Tips Mengembangkan Blog Melalui Personal Branding : Belajar Nekat dari Ibu Rumah Tangga Digital, Heni Prasetyorini





Seorang ibu rumah tangga yang berhasil meraih gelar magister, juara beberapa lomba blog, dan pernah terpilih dalam Writingthon (writing marathon) Dikti di Jakarta. Kini, aktif membuka kelas digital yang mengajarkan teknik koding dasar untuk perempuan dan anak-anak. Adalah Heni Prasetyorini yang menjadi sebuah role model bagi para ibu-ibu masa kini.

Mbak Heni, begitu saya biasa memanggilnya, juga dikenal dengan branding coding mum nya. Ia juga pernah menjadi koordinator coding mum yang memfasilitasi orang-orang difabel. Berbekal jebolan coding mum dan trainer Gapura Digital nya Google, banyak yang kemudian memintanya untuk menjadi narasumber di berbagai kesempatan.

Dari berbagai kesempatan itulah, muncul ide untuk membuat Kelasku Digital yang awalnya justru bermula dari ide vocational training organizer bernama Kelasku. Jadi semacam organizer yang mewadahi para expert di bidangnya masing-masing dan berniat untuk membagi ilmunya. Misalnya, ahli dalam bidang handmade, public speaking, dll.

Sedangkan Kelasku Digital semacam program khusus untuk mengenalkan pemrograman untuk anak-anak. Bersama dengan beberapa dosen Universitas Trunojoyo yang sempat memiliki program serupa di kampusnya, Kelasku Digital pun dibuka di Surabaya. Ini juga berangkat dari kisah Mbak Heni yang memiliki anak yang games junkie dan kemudian diarahkan ke bidang pemrograman. Saat ini, anak pertamanya itu sudah duduk di bangku SMK.  

Kelasku Digital memiliki visi membiasakan anak-anak menjadi kreator digital. Karena digital life sudah makin masuk ke sumsum kehidupan kekinian, jadi tujuannya ga hanya sebatas menjadi user. Tak disangka, perkembangannya makin menakjubkan, para guru dll banyak yang mengungkapkan ketertarikan.




 

Semua aktivitas dan prestasi Mbak Heni bagi saya sangat membanggakan. Karena itu pula, saya pun  berkenalan dengan Mbak Heni dari dunia maya. Awal persisnya saya sendiri kurang paham, yang saya ingat, tahu-tahu saya sudah sering berbalas komentar di facebook untuk awal-awal. 

Sejak saat itu, jalinan pertemanan makin intim, karena ada kesamaan antara saya dan Mbak Heni yang kerap menyebut dirinya dengan sebutan emak gahar, yaitu sama-sama jatuh cinta pada dunia menulis dan berbagi ilmu serta skill yang kami bisa pada dunia yang makin luas. Sayangnya, upaya kami untuk bertemu di dunia nyata masih belum menemukan waktu yang tepat, sudah dua kali gagal, hehe. PR ya mak!

Kisah Dibalik Si Emak Gahar


Ibu rumah tangga mungkin menjadi profesi yang tak populer. Tak pernah dijadikan cita-cita secara terbuka oleh para perempuan diluar sana, terutama bagi yang memang belum menapaki dunia pernikahan. Praktis, seringkali banyak cibiran dan bahkan bullying yang diterima seorang ibu rumah tangga. Siapa sangka, ternyata ini pun dialami oleh Mbak Heni.

Saat saya secara khusus ngobrol agak serius semi wawancara dengan Mbak Heni, barulah saya tahu kalau ternyata sebelum melihat sosoknya yang sekarang, kisah masa lalu Mbak Heni ga segahar image nya :) Ibu berkacamata ini memulai cerita dari awal kelulusannya sebagai sarjana kimia jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), institut yang menjadi impian banyak orang. Dalam pikirannya, lulus kuliah, ia sudah sangat percaya diri diterima di Laboratorium Biokimia LIPI Bandung. Bukan ke-ge er-an semata, kepercayaan diri itu tumbuh karena Mbak Heni skripsi di tempat yang sama dan bahkan membantu penelitian Ketua Balai Laboratorium Biokimia. “Kamu harus kerja disini ya, nanti disekolahkan S2 juga.”, begitu ungkapan berkesan yang Mbak Heni ingat.

