Pengalaman Berhijab dan Tips Memakai Hijab Syar'i Anti Ribet yang Perlu Kamu Tahu



Apa kabar para hijabers? Pasti masih istiqomah sama hijabnya dong ya. Alhamdulillah. Sebelum lebih jauh nih kasih tips memakai hijab syar'i anti ribet, saya mau sedikit menengok keputusan saya berhijab dari tahun 1999, pas duduk di bangku kelas 3 SMP. Gapapa ya? Belum pernah diceritain nih di blog.

***

Keputusan berhijab datang dari kesadaran saat ditunjukkan ayat Al Qur'an tentang perintah berjilbab di QS. Al Ahzab 59 dan perintah berkerudung (khimar) di QS. An Nuur 31. Kakak perempuan yang menjadi key person nya hidayah itu. Saat itu, kakak pulang dari IPB untuk liburan.

Berhari-hari di sekolah, saya termenung dan berpikir. Saya di usia 14 tahun menginjak 15 tahun saat itu baru tahu kalau ternyata berjilbab dan berkerudung adalah kewajiban seorang muslimah, bukan pilihan. 

Hari-hari di sekolah yang sedang pergantian tahun ajaran selanjutnya berjalan adem ayem, karena otak saya terus mencari jawaban. Saya jadi tak nyaman berpakaian pendek-pendek. Risih. 

Finally, setelah perdebatan yang alot dengan mama, saya pun memakai hijab pertama kali saat tahun 1999 menjelang 2000. Waktu itu mama tak setuju karena SMP tinggal setahun lagi, dan nanggung banget untuk menjahitkan baju seragam dan mengganti baju olahraga. 

Tapi saya tak mau menyerah, saya melobi sahabat yang punya 3 setel seragam, selama setahun, saya meminjam seragamnya. Masyaa Allah. Semoga pahala terus mengalir untuknya. 

***

Masa SMP, SMA, hingga kuliah di Surabaya, saya berhijab gaul. Boleh dibilang begitu. Bebas pakai model pakaian apa saja yang penting lengan panjang, dan celana/rok panjang dengan kain yang menutup kepala. Tak peduli kalau tak menutup dada. 

Stylish. Itu kata pertama yang saya kejar. Untuk menaikkan prestise bahwa saya termasuk anak gaul, peduli dengan fashion, dsb. Cuma dari awal, saya sudah menggunakan kaos kaki. Karena sadar bahwa hanya muka dan telapak tangan yang bukan aurat.

Meski saat SMA dan kuliah, kebiasaan berkaos kaki itu kemudian saya tinggalkan. 

Kehidupan berlalu begitu saja. Sampai kemudian saya menikah di pernikahan pertama yang gagal. Lalu hidup berkelana dari kota ke kota. 

Tingkat futur atau lupa diri yang paling parah adalah saat masa-masa di luar kota. Tepatnya di Semarang dan Balikpapan. Tinggal di mess bersama-sama temen sekantor, baik laki-laki dan perempuan, membuat saya berpikir praktis.

"Ah, di rumah ini, anak-anak ini juga, ga pake hijab gapapa juga. Yang penting pas keluar rumah aja"

Itu pikir saya. Dan itu saya lakukan hampir 1-2 tahun kalau tidak salah. Sampai pada suatu titik, saya sadar saya telah banyak khilaf dan membuat aturan sendiri yang Allah ga ridha. 

Mulailah saya tertarik mengenal Islam lebih jauh, say aberniat dari batasan mahram, mulai dari mess. Kemudian saya hunting buku Ustadz Felix Siauw, Yuk Berhijab, supaya ga salah langkah dalam memilah dan memilih baju.

Akhirnya, baju-baju lama dan jeans saya hibahkan. Dan tersisa gamis 1 biji yang saya punya untuk suatu acara, bertambah hasil belanja 1 biji lagi. Bergantian saya mencuci dua baju saya itu. Sampai akhirnya bertambah perlahan-lahan. 

Disaat semangat belajar Islam itulah, jawaban Allah atas kegalauan menyoal jodoh datang, dan saya memantapkan diri hijrah, berhijab syar'i.

Tips Memakai Hijab Syar'i Anti Ribet 

Hijab artinya penutup. 

Sedangkan jilbab adalah baju yang seperti lorong panjang, tanpa potongan.

Dan khimar adalah kerudung yang menutup hingga ke dada.

Lebih jauh pembahasan ketiganya berkunjung aja kesini ya. 

Sedangkan warnanya dan polanya terserah selama dibolehkan syariah. Kalau pun ada yang emmilih warna gelap, itu cuma untuk kehati-hatian aja kok. Artinya mubah untuk pilihan warna, asal tidak berlebihan. 

Jadi, memakai gamis atau disebut jilbab dalam Bahasa Al-Qur'an ga hanya pas pengajian aja loh ya, tapi everyday. 

Praktis, no ribet, karena tinggal slurrp. Untuk bagian dalamnya, gunakan tsaub atau pakain rumah seperti kaos dalam atau celana. Ini justru membuat nyaman dan membantu menyerap keringat. Jangan lupa juga kaos kakinya ya.

Seperti ini kurang lebih :

Ust Felix Siauw dan Benefiko dalam Yuk Berhijab


Udah ada bayangan soal hijab syar'i anti ribet? Melakukannya tergantung seberapa ketaatan kita pada Allah SWT. Salah satu ciri orang sombong adalah tidak mau tunduk dengan perintah Allah. Semoga kita ga termasuk di dalamnya ya. Berproses boleh asal ber-progress, bukan stag dan nunggu hidayah.







Wassalam, 



Prita HW

1 komentar: