Akulah Si Petualang Tangguh - sebuah catatan best traveling moment 2018



Biasanya, setiap akhir tahun seperti Desember 2018 yang lalu, atau paling ga pas Januarinya, saya membuat semacam best traveling moment untuk merekam jejak, sejauh mana kaki melangkah, dan sudah mengunjungi bumi Allah mana saja. Dari situlah, kemudian saya menjadi lebih bersyukur, dan mengingat-ingat hikmah apa yang ada di setiap perjalanan yang saya lalui.

Kali ini, saya menuliskannya dengan format yang berbeda. Artikel ini menjadi pelengkap di buku antologi terbaru bersama anak-anak yang mengikuti kelas Fun Writing for Kids batch 2 The Jannah Institute. Selamat menikmati 😊 

***

Namaku Tangguh. Lengkapnya, Muhammad Tangguh Ar Rafif. Aku dititipkan Allah pada bundaku tersayang yang bernama Bunda Prita, dan ayahku yang periang, namanya Ayah Nana. Bunda dan ayahku ini sangat bahagia pas tahu aku dilahirkan ke dunia. Meskipun waktu itu, aku tidak langsung menangis. Sepertinya aku lelah karena tak sabar ingin keluar dari perut bunda, hihihi.

Aku sering mendengar ayah dan bunda mengobrol tentang aku, tentang apa yang akan dilakukan dengan keluarga tercinta. Dan, yang paling aku sukai, aku suka diajak pergi jalan-jalan sama orangtuaku. Bahkan, sejak dalam kandungan, loh. Aku jadi tahu tentang hal-hal di luar sana. Ternyata Allah menciptakan alam semesta dan isinya dengan sangat indah. 

Mau tahu ga catatan perjalananku sejak dalam perut bunda? Aku inget-inget dulu ya, baru kuceritakan pada kalian  Sambil kucuri dengar dari cerita-cerita bunda dan ayah. Iya bisanya nguping, karena aku belum bisa bertanya langsung lewat kata-kata.

Aku pernah diajak kemping pertama kali di Pantai Payangan. Kata bunda, waktu itu aku di dalam kandungan baru berumur 4 bulan. Pantesan, aku bisa mendengar desiran ombak pantai saat itu. 




Karena aku cukup kuat, di usiaku yang masih janin 5 bulan, bunda dan ayah yang sehari-hari bekerja menulis dan memotret untuk diceritakan di blog pribadi, mendapat undangan untuk pergi jalan-jalan dengan teman blogger lainnya di Banyumas, Purwokerto. Itu di Jawa Tengah. Aku diajak melihat desa wisata, mencicipi mino, dan kemping lagi di Bukit bernama Tranggulasih. O iya, blogger itu semacam penulis yang menuliskan keseharian dan cerita menarik di rumah maya yang bisa kalian buka lewat jaringan internet.




Maunya sih bunda istirahat setelah dari Banyumas, tapi ternyata bunda dan ayah dapat kesempatan lagi untuk ke Jawa Tengah lagi. Nama kotanya beda dengan Banyumas. Hm, Pekalongan namanya. Aku diajak saat masih janin 6 bulan, menyusuri hutan bernama Petung Kriyono, melihat air terjun alami, dan membatik di Museum Batik Pekalongan. Kali ini tapi aku tidur di hotel, bukan di tenda, hehe.




Aku jadi ketagihan jalan-jalan. Dan enggak tahu kenapa, kok pas bunda dan ayah tahu perasaanku. Usia janin 7 bulan, aku diajak lagi naik kereta api pertama kalinya ke Banyuwangi, karena bunda mengisi pelatihan menulis. Sempat mampir di Pantai Cacalan loh aku.




Capak enggak? Alhamdulillah enggak. Buktinya, di usia janin 8 bulan, aku masih diajak bunda dan ayah menyusuri kota Jember, kota kelahiranku. Meski aku masih ada keturunan Bekasi, tapi aku dilahirkan disini. Saat itu, aku baru tahu Pantai Papuma, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, proses pembuatan cerutu, sampai ke sungai untuk tubing (untung bunda enggak mengajak aku tubing, bisa-bisa aku pusing kalau harus muter-muter di atas ban karet di arus sungai, hehe).




Saat menunggu aku dilahirkan, aku memang sering menendang perut bunda. Aku lagi ngajak ngobrol ceritanya. Entah kenapa, aku memilih dan ditakdirkan Allah lahir di usia 42 minggu. Hampir 11 bulan, loh. Tapi karena itu, kata ayah bunda, aku dinamai Tangguh. 




Setelah aku melihat dunia, aku bersyukur sekali. Usiaku baru genap 1 tahun di tanggal 27 Januari kemarin, sekarang aku sudah enggak sabar mau jalan kaki sendiri, juga mau ngomong dengan kata-kata yang bisa dimengerti ayah bunda juga teman-teman yang lain. Kalau soal jalan-jalan, aku selalu ikut. Ayah bunda sudah membawaku bertemu nenek, om, dan tante di Bekasi saat usiaku 8 bulan. Aku melakukan perjalanan panjang di kereta pertama kali.


 


O iya, aku juga pernah naik bus ke Surabaya untuk pertama kalinya saat akhir tahun kemarin. Yang juga enggak lupa, aku touring menggunakan sepeda motor bertiga bareng ayah bunda ke Bondowoso dan Situbondo. 




Yang bikin aku bengong adalah saat bunda dan ayah mengajakku menginap di hotel untuk staycation saat aku berusia 7 hari. Itu karena tetanggaku ada hajatan, dan suara musiknya berdentum sampai membuat kaca jendela rumahku bergetar. Aku enggak bisa tidur, dong, hehe. 

Satu lagi, saat usia 17 hari, aku jalan-jalan ke Taman Botani Sukorambi, dan diabadikan di cerita blog bunda. Kalau kalian kesana, jangan lupa cari papan besar yang ada fotoku di pangkuan bunda, di sisi tembok dekat payung warna warni itu. Kemping disana juga sudah pernah kurasakan saat usia 9 bulan dan 11 bulan, selain kemping di Rembangan. Aku suka bersahabat dengan alam.




Iya, ayah bunda memang sibuk dan mungkin aku bisa jadi bayi tersibuk di kotaku, hahaha. Tapi, aku senang. Aku ingin bisa menulis cerita perjalananku dan membagikannya pada dunia seperti Ibnu Batutah, traveler di dunia Islam. Aku juga enggak sabar mau belajar fotografi, menggambar dan mendesain sama ayah. Juga tentunya belajar berbicara di depan umum untuk menyampaikan gagasanku seperti yang sering dilakukan bunda. 

Doakan aku ya teman-teman, semoga Tangguh selalu sehat, bisa menjaga diri sendiri, menjaga ayah bunda, dan kelak memimpin peradaban Islam yang gemilang seperti yang pernah bunda tulis di blog nya. Aamin. 

***

2018 tahun yang luar biasa, diijinkan oleh Nya, saya, ayah Tangguh, dan baby Tangguh menikmati perjalanan demi perjalanan yang makin menguatkan untuk terus belajar. Semoga 2019 menjadi awal perjalanan baru dengan petualangan baru. 


Wassalam




Prita HW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar