Suami dari Tuhan, Terimakasih Atas Semuanya dan Terimalah Persembahan Dariku




Bahagia itu sederhana...
Hanya dengan melihat senyummu
Bahagia itu sederhana...
Karena ada kamu
- Abdul & The Coffee Theory featuring Wina Natalia


Alunan musik yang mengalun dari pengeras suara laptop pagi itu berhasil membuat saya cengar cengir sumringah saat memulai April yang spesial ini. Di bulan ini juga, saya makin bertambah usia. Hal yang patut disyukuri saat saya menyesap makna lirik lagu yang mendefinisikan sederhana hanya dengan kehadiran seseorang yang amat kita sayangi. Bagi saya, kehadiran pasangan hidup bernama suami adalah anugerah yang harus saya syukuri lagi dan lagi.

Ehm, memang postingan kali ini akan membuat temen-temen sedikit baper (mungkin bagi yang jomblo ya, haha), atau malah terbawa suasana ingin menikmati romantisme bersama pasangan. Apapun. Tapi yang jelas, saya sudah konfirmasi di depan loh ya :)

Alunan merdu Abdul dan Wina Natalia berhasil membawa saya memutar ‘film’ kami berdua begitu saja dalam ingatan kepala. 

Memang, pernikahan kami boleh dikatakan masih seumur jagung jika meminjam istilah orang-orang untuk mengartikan muda (meski saya tak tahu persis usia jagung berapa). Kami mengikat janji suci se-iya sekata dan sehidup semati itu persis pada 15 Agustus 2015. Momen pasca lebaran hampir dua tahun lalu.

Suami saya sangat berarti buat perjalanan hidup saya saat ini, bukan saja karena ini pernikahan kedua yang insyaallah akan menjadi pernikahan terakhir menuju jannah bagi saya, lebih dari itu. Saya mengenalnya pertama pada 31 Mei 2015 di sebuah workshop menulis untuk anak-anak yang diadakan komunitas saya. Kebetulan berkolaborasi dengan workshop fotografi yang diselenggarakan komunitasnya. Kami tentu tak saling kenal.


Saya saat workshop menulis bersama anak-anak di Bekasi, bersama komunitas Jurnal Khatulistiwa

Tapi karena dialah satu-satunya relawan yang tersisa sebagai tim teknis di workshop kala itu, kami pun sempat menjadi tim meski sesaat. Kejutan bermula saat saya ingin menjepret kebersamaan kami ketika akan berpisah dengan bantuan seorang teman. Cekrek.

“Wah, baju kita samaan ya, bang…", kata saya spontan saat tahu warna baju komunitas kami berwarna sama.

“Berarti tinggal tentuin tanggalnya…”, jawabnya sama spontannya dan sukses membuat saya ternganga dan bertanya-tanya, ada apa setelah ini. 




Yes, hanya dengan pertemuan pertama itu, kami pun bertukar akun media sosial, dan nomor handphone. Beberapa malam kami habiskan untuk diskusi tentang kehidupan dan untuk apa kita diciptakan di dunia ini. Sehingga kita tahu apa tujuan dari sebuah ikatan pernikahan. Tentu kami tak saling bertatap muka. Dia tinggal di kota penyangga ibukota bernama Bekasi, dan saya tinggal di kota lunpia yang ampuh untuk mengumpulkan remah-remah kenangan bernama Semarang.

Pertemuan kedua, dia nekat menyambangi saya dengan menempuh perjalanan 436 km. Tujuannya, untuk menyatakan maksud, juga menjawab keraguan saya. Saya hanya mengikuti alur Sang Pembuat Skenario saat itu. Maklum, pernikahan pertama yang sudah kandas dan menyisakan waktu tiga tahun buat saya untuk menikmati kesendirian itu cukup membuat saya harus was-was. Entahlah berlebihan atau tidak. Di sisi yang lain, saya juga baru mengetahui kalau dia juga beberapa kali gagal menikah dan mengalami masa hibernasi yang cukup panjang.

Tapi, takdir memang tak bisa dinalar dengan akal manusia yang terbatas. Semuanya bergulir begitu saja. Restu dari keluarga dan sahabat-sahabat terbaik mengalir. Semua perkenalan dilakukan lewat ruang hampa udara yang disambungkan oleh jaringan nirkabel dan satelit. 



