaya bangkit lagi

    BalasHapus
  10. Think positif, Ubah standar bahagia, Never ending learning dan Tingkatkan kapasitas diri. Noted. bermanfaat banget nih tipsnya. makasih banyak tuk remindernya mba Prita. Semoga sebagai perempuan kita dijauhkan dari rasa insecure yang berlebihan.

    BalasHapus
  11. Sering banget merasa insecure.
    Ternyata ini adalah ciri orang yang kurang bersyukur yaa..
    Ini penting banget untuk gak pernah berhenti untuk belajar. Sebagai seorang Ibu untuk meningkatkan kemampuan di bidang yang dicintai.

    BalasHapus
  12. Kadangg aku juga merasa insecure tapi kadang juga engga. Temanya keren yaaa. Pengen ikuttt. Karena banyak loh orang yg merasa seperti ini.

    BalasHapus
  13. MasyaAllah, lagi lagi diingetin nih sama Mbak Prita. Barakallahu fik, Mbak. Semoga kita semua dijauhkan dari rasa insecure. Aamiin Allahumma Aamiin

    BalasHapus
  14. Naluri (Gharizah) Baqa', Naluri (Gharizah) Nau', Naluri (Gharizah) Tadayyun, Noted ketiga hal ini.
    HAAH, yah, begitulah, zaman now termasuk ujian bagi semua manusia, termasuk saya. Saya harus bisa mengajari istri dan anak, mengenai insecure jalur Islam yang indah ini..

    TUlisanya, bener-bener jempol deh, menginspirasi bangettts

    BalasHapus
  15. Jazakllajh mba prita sudah d ingatkan kembali untuk selalu bersyukur jauhi insecure. ^^
    Setelah ikut PS fot moms, aku sekarang memang jadi lebih pede untuk tampil di depan umum mba^^

    BalasHapus
  16. Insecure memang sering menimpa diri nih,dan selalu Islam memberikan solusi, salah satu kunci utama dg bersyukur.

    BalasHapus
  17. Insecure tidak hanya dirasakan oleh Mama Muda, semua orang bisa mengalaminya termasuk Papa Muda seperti saya. Bener sekali, salah satu penyebab insecure adalah karena kita kurang bersyukur dan selalu melihat ke atas dalam hal duniawi. Makasih sharingnya Mbak Prita.

    BalasHapus
  18. Mbak Prita, tulisan ini lumayan menguatkan saya. Betul banget itu ciri2 insecure, saya merasa suka minder dan Khawatir berlebihan, merasa bermasalah. Standar bahagia memang harus saya sesuaikan dengan kondisi. Thank ya mbak

    BalasHapus