Melongok Kampung Ragam Warna, Meriahnya Pesona Seni Kaliwungu dan Festival Drumblek 2019



Berkunjung ke Kendal, yang berjarak tak jauh dari ibukota Jawa Tengah bernama Semarang sebenarnya bukanlah sesuatu yang benar-benar baru buat saya. Meskipun, ya hanya sekilas-sekilas saja jejak kaki saya di kota ini. Dulu, saat saya masih berdomisili di Semarang beberapa tahun saja.

Tak banyak yang saya tahu soal Kendal saat itu.

Saat ada informasi tentang event Festival Drumblek Pacific Paint Cup 1 yang jujur saya tak tahu definisinya, saya langsung tertarik. Apalagi event yang diadakan Kampung Ragam Warna bersama Aya Cipta Comm dan didukung penuh Pacific Paint, Minyak Cap Kapak, dan Hanamasa ini juga menyediakan ajang berkarya berupa lomba foto, blog, dan vlog dengan juri-juri yang tak diragukan lagi namanya. 

Sempat maju mundur saat berdiskusi dengan suami yang biasanya mengikuti kategori foto dan saya yang mengikuti kategori blog. Maklumlah, kalau berangkat, kami harus sepaket lengkap. Selain membawa batita kami yang 3 bulan lagi baru berusia 2 tahun, baby Tangguh, juga membawa calon adeknya yang kini memasuki masa 5 bulan kehamilan. Assiiapp, tantangan baru, let's go!

Kami juga sadar kalau keberangkatan dari Jember menuju Kendal tak ada yang mudah semacam sekali cus sampai. Mesti melewati beberapa moda transportasi. Demi mengirit budget juga, saya pelototi layar smartphone untuk mencari rute mudah dan terjangkau dari aplikasi perjalanan. 

Akhirnya, kami berangkat dari Jember lebih awal yaitu pada Jumat, 25 Oktober 2019 pukul 6 pagi dengan tujuan transit Nganjuk pada pukul 13.00. Dan lanjut lagi pada pukul 15.00 menuju Semarang hingga tiba pukul 21.00. Kami memilih mengistirahatkan tubuh yang digerus perjalanan di sebuah homestay sederhana di daerah Layur Semarang lama, untuk bersiap menumpangi kereta Joglosemarkerto pada pukul 06.15 pagi menuju Kendal.

Tak terasa, 45 menit saja, Joglosemarkerto sudah mengukuhkan langkah besinya di Stasiun Weleri, Kendal. Berdasar arahan seorang teman blogger asal Kendal yang akan banyak membantu kami di kotanya ini, kami berjalan kaki saja ke arah belakang stasiun, melewati riuhnya pasar tradisional yang baru terlihat ramai dengan agenda bersih-bersih dan tawar menawar dagangan. Kami menuju tempat parkir bus menuju lebih dekat dengan kediaman kawan blogger, Nyi Penengah dan Hadi, suaminya. 


Akhirnya tiba di Weleri


Tapi, rasanya tak lengkap kalau tak mencicipi sarapan khas dari tempat yang sudah kami jejak. Pas mata saya menangkap tulisan nasi koyor di pertigaan persis sebelah pangkalan ojek. Tak lama, kami pun memesannya dan menandaskannya saat itu juga. Koyor adalah tetelan sapi kecil-kecil. Memesan nasi koyor bisa dipadukan dengan lauk rames, yang terdiri dari sayur nangka muda, tahu santan, tambahan urap, atau lauk lainnya. Ditemani teh panas, makin terasa nikmat. Alhamdulillah. 


Nasi koyor, salah satu kuliner khas Kendal


Setelah bersantai dan beramah taman di rumah Nyi di daerah Purin dan bertemu kawan blogger lain dari Jakarta, kami pun bersiap untuk tak ketinggalan registrasi peserta di Kampung Ragam Warna yang akan ditutup jam 14.00 di hari Sabtu, 26 Oktober itu. Kalau tidak salah, saya dan rombongan sekitar 6 orang plus seorang batita, tiba di lokasi sekitar pukul 12.00, pas terik-teriknya matahari di atas kepala. Pffuuhh...

Hari Pertama di Kampung Ragam Warna, Melihat Ragam Seni dan Ramah Tamah Warga

Memasuki kampung yang kemudian makin sempit, saya sempat bertanya-tanya dalam hati, kemanakah muara dari sepeda motor yang saya tumpangi bersama suami ini akan berhenti. 

