Petualangan Freelancer dan Traveler, Tetap Asik bareng ASUS di 2019



Menutup sebuah perjalanan dengan perjalanan. Mungkin kalimat ini sedikit pas disematkan buat kita yang akhir tahun kemarin masih sempat me-recharge otak untuk berpetualang, atau it's called liburan bagi banyak orang. Kalau buat saya dan suami, momen akhir tahun semacam momen refleksi untuk melihat sejauh mana kaki dan hati melangkah. 

Semangat dan harapan juga mesti diperbarui. Meski, kadang ada yang bilang, jangan banyak berharap atau bikin-bikin resolusi nanti terlalu banyak rencana. Hm, sebenarnya kalau buat saya, harapan adalah doa. Karena dengan adanya harapan, selalu ada gairah baru dan membuka jalan baru.

***

Layar smartphone saya tiba-tiba bergetar dan saya membaca pesan singkat dari seseorang yang sudah lama tidak berjumpa sejak saya dan suami memutuskan pindah kota domisili di Jember. Seorang kawan lama dari Bekasi, Dhiya namanya. Ia sengaja mengambil cuti akhir tahun sekaligus memboyong adiknya yang baru lulus kuliah. 

"Aku ambil cuti, Kak. Mau ketemu kakak. Aku ke Jember"

Weih, kaget campur senang. Buat orang yang baru melakukan perjalanan pertama ke Jawa Timur, waktu tempuh kereta yang hampir 22 jam tentu bukan waktu yang pendek. Apalagi, tiket kereta api yang langsung dari arah Jakarta menuju Jember memang tidak ada. Saya sarankan Dhiya dan adiknya untuk transit saja di Lempuyangan, Yogyakarta. 

"Kakak.....", dengan senyum sumringah Dhiya yang memang beda 9 tahun lebih muda dari saya ini sudah seperti adik sendiri. Dhiya langsung menyerahkan tangan tanda bersalaman dan kami langsung mendaratkan dua pipi untuk saling bertemu. Kangen sekali. 

"Udah kusiapin jadwal selama kamu disini tar.. Lagian ke Jembernya cuma dua hari", dalam hati saya bersyukur masih bisa menemaninya jalan-jalan untuk dua hari disamping deadline kerjaan yang ga kenal batas waktu dan tempat untuk duo fulltime freelancer, yaitu saya dan suami. 

Freelancer Sekaligus Traveler Memang Butuh Kepraktisan dan Ketangguhan

Saya sebut city tour karena tempatnya tak jauh dari kota, hanya butuh waktu sekitar 40 menit dari pusat kota menuju ke tempat ini, tepatnya di Jl. Mujahir Sukorambi. Saya mengajak Dhiya, dan adiknya, Fathiya, kesini karena all in one wisata hijau di tengah kota ada disini. Biar ga melulu lihat gedung atau jalanan, pikir saya sih 😊 Maklum, di kota besar macam Bekasi kan, yang hijau yang dirindukan, hehe.



"Ngapain bawa laptop, Kak? Ga berat?", Dhiya bertanya heran saat saya menyerahkan laptop ASUS saya untuk dibawa kepada suami.

Saya tersenyum sambil menjawab, "Biasa lah, Dhi. Freelancer ya gini ini. Tar pas ada spot nganggur sambil piknik-piknikan, kita bisa sambil cek-cek macem-macem".

Benar saja, pas masuk Taman Botani Sukorambi, hawa segar, pohon yang rindang langsung menyapa. Kami langsung menuju spot-spot cantik yang sudah biasa saya susuri kalau kesini. Saya bertugas menggendong baby Tangguh yang hampir berusia 1 tahun dan lumayan juga nih berat badannya sekarang 😂 Sementara suami membawa backpack yang berisi laptop dan bermacam peralatan "perang" seperti kamera dan cadangan baterai, tongsis, tripod, bekal makanan dan botol air minum, juga baju ganti untuk Tangguh. Komplit.

Setelah menyusuri taman bunga yang suasananya syahdu, kami menuju ke Bunny & Friends Village, lanjut mengabadikan momen di spot instagenic, dan rehat sejenak di Taman Koi. 

"Itu laptopnya mau dibuka dimana, Kak?", tanya Dhiya lagi diikuti Fathiya. 

Suami pun mengisyaratkan kalau cek email, atau nyicil-nyicil draft buku pesanan yang sedang saya selesaikan nanti saja pas istirahat makan siang. Saya pun mengangguk. Maklum, baby Tangguh masih ingin dibawa berenang di kolam mata air alami oleh ayahnya, hehe. 


"Yuk ah, kita ke rumah pohon, Dhi, Fat, makan siang sambil buka laptop", ajak saya diikuti langkah kaki yang lain.

Tadinya saya ragu-ragu mau membawa Tangguh ke atas, tapi karena saya ingin menantang diri sendiri supaya liburan kali ini ada yang berkesan dan asik meski masih berjarak dekat, saya nekat saja. Hasilnya, tarrraaa, kami berhasil.




Bekal yang kami bawa pun dibuka. Sambil membuka laptop, saya bersantai saat perut sudah terisi makanan. Pemandangan Taman Botani dari atas membuat mata menjadi lepas. Ada perasaan lega. 


"Kak, coba kalau tar kakak misal traveling kayak gini bawa laptop yang lebih slim gitu, Kak, jadi lebih simpel. Kan freelancer merangkap traveler ceritanya", tiba-tiba Dhiya nyeletuk, mungkin melihat saya dan suami yang agak hectic saat buka laptop. 

"Hehe, tau aja kamu, Dhi. Dalam hati, aku juga masukin resolusi buat punya laptop baru yang lebih slim, praktis buat dibawa kemana-mana. Soalnya udah pasti tiap jalan kayak gini, ya aku dan aa bawa", sahut saya sambil nyengir ke suami yang saya panggil aa.




"Biasanya kalau punya resolusi gitu kan mesti divisualisasikan ya, Kak. Kakak pengen yang kayak gimana sih?", obrolan kami mengalir menyoal resolusi.

"Simpel sih, pengen yang portable tapi tetep stylist kayak ASUS Zenbook UX391UA. Slim banget, Dhi, tau ga? Cuma 1 kg beratnya, trus tipis banget bodinya, cuma 12,9 mm. Bisa bayangin ga? Gambarnya kayak gini nih...", saya semangat banget pas menyoal visualisasi.

Jelas saya membayangkan ASUS Zenbook UX391UA bakalan kompromi masuk tas yang mencakup peralatan saya, suami, dan baby Tangguh. Apalagi kalau pas saya capek bawa Tangguh, saya otomatis mengambil alih backpack. Dengan perawakan saya yang mungil, saya yakin ASUS Zenbook UX391UA cocok banget buat dibawa pundak saya kemana-mana.  




"Wah, emang stylist banget sih, Kak! Bakal keliatan kece banget ya kalau nenteng ini kemana-mana. Elegan dan supreme, kalau istilah anak zaman sekarang", Dhiya menimpali.

"Ada lagi selain slim, kokohnya itu loh,", suami saya ganti menimpali.

Benar juga kata suami saya. ASUS Zenbook UX391UA memang super duper kokoh karena bodinya sudah tersertifikasi Military Grade MIL-STD 810G. Itu semacam sertifikasi kuat yang memastikan bodi laptop nya sudah lolos serangkaian pengujian ekstrim. Misalnya nih, seperti jatuh, kena guncangan, pas digunakan di ketinggian, sampai soal tes suhu tinggi dan rendahnya. Kalau panas, akan dihilangkan secepatnya dengan menggunakan sistem pendingin yang ditingkatkan dengan komponen canggih, yaitu kipas kaca kristal cair setebal 0,3 mm, dan pipa panas paduan tembaga dengan dinding setipis 0,1 mm.

Dan, saat multi tasking seperti yang biasa saya lakukan, desain interior kipas yang baru mempunyai sistem aliran udara yang juga ditingkatkan sehingga udara hangat bisa tercipta melalui ventilasi tersembunyi di engsel. Pendinginan juga lebih efisien dan tenang, pun sampai multi tasking tertinggi yang dibebankan ke laptop andalan traveler maupun pekerja on the go satu ini. 

Luar biasa. Rasanya ga membayangkan saya memiliki laptop sedemikian kokoh ini.




Buat yang kadang rempong sama baby, dan suka keburu-buru pas megang sesuatu nih, entah saya atau suami, bisa lega soal keamanannya. Biar Tangguh ada partner yang sama-sama tangguhnya kalau pas lagi diajak ke tempat-tempat yang kadang suhunya memang naik turun, terutama di cuaca labil nan ekstrim seperti sekarang ini. 