Saat prosesi ijab qabul yang mengharukan itu

Pertemuan ketiga, H-1 akad nikah kami yang dilangsungkan di kampung halaman saya di Jember. Saat ijab dinyatakan, saya tak kuasa menahan air mata. Bukan apa-apa. Ini pertemuan yang singkat, dengan perjalanan hati yang panjang. Hikmahnya satu, maafkan masa lalu, buka hati dan masa depan dimulai dari jalan yang kita lalui sekarang.

Lamunan saya berupa ‘film’ dalam kepala tadi rupanya masih berlanjut. Terutama karena saya memaksa diri untuk sadar meningkatkan kadar syukur setiap saat, terutama di bulan pertambahan usia. Mumpung orang yang sedang saya lamunkan juga sedang berjibaku dengan kesibukannya :) Saya pun menikmati me time dengan menjejakkan jari-jari di atas keyboard.

Tak cukup hanya satu alasan seperti saat saya mengenalnya sebagai sosok yang sederhana dengan sepeda anginnya saat saya bertemu pertama kali. Dan, ternyata, sepeda itulah satu-satunya transportasi yang ia gunakan untuk beraktivitas. Dan baru saya ketahui pula, jika motor yang dulu ia gunakan, harus berpindah tangan ke adik perempuannya untuk keperluan bekerja yang jaraknya lebih jauh.

Jarang di era yang penuh dengan gengsi dan segala hal bersifat artifisial, ada sesosok sepertinya yang menyebut dirinya Pemuda Desa. Bagi saya, ia mengerti esensi. 


Si Pemuda Desa dan sepeda andalan

Tak cukup satu alasan seperti saat saya mengenalnya sebagai seorang pembelajar akut lewat jalur otodidak. Ia mencintai seni merefleksikan cahaya bernama fotografi. Dari salah seorang sahabat terbaik di komunitas yang saya ikuti dimana sahabat saya itu juga beririsan berada di komunitas yang sama dengan si Pemuda Desa, saya memperoleh keyakinan. “Dia itu tipe orang yang punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan pembelajar yang cepat.”, begitu ungkap sahabat saya.

Tak heran, baginya tak ada rasa minder saat bergabung dengan komunitas pecinta fotografi Bekasi Foto yang notabene sebagian besar anggotanya adalah jurnalis foto atau fotografer lepas yang sudah lebih dulu dibilang profesional.

“Nana itu istimewa,”, begitu ungkap Om Wandi - begitu saya memanggilnya -, seorang fotografer di sebuah kementerian RI yang ternyata memiliki kedekatan hubungan persahabatan atau ‘bapak-anak’ sosiologis dengan si Pemuda Desa. Karena tekadnya yang kuat dan pembuktian diri lewat beberapa prestasi yang diraihnya, Om Wandi pun dengan sukarela mewariskan salah satu koleksi kamera DSLR nya, Olympus E 500 kepadanya. Buat saya, ini juga sesuatu yang didapat bukan tanpa usaha, tapi semacam apreasiasi atas eksistensinya menekuni passion. Dan itu sangat natural. 


Si Pemuda Desa dan kameranya

Beberapa kompilasi hasil foto si Pemuda Desa

“Hanya, dia itu butuh orang yang mendukungnya…”, ini tambahan terakhir dari sahabat saya yang juga mengenalnya.

Hm, orang yang mendukung. Sepertinya menarik, batin saya.

Masih ada beberapa alasan yang membuat saya makin menyayanginya dan bersyukur disandingkan dengannya. Kalau tadi tak cukup satu alasan yang saya temukan sebelum kami menjani hidup bersama, yang ini saya temukan saat makin mengenalnya dalam proses ‘pacaran’ setelah menikah, seperti :
  • Kecerdasan visual-spasial yang melengkapi kecerdasan linguistik

Si visual-spasial itu si Pemuda Desa. Ketertarikannya dengan gambar, fotografi, garis, warna, detil mengingat ruas-ruas jalan dan ruang sangat mencolok. Kebalikannya, saya justru si linguistik yang sangat tertarik pada teks, bacaan, dan seni bercerita. Bisa dibayangkan saat saya memintanya membaca dengan tepat semua ejaan, saya harus beberapa kali mencubitnya karena salah-salah ucap dan terbata-bata. Kalau boleh saya bilang, ia mirip ‘pengidap’ disleksia, semi mungkin :) Ternyata dia baru lancar membaca katanya saat kelas 4. Baiklah :)

