Menjadi Blogger di Era Digital : Upaya untuk Berbagi dan Jujur pada Diri Sendiri


Menjadi penulis lepas atau dikenal dengan freelance writer memang menjadi jalur yang saya telusuri secara khusus sejak 2010. Meski, sempat vakum lima tahun lamanya karena saya beralih menjadi seorang pekerja yang memiliki rutinitas berangkat jam 7 pagi dan pulang sampai rumah jam 7 malam. Saat kembali memutuskan untuk "mencari jalan pulang" setelah resign dari pekerjaan sebagai seorang karyawan, tak pernah ada bayangan kalau akhirnya saya menekuni profesi yang saat ini saya banggakan : menjadi blogger atau narablog.

November 2015

Kisah bermula saat saya bertemu dengan seorang kawan yang banyak bercerita tentang blog, relawan digital dan influencer, Om Bisot. Dan, seorang kawan travel blogger yang sudah malang melintang yaitu Salman Faris. Keduanya ditakdirkan bertemu dengan saya dalam sebuah jaringan relawan pendidikan di kota penyangga ibukota bernama Bekasi.

Dari mereka, saya banyak mendapatkan insight bahwa menjadi penulis di era digital tak sepelik dulu. Tak perlu harus menunggu berlembar-lembar halaman untuk kemudian menjajal nasib dengan menawarkan naskah ke penerbit mayor. Tak juga harus bertahan dengan menjadi seorang content writer saja. Lebih dari itu, di era yang serba mudah karena akses internet dan perangkat yang mendukung, kita bisa mengelola rumah maya kita sendiri, yaitu blog.

Apakah saya langsung terpengaruh?

Haha, tentu tidak ya. Banyak persimpangan jalan saya rasakan saat akan mengambil keputusan. Meski memang, saya sendiri sudah punya blog sejak 2012, sejak platform Multiply yang kemudian ditutup. Dan, saya kalut memindahkan arsip tulisan ke sebuah wadah baru. Blogspot lah pilihan saya. Hingga kini.

Tapi berpikir untuk menjadikan blogger sebagai profesi, tentu saya berpikir panjang. Apakah bisa long lasting dan survive? Rupanya Allah memberikan jawaban kegalauan saya dengan diijinkan bertemu Mak Indah Juli, co founder KEB yang kebetulan diundang hadir menjadi salah satu pembicara Jambore Relawan yang saya fasilitasi bersama teman-teman.

Saya ingat betul obrolan singkat dengan Mak Injul, panggilan akrabnya, yang menjadi titik awal keyakinan saya. "Sudahlah, jadi blogger itu pas banget buat perempuan. Nanti bisa sambil ngurus rumah tangga, anak, kerjaannya lebih banyak dari kerja kantoran, dan kalau butuh sesuatu, jarang beli. Kayak gadget, kosmetik, ada semua dari job", ungkapnya di suatu malam di akhir acara itu. Saya memasukkan kata-kata itu semacam meng-install program baru di memori otak saya.

Saya harus bisa. Saya harus memutuskan sebuah keputusan penting. Memulai jalan freelancer dengan menjadi seorang blogger.

Maret 2017

"Gimana nih nasib job kita di Jember? Kalau di Jabodetabek, banyak sih ya event. Tapi kalau di daerah, siapa yang mau undang blogger di event-event?", ucapan skeptis ini saya lontarkan ke suami saat kami memutuskan hijrah untuk berdomisili di sebuah kota di sudut Jawa Timur. Sejatinya ini kampung halaman yang sudah saya tinggalkan merantau 14 tahun.

"Ya udahlah, berarti kita yang bikin.", begitu suami saya meyakinkan. Meski berasal dari Bekasi, suami saya ini senangnya bukan main saat tahu kami akan hijrah. Ada sesuatu yang baru yang menunggu.

Berbekal blogwalking ke beberapa blog yang menulis tentang Jember, saya melayangkan komentar. Akhirnya, 15 Maret 2017, kami berkumpul di sebuah kedai sederhana, saling berbagi cerita tentang kisah perkenalan dengan blog dan harapan tentang sebuah komunitas yang saat ini kami namakan Blogger Jember Sueger (BJS).

Kopdar perdana yang berkesan itu
Adanya wadah bagi blogger-blogger daerah berkumpul, saling berbagi informasi, ilmu, dan pengalaman inilah yang membuat saya makin bangga menjadi seorang blogger. Banyak dari teman-teman di Jember berujar, "Akhirnya aku bener-bener jadi blogger yang pernah kopdar! Lengkap rasanya, setelah sekian lama...".
Mendengar kata-kata itu satu demi satu meluncur dari teman-teman blogger di Jember, ada perasaan membuncah, entah berasal dari hormon bernama apa. Rasanya tak bisa dilukiskan. Semua momen pengalaman saya selama di Jabodetabek, dari satu event ke event lainnya, dari kopdar teman maya menjadi teman nyata, sampai menerima job review dari nge-blog, dan memenangkan beberapa kompetisi blog, rasanya berharga ketika dibagi ceritanya kepada teman-teman blogger di Jember.