Tapi ternyata manusia memang terbatas pada rencana, sedangkan Allah yang Maha menakdirkan semuanya. Cita-cita ideal sebagai dosen dan peneliti harus kandas karena bertemu jodoh dan menikah, kemudian hamil. Sementara, suami yang saat itu bekerja di IPTN (sekarang PT. Dirgantara Indonesia), harus melanjutkan studi di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Meski dalam hati kecil menolak, tapi Mbak Heni tak bisa berbuat apa-apa. Ia pun langsung mengikuti suami ke Surabaya yang juga kota asalnya tanpa pikir panjang.

“Kamu anak ITB, kuliah dan lulusnya mati-matian, mau jadi PNS yang jadi impian banyak orang, mau dikuliahkan lagi. Tapi karena hamil, maka semua harus diterima” - Heni Prasetyorini


Kalau dikaitkan dengan dunia yang paling melekat dengan perempuan kelahiran Surabaya ini, saya bisa menyimpulkan bahwa dunia pendidikan dan aktivitas belajar yang terus menerus adalah passion nya. Dan itu, ia ungkapkan sendiri. Praktis, saat menjadi ibu rumah tangga yang tak direncanakan, ia menjadi kalut dan butuh ruang untuk beraktualisasi diri. Mencoba peruntungan jadi dosen, guru, dan lain-lain pernah dicobanya. Dan, saat sudah diterima menjadi guru sekolah dasar dan mulai menikmati karir edukasinya, ternyata Allah memberikan kepercayaan berupa kehamilan kedua yang prematur.

Apa daya, semua harus berdamai, terutama sang ibu. Target Mbak Heni tak muluk-muluk, asal si anak bisa hidup sehat. Kondisi ini makin membenturkan sosok ibu rumah tangga yang serasa “dipingit” di dalam batas wilayah berupa rumah. “Keluar pagar aja, anak saya itu sudah sakit. Jadi, kondisinya harus benar-benar ada di dalam rumah”, cerita Mbak Heni flashback.

“Bayangkan orang yang suka belajar kayak saya, ga punya akses sama sekali. Kondisi keuangan belum settle karena suami pindah kerja dan baru kerja di tempat yang baru. Sementara itu mengurus anak prematur juga butuh biaya besar. Handle semua sendiri, ga ada bantuan dari ibu ataupun ibu mertua.”, tuturnya lagi.


Disinilah, emak gahar ini diuji. Sifat dasarnya yang memang gahar tercermin dalam kengototan atau kenekatannya. Bonek alias bondo nekat. Persis seperti karakter yang melekat pada kota kelahirannya.

Dari situlah, Mbak Heni kemudian mengakses google, belajar bisnis online, tiap hari menyempatkan ke warnet, sampai akhirnya punya komputer dan modem ala kadarnya. Berbisnis kerudung atau hijab online pun digeluti Mbak Heni, ditambah membuat aksesoris tambahan yang dibuat handmade untuk pelengkap hijabnya. Kenekatan ini rupanya terendus juga oleh salah seorang reporter Metro TV Jawa Timur yang kemudian menjadikannya narasumber karena dianggap sebagai inspirator bisnis kreatif. Saat itu, anak keduanya sudah berusia 3 tahun. 

Ternyata lagi-lagi apa yang sudah dibangun, tak semulus yang diinginkan. Masuk tahun ketiga menjalankan bisnisnya, perempuan multi talenta ini mulai diguncang tepat saat permintaan akan hijab lukis sedang tinggi-tingginya. Tak ada yang menyangka, pelukisnya ternyata dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Dipaksa oleh keadaan, bisnisnya harus berhenti. Hikmahnya, situasi ini menuntunnya untuk mengevaluasi semuanya.  

