Pangan Sehat Ternyata Penting untuk Hidup Berkelanjutan





Pangan Sehat Ternyata Penting untuk Hidup Berkelanjutan - Kalau diminta pilih cemilan modern ala roti, pastry, atau snack yang lazim ditemui di minimarket terdekat, dengan jajan tradisional seperti nogosari, embhel, rangin, dan kue basah lainnya, apa yang temen-temen pilih?

Nah, mungkin jawabannya akan sangat subyektif ya. Subyektif karena usia mungkin 😅 Atau justru karena pengalaman dan pengetahuan yang membentuk persepsi selama ini. Bagi anak-anak jaman millenial, tentu jajanan tradisional seperti yang saya sebutkan di atas itu tergolong aneh dan yuckie, "makanan apa tuh?". Kurang lebih seperti itulah respon yang umumnya ditemui.

Sedangkan bagi para kakak atau orang tua yang sempat akrab dengan jajanan tradisional di masa kecilnya, bisa jadi bertemu kawanan kue tradisional yang kandungannya tentu lebih menyehatkan itu jadi semacam nostalgia memanggil memori lama yang sempat terkikis. 

Berkenalan dengan Pangan Sehat ala Tanoker, Ledokombo

Beberapa hari yang lalu, ada kejutan datang ke rumah saya. Bapak dan ibu-ibu warga Ledokombo, sebuah desa di kawasan Jember, datang membawa bingkisan yang tak biasa. Sebuah nampan yang terbuat dari pelepah pohon pisang yang di atasnya berjajar cantik kue tradisional khas Ledokombo. Rupanya, sebuah komunitas belajar bernama Tanoker (yang berarti kepompong, dalam bahasa Madura) sedang mengadakan kampanye pangan sehat. Wah, surprised!

Saat saya buka pembungkusnya, sambil saya baca keterangan yang tertera, nama kue-kue tadi adalah sumpil labuh alias nogosari, rangin, dan embhel. Yang akrab dengan mata dan telinga saya hanya sumpil, papa saya sering menyebut istilah selain nogosari itu sedari saya kecil. Kalau rangin biasanya saya tahunya yang dijual bapak-bapak di pinggir pertokoan atau pinggir jalan, yang basah. Sedangkan yang saya terima kemarin adalah yang kering. Nah, kalau embhel ini saya masih asing dengan istilahnya.
Penasaran ingin mencoba, ternyata enak juga 😍

Sumpil kali ini spesial, karena menggunakan labuh kuning sebagai bahan utamanya. Rasanya yang sudah ada bawaan manis dan bertekstur itu menciptakan sensasi tersendiri saat digigit. Di bagian tengah, seperti biasa ada pisang yang makin menambah nikmat. Sumpil atau nogosari ini memang salah satu kue tradisional favorit saya 😉

Yang gampang buat langsung dicomot dan dilahap ini namanya rangin, karena termasuk kue kering. Terbuat dari kelapa, di tengah-tengah warna putihnya, ada rasa manis gula kelapa yang langsung bak oase di tengah gigitan kue berbahan dasar kelapa yang bagian putihnya.

Yang saya coba terakhir, kue embhel. Mirip sumpil sekilas. Cuma bentuknya lebih kecil, dan sama-sama berbungkus hijaunya daun pisang. Terbuat dari tepung beras dan gula merah. Ini juga enak sekali. 

Kelebihan kue tradisional yang merupakan hasil kelompok Bunga Turi yang terdapat di Desa Sumber Lesung, Dusun Onjur, Kecamatan Ledokombo ini adalah :
  • Merupakan jenis pangan sehat yang bebas zat kimia
  • Dapat menunda rasa lapar karena cukup mengenyangkan
  • Menjaga dan melestarikan warisan kuliner tradisional    



Terimakasih ibu-ibu pegiat kuliner tradisional di Kampung Wisata Belajar Tanoker Ledokombo. Semoga selanjutnya saya bisa mampir langsung di Pasar Lumpur bulan depan ya. Buat yang ingin menikmati lebih banyak varian pangan sehat dan kuliner tradisional lainnya, bisa mengunjungi event Pasar Lumpur setiap hari Minggu akhir bulan setiap bulannya. Selain kuliner, ada juga outbound permainan tradisional, handycraft khas ibu-ibu Ledokombo, dan juga asiknya bermain polo lumpur. 

Pentingnya Pangan Sehat di Kabupaten Jember


Baru kemarin saya bertemu dengan seorang pemilik warung makan tradisional di kawasan Ajung, dan mendengarkan si ibu bercerita tentang hasil blusukannya di satu daerah bernama Jelbuk.  

"Di deket bukit yang terkenal dengan nama SJ 88 itu loh mbak, saya melihat langsung, banyak anak-anak stunting. Bocah gendong bocah. Ya, karena kurangnya pengetahuan. Mereka ga sadar tentang pentingnya nutrisi sejak dalam kandungan, dan berlanjut sampai anak itu lahir. Umur 2,5 tahun itu kira-kira segini lebih gede dikit lah", ucap si ibu sambil menunjuk buah hati saya dan suami, baby Tangguh yang baru berusia 7 bulan.

Saya hanya bisa melongo. Tak menyangka sama sekali, Jember yang juga kota urban karena banyaknya universitas atau sekolah tinggi tempat mahasiswa dari sekitar wilayah tapal kuda menuntut ilmu, ternyata masih ada kawasan pelosok yang minim sentuhan seperti itu. Maklum, baru kurang lebih dua tahun ini saya balik kucing pulang kampung setelah 14 tahun merantau. Praktis, sejak dulu, saya hanya akrab mengenal wilayah kota saja di daerah Jember. 