Rupanya ditandai sebuah musholla sedang atau boleh dikatakan masjid berukuran kecil, tak lama kami sampai di sebuah kampung yang sudah menunjukkan pesona warna warninya dari jauh. Yes, kami sampai di Kampung Ragam Warna, tepatnya di Desa Mranggen, Nolokerto, Kecamatan Kaliwungu. Titik koordinatnya bisa temen-temen lihat disini.

Saya memperhatikan pernik yang ada. Cukup meriah, gapura dan tulisan Kampung Ragam Warna adalah yang paling mencolok perhatian saya. Selain warung-warung yang menjual menu utama berupa es teh manis atau varian lain yang terlihat sangat menggiurkan. Terik siang itu sepertinya mendekati hampir 40 derajat cecius, panas dan kering khas udara pesisir utara. 


Selamat datang di Kampung Ragam Warna. Photo : @bluepackerid

Saya registrasi dengan nomor urut 272, dan suami saya, Nana Warsita dengan nomor urut 273. Luar biasa ya animo peserta yang hadir, angkanya saja mencapai ratusan. Kabarnya ada 380 orang jumlah seluruh peserta dari semua kategori. Dan, panitia menyediakan homestay di rumah warga untuk 200 orang pertama dari luar kota.

Karena saya sepaket, pasangan plus batita, saya memilih tak mengandalkan homestay warga, takut merepotkan pembagian kamarnya. Jadilah kami pulang di saat malam menjelang menuju rumah Nyi dan suaminya. 

Ketiadaan peta penunjuk di tangan dan hanya berbekal rundown yang di-share panitia di akun Instagram @kampungragamwarna, saya sibuk mencari tahu agenda yang sedang berlangsung. 

Ternyata baru saja dimulai lomba lukis payung. Bukan sembarang payung. Payung yang banyak kita lihat disini adalah yang terbuat dari kayu atau tulang paus yang ditutup dengan kanvas. Nah, di kanvas inilah yang bebas dikreasikan oleh para peserta lomba lukis.

Anak-anak semangat melukis payung

Payung-payung nan cantik


Mulai dari anak-anak, tua muda, semuanya bebas. Tempatnya pun bisa senyaman mungkin. Memilih di rumah warga, di tepi jalanan, bebas. "Supaya guyub dan nyaman, mbak" kata seorang panitia saat saya tanyakan alasannya.

Okelah, sambil suami berkeliling dengan kamera dan baby Tangguh digendong ala backpack, saya menangkap beberapa tempat dengan mural unik yang juga termasuk instagrammable spot. 




Mural-mural kreatif


Luas kampung yang termasuk dalam wilayah kampung ragam warna ini tak terlalu luas. Ada 2 gang memanjang atau 2 RT yang masih dalam cakupan 1 RW. Semua warga terlihat antusias dengan event ini. Mereka banyak terlibat sebagai panitia, seperti mbak mbak dan mas mas kinyis-kinyis yang menyambut di parkiran, di meja registrasi, dan yang sibuk wara wiri. Selain itu, warga yang lain juga semangat menggelar dagangan sampai dijadikan homestay. 

Beberapa warga yang kami lewati menyapa dengan hangat. Seolah-olah berkata lewat senyumannya, "selamat datang di kampung kami". Mereka mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan. 

Wah, rasanya saya dan rombongan sudah tak sabar ingin segera berteduh dan mencari tahu hidangan yang dimaksud, hehe. Ternyata, suasana rumah warga yang dijadikan jujugan untuk prasmanan berada tepat di seberang Mranggen Gallery. Tempat menyimpan beberapa karya seni yang dihasilkan warga setempat.  

Melihat menunya saja, rasanya tak sanggup air liur ini menahannya. Buru-buru lah satu persatu dari kami sesuai antrian mengambil menu prasmanan makan siang yang khas Mranggen, mungkin begitu ya. Mulai dari ikan bandeng goreng kering dan bumbu kuning, tahu dan telur bumbu bali, sayur santan nangka muda, tak lupa sambal dan kerupuk. Dan, satu lagi, es sirup dengan selasih, hmmm, masyaaAllah nikmat. 





Hidangan istimewa yang menggiurkan khas kampung


Itu belum termasuk makanan ringan yang disuguhkan di toples-toples jadul, dan juga buah-buahan segar yang sudah dipotong-potong dan siap santap. 