Sementara itu, hobi otak atik di dunia maya ternyata makin tak bisa dibendung. Di saat yang sama, hanya menjadi ibu rumah tangga penuh waktu makin mengikis rasa percaya diri sampai ke titik terendah. Ini bukan under estimate terhadap diri sendiri saja, tapi sudah menjadi fakta. Misalnya saat Mbak Heni mencoba menawarkan jasa les privat mata pelajaran anak-anak pada seorang ibu dengan modal almamater ITB, ternyata tak cukup manjur.

Bahkan hanya sekedar memberi saran pada seorang ibu tentang ada baiknya memberi jarak sesaat saat anak selesai minum susu dilanjutkan minum obat, karena disitu ada reaksi kimianya dsb, itu pun dimentahkan. Yang paling parah, untuk tanda tangan asuransi rumah sakit dari kantor suami pun, Mbak Heni mengaku tak punya cukup keberanian untuk datang sendiri. Hanya karena merasa latar belakang sebagai ibu rumah tangga ternyata tak cukup ampuh membuat orang harus menghargainya.

Saya mengalami apa yang dialami ibu rumah tangga lain. Rasa mangkel, jenuh, bosen karena dianggap ibu rumah tangga aja. Saya mengakui kalau saya ga pede, dan saya ngedrop. Bahkan terpikir, saya bisa mati duluan kalau begini caranya. Tapi saya berpikir gimana cara mengatasinya - Heni Prasetyorini  


Setelah berdiskusi dengan suaminya, sampailah kesimpulan bahwa ibu rumah tangga yang ga bisa berdiam diri ini harus kuliah lagi. Tapi sesaat kemudian tersadar bahwa biaya yang dibutuhkan masih cukup besar dengan kondisi perekonomian keluarga saat itu. Sempat ingin kursus saja, semisal photoshop atau yang lain, biar bisa menekan biaya. Bersyukur, suami tercinta memberi saran, “Wis, passionmu bukan disitu. Cari yang ada titelnya aja. Karena bagaimanapun di negeri ini, titel itu masih dianggap.”, begitulah.

Akhirnya, Mbak Heni pun menantang diri sendiri untuk pergi jauh dari rumah tanpa harus diantar suami. Dan ga berpikir, entah nanti lulus kuliah mau jadi apa. Tapi si mbak yang gampang akrab dengan orang yang baru dikenal ini paham apa yang harus digaris bawahi dari pilihannya, masih berhubungan dengan edukasi.  


Digital learning di Unesa pun dipilih sebagai jurusan. Kenapa ga memilih jurusan Kimia yang linier? Simple. Kampus ITS di Sukolilo begitu jauh terbentang dari rumah Mbak Heni di Sambikerep, dekat perbatasan Surabaya-Menganti (Gresik). Selain itu, ternyata kalau Kimia biasanya ada praktek menumbuhkan bakteri yang butuh waktu sampai larut malam. Apa kata hati mak meninggalkan anak di rumah? Kira-kira seperti itulah penuturan Mbak Heni kepada saya :)

Titik Balik Itu Bermula dari Mengenal Blog


Lulus kuliah pastinya membawa harapan yang lebih cerah. Selain lebih percaya diri, Mbak Heni pun berharap ada peluang yang terbuka dengan upaya yang telah dilakukannya lewat jalur kuliah. Lulus kuliah S2 ternyata tak kunjung diterima kerja. Ada tawaran? Banyak! Tapi hanya sekedar wacana. Dan, disinilah terbersit ide untuk self employee.