Curcol si ibu tadi senada dengan pernyataan Farha Ciciek, Direktur Tanoker, dalam kegiatan Semiloka yang digelar di Aula Diklat Badan Kepegawaian Daerah Jember, Juli lalu, 

"Kami sangat prihatin karena kesadaran masyarakat di Jember masih rendah terhadap konsumsi pangan sehat, sehingga melalui semiloka ini, kami dorong kesadaran dan keberdayaan masyarakat tentang hal itu."

Menurut hasil riset Food Diaries di enam kecamatan di Kabupaten Jember yang mencoba menganalisa pola konsumsi pangan harian masyarakat Jember, terungkap fakta bahwa dari 18 kelompok pangan, urutan pertama yang paling banyak dikonsumsi adalah kelompok pangan bumbu dan minuman, dimana garam dan penyedap rasa (MSG) menempati posisi puncak. 


Karenanya, Tanoker sebagai kelompok belajar yang dekat dengan aktivitas masyarakat pedesaan, khususnya di wilayah Ledokombo, turut serta mendorong revolusi dapur di tingkat akar rumput. Dapur, tentu bukan hal sepele jika kita melihat, dari sanalah, tersaji makanan sehari-hari dan membentuk pola pangan untuk kehidupan sehat yang berkelanjutan, terutama bagi anak-anak yang merupakan generasi penerus masa depan. "Karena persoalan ini menyangkut persoalan hidup dan mati", ungkap Ciciek lagi.



Sumber : radarjember.jawapos.com

Selama ini, Tanoker telah bersama-sama dengan multi pihak telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong kesadaran pangan sehat dan keberpihakan pada sumber daya pangan lokal, diantaranya :

  • Memproduksi pangan sehat dengan mengedukasi ibu-ibu di tingkat desa yang menjadi garda utama dibalik revolusi dapur
  • Advokasi kebijakan yang memunculkan dukungan Kepala Desa Sumbersalak melalui Perdes untuk kelompok perempuan yang memproduksi berbagai olahan pangan sehat
  • Menggandeng sekolah untuk menerapkan kantin sehat
  • Mendorong isu pangan sehat menjadi salah satu indikator Kabupaten Layak Anak
  • Mendorong integrasi materi pangan sehat ke dalam kurikulum sekolah parenting di Sekolah Bok Ebok, Sekolah Pak Bapak, dan Sekolah Yang Eyang yang rutin dilakukan Tanoker 
  • Mengadakan semiloka yang diharapkan memperjelas jalan program dan dukungan seluruh pihak terkait demi menuju Jember lebih sehat
Namun, di atas semua upaya yang dilakukan dari akar rumput, saya sependapat juga dengan pernyataan direktur Tanoker yang mengatakan bahwa,  

"Beragam jenis penyakit salah satunya disebabkan karena pola makan yang tidak sehat, sehingga hal itu juga yang mendorong Tanoker bersama-sama multi pihak memproduksi pangan yang sehat dan pemerintah juga seharusnya memberikan pendampingan yang masif kepada masyarakat.", tambahnya.

Pangan Sehat Penting untuk Hidup Berkelanjutan

  
Bergerak dari akar rumput saja, tentu tak cukup. Pemerintah sebagai stakeholder tetap memegang kunci perubahan itu sendiri. Dukungan berupa kebijakan dan pendampingan, juga pemerataan pembangunan yang tak hanya berorientasi pada fisik, tapi juga sumber daya manusianya, sudah sepatutnya menjadi perhatian lebih. 

Sebagai seorang ibu baru yang sedang belajar tumbuh kembang bayi sejak masa kehamilan hingga saat ini memasuki masa MPASI, saya juga ingin semua ibu-ibu menyadari tentang pentingnya nutrisi menyeluruh untuk hidup berkelanjutan.  Bahwa 1000 hari pertama kehidupan akan memberikan konsekuensi yang panjang untuk masa depan anak-anak. 


buah hati tercinta, baby Tangguh, 7 bulan

Kapan saat yang tepat? 1000 hari pertama berarti 3 tahun pertama sejak dalam kandungan. Perhatikan asupan makanan bergizi yang masuk, dan yang terpenting tak hanya berpikir tentang makan yang enak atau yang penting makan. Tapi, sehatkah makanan yang kita pilih? Cukupkah nutrisinya? Bahan pangannya alami atau lebih banyak yang non alami? 

Jauh di atas semuanya, tentu memberikan rezeki yang halal bagi anak kita akan mengalirkan darah yang dijaga oleh Allah dan berdampak pada perilakunya, insyaallah.

“dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya” - QS. Al-Maidah : 88 


Dari lubuk hati terdalam, semoga kasus seperti di Jelbuk yang saya dengar kemarin, akan benar-benar diperhatikan serius oleh pemerintah dan dukungan semua pihak, termasuk kita, masyarakat yang merasa lebih melek dan berdaya secara pengetahuan dibanding saudara-saudara kita di pelosok desa. 



Wassalam,

Prita Hw

2 komentar:

  1. Saya penyuka jajanan tradisional mbak, lebih seneng lemper, mendhut, gethuk, jadah/tetel, arem2, lephet. Nah, jadi galfok hahaha. Ini doyan apa laper..


    Baru tahu mbak di jember masih banyak kasus kaya gitu, salut sm tanoker jember yg berusaha mengedukasi masyarakat pedesaan yg umumnya krg pengetahuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain lbh sehat, emang lbh nampol kenyangnya kl kue tradisional :) Semoga upaya masy semacam Tanoker diimbangi sama upaya pemerintahnya yaaa

      Hapus

target='_blank' rel='nofollow'