Hidangan siang ini membuat hawa panas di luar menguap begitu saja. Apalagi ditambah obrolan saling sapa antar kawan blogger, fotografer, dan juga vlogger yang datang dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Pekalongan, Semarang, Bandung, Jakarta, Depok, Lumajang, Yogyakarta, dan lainnya.

Salut sekali dengan persiapan warga yang gotong royong menjamu para tamu sekaligus peserta lomba gelaran akbar Kampung Ragam Warna tiap tahunnya ini. Terlihat sekali seliweran ibu bapak si pemilik rumah, dengan para tetangga yang sibuk menyiapkan menu-menu secara terjadwal. Dan tentu dalam jumlah banyak. Pesertanya saja ratusan, belum panitia, bisa dibayangkan ya tugas persiapan logistik yang satu ini. 

Setalah perut mendapatkan jodohnya sendiri dengan hidangan istimewa tadi, saatnya kami mengeluarkan energi. Saya turun berjalan menyusuri jalanan warna warni, dan masuk ke area workshop SMOCK art.

Apa itu SMOCK art ?

Sambil telaten dan terampil mendekorasi kain-kain perca yang kemudian dipilin-pilin membentuk tekstur tertentu menggunakan pinset dan kuas, Pak Mukjizat menjelaskan apa itu SMOCK art. 

"SMOCK itu singkatan dari Seni Model Orang Cah Kaliwungu. Kenapa menggunakan orang dan cah? Karena semua bocah asalnya dari orangtua. Dan supaya orangtua dan anak ini bisa guyub rukun, bisa kerjasama", tutur bapak yang sudah masuk usia lansia ini sedikit berfilosofi. 

Sambil mengamati cara beliau berkreasi, saya menyimak mendengarkan. Menurut bapak yang sehari-harinya justru berprofesi sebagai penjahit ini, SMOCK art sendiri sudah ada sejak sekitar tahun 1967-1968-an, berawal dari seni dekorasi yang biasanya dipakai untuk hajatan tertentu. Kemudian berkembang dalam bentuk pajangan pigura yang bisa kami lihat siang itu. 

Beberapa didominasi bentuk wayang. Masih menurut bapak berambut putih ini, wayang adalah salah satu seni budaya yang melekat pada masyarakat Jawa yang hampir punah. Karenanya, dirinya suka membuat kreasi wayang sebagai upaya pengenalan ke anak cucu, supaya seni budaya ini tak punah. 

Saya sendiri pas ditawarkan untuk mencoba ada perasaan ragu melihat tingkat ketelitian yang harus dimaksimalkan. Harus fokus mungkin ya, apalagi perdana mencoba. Bahan-bahannya sederhana, selain kain perca sebagai bahan utama, diperlukan rangka kanvas sebagai media, lem FOX, pinset, dan kuas. Sebelumnya, gambarkan dulu motif yang diinginkan menggunakan pensil di atas kanvas.



Ketelatenan Pak Mukjizat


Siang itu, di sebelah Pak Mukjizat hanya ada seorang yang menemani. Seorang tersebut baru kemudian saya ketahui bernama Mas Saiful atau memiliki nama pena yang ditorehkan pada kanvas karyanya dengan sebutan Kang ipul. Kang Ipul inilah yang saat ini memiliki warisan skill SMOCK art. 

Ah, ke depannya, semoga makin banyak anak muda yang menggeluti SMOCK art ini, supaya seni yang juga berkembang di Kaliwungu ini tak hanya jadi sejarah. 

Ketika disinggung soal harga, Pak Mukjizat langsung melempar ke Bu Wiwik, yang merupakan inisiator Kampung Ragam Warna, bersama sang suami, Pak Bambang Yogi. 



Bu Wiwik Wijaya, sang inisiator Kampung Ragam Warna

"Soal harga, bisa dilihat jerih payahnya ya mbak. Ya begitulah, karya seni seperti ini masih menjadi eksklusif karena ga banyak orang yang mau menghargai seni. Kalau misalkan dari kita-kita aja mulai untuk menghargai, insyaaAllah bisa. Dan kalau perputarannya cepat kan, profesi utamanya bisa sebagai pengrajin nantinya." ungkapnya.

Di tempat yang berbeda, rupanya tengah berlangsung pula workshop kartunis yang saya tak sempat melihatnya secara langsung karena lebih dulu selesai. 