Saya kalau diremehkan, orangnya tambah maju. Apalagi diremehkan karena cuma ibu rumah tangga - Heni Prasetyorini


Menurut Mbak Heni, tak semua orang percaya dengan kredibilitasnya karena jarak kelulusan S1 dan S2 terpampang jauh, yaitu 12 tahun. Disamping itu, ia pun belum menelurkan karya yang membuat bargaining position nya cukup dilirik. Pun saat mengajukan beberapa proposal penyelenggaraan training ke beberapa lembaga. 

Workshop “Fun Blogging” yang diadakan bloger-blogger kece asal Jakarta, yaitu Ani Berta, Haya Aliya Zaki, dan Shintaries lah, yang berhasil membuka mata seorang Heni Prasetyorini bahwa blog adalah jawaban yang bisa memberikan jalan menuju step berikutnya. Ternyata blog pun bisa dijadikan media untuk beraktualisasi diri dan menghasilkan uang dari rumah sekalipun. Saat harus menemukan niche blog, disinilah mulai dirasa ada kebimbangan. Mau nulis soal parenting, belum apa-apa, mata sudah meleleh, hidung juga meler. Setelah ikut training “Coding Mum”, barulah Mbak Heni menentukan niche blog nya dikhususkan pada topik seputar perempuan yang berdaya karena teknologi.

Satu yang disampaikan Mbak Heni yang juga makjleb buat saya ini nih :

Kalau para blogger terus berkarya sama aja dengan temen-temen yang lain, ya sama aja, ga bakal keliatan. Harus punya sesuatu yang berbeda. - Heni Prasetyorini

Cerita Dibalik Kemenangan Lomba Blog dan Writingthon    

     
Cerita kemenangan Mbak Heni yang berkesan masih saya ingat betul. Saya melihat sebuah foto PC bermerk ASUS lengkap masih dengan dusnya. Yey, hadiah yang didapatkan karena ketekunannya itu datang juga.

“Saya mempersiapkan lomba ASUS itu 1-2 minggu. Sampai jatuh sakit karena begadang tiap hari.”, ungkap Mbak Heni dengan nada serius.

Rupanya, prinsip jika melakukan sesuatu benar-benar fokus dipegang benar-benar olehnya. Rupanya, cara seperti itu dipilih untuk bisa merepresentasikan dirinya seperti apa. Jadi sampai esktrim seperti tidak melakukan blogwalking sama sekali demi menjaga kemurnian ide dan tulisan, dan sempat menarik diri dari dunia blogosphere di Surabaya dengan tidak menghadiri event apapun. “Tapi saya ga tahu ya cara seperti itu cocok atau ga kalau diterapkan untuk orang lain, Kalau buat saya, itu tipe saya.”, ungkapnya lagi menambahkan.

Tema yang diangkat saat itu adalah “apa ide start up mu?” Mbak Heni dengan cerdas mendetilkan semuanya ke dalam konsep ide yang unik dan sesuai tema yang dilombakan. Bahkan, sampai mengajukan pertanyaan ke trainer Coding Mum nya, apakah worth it jika membuat aplikasi di android, dan ternyata ide itu sudah tidak lagi unik. Mbak Heni pun memutuskan untuk menerjemahkan judul website yang sempat dibuatnya saat mengikuti Coding Mum, Akademi Prasetyorini.  


Baca Tulisan yang membawa kemenangan spesial itu disini

Akademi Prasetyorini didetilkan. Betul-betul murni sesuai tema yang dilombakan. “Ya beneran ide start up mu bagaimana, ya itu yang ditonjolkan. Disitu saya ceritakan kalau saya dapat PC, akan saya gunakan buat bisnis membangun Akademi Prasetyorini tadi. Mau saya buat sistem kredit untuk komputer bagi ibu-ibu, merekrut orang, bikin cafe coding, dll.” , runutnya.

Tujuannya sebenarnya bukan untuk kemenangan, begitu aku Mbak Heni. Minimal pihak penyelenggara tahu potensi dirinya. Itu saja.