Doodle yang dibuat oleh Pemuda Desa

Sementara saat dia menjelaskan detil hal bersifat teknis seperti desain misalkan, saya malas menyimaknya, haha. Tapi, di sisi inilah saya sadar, kami bersama untuk saling melengkapi. Seperti mengelola blog ini, saya yang menulis dan memikirkan konsepnya, ia yang menjadi juru foto dan desainer grafis otodidak. Sekali lagi otodidak, tapi karya-karyanya sudah cukup memenuhi kriteria saya sejauh ini.

Yang saya bangga, sedikit demi sedikit, ia pun ikut berkembang melawan batas dirinya. Tentang ketidak beranian tampil dan berbicara di depan publik yang memang menjadi bidang saya juga sejak kecil saking seringnya ikut lomba pidato dan baca berita :)

Kami pernah menggelar duet bertajuk WriPho (Writing-Photography) Workshop dimana saya berbicara tentang teknik menulis perjalanan. Dan, ia berbicara tentang menghasilkan foto perjalanan. Dan, he did it!

He did it!

Saat ini pun, kami mendapatkan slot weekly untuk program literasi di sebuah radio dengan segmen anak muda di Jember. Saya dan dia menjadi host nya. Pengalaman yang menarik buat kami berdua.  

Poster Literacy on Friday yang semuanya didesain olehnya
  • Partner terbaik merintis usaha bersama

Alhamdulillah, saya merasakan banyak sekali berkah setelah saya memutuskan resign dari pekerjaan di bidang advertising yang menyita tenaga, waktu, dan emosi. Begitu pun suami. Saat memutuskan resign dari pekerjaannya di bidang konveksi. Iyap, suami saya ini punya keahlian menjahit juga dari profesi almarhum ayahnya. 

Hasil kreasi Lapak The Jannah

Dan, lagi lagi kami berkolaborasi untuk sebuah usaha rintisan bernama Lapak The Jannah yang memproduksi pouch, tote bag, dan kebutuhan merchandise, selain barang-barang vintage yang menjadi minat kami. The Jannah yang berarti surga, kami ambil dari tema dan semangat pernikahan kami, The Jannah Wedding. Disini, saya sebagai konseptor dan tim pemasaran, sedangkan suami tim produksi. Syalala..   
  • Insight unik yang menyentuh nalar dan hati

Ini yang paling berharga buat saya. Iya betul, saya mendukungnya untuk persoalan passion dan pengembangan diri untuk lebih berani atau semacamnya. Tapi, kalau urusan kesabaran dan menata hati, dia jagoannya. Saya banyak sekali belajar menata emosi, melatih kesabaran, sekaligus kesadaran tentang esensi kehidupan yang sebenarnya. Tak jarang logika berpikir yang memenuhi nalar saya dihantam oleh insight-insight nya yang tak biasa.

Seperti saat saya sakit, jauh sebelum kejadian hamil diluar kandungan tahun lalu, saya sempat drop dan merasa tidak produktif. Dan dengan bijak, si Pemuda Desa yang saya panggil Aa ini, mengingatkan, “Jangan berpikir seperti itu… Bakteri itu hanya melaksanakan tugasnya loh. Dia itu patuh sama Allah. Sedangkan kita manusia yang kadang lupa tugas kita apa…”, ucapnya dan sukses menohok hati terdalam saya. Bisa-bisanya dia berpikir sejauh itu.

Atau saat saya ragu untuk resign hanya karena ‘tidak enak’ meninggalkan tim. Sarannya saat itu, “Kalau kamu naik gunung, mau ke puncak. Apa kamu membawa semua tas? Ga kan? Bawa tas yang penting, tinggalkan beban yang lain.”. Dan, saya pun langsung mengambil keputusan.

Satu lagi, kesukaannya menonton film kartun. Tapi bukan untuk sekedar tertawa lucu karena tingkah karakternya, tapi mencoba mendalami apa yang ingin disampaikan si pembuat film. Contohnya baru-baru ini, saat saya baper dengan stigma orang tua tentang pekerjaan sebagai freelancer. Dia memberikan analogi ‘aneh bin ajaib’ nya pada saya karena pas kebetulan kami melihat tikus kecil sedang mengintip kami berolahraga dari loteng jendela tetangga.