Selain itu, juga ada workshop membuat sumpil, sejenis jajanan tradisional mirip lontong yang dibuat dengan bentuk segi tiga seperti lupis kalau di daerah saya. Hanya saja, rasanya plain persis seperti lontong, dan kudapan ini bisa dinikmati dengan parutan kelapa atau serundeng. Ini merupakan kudapan khas Kaliwungu, Kendal yang banyak ditemukan saat tradisi weh-wehan di momen Mulid Nabi Muhammad SAW. 

Sayangnya saya tak berkesempatan mencoba saat itu, hanya sempat melihatnya dari jauh. Maklum, si bocah bayi sangat aktif, dan ayahnya terlihat lelah jika harus terus menggendongnya sambil berkeliling.

Tapi, menjelang waktu pulang, saya sempat menemui kios penjual sumpil di area bawah, dekat dengan Taman Ragam Warna. Sedikit bertanya-tanya menuntaskan rasa ingin tahu, dan sayangnya si ibu juga sedang tidak berproduksi.

Kios sumpil yang sedang tidak berproduksi. Penasaran banget!


Pembukaan Festival Drumblek Pasific Paint Cup I Kampung Ragam Warna


Tak terasa senja pun segera tiba, dan kami bersiap menunggu acara berikutnya, dibukanya Festival Drumblek Pasific Paint Cup 1 yang akan berlangsung keesokan harinya. 

Sebelum itu, sambil menunggu adzan maghrib tiba, Kendal yang disebut sebagai kota santri ini menyajikan suguhan religius nan apik dari Rebana AL BADAR. Selain dijuluki kota santri secara keseluruhan, memang di Mranggen ini juga dekat sekali dengan pondok pesantren dan makam para ulama (kyai) yang berjasa menyebarkan Islam di Kaliwungu, diantaranya makam Kyai Asyari, Kyai Mustofa, Kyai Abu Chaer, dan Kyai Musyafak. 

Suguhan membius sore itu adalah tarian sufi yang dibawakan beberapa pria dan ada juga wanita berhijab. Warna warni busananya yang berkibar diiringi shalawat dan musik pengiring sungguh membius siapa saja yang menyaksikannya. Saya juga sempat tak percaya melihat pertunjukan ini di sebuah kampung. Saya sempat tahu sekilas tentang tarian ini di sebuah majalah pariwisata dan disebutkan biasanya disuguhkan secara eksklusif dalam event tertentu. 


Tarian sufi yang bikin takjub


Langit sudah berganti warna. Hitam pekat. Namun, menjadi sangat indah dengan hiasan lampu warna warni di depan rumah-rumah warga. Dan terutama, dengan kehadiran panggung yang disulap di atas lapangan terbuka semacam lapangan bermain bulu tangkis. 

Panggung sederhana dengan dekorasi tradisional dilengkapi lighting yang mewah. Takjub sekali menyaksikannya. Lagi-lagi ini di sebuah kampung kecil yang tak disangka-sangka bisa menghadirkan event sedemikian meriah.  

Sebelum tiba di acara puncak hari pertama yaitu pembukaan, dihadirkan pula hiburan dari anak-anak Kampung Ragam Warna bertajuk MELLOW dengan menggunakan busana kuning merah dilengkapi kipas. 

Tak ketinggalan, rebana dari SDN 02 Nolokerto yang menampilkan senandung dengan busana ala negeri 1001 malam, Aladdin dan Jasmine. Wow, menghibur sekali.  


wah, ada Aladdin & Jasmine beraksi


Tak ketinggalan, acara meriah ini juga dipandu MC kece yang membuat suasana selalu ramai dan ceria. 

Yang ditunggu-tunggu pun tiba, pembukaan Festival Drumblek Pasific Paint Cup 1. Malam spesial ini juga dihadiri orang-orang yang tak kalah spesial. Terutama dalam pengembangan Kampung Ragam Warna ke depannya sebagai icon Kaliwungu yang harus terus dikembangkan. Hadir Kepala Desa Kutoharjo Kaliwungu, dan Camat Kaliwungu. 

Malam itu juga diawali dengan sambutan Pak Bambang Yogi selaku inisiator. Suami dari Bu Wiwik yang juga orang asli Kaliwungu ini menghaturkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran semua tamu yang datang jauh-jauh ke Mranggen. Event kali ini menurutnya menyedot perhatian lebih besar, dengan jumlah pesrta Lomba blog, vlog, dan foto sebanyak 380 orang dan kedatangan sejumlah 280 orang yang mayoritas menginap di tengah-tengah warga. 


Pembukaan Festival Drumblek Pasific Paint Cup 1. Photo : @nyipenengah

Ada nada bangga sekaligus haru, kagum, dan sebagainya yang bercampur baur disana. 

Malam minggu di Kampung Ragam Warna diakhiri dengan hiburan dari band reggae asli Kaliwungu, Daun Bambu. 

Kelelahan hari ini rasanya cukup terbayar dengan ragam seni dan kehangatan warga yang mengalir sejak pertama kali datang. Apalagi, meski tak menginap, kami juga sempat mendapatkan tempat istirahat di sebuah kamar nyaman yang dihuni salah seorang kawan blogger dari Jakarta. Jadi semacam reuni juga di ajang ini. 

Yang terpenting, di kamar yang awalnya sebuah madrasah itu, baby Tangguh bisa beristirahat di kasur springbed yang empuk sambil menunggu ayah bundanya berkeliling. Selain, kami juga harus bertukar shift 😉 

Tangguh di kasur springbed empuk yang disediakan panitia


Hari Kedua di Kampung Ragam Warna, Menyaksikan Festival Drumblek yang Ditunggu

Pagi hari dengan suasana yang berbeda dari biasanya, kami pun bersiap untuk segera berangkat menuju Kampung Ragam Warna. Sudah tak sabar rasanya untuk menyaksikan seperti apa itu kesenian drumblek. 

Meskipun tubuh ini rasanya merayu untuk sejanak beristirahat karena cuaca masih stagnan seperti hari kemarin. Bahkan bertambah panas saja. 

Rupaya hari ini full dengan pertunjukan grup-grup drumblek yang sama sekali tak keberatan tampil di bawah terik matahari. Maklum, panggung yang terbuka juga mudah saja membuat kulit mereka terbakar. Namun, rupanya semangat menampilkan yang terbaik sudah bulat menjadi tekad. 

Sebelum menyaksikan grup drumblek itu, saya seperti biasa melipir ke ruang hidangan prasmanan, tapi tidak untuk sarapan, karena hari telah masuk waktu menjelang makan siang. 

Ternyata, pagi tadi, beberapa teman yang menginap, sudah sempat menyaksikan pelukis ampas kopi beraksi dengan apiknya, dan saya hanya dapat ceritanya saja 😑 Seperti ini keasikan melukis dengan ampas kopi, kreatif sekali. Si pelukis juga asli Kaliwungu, luar biasa.

Pelukis Ampas Kopi. Photo : @nurul_gie

Setelah rasa penasaran akan agenda pagi saat kami belum datang, saya melipir ke arah panggung, melihat keseruan drumblek. 

Unik ya namanya. Apa sih drumblek?

Drumblek serupa dengan drumband dalam turunan marching band. Hanya saja, tidak melulu kesemuanya menggunakan alat modern itu. Perangkatnya diganti dengan blek atau toples kaleng kalau pengertian dalam Bahasa Jawa. 

Tak hanya toples kaleng atau blek sebagai pengganti snare drum, pelengkap lainnya juga terdiri dari tong besar plastik sebagai pengganti drum bass, tong kecil plastik sebagai pengganti tenor, kentongan sebagai pengganti cowbell. Tapi, perkembangannya juga divariasikan dengan alat musik tradisional lainnya pun tak masalah untuk memperoleh instrumen yang khas. 

Inovasi perpaduan alat musik, bisa dilihat, kan?


Oalah... saya bergumam dalam hati. Mirip kesenian musik patrol kalau di kota asal saya, Jember. Semacam inovasi perpaduan antara musik modern dan tradisional. 

Ternyata drumblek ini berasal dari Salatiga, dan kemudian berkembang di banyak daerah di Jawa Tengah. Bahkan tiap sekolah pun juga memiliki kegiatan ekstrakurikuler drumblek, selain dikembangkan oleh kampung-kampung secara mandiri. 

Favorit saya, grup bernama KOBRA yang membawakan suguhan Mojang Priangan dengan aksi teatrikal dan suara yang memukau. Instrumennya juga sangat bisa dinikmati di tengah hari yang panas.




Penampilan Grup Drumblek


Total ada sekitar 10 grup yang beraksi yang masing-masing beranggotakan lebih dari 5 orang. Penampilan mereka juga menarik, sesuai dengan tema yang dibawakan, namun tetap ada unsur kearifan lokal lewat tradisi yang disuguhkan. 

O iya, di siang hari itu, juga ada yang spesial karena Bapak Suryanto Tjokrosantoso selaku Direktur Pacific Paint Indonesia juga hadir. Tak ketinggalan, Bupati Kendal, dr. Mirna Annisa. Mereka berdua juga mengungkapkan rasa bangga dan salut atas kerjasama warga dan juga berharap lebih baik lagi ke depannya. 

Tak sampai menjelang senja, kira-kira sebelum adzan ashar menggema, pengumuman pemenang yang memperebutkan Pacific Paint Cup 1 ini digelar. Tak hanya Juara 1,2, dan 3 yang berhak membawa pulang hadiah, tetapi juga juara 4-10. Menggiurkan! Dan, siapa sangka, Juara 1 diraih grup yang saya favoritkan tadi, wah selamat!
Selamat untuk seluruh jawara


Menyusuri Spot Instagrammable di Kampung Ragam Warna 

Saat jalanan mulai lengang, rasanya saat yang pas untuk mengumpulkan sisa energi menyusuri kampung ini dengan nyaman. Apalagi, menjelang ashar, ternyata hujan turun menyirami tanah kering dan seketika membuat hawa terasa menemukan arti kesejukan yang sebenarnya. meski tak terlalu deras, sangat membantu. Terimakasih Allah.

Dari gang-gang depan hingga belakang, kamu bisa menyusurinya. Jangan lupa sampai turun ke bawah untuk menemukan Taman Ragam Warna.








Taman Ragam Warna

 Tips Berkunjung ke Kampung Ragam Warna

1 Berkunjung ke Kampung Ragam Warna, bisa dilakukan kapan saja. Namun, saran saya lebih baik datang di saat momen Festival Drumblek seperti ini karena Festival Seni Kaliwungu akan banyak digelar. Selain itu, juga ada momen "Ayo Berkunjung ke Desa" dan juga tradisi Weh-Wehan saat Maulid Nabi Muhammad SAW. 

2 Turun di Stasiun Weleri, bisa melanjutkan naik transportasi online maupun naik bus, dan lanjut transportasi online. Atau jika menggunakan bus dari Semarang, tujuannya adalah di Pasar Sore Kaliwungu dan dilanjutkan menggunakan ojek online maupun offline.

2 Jangan lupa datang di saat momen yang tepat, bisa hubungi di Instagram @kampungragamwarna

3 Jangan lupa membawa topi dan kacamata jika suasana panas.

4 Siapkan mamiri atau snack jika di hari biasa tak banyak warga membuka lapak dagangan makanan selain kios peracangan yang saya lihat di seberang gapura

5 MCK sudah tersedia persis di dekat gapura dan penanda Kampung Ragam Warna, jadi tak perlu kuatir harus menumpang di rumah warga. 

6 Abadikan foto di spot-spot yang kece supaya tak kehilangan momen.

7 Sempatkan mengobrol dengan warga untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap atau runtut tentang event-event disini. 

Harapan ke Depan

Sebagai seorang yang kadangkala berkunjung ke destinasi wisata berupa kampung edukasi atau kampung wisata, saya punya harapan khusus terhadap Kampung Ragam Warna. 



Terimakasih semua pihak yang telah menyukseskan acara ini. Terutama untuk inisiator : Pak Bambang Yogi dan Bu Wiwik, juga Ketua Panitia : Suseno, dkk.


Meski kali pertama diinisiasi dan dikenal publik pada awal 2018, Kampung Ragam Warna cukup konsisten mengadakan kegiatan menarik dan mengundang para kreator untuk datang melongok keindahannya. Animo yang besar ini sayang sekali bila tak dibarengi dengan kesiapan kampung dalam menyambut wisatawan yang datang diluar event besar seperti Festival Drumblek. 

Saya sangat berharap ragam seni seperti SMOCK art, melukis payung, melukis ampas kopi, tarian sufi, juga latihan rutin drumblek bisa menjadi sajian istimewa yang bisa dinikmati kapan saja. Mungkin tak harus setiap hari. Mingguan atau bulanan akan sangat berguna bagi pengalaman mengesankan wisatawan selain berfoto di spot yang disediakan. Dan, ini tentu menjadi pembeda dengan kampung warna warni lainnya yang sudah ada. Karena semuanya khas Kaliwungu dan otentik. 