Nah, kalau soal Writingthon yang diselenggarakan Bitread dan Puspiptek lain lagi. Saya sendiri jujur bahagia banget pas tahu Mbak Heni lolos menjadi salah satu pemenangnya dan diundang ke Serpong. Tahu kenapa? Karena sayalah yang mengirimkan link info lombanya pas tengah malam dan itu sama sekali ga iseng. Saya berpikir, siapa ya yang cocok dan kompatibel untuk saya kirimi info lomba ini, karena saya sendiri merasa tidak mampu secara tema untuk mengikutinya. Temanya sangat teknologi pastinya. Dan, Allah mengarahkan pandangan saya untuk membaginya pada Mbak Heni.

Malam itu juga, Mbak Heni crosscheck info lombanya. Dan menurut info, kalau nanti menang, harus sanggup dikarantina selama 3 hari. Saat itu, keep silent saja infonya dari suami, dan Mbak Heni langsung bergerilya. Padahal saat itu, ia juga harus pulang ke Jombang untuk menyambangi anak pertamanya yang mondok.

“Suatu hal yang sudah lama saya lupakan. Saya harus menulis tentang ilmuwan. Kan dikasih pilihan, saya pilih yang perempuan. Pertama, sesuai dengan branding saya. Lalu saya memilih siapa yang aneh, oh ternyata perempuan yang ilmuwan nuklir. Lalu, saya baca lagi profilnya, apa satu topik yang unik dan masuk akal untuk diwujudkan. Nah, Bu Evi Kartini yang saya tulis ini, pasti penelitiannya banyak. Satu topik penelitian yang beliau ingin lakukan adalah membuat baterai yang berbasis nuklir dan ramah lingkungan”, cerita Mbak Heni.

Karena ketulusan yang memang murni untuk mengasah hal lama yang dilupakan menyoal tema, lalu tidak berharap apa-apa selain apa yang ditulis bermanfaat dan kalaupun tidak menang, database Mbak Heni sebagai penulis disimpan oleh penyelenggara.

Seketika itu, barulah mengabarkan ke suami untuk berunding soal jadwal dan pastinya untuk mendapatkan restu. Karena dengan meninggalkan rumah, artinya suamilah yang harus menggantikan peran ibu sementara, termasuk antar jemput anak.

Berangkatlah Mbak Heni naik pesawat untuk pertama kalinya ke Jakarta, dilanjutkan menuju Serpong. Dan inilah kali kedua, dirinya pergi sendiri tanpa suami, setelah yang pertama dulu, saat melanjutkan studi S2. Dan, tentu ini kesempatan besar yang tak akan disia-siakan.

Ketika di Puspiptek, dengan semangat, Mbak Heni melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh. Branding ibu rumah tangga, coding mum, dll keukeuh dibawa. “Meski ada yang lihat, ini ngapain emak-emak disini, saya ga peduli.”, ceritanya yang sempat membuat saya geli.



Rindu Sains. . Ah, rindu bau laboratorium kimia dan menyapukan pandangan di sekitar prototipe mesin pengolah limbah tandan kosong kelapa sawit menjadi bioetanol generasi 2 di LIPI Kimia @puspiptek. . Rindu bertampang judes kayak gitu ketika mendengar penjelasan tentang rencana penelitian inovasi di bidang farmasi. . Rindu berpose bersama geng @bitread_id, @puspiptek dan 10 penulis Writingthon 1 tahun lalu. . Ah, rindu ini harus dijawab. Segeralah harus kusiapkan rentetan tulisan tentang Puspiptek di blog baru @risetpedia dan mengulik tulisan lama di blog www.prasetyorini.com untuk ikut serta lomba menulis untuk Blogger dan Jurnalis. Lomba bernama Pewarta Puspiptek. . Punya ide sesuai topik Pewarta Puspiptek itu? Segera tulis dan kirimkan ke panitia lomba. Info lengkap bisa dibaca di sini, http://www.risetpedia.com/2018/07/pewarta-puspiptek-lomba-menulis-8-bidang-penelitian.html?m=1, atau klik link di bio @risetpedia ya . Ah, aku rindu. . #pewartapuspiptek #sciencewriter #puspiptek
A post shared by Heni Prasetyorini (@heniprasetyorini) on
 

Dan, ada satu momen yang mengungkapkan bahwa peneliti di Indonesia semakin turun, dan semua yang hadir disitu diharapkan dapat membuat anak muda suka meneliti.