Buktinya, tak berapa lama, gerimis turun agak lebat menghiasi langit Jember sore itu. Kami harus menunggu hujan sedikit reda untuk kembali menapaki langkah menuju rumah. 

Sesampai di rumah, badan langsung memanggil untuk rehat, karena keesokan paginya, kami harus sudah on the street menuju Pantai Payangan yang punya pemandangan Teluk Love dari atas. Obrolan tentang resolusi masih disimpan untuk dilanjutkan besok.

Menuju Pantai Payangan, Kenyamanan dan Kualitas Juga Perlu Buat Freelancer dan Traveler

Subuh-subuh saya menyempatkan diri untuk mengetik draft lanjutan setelah kemarin cuma sempat mengedit artikel review untuk blog.

Kali ini, kami akan menuju ke pantai selatan yang menyimpan keindahan dan eksotisme tersendiri. Perjalanan lumayan juga, jaraknya kurang lebih 30 km lebih sedikit, dan memakan waktu 1-1,5 jam dari pusat kota. Letaknya di Desa Ambulu.

Dekat dengan Pantai Pasir Putih Malikan atau Papuma yang menjadi icon Jember, tapi karena alasan kenyamanan track dan membawa baby serta backpack yang masih setia menemani, kami memilih track nyaman dengan melaju menggunakan motor ke Pantai Payangan. Saya tak ingin mengecewakan dua orang yang datang jauh-jauh ini.

Begitu sampai, mata kamera rasanya tak sabar untuk segera mengabadikan momen. Foto, video, tiba-tiba full memenuhi smartphone. Ini dialami Dhiya, Fathiya, dan saya.

Karena cuaca cukup sedikit terik, kami langsung melanjutkan menuju track bukit yang akan mengantarkan kami pada pemandangan Teluk Love yang sedang viral dua tahun terakhir ini. Dan benar saja, saat kami sampai di atas, bibir pantai yang membentuk love, benar-benar jadi bonus jalanan menanjak yang sudah kami lalui.

Ternyata ada banyak gazebo, tapi kami memutuskan hanya makan siang dan foto-foto disana. Dan masih melanjutkan eksplorasi ke Goa Jepang, juga situs bumi yang terdiri dari bongkahan batu besar. Penasaran.





Pas memasuki vegetasi di sekitar situs bumi, dengan pemandangan laut lepas, udara menjadi sangat sejuk. Saya pun langsung lesehan, membuka laptop, dan inisiatif memindahkan foto dan video yang akan diunggah sesampai di rumah. Lumayan, biar lega. Saya juga memanfaatkan waktu yang sebentar itu untuk terhubung ke WA web dan mengecek juga mengirim promo-promo usaha saya dan suami ke beberapa grup bertema pasar atau jual beli. Harus multi tasking begini memang, freelancer merangkap traveler.




Saya jadi benar-benar membayangkan andai saja ASUS Zenbook UX391UA benar-benar ada di tangan. Pasti dengan suasana seperti ini, saya merasa sangat dimanjakan dengan ErgoLift Design nya. Mengetik cepat jadi lebih mudah, sirkulasi udaranya lancar, dan yang juga penting adalah performa audionya yang mantap. 

Kadang namanya traveling sama baby harus bisa switch kalau segala upaya mengalami jalan buntu untuk memecah moody yang ga bagus, biasanya saya dan suami siap-siap video khusus kids atau baby untuk melatih motorik mata. Dan, lagunya itu juga mesti terdengar jelas.

Bayangan saya masih berlanjut, dimana saya dan suami sering berbagi laptop dan kadang uring-uringan karena lamanya waktu suami saat harus mengedit video dan mengunggahnya di channel Youtube. Belum lagi kalau ada pekerjaan desain. Maklum, laptop ASUS Pro P2420SA milik kami prosesornya belum secanggih Zenbook.

