Mohon Doa Restu (Flash Fiction)

Written 30 Agt 2010, untuk lomba FF di multiply

“Jangan pernah kamu menginjak rumah ini lagi! Kalau kau lebih memilih laki-laki itu daripada orangtuamu, lebih baik mulai sekarang, anggap saja kamu tidak punya bapak!!”, amarah bapak memuncak, matanya melotot, dan bisa dipastikan darahnya ikut-ikutan meninggi.

Sementara aku hanya diam. Tertunduk lesu. Sambil berderai air mata, aku mengemasi pakaianku. Andai saja ibu masih ada, gumamku dalam hati. Tekadku sudah bulat. Aku harus pergi. Tak sanggup rasanya mengiyakan permintaan bapak kali ini. Hati kecilku setia berbisik, TIDAK.

***               

Sudah sebulan aku tak datang menjenguk bapak sejak kepergianku dari rumah. Aku menghilang beberapa saat. Hanya sempat kutitipkan salam untuknya lewat kakak laki-lakiku satu-satunya.

Hingga kusadari, aku merasa kehilangan bapak. Kali ini benar-benar kehilangan, selamanya. Aku terpekur di depan jenazah bapak. Sedianya, saat ini juga aku hendak meminta restu untuk pernikahanku bulan depan.               

“Pak, maafkan Dinda… Tapi Dinda tidak mau dijodohkan dengan pilihan bapak yang sama sekali tidak Dinda kenal. Bulan depan Dinda menikah Pak, dengan laki-laki pilihan Dinda. Mohon do’a restu. Semoga bapak tenang dan bahagia melihatnya dari sana…”. Sekuat tenaga kutahan air mataku agar tak tumpah, tapi tak bisa.  Bapak, insyaallah laki-laki pilihan Dinda baik dan bertanggung jawab. Yang Dinda minta, hanya seiman untuk sebuah ikatan pernikahan. 

Prita Hw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar