See The Wonderful Indonesia : Menemukan Keindahan Magis Berbalut Perjalanan Hati di Pantai Payangan Jember



Masih teringat jelas di ingatan, saat baby Tangguh masih dalam usia kandungan 4 bulan, saya bersyukur bisa sebebas-bebasnya jalan-jalan. Semacam merayakan kebahagiaan bisa kembali keluar dari rumah setelah trimester pertama kehamilan menghabiskan banyak waktu untuk sedikit mengerem aktivitas. Kemana saya menginjakkan kaki? Saya memilih Payangan, sebuah pantai selatan di Jember yang tak jauh dari pantai pendahulunya yang lebih dulu populer, Papuma dan Watu Ulo. 

Juli 2017, tepat momen setelah lebaran tahun lalu, saya search tempat ini karena penasaran dengan Teluk Love yang viral di media sosial. Sebagai orang Jember, rasanya tak lengkap kalau saya tak membuktikan keindahannya secara langsung.

Jadilah berlima dengan suami, dan tiga orang teman lainnya, kami bermotor ria dari arah kota menuju kesana. Perjalanan kami memakan waktu kurang lebih 1 jam dan menempuh jarak kurang lebih 32 km. Lokasinya tepat berada di Dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. 

Berbekal pengetahuan menuju Pantai Watu Ulo, kami lurus saja menerjang jalanan dan sampai di area parkir yang banyak difasilitasi warga. Banyak pilihan dan sempat agak bingung untuk menambatkan hati dimana, apalagi tawaran yang saling bersahutan. Tapi, pilihlah yang mungkin terdekat dengan arah masuk pantainya. 

Untuk urusan tiket, sangatlah terjangkau, biaya sekali makan saja mungkin lebih dari ini. Kita cukup merogoh kocek Rp, 3500-5000 saja untuk parkir kendaraan bermotor ataupun roda empat.

Kami sudah menentukan cara kami menghabiskan waktu untuk menikmati panorama sedemikian indah ini : camping! Parahnya, kami tiba di Payangan saat sore sudah hampir memasuki waktu senja. Bisa dibayangkan anginnya, dan sinar mentari yang sudah mulai redup. Yah, ini semua gara-gara jadwal masing-masing yang sedikit padat. Baiklah, mulai mendirikan tenda seadanya, dari mulai agak ke tengah dengan harapan bisa mendengar deburan ombak lebih stereo, sampai akhirnya makin ke tepian, disamping warung makan warga 😅 Maklum, angin membuat kami harus banyak kompromi dan sedikit cerdas memilih posisi. 




Malam itu begitu syahdu, kami menghabiskan malam dengan memasak ala chef amatir. Lengkap, sayur, buah, dan lauk seadanya. Sudah diniatkan memasak sih, meski warung makan ada di sebelah tenda 😆 Sambil makan malam, kami menghabiskan waktu untuk sharing dan melihat taburan bintang yang bertebaran di gelapnya langit. Indah sekali. Seperti ini yang saya rindukan. Beratapkan ornamen alam yang tak bisa tergantikan dengan piranti home decor buatan manusia. 

***

Seperti ada alarm yang membangunkan, saya bergegas ketika melihat pagi sebentar lagi datang menjelang. Sepertinya ini waktu subuh. Dan benar saja, saya melirik jam di ponsel, waktu menunjukkan pukul 5. Sambil membangunkan yang lain, saya mengajak suami untuk shalat subuh di musholla yang berada tak jauh dari tenda. Saya berjalan diantara pasir yang halus. 

Pagi ini jelas terlihat keunikan yang dimiliki Payangan. Ada 4 bukit, yaitu Bukit Samboja, Bukit Domba atau Bukit Sroyo, Bukit Sarat, dan Bukit Seruni. Juga 1 pulau. Masyaa Allah. 

Saya baru sadar kalau pagi itu cuaca cukup mendung, dan rintik gerimis sudah mulai turun. Tapi itu semua tak membuat kami murung. Sesampainya di tenda, saya mendapati bonus dari Sang Pelukis Keindahan, pelangi yang menyembul diantara bukit-bukit. Rasanya tak ada kata-kata yang benar-benar tepat untuk menggambarkannya. "Ini bonus nih", ujar saya kepada yang lain. 


Selesai sarapan, kami berjalan-jalan santai di sekitar pantai. Baru terlihat jelas semua fasilitas yang bisa dimanfaatkan bagi pengunjung. Seperti toilet umum, warung-warung makan yang bisa diminta menyiapkan olahan ikan bakar. Paling menarik saat memandang ke arah birunya air laut, yang di tepiannya banyak perahu nelayan bersandar. Ternyata hampir sebagian besar penduduk setempat menggantungkan mata pencahariannya sebagai nelayan. 

Oh ya, saya juga melihat ada fasilitas berupa kuda yang bisa ditunggangi untuk sekedar berkeliling pantai dan menikmati ombak juga langit yang biru bersih. Saya lupa berapa tarif persisnya, kalau tidak salah berkisar 10 hingga 30 ribu sekali putaran. 





Tibalah saatnya kami beberes tenda. Kami memutuskan untuk menaiki Bukit Samboja, salah satu bukit yang ada disana. Pertimbangannya, track nya lebih pendek dari Teluk Love, mengingat kondisi saja yang lagi hamil dan sedang uji coba do travel. 