Malam itu ada semangat baru. Ada keluarga baru. Ada harapan baru.

Saya katakan pada teman-teman di kopdar malam itu, "Jember punya potensi yang bagus, karena banyak investor masuk sini. Lihat kan, mau ada mall, apartemen, juga brand baru, semuanya mengincar Jember. Masa kita yang putra daerah ga kebagian "kue"? Yakinlah, ini peluang untuk berkarya di kota sendiri."

Dari mata mereka yang berbinar, saya mendapat kata sepakat atas pernyataan tadi. Dari kopdar perdana itu, selanjutnya kami berkumpul sebulan sekali untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman, sampai akhirnya dipercaya oleh UMKM Jember untuk menuliskan profil, dan akhirnya bekerjasama dengan sebuah portal berita lokal yang mengabarkan informasi positif dari karya lokal Jember, baik itu UMKM, event, kesenian dan budaya, juga destinasi wisata.



Blogger Jember Sueger saat perdana diajak lunch gathering bareng Alfamart

Sejak saat itu, di tahun pertama kemunculan Blogger Jember Sueger, blogger mulai dikenal sebagai sebuah profesi sekaligus hobi yang diperhitungkan di Jember. Kami kerap diundang oleh komunitas, perusahaan, organisasi non pemerintah, sampai FGD dan bimtek yang diadakan Pemerintah Kota setempat.  

Nikmat Tuhan yang mana yang kami dustakan?

Agustus 2018

"Malam ini kita berkumpul disini, impian saya terwujud. Biasanya saya yang diundang menghadiri fam trip di kota lain. Saat ini, saya yang menjamu teman-teman sekalian untuk mengenal kota saya, Jember.", itulah yang saya ucapkan saat memberikan welcome speech ke teman-teman blogger yang datang dari Jakarta, Bandung, Sukabumi, Bekasi, Sragen, Bojonegoro, Surabaya, dan Madura. 15 blogger terseleksi itu datang dalam rangka memenuhi undangan fam trip Blogger Jember Sueger (BJS) bekerjasama dengan pegiat destinasi wisata di Jember.


Hampir ke 15 blogger nasional itu pernah kopdar di suatu event maupun melakukan perjalanan fam trip bersama saya dan suami yang juga menekuni dunia blogging. Kalau mungkin dalam dunia penulisan blog, kita mengenal link building di dunia maya, beginilah wujud link building di dunia nyata. Semuanya hidup. Inilah keuntungan hidup di era digital. Tak bertemu secara fisik, terpisah secara ruang dan waktu, tetapi pertautan jiwa tetap terjadi tanpa sekat. 

Di malam kedua, kami kemping dan menghabiskan malam dengan berbagi pengalaman sebagai blogger. Saya menyaksikan pertemuan teman-teman blogger Jember dan teman-teman blogger dari berbagai daerah. Banyak dari mereka yang berkawan bertahun-tahun di dunia maya, bahkan ada yang punya program collabs bersama, dan baru bertemu di momen acara ini. Luar biasa. Rasanya kami menjadi utuh.

Banyak hal yang saya pelajari dari teman-teman hebat saya itu. Dengan menjadi blogger di era digital, ternyata kita bisa berkontribusi banyak hal, seperti :

  • Ikut andil menjadi konten kreator positif di tengah-tengah isu hoax dan overload informasi. Saya banyak menulis tentang fenomena yang sedang terjadi ataupun berkaitan dengan momen tertentu.





  • Menghidupkan passion dengan berbagi lewat tulisan, apapun itu, selama positif dan bermanfaat. Passion saya di bidang literasi saya wadahi dengan menulis tentang tips, komunitas dan event literasi. Di ranah inspirasi yang menjadi tema besar di blog ini, saya juga menulis tentang pengalaman bertemu dan ngobrol dengan orang-orang inspiratif. Selain merekam jejak perjalanan sebagai part time traveler, baik perjalanan sendiri maupun perjalanan memenuhi undangan pihak lain di berbagai daerah.






  • Memperkuat personal branding dan menjadikan blog sebagai jurnal untuk mengenal siapa kita dan apa yang kita bisa bagikan untuk publik. Biasanya saya menulis tentang keseharian sebagai trainer menulis dan public speaking, juga mengampu program on air, selain berbagi pengalaman selama menjadi freelancer dan juga volunteer.





  • Sebagai jalan ikhtiar untuk menambah pundi-pundi penghasilan dengan mengerjakan apa yang kita sukai sebagai hobi menjadi profesi. Untuk melihat tulisan non organik, baik itu job review maupun content placement, dan apresiasi dalam beberapa kompetisi, silahkan kunjungi halaman portfolio writing.
  • Menambah relasi dan jejaring untuk mendapatkan trust di era digital, dimana dunia maya bukan semata-mata maya, tetapi juga representasi dari dunia nyata. 

Resolusi 2019

Tak terasa hampir 4 tahun saya terjun di dunia blogging yang makin riuh ini. Ini saya hitung saat saya mulai serius ya, bukan dari sejak saya memiliki platform blog. Banyak bermunculan blogger-blogger baru yang namanya juga mulai diperhitungkan. Contohnya penyelenggara Kompetisi Blog Nodi ini. 

Saya bangga sekali ada orang-orang seperti Mas Nodi yang seorang banker dan menjadi blogger seprofesional pekerjaan utamanya.

Tahun ini saya tak muluk-muluk punya resolusi. Saya ingin menjaga api konsistensi blog saya sebagai personal & lifestyle blog yang punya 3 ranah besar, yaitu inspirasi, literasi, dan catatan perjalanan (travel). Apa yang saya bagikan, baik blog post organik maupun non organik, saya harapkan dapat memberi sebesar-besar manfaat yang kelak akan saya pertanggungjawabkan. 

Kalau personal branding yang meningkat, tentu saja itu saya yakini sebagai efek samping. Contohnya, beberapa tawaran dan undangan untuk menjadi pembicara dan berbagi tentang profesi sebagai freelance writer, blogger, social influencer, dan tips bergiat di dunia digital marketing. 


Saat menjadi pembicara dalam Recycle Camp - Upgrading Relawan Lingkungan, berbagi tentang digital marketing untuk program sosial

Satu lagi, saya ingin lebih banyak orang menjadi blogger di era digital ini. Banyak orang mewujudkan mimpinya menjadi penulis, setidaknya sebagai penulis blog. Blogger bukanlah profesi eksklusif yang hanya sah dimiliki oleh seorang berlatar penulis saja, tapi juga sah dimiliki setiap orang yang punya naluri berbagi dan berkehidupan sosial. Berbagi tentang apa saja “kemewahan” hidup yang kadang kita sendiri menganggapnya receh. Tapi siapa sangka, justru di mata orang lain, kesederhanaan itulah yang memiliki nilai lebih.

Karenanya, saya bersama teman-teman di Blogger Jember Sueger (BJS) menginisiasi Pelatihan Blogging. Tak lain tak bukan, supaya bermunculan blogger-blogger baru yang merajut mimpi untuk menjadikan blogging sebagai hobi ataupun profesi.

Akhirnya, menjadi blogger bukan soal kebanggaan mendapatkan job, menghadiri event, atau memenangkan kompetisi, lebih dari itu, menjadi blogger adalah upaya untuk jujur pada diri sendiri, peka terhadap masalah sosial yang sedang terjadi, dan berbagi lebih banyak dari sudut pandang diri.



Bersama suami dan buah hati di depan blog post yang dicetak layaknya baliho di satu sudut Taman Botani Sukorambi, destinasi wisata favorit keluarga di Jember


- Happiness only real when shared - Into the Wild

 Wassalam,


Prita HW

19 komentar:

  1. Ah ya! MULTIPLY dulu yang aku juga punya. Tapi trus entah kabarnya. Lebih enjoy pake blogspot.
    Ya, aku pun bangga jadi blogger jember :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. viral banget lah ya dulu itu MP, sampe ada milisnya kalo ga salah. Semoga BJS terus aktif ya

      Hapus
  2. Sepakat :) blog mah wadah aja sih, berbagi pendapat, pandangan, ide dst.

    BalasHapus
  3. Menghidupkan passion lewat tulisan, saya setuju ini mba. Semangat ya :)

    BalasHapus
  4. Keren banget mbak prita... mantab!
    terus menginspirasi literasi Indonesia ya mbak..

    Sepertinya di foto pertama blogger ada faisol ya...
    hahah bocah itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks, Adhi! Amin aamin. Iya, Faisol ada kok di yg kemping juga, hehe

      Hapus
  5. Sukses selalu dengan komunitas Blogger Jember Sueger nya, mba Prita ����

    BalasHapus
  6. At the end of my word setelah membaca artikel ini, aku jadi pengen ktmu mbak Prita lagi. Belum puas rasanya ngobrol2 kala itu. Salam rindu dari adekmu yg ex banker jg hehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk kopdar lagi yg lebih santai ya Joe, kemaren emang ga sepet ngobrol banyak krn agak riweuh, hehe

      Hapus
  7. Mantap! Kapan-kapan ke Jember lagi, ah! :D

    BalasHapus
  8. saya suka sama tulisanya mbak, topiknya juga menarik. Semoga terus solid bloger jember

    BalasHapus
  9. Terimakasih mas/mbak sdh mampir, kebetulan topikny amemancing curhat :)

    BalasHapus
  10. meet up pertama kali maret 2017, harusnya aku tau ya, tapi mungkin waktu itu terlalu sibuk & lama ga nulis (cuman blogwalking kayaknya), jadi minim info.
    Maju terus blogger jember, next kalo ada wktu, aku dateng ke event2 atau kumpul2 gitu

    BalasHapus
  11. Ah jadi terkenang multiply, banyak sumbangsihnya ketika saya mulai ngeblog iseng, sampai akhirnya sekarang seperti ini.

    BalasHapus