Nilai ekonomis bisa didapatkan warga dengan menjual aneka souvenir hasil kerajinan kepada wisatawan dengan paket belajar atau workshop sederhananya. 

Selain itu, potensi lokal seperti keberadaan ponpes dan juga makam ulama bisa dijadikan alternatif paket wisata religi yang lain lagi. Belum lagi keberadaan UMKM milik warga yang sudah ada, seperti pemasok utama cemilan atau kletikan semacam kerupuk, keripik tempe, pisang, sukun, dan lain-lain yang tiap harinya memasok untuk wilayah Kendal hingga Jawa Tengah, juga tak ada salahnya diangkat. Tentu menarik menyaksikan dapur mengebul dari sebuah sudut Mranggen dengan keberdayaannya. 

UMKM milik Bu Indarti, yang menyediakan hidangan prasmanan selama event ini menurut saya menarik dan dapat dijadikan bagian dari potensi lokal yang lain lagi. 



Produk UMKM "Kerupuk Sera" Asli Kaliwungu

Terimakasih Bu Indarti dan tim untuk hidangan yang luar biasa

Ah, semoga ya. Menyajikan seni dan budaya dengan sentuhan keberdayaan masyarakatnya, kenapa tidak? 

Sampai jumpa Kampung Ragam Warna yang penuh pesona dengan seni Kaliwungu yang memukau dan membuat siapa saja ingin kembali untuk kedua kali. Perjalanan pulang menuju Jember membawa satu lagi cerita unik yang patut diceritakan. 






Buah tangan dari Kampung Ragam Warna, terimakasih!


Wassalam, 
















  

Prita HW

26 komentar:

  1. Memang seruuuu sekali acara kemarin ya mba Prita, bikin pengen datang lagi karena kemarin aku ketinggalan sesi workshop2nya..hehe.. Mudah2 bisa ketemu lagi di sana th depan ya mba..bersama Tangguh dan adiknya tentu saja! ☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh samaan kita mbak, soalnya datengnya kan pas barengan ya di meja registrasi :) haha, aamiin aamiin kalo ada kesempatan mbak ☺

      Hapus
    2. Dan aku suka dengan foto2 keren di post ini mbaa..

      Hapus
  2. Ahh takjub mbaa dengan ceritamu dan foto2 seru yang bikin kangen lagi hahahha. Besok lagi kalo ketemu mestuli udah brojol dua wakakak.
    Sehat selalu sekeluarga ya Mba. Makasih sudah main ke Kendal.

    BalasHapus
  3. Kampungnya dengan seni kekinian, ragam warga. Selain itu juga bersih dan asri ya mba. Btw yang saya sesali adalah melihat kulinernya mbaaaaa aduh

    BalasHapus
  4. Acaranya yang keren. Sayangnya masih sedikit daerah yang mampu "memberdayakan" potensinya seperti ini. Semoga jadi postingan ini bisa jadi inspirasi untuk daerah lain.
    BTW, aku jadi mupeng lihat Nasi Koyornya itu.

    BalasHapus
  5. Dengar kota Kendal, aku langsung ingat Kokkang alias Kelompok Kartunis Kaliwungu yang kartunanya tersebar di banyak media cetak. Entah sekarang. Orang Kendal memang kreatif. Kampung Ragam Warna dan Festival Drumblek ini bukti nyata bahwa potensi wisata daerah tidak melulu bisa diandalkan dari keelokan alam atau theme park buatan yang sedang marak di kkota besar. Lokalitas ternyata bisa dikemas jadi komoditas wisata yang ciamik ya, Prit, dengan mengajak warga bisa sinergis untuk menawarkan apa saja yang mereka miliki, terutama produk UMKM. Jadi pengin ke kampung ini.
    Kangen bakso balungan, Kendal. Apalagi nasi koyor yang gurih dan pedas, aduh..... ngiler!

    BalasHapus
  6. Wiihhh gila lu ya mbak. Lagi hamidun niat banget dari Jawa Timur ke Jawa Tengah. Mana pake transit-transit segala lagi. Blogger emak-emak yang bener-bener niat lu mbak, salut gw! wkwkwkwk

    Btw salam kenal ya mbak.

    BalasHapus
  7. seru banget ya rangkaian acaranya, kampungnya unik dan juga banyak warga yang memiliki keterampilan. makanan yang dihidang juga keliatan enak sekali..