Tapi, dari semua alasan terpenting memilih Bukit Samboja adalah karena saya penasaran dengan petilasan yang ada di puncak bukit. Ada sejarah apa dibalik semuanya?





Setelah membayar karcis yang kurang lebih paling mahal 5 ribu, saya sempat ngobrol agak lama dengan ibu-ibu penjaga tiket. Tentang riwayat petilasan. Tak lama, saya diperkenalkan dengan sang juru kunci yang secara kebetulan ada diantara kami.





Banyak obrolan konotatif yang menjurus pada persoalan iman. Bahwa samboja bukanlah sembarang sebutan. Nama ini berarti menyembah. Siapa sesembahan tertinggi kita? Allah SWT. 

Bukit ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa ada zat yang paling tinggi yang menciptakan kita dan alam semesta. Namun, kadang banyak orang yang salah tafsir dengan datang berziarah dan "ngilmu" di bukit ini. Terutama pada malam 1 Sura atau 1 Muharram dalam penanggalan Islam. 

Dari juru kunci pulalah saya tahu, bahwa yang berada di atas bukit bukanlah makamnya, tapi petilasan, tempat seorang yang “menjaga” alam di sekitar pantai selatan ini untuk bermunajat pada Allah. Seseorang tersebut cukup memberikan pengaruh pada penyebaran Islam di wilayah Payangan. Sedangkan makamnya sendiri berada di bawah, di dekat salah satu sudut pantai Payangan. 

“Biasanya ga sembarang orang, saya kasih kepercayaan buka kunci sendiri. Tapi karena mbak dan suami ngerti, paham bahasa saya, saya percaya”, ucap juru kunci kepada saya dan suami dan didengarkan kawan kami yang lain yang dari tadi sebenarnya kurang paham pembahasan kami.

Saya terus terang cukup kaget. 





Tapi saya ingat betul-betul kata per katanya. Termasuk wejangan untuk selalu berhati-hati dan berdoa, memohon doa yang terbaik selama proses menaiki bukit. 

Dengan hati-hati dan sedikit terengah, akhirnya saya bisa sampai ke puncak bukit. Suami membuka kunci petilasannya, dan kami pun masuk dengan niat berziarah dan berdoa untuk almarhum yang telah berjasa pada Payangan. Sekaligus momen bagi kami untuk mengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah sementara. Ada perasaan tenang ketika itu. Maha besar Allah dengan segala ciptaan Nya.

Saat turun, kami beristirahat di gazebo yang banyak disediakan, menikmati ragam photo spot yang apik dan terawat. Yang unik, ada Bukit Seribu Janji yang menarik hati. Pemandangan Payangan dari sana juga terlihat jelas mempesona. 





Ah, Payangan, keindahanmu begitu magis. Indahnya tak berujung. Satu lagi, perjalanan ini bagai perjalanan hati bagi saya dan suami. Tentang kepercayaan sang juru kunci dan doa untuk keselamatan lahir batin janin yang saat ini sudah berusia hampir 1 tahun awal Januari nanti. Insyaa Allah, kami akan kembali. 








***

Jangan lupa ceritakan keseruan dan romantisme perjalananmu dalam Wonderful Indonesia Blog Competition dengan batas akhir 4 Desember. 





Image result for logo wonderful indonesia



Wassalam,


Prita Hw

9 komentar:

  1. Seru sekali pengalamannya.

    Semoga bisa ke Jawa Timur lagi dan mampir ke sini suatu nanti.


    Salam mba
    Www.aulaandika.com

    BalasHapus
  2. HUAAAAAAAAAAAA....
    ini fotonya tanpa editan?
    kok bisa sebagus ini?
    apalaggi aslinyaaa.
    Ya ampun aku langsung browsing tiket ke jember :(
    mbak prita nih yaaa!

    BalasHapus
  3. Wuuah hasil fotonya bagus-bagus. Salut nih mbak Prita lagi hamil ikut naik bukit.
    Aku pernah ke Payangan dan naik ke bukit domba, atau lebih dikenal dg teluk love ya, dan sukses ngos-ngos an haha

    BalasHapus
  4. Pantainya bersih, terus itu sepi pulak. Suka dengan suasanan seperti ini :-)

    BalasHapus
  5. baguuuus pemandangannya. Indonesia memang memiliki banyak pulau yg indah

    BalasHapus
  6. Kehadiran pelangi itu memang selalu me.berikan sukacita ya, mbak.


    Ahaha, kok namanya bukit 1000 janji? Banyak orang yg suka membuat janji di sana?

    BalasHapus
  7. Ya ampun cantik banget pemandangannya dan bumil setrong pisaan

    BalasHapus
  8. Pemandangannya bagus banget, Teh. Udah gitu pantainya seperti masih asri ya.
    Paling suka kalau seperti itu. Ternyata banyak juga tempat wisata yang baru saya tahu di Jember, Teh.

    BalasHapus
  9. birunya menyegarkan mata ya mbak... dan tempatnya juga bener-bener romantis, sipppp buat menikmati keindahan alamnya

    BalasHapus