“Sedangkan kenyataannya, biasanya peneliti lebih memilih diam, ga terlalu membranding diri, nah inilah yang ga match saat harus merekrut anak muda. Saya ungkapkan semua disitu. Pulangnya, saya membuat web baru dengan nama risetpedia”,
tegasnya.

Dampak bagi Perkembangan Blog dan Kehidupan


Meskipun Mbak Heni mengakui kalau tidak setiap lomba dia ikuti, dan ada beberapa lomba yang tidak dipilih karena mementingkan genre, dampak dari memenangkan lomba blog ASUS dan terpilih dalam Writingthon diakuinya memberi dampak besar.

Satu yang pasti, setelah menang satu kali, blog www.prasetyorini.com yang merupakan personal blog nya menjadi lebih terarah dan mampu mendongkrak kepercayaan publik terhadap si empunya.

Ia membandingkan saat pernah menjadi content writer di sebuah web, dan sempat viral hingga sekian ratus ribu view, dampaknya tak sebesar saat ia memenangkan dua lomba bergengsi utama seperti ASUS dan Writingthon.

Kepercayaan publik tentu berefek samping pada popularitasnya. Tawaran berdatangan, hingga kepercayaan yang melampaui ekspetasi. “Bahkan karena terlampau percaya, dikira saya programmer”, ungkapnya. Meskipun, ia percaya kalau seseorang masuk ke dunia pemrograman, ibaratnya seperti masuk rumah yang banyak jendelanya. Jendela mana saja bisa dibuka dengan mudah. Sebab kehidupan digital sangat tak terbatas ruang dan waktu, ditambah fasilitas internet yang makin lama makin terjangkau. 

Sempat terngiang dalam benaknya,

Dulu, saya mesti pakai proposal, ditolak, dll. Sekarang malah diminta. Dua tahun yang lalu saya ditolak, sekarang saya diminta.


Melelahkan tentu saja mutlak dirasakannya. Apalagi bagi ibu rumah tangga yang semuanya harus dilakukan sendiri tanpa ART. Tapi, kalau bersungguh-sungguh dan melakukannya secara persisten, personal branding yang kuat pelan-pelan akan menunjukkan hasilnya.

Meski saat ini aktivitasnya cukup padat, permintaan yang berhubungan dengan pekerjaan tetap harus mengikuti ritme rumah tangga. Contohnya, kalau ada klien yang ingin bertemu di jam yang bersamaan dengan tugas antar jemput anak atau saat suami ada di rumah, praktis Mbak Heni akan menjelaskan kepada klien dan mengatur ulang jadwalnya.

Karena Mbak Heni percaya seberapapun kesuksesan yang diraih seseorang, muaranya akan kembali ke rumah juga. Kesimpulan ini juga berdasarkan pengalaman teman-temannya yang akhir-akhir ini mengungkapkan keinginan untuk kembali ke rumah dengan menjadi ibu rumah tangga meski sudah keliling nusantara, dsb.

Punya keluarga yang solid adalah dambaan semua insan - Heni Prasetyorini

Tips Memenangkan Lomba Blog Melalui Personal Branding


Akhirnya, saya mau berbagi tips-tips yang berhasil saya simpulkan dari cerita si emak gahar kepada saya. Ini diantaranya :
   

1 Di setiap momen apapun yang ditulis, selalu tulis dengan sepenuh hati dan bukan untuk main-main.

2 Jangan hanya mengincar hadiah lomba semata atau hanya ingin sekedar mem blow up sebuah brand, tapi pikirkan kontennya dengan matang.

3 Selalu tanamkan, meskipun tidak menang kali ini, minimal pihak penyelanggara sudah tahu potensi dari si pembuat konten dan menandai namanya di event selanjutnya.

4 Sadari potensimu dan tonjolkan dengan cara yang berbeda.

5 Pentingkan untuk selalu mem branding diri saat mengikuti lomba. Tulis dengan benang merah yang sama tentang diri kita itu siapa dan racik sesuai dengan tema yang diminta.

6 Wani soro atau berani menderita lebih dulu jika menginginkan sesuatu. Usaha keras apapun itu, karena setiap perjuangan menyimpan cerita tersendiri. Hasilnya pasrahkan hanya pada Allah SWT.

Semoga mini autobiografi Mbak Heni ini dapat diambil saripatinya ya temen-temen. Tak ada yang tak mungkin kalau kita mau mengusahakan yang terbaik, bahkan untuk seorang ibu rumah tangga dengan segala riuh rendahnya dinamika.   


Wassalam,




 

Prita Hw

13 komentar:

  1. Thank you mba prita untuk mini autobiografinya... Inspiring

    BalasHapus
  2. Aku pernah ketemu mbak Heni satu kali, saat sama-sama mengikuti Fun Blogging di Surabaya :)
    Sukses terus untuk mbak Heni.

    BalasHapus
  3. Matur nuwun mbakyu. Lika-liku hidupku yang dulu tampak sia2 itu bisa berguna kalau diusahakan sekuat tenaga. Semoga menginspirasi.

    BalasHapus
  4. Wow 😍 luwar biasa semangat, perjuangan dan hasil tekad mbak heni untuk terus berkarya.. keep inspiring mbak heni, mbak prita😍😍

    BalasHapus
  5. Aku suka kepoin blogny mb henni
    Keren bgt emang
    Inspiring

    BalasHapus
  6. Wah, baca tulisan ini jadi ingin jumpa langsung dengan Mbak Heni. Semoga ada kesempatan bisa bertemu langsung dengan beliau yaa... Anyway, salut Prita, dengan tulisannya yang menginspirasi. Dan pada dasarnya memang selalu salut dengan penulis yang masih concern menulis panjang, di tengah tren menulis padat dan singkat di dunia maya. <3 Keep inspiring through your writing, yaa... <3

    BalasHapus
  7. Makasih sharingnya, bikin semangat untuk ngeblog dan menulis dengan lebih baik

    BalasHapus
  8. kereeen bangeeet ceritanya..seruuuu ya mba dan banyak yang menginspirasi juga!

    BalasHapus
  9. Lomba itu menambah rasa percaya diri, dan juga semacam branding si blogger menurut saya. Thanks for sharing mbak

    BalasHapus
  10. Wah sangat menginspirasi kisah Mba Geni.. Bisa kita aplikasikan dalam kehidupan diri kita masing2.. Saya salut sama ibu2 yg belajar coding, pengen juga saya belajar coding. Seandainya di Palembang ada saya pengen ikutan nih..

    BalasHapus
  11. aku pengen banget belajar coding, semoga bisa kayak mbak Geni bisa menginspirasi banyak orang :)

    BalasHapus
  12. Inspiratif sekali tulisannya, mbak. kalau buat saya bisa menang lomba blog bergengsi itu pastinya kualitas tulisannya benar-benar oke

    BalasHapus
  13. Aih baca ini sungguh kere, biasanya kalau sudah emak emak sungguh bikin minder, berbeda dengan mbak Heni, dirmehkan semakin gahar. ughhhh saya malah minder,, waktunya gahar juga sekarang. cusss semangat

    BalasHapus

target='_blank' rel='nofollow'