Pastinya kalau menggunakan ASUS Zenbook UX391UA ini bakal lebih mudah. Performa komponen yang ada di dalamnya tak bisa dipungkiri lagi, kelas atas. Yaitu prosesor Intel Core generasi ke-8, RAM 16 GB, dan penyimpanannya memakai M.2 NVMe PCIe SSD yang wus, kencang! Belum lagi, kalau pas dibawa traveling macam begini, laptop menawan ini menggunakan baterai berkapasitas tinggi dengan teknologi fast-charge yang membuat pengisian ulang mencapai 60 % dalam waktu 49 menit, Baterainya sendiri sebelum di-charge bisa bertahan hingga 13,5 jam 😍




Sambil menyusui Tangguh yang mulai menunjukkan tanda kehausan, Fathiya mengagetkan, 

"Udah mimiknya? Kita udah muter-muter dan foto-foto di atas situ tadi, Kak", katanya sumringah.

Tak terasa, waktu sudah semakin siang, dan suami memutuskan untuk merapikan semua peralatan dan kami bersiap turun setelah tadi menanjak naik. Pffuuh, lumayan berpeluh juga ternyata. Tapi selalu ada hikmah terdalam dan pengalaman berkesan saat kita sudah merasakan hal-hal tak mengenakkan seperti kaki yang lumayan berdenyut setelah track turun naik tadi. Maklumlah, olahraganya jarang-jarang 😅

Resolusi Itu Masih Berlanjut

"Gimana Kak kelanjutan resolusi tentang laptop yang kemarin?", kayaknya udah nampol ya visualisasinya.

Dhiya membuka obrolan saat kami sudah selonjoran santai di rumah. 

"Iya, Dhi. Tadi aku ngelamun lama pas kalian foto-foto itu. Kan sempet transfer data tadi disana", jawab saya.

"Kalau udah ada ASUS Zenbook UX391UA di tangan, enak banget deh mau transfer-transfer data. Pake Thunderbolt 3 soalnya, dua dari tiga port USB-C nya. Jadinya cepet dan connect langsung. Kalau butuh konektivitas tingkat desktop, ada ASUS Mini Dock yang bikin tambah praktis. Bayangin, kan?", saya kembali panjang lebar saat menjelaskan detil yang saya baca dari hasil googling. 




"Bener banget, Kak. Cocok dah untuk kakak dan Kang Nana. Apalagi kakak kalau ngetik kan cepet gitu ya, ergonomisnya sampai ke keyboard juga kan, kak?", Dhiya masih penasaran.

"He eh. jarak antar tombolnya lebar macem tombol desktop katanya. Permukaan tombolnya juga lembut supaya ngetiknya ga loncat-loncat. Sama, ada cahaya emasnya kalau pas kerja gelap atau kondisi something, Dhi. Pas banget ya akhir-akhir ini ada giliran pemadaman.", saya menjawab semi curcol.




"O iya, satu lagi, Dhi, suara kita bisa buat ngontrol. Ada layanan suara berbasis cloud, namanya Alexa. Jadi kayak ngomong aja, pengen baca berita, cerita, main musik, atau ngontrol apa, eh tinggal bersuara aja. Canggih ya", saya masih terkagum-kagum sambil meneruskan mengetik sambil mengobrol. 

"Bismillah, Kak. Insyaa Allah bisa 2019 ini, ASUS Zenbook UX391UA nya ada di tangan. Kan ga ada hasil yang mengkhianati usaha, Kak! Apalagi kakak udah visualisasi banget, kan?", Dhiya menyahut lagi, kali ini mengandung doa dan semangat.



"Iya, bismillah. Yang penting usaha dan doa. Kalau kamu, resolusi tahun ini apa, Dhi?", saya balik bertanya setelah dari kemarin semangat menceritakan resolusi saya.

"Doain ya, Kak, tahun ini marriednya.", katanya lagi.  

"Waa, aminnn. Sama siapa? Udah ada calon nih kayaknya?", balas saya sengit.

"Ga tau sama siapa, Kak. Yang penting doain tahun ini aja...", katanya tersenyum.

Saya, suami, dan Fathiya tersenyum sekaligus geli tapi juga mengamini resolusi Dhiya di 2019 ini. 

Begitulah harapan adalah doa, dengan upaya terbaik yang kita bisa. Liburan akhir tahun saya kali ini cukup berkesan. Ada ruang berdiskusi dan berbagi harapan untuk sesuatu yang positif dengan kawan lama yang rela jauh-jauh khusus menemui kami di kota bernama Jember. 

Petualangan kami sebagai freelancer dan juga traveler di tahun 2019 semoga makin asik dan eksis dengan ASUS. Terlebih ASUS UX391UA yang jadi impian semua orang. 