    BalasHapus
  8. Untuk rangkaian acaranya seru banget.. makanannya kayaknya juga enak.

    BalasHapus
  9. Wow ini keren banget kampungnya
    Benarbenar disiapkan buat wisata ya
    Semua warga juga sepertinya terlibat deh
    Aku naksir payung-payung cantiknya

    BalasHapus
  10. Wahhh keren banget mbak. Muralnya kece-kece semua.

    BalasHapus
  11. Wah, kampungnya colorful banget mbak, warnanya kontras, dan oh iya, hasil potretnya keren-keren mbak, Sukses terus mbak

    BalasHapus
  12. Yampun ternyata acaranya seru banget yaa kak, tau gitu kemaren aku ikutan yah hahah. Jadi nyesel sendiri heu :(

    BalasHapus
  13. Coba saya tebak, kayaknya catnya hasil corporate social responsibility dari pabrik catnya yaa? :)

    BalasHapus
  14. wah jauh banget mbak dari Jember bawa balita pula ya... untungnya anteng ya..
    seru ini acaranya padat dan meriah banget.., acara yang ditampilkan pun banyak yang baru seperti SMOCk dan melukis dengan ampas kopi, keren benget deh
    kepengen ikutan juga kapan2....

    BalasHapus
  15. Wah mbaaak aku iri berat loh, pengen banget kapan2 ke jember lagi. Waktu itu, terakhir ke jember ada kerjaan jd ngak bisa banyak explore .

    BalasHapus
  16. Aku kagum ama dirimu dan keluarga Mbak. Kuat jalan²nya. Festivalnya keren banget. Ternyata kampungnya engga cuma warna-warni tapi full kegiatan dan acara. Diadakan setiap tahun kah?
    Seru pasti. Jadi ada target tiap tahun u warga kampung. Artikelnya keren Mbak...

    BalasHapus
  17. Wah, Tangguh mau punya adik ya? Selamat ya, Mbak. Sehat-sehat terus buat kamu, Mbak dan dedek bayinya.

    Acaranya keren banget sih. Aku juga dari dulu suka banget sama Tarian Sufi. Aku penasaran bagaimana penarinya nggak pusing muter-muter gitu.

    Untuk seni lukis di atas payung pun keren banget. Serasa balik ke jaman dulu liat jenis payungnya.

    Namanya bagus ya, Pak Mukzizat. Semoga ada banyak mukzizat lahur dari konsistensi dan keuletan si bapak melakukan SMOCK art.

    Saranku untuk kampung ragam waran cuma satu. Perbanyak ragam warna dengan berbagai mural, jangan hanya menggabungkan warna dengan bentuk garis lurus.

    Terima kasih untuk ceritanya, Mbak.

    BalasHapus
  18. Baguuuuusss...!
    Kampung Ragam Warna nya beneran berwarna. Aku tertsrik sama pelukis ampas kopi juga.

    BalasHapus
  19. Duh, seru banget rasanya, Mbak. Sayangnya hanya bisa menikmati dalam bentuk tulisannya, seharusnya ikutan juga acara tersebut. Hehehe

    BalasHapus
  20. Saya jadi pengen nasi koyor. Apalagi pakai tetelan hehehe. Itu festivalnya diadakan setiap tahun?

    BalasHapus
  21. Asyiknya imut kegiatan ini Mbak Prita. Hati senang, nambah wawasan. Tapi Aku jadi kepengen Nasi koyor yaaa. Hahaa

    BalasHapus
  22. Wah, ternyata di Kendal ada Kampung Ragam Warna ya! AKu taunya sih di Malang ada Kampung Warna-Warni hehehe. Indah dipandang kampung yang dirombak nyeni begini. Jadi bersih dan rapi ya. Lukisan di payung2nya ga kalah keren dengan payung Tasik :) Makanannya menggoda selera banget semua bisa masuk perut tuh? hehehe.

    BalasHapus
  23. Rangkaian acaranya seru-seru banget ya mba. Makanannya pun bikin ngilerrrr.
    Udah beberapa waktu pengen banget berkunjung ke Kampung Warna Warni seperti ini, tetapi belum kesampaian :(

    BalasHapus
  24. Wauuwww.....Keren banget itu lukis di payung.
    Tapi emang Jateng jadi gudang para seniman.
    Kampung yang awalnya biasa menjadi lebih dinamis dan eye catching.

    BalasHapus