Ratatouille, salah satu film kartun favorit

“Kamu lihat tikus itu. Dia berani muncul terang-terangan di depan kita, pagi hari lagi. Tikus itu bisa jadi pemberontak. Dia menyadari habit tikus tua (orang tuanya) yang ga berani muncul terang-terangan di depan orang saat pagi. Paling beraninya malam. Berarti tikus itu out of the box. Karena dia merasa dia butuh sehat, berhak hidup, dan mendobrak under estimate orang-orang tentang tikus. Sama kayak kita dan orang tua.”, terangnya panjang lebar.

Saya masih menyimak, saat dia menambahkan, “kamu tahu kartun Ratatouille, tikus jadi koki loh. Karena dia rajin baca buku. Dia ga mau disepelekan. Tapi hasil dari baca bukunya itu ga dicopas langsung, tapi dimodifikasi. Keren, kan?”

Kalau sudah begitu, saya biasanya langsung terdiam seribu bahasa dan mencerna satu-satu kata-katanya. Anehnya, saat memberi insight yang semacam petuah itu, ia tak pernah terbata-bata.

Atas semua yang sudah dia lakukan untuk saya, rasanya saya patut untuk berterima kasih. Tentu lewat sikap dan perilaku saya yang mungkin masih banyak egois, saya terus berusaha untuk memberikan yang terbaik. Tapi, andaikan ada kesempatan untuk memberikan sesuatu sebagai hadiah untuk dia yang paling saya sayangi, saya ingin menghadiahkan sesuatu yang ia impikan. 

Saya tahu passion nya yang besar di dunia fotografi, rasa ingin tahunya yang sangat tinggi saat membuka dan membaca majalah-majalah bergambar dan buku kumpulan foto, atau mata yang berbinar saat memotret fenomena yang terjadi di depan mata saat kami melakukan perjalanan bersama. 

Saya tahu Olympus E 500 yang sudah banyak menghasilkan karya itu sudah perlu untuk menemukan penggantinya. Tapi, apa daya, kondisi kami yang masih merintis sekitar dua tahunan sebagai freelancer dan pelapak online ini, belum memungkinkan untuk membeli sebuah ‘alat perang’ baru. Perputaran kami harus kami sirkulasikan untuk pertambahan modal.

Makanya, saya ingin menghadiahinya kamera baru yang lebih mumpuni sebagai ‘alat perang’ tadi. Bukan untuk sekedar hobi, tapi juga sebagai ‘modal’ untuk kami juga dalam melakukan proses kreatif sebagai content creator di blog Dunia Gairah ini dan Traveling Jember Yuk yang sedang kami buat. Juga sebagai fotografer untuk medokumentasikan aktivitas saya bersama The Jannah Institute. Dan, ‘alat perang utama’ untuk proses foto produk-produk kami di Lapak The Jannah. 

Saya memilihkan kamera Xiaomi M1 Mirrorless Kit 12-40 mm di Elevenia karena untuk kategori mirrorless, harganya relatif terjangkau dari yang lainnya. Dan setelah spesifikasinya saya cari tahu, sensor 20 MP nya dari Sony. Jadi, soal kualitas, lumayan mumpuni. Yang terpenting lagi, lensanya universal, alias bisa diganti memakai lensa merk apapun. Yeah, ga egois dong ini :) Yang lebih penting dari yang terpenting, beratnya yang 280 gr ringan untuk dibawa, jadi saya juga bisa ikutan memakainya, haha.  


Kamera yang saya incar untuk hadiah suami dari Tuhan


Kenapa mesti di Elevenia juga? Selain karena Elevenia adalah hasil kolaborasi dari PT. XL Axiata, Tbk. dengan SK Planet Co., Ltd. yang merupakan salah satu perusahaan layanan digital dan pemilik brand e-commerce terbesar di Korea Selatan (11st.co.kr), sepertinya temen-temen tinggal lihat alasan-alasan berikut ini :




Yang jadi ciri khas, adalah promo monthly hoghlights yang selalu di-update, seperti bulan ini :

Source : elevenia.co.id edited by pritahw.com

Tak ketinggalan juga inovasi lain seperti Bank Promos, Special Partners, dan Seasonal Promos yang menggoda. Siapa sih yang tak suka dengan label-label promo? Haha..

Buat temen-temen yang penasaran ingin mencoba juga belanja di Elevenia, silakan langsung daftar saja sebagai member, dan lebih lengkap kalau download mobile apps nya.

http://www.elevenia.co.id/promo-download-app-promotion-354084

http://www.elevenia.co.id/promo-download-app-promotion-354084



Ah, semoga hadiah yang yang saya berikan nanti akan benar-benar menjadi kejutan istimewa saya buatnya, suami dari Tuhan yang saya panggil Aa Nana Warsita. Dibalik semua kisah yang saya sampaikan, mungkin temen-temen akan banyak berpikir “asik ya bisa kompak gitu…”.

Hehe, ya dibalik kekompakan itu pastilah ada upaya untuk menyeimbangkan irama. Ibarat timbangan, saat salah satu posisinya agak ‘naik’, maka supaya seimbang, salah satu diantara kami harus ‘turun’. Begitulah, kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Kita bersama…sederhana… 

Tak terasa lirik lagu penutup Abdul & The Coffee Theory featuring Wina Natalia tadi telah saya putar medley tiga kali lamanya. Baiklah, saya harus menutup catatan ini. 




Prita Hw

23 komentar:

  1. umur jagung itu 3,5 bulan hehehe...
    manis banget deh artikel persembahan untuk suaminya.
    mau ikut juga dengan subyek yang sama tapi ga keburu waktunya.
    semoga berhasil mempersembahkan hadiah untuk suaminya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, akhirnya tahu umur jagung, wkwkwk. Makasih banyak mbak Farida, semoga ya, amienn. Next time ikutan yah mbak, biar barengan kita :)

      Hapus
  2. Bikin baper bingit lah Mbak Pritaa...
    Mana calon, mana calon... wkwkwkwk
    Semoga diijabah ya mbak buat harapan-harapannya hhee
    Tercaapai buat kasih hadiah ke Mas Nana hhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan kan, bikin baper sesuai dugaan, wkwk. amien amien, makasih ya, smg kecipratan jodoh nih baca ini :D

      Hapus
  3. Haaahhahaha, berarti aku gak perlu tanya ke samean mbak

    Kepoku udah terjawab 😜😜

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmmm, opo meneh iki. Yang penting kamu bahagia ya Ros :D

      Hapus
  4. Aaamin. Semoga hadiah untuk suami terkabulkan ya mba :). Aaamin

    BalasHapus
  5. mb prita...kita punya dua kesamaan. lahir di bulan ini dan pernah kerja di advertising. hehehe...

    so sweet kisahnya. semoga terkabul yang dicita-citakan. aaamiiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhhh, tos dulu makkk! amien amien, makasi ya

      Hapus
  6. Mbaaaa, smoga pernikahaannya selalu diberkahi dan terkabul hadiah untuk suaminya :)

    BalasHapus
  7. Semoga hadiah untuk pak suami tercapai, bahagia selalu ya mbak, so sweeet

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiennn mbak. makasi loh ya, sama dirimu dan suami juag so sweet mbak, hehe

      Hapus
  8. Dua pribadi yang saling melengkapi ��
    Smoga terkabulkan memberi hadiah buat suami tercinta ya mba.

    BalasHapus
  9. aih seneng deh lihat suami-istri kerja sama seperti ini. Klop! Semoga langgeng yaaa

    BalasHapus
  10. Semoga tercapai kamera buat pemuda desa yaaa, sehat selalu dan bahagia, aamiin...

    BalasHapus
  11. Semoga kameranya bisa membuat suami mbak makin klepek-klepek ya hihihiii
    bersyukur punya suami yg selalu support

    BalasHapus
  12. suami yag keren mbak, apalagi minatnya klop dgn mbak sebagai istri, ibarat sayap yg siap terbang bersama, gak patah sebelah, saluuut :)

    BalasHapus
  13. Asyik jg ya kalo suami yg motret, istri yg nulis di blog.. Ciamik deh blognya :D. Saling melengkapi... Aku kalo minta tlg ke suami motretin Objek, nth kenapa tangann ya suka tremor yg bikin hasil blur :D. Huuft.. Paksu ku itu :p

    BalasHapus