Artikel ini diikutsertakan dalam

Lomba Blog: Liburan Asik dengan Laptop ASUS Zenbook UX391UA



Wassalam,




Prita HW

20 komentar:

  1. Emang formasi lengkap deh mbk Prita sama aa' Nana
    Semoga mendulang rizki #2019PakaiZenbook yah Mbak Prita
    Good luck 🙏🙏🙏😎

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamin aamin Rohmah, do'a yg sama buat Rohmah ya, lengkap dgn partnernya :)

      Hapus
  2. Luar biasa, Mbaku ini. Liburan, subuh-subuh masih ngurusin blog. Jadi pengen ke Jember, Mba. Hehe. O ya, desainnya enak dilihat banget. Elegan, keren. Sukses ya, Mba. Terima kasih artikelnya dan salam hangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saking udah kebiasaan multi tasking mas, wkwkwk. Makasih mas sdh mampir. Iya sengaja kesannya dibikin gitu biar cocok sama ASUS nya yg elegan, haha. Thanks ya. Gudlak buat kita^^

      Hapus
  3. Mantap memang asus mbak, bisa menemani di setiap traveling,
    ga cuma traveling, sebagai freelancer juga harus tetap produktif dimanapun
    semoga terkabul ya mbakk

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mas, kl bobot laptopnya kayak zenbook udah berasa bawa notes aja yak. Aamin, makasih doanya

      Hapus
  4. Setuju, Teh. Dengan adanya harapan selalu ada gairah. Terlebih energy dari dunia gairah ini..hehe

    Asik, d.manjain sama sukorambi eung, kalau ke Jember mampir lah, penasaran sama rumah d.atas pohon itu. Tapi memang bener sih, Teh. Laptop yang ringan, spek yang mantap, apalagi tipis duh kemana pun bisa d.bawa, begitu ketemu tempat nyaman, buka laptop. Bisa saja setiap perjalanan langsung tulis aja :)

    BalasHapus
  5. Duh jadi kangen tangguh dan main2 di Taman Botani Sukorambi. Good luck ya Mbak Pritaaa

    BalasHapus
  6. Pekerjaan yang tangguh memang perlu alat bantu yang tangguh pulak. Good luck with the competition!

    BalasHapus
  7. Ni Asus kayaknya tahan banting banget ya. Bisa diajak ke mana-mana dengan aman. Okelah, next beli ini

    BalasHapus
  8. Iya kalau traveling enakan bawa latop yg praktis dan gak berat ya Prit. Apalagi skrng jg gendong2 bayi :D
    Gud luck ya lombanya :D

    BalasHapus
  9. Cakep banget memang kalau traveling bawa ZenBook karena ringan, slim dan tangguh yaaa

    BalasHapus
  10. Slim dan ringan bgt itu laptopnya ya Mba. Simple dan ngga merepotkan klo hrs dibawa bepergian. Tp kira kira mkn bnyk tempat ngga yah?

    BalasHapus
  11. Ya ampunn keren amat itu ASUSnya :* pengen ihhhh. Butuh loh kalo traveling bawa-bawa laptop untuk freelancer. Apalagi kalo tipis, ringan dan speknya tinggi.

    BalasHapus
  12. Freelnace gak bisa lepas memang dari laptop, atau minimal HP. Kalau lagi keluar kota, cocok banget bawa laptop yang slim dan ringan 😀

    BalasHapus
  13. Huohoooo emang zenbook ini travelable dah. Ringan, cantik, canggih dan tahan banting. Siap diajak travelling kemana aja 😆😆

    BalasHapus
  14. Wahhh pada bahas ini semua yaa, asus emang ga ada tandingannya lah, support asus sampai kapanpun :D

    BalasHapus
  15. Aminnnn. Semoga terkabul ya mbak keinginan dapet laptop Asus-nya
    Tulisannya lengkap dan "halus" banget.


    Btw, itu mba prita gendong Tangguh naik ke rumah pohon? Tangguh juga ya mba Prita :)

    BalasHapus
  16. Mbak Prita adalah salah satu narablog yang menginspirasi saya untuk berkarya di jalur independen. Dengan bidang masing-masing. Semangat berkarya, Mbak! Good luck!

    BalasHapus
  17. Jalan jalan sambil melakukan hhobi yang biasanya memang seru dan menyenangkan sekali yaaa :D

    BalasHapus