Diam-diam Indonesia Bangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Apakah Ada Udang Dibalik Batu?

bangun UIII hubungannya dengan Islam moderat


Ada kabar yang mengejutkan dari dunia pendidikan kita. Seperti biasa, selalu ada hal baru yang menimbulkan pro kontra. Ibarat seorang public figure yang ingin selalu mengundang sensasi, begitulah pemerintah kita saat ini membentuk citranya. Kontroversi is a must 😕 Adakah dari temen-temen yang tahu tentang rencana pembangunan UIII atau kepanjangan dari Universitas Islam Internasional Indonesia? 

Pembangunan UIII ini ternyata bukan sekedar wacana, tapi sudah masuk tahap perencanaan dan bahkan eksekusi idenya. Pada 29 Juni 2016 yang lalu, Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 57 Tahun 2016 tentang pendirian UIII ini. 

Menurut Perpres tersebut, UIII dikelola sebagai perguruan tinggi negeri badan hukum, dan pembinaannya dilakukan secara teknis akademis oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama dan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pendidikan Tinggi. Program di UIII hanya untuk pendidikan master dan program doktoral bidang studi ilmu agama Islam, ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta sains dan teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan pendanaan penyelenggaraan UIII bersumber dari APBN dan Non APBN, dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. (nasional.kompas.com)

Penandatanganan Perpres yang telah lebih dulu dilakukan itu makin mendekati kenyataan saat pada 5 Juni 2018 yang lalu, Presiden Jokowi baru menghadiri dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan UIII di Cimanggis, Depok, yang akan dilakukan di atas lahan seluas 142 hektar.  

Pembangunan kabarnya akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, dana yang dianggarkan sebesar Rp 788 miliar. Sedangkan total anggaran yang direncanakan mencapai Rp 3,97 triliun. Berdasarkan masterplan, di kawasan UIII yang rencananya didesain sefuturistik mungkin itu akan didirikan gedung fakultas, gedung rektorat, perpustakaan, gedung serba guna, pusat olahraga, taman cagar alam, taman suaka religi hingga rumah permanen bagi mahasiswa berkeluarga, karyawan, serta tenaga pengajar. Rencananya, pembangunan akan diselesaikan secara total empat tahun yang akan datang, namun ternyata bangunan fakultasnya diyakini akan rampung pada 2019 dan langsung bisa digunakan. (nasional.kompas.com)

Tak hanya itu, yang lebih mengejutkan lagi, ternyata UIII tidak hanya untuk mahasiswa Indonesia saja, tapi 75 persen dari total mahasiswa juga akan diisi oleh mahasiswa asing. Ini sesuai dengan pernyataan Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin di Kemenag pada 15 Juli 2016 yang dilansir dari kompas.com.

Lukman menambahkan dalam kesempatan yang sama, "Mereka (mahasiswa asing) mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia. Dan, mereka akan menjadi duta bangsa sebagai orang-orang yang kembali ke tanah air masing-masing untuk menjelaskan nilai-nilai Islam yang berkembang di Indonesia.", ungkapnya. (kompas.com)


Nah loh, udah pada tahu ga temen-temen segenap fakta di atas? Rasanya hanya beberapa kalangan aja yes yang ngeh tentang beginian. Padahal bangunnya pakai duit rakyat juga (called APBN). *tariknafas

Pun saat saya survei kecil-kecilan ke beberapa lingkar pertemanan tentang rencana pembangunan UIII ini, ternyata jawabannya ga jauh beda dengan banyaknya pertanyaan yang naik ke permukaan yang saya baca di media, semisal :


bangun UIII dan hubungannya dengan Islam moderat


"kenapa sih perlu membangun universitas Islam di Indonesia? bukannya udah banyak ya universitas Islam di Indonesia, ya negeri, ya swasta?"

"loh kok bisa tiba-tiba ada UIII? Se-urgent apa sih kok tiba-tiba mau rampung aja?"

"lah kok bisa mahasiswa asing didanai sama pemerintah? padahal yang masih susah sekolah aja banyak?"

"kalau 75 persen mahasiswa asing, 25 persennya lokal, itu sih sama aja kamuflase ya?"

"pusat peradaban Islam bukannya menurut sejarah di timur tengah ya dari dulu, lah ini tiba-tiba mau dikenalkan Islam ala Indonesia? Ada-ada aja!"

dan sebagainya...

Baiklah, sekarang mari kita telusuri apa jawaban dari pemerintah tentang pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak sampai ke ubun-ubun itu?

Dari nasional.kompas.com, Jokowi dan ditambahkan pula oleh Menteri Agama,  Lukman Hakim Syaifuddin, mengungkapkan beberapa alasan menyoal mengapa UIII harus tetap perlu didirikan, seperti ⇘⇘⇘

  • UIII memang dibangun tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di bidang pendidikan tinggi Islam domestik, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat global 
  • UIII juga dibangun sekaligus untuk meneguhkan kepemimpinan Indonesia di dunia Islam internasional
  • UIII dibangun agar peradaban Islam Indonesia patut disejejarkan dengan peradaban Islam di Timur Tengah, sebab Islam di Indonesia sudah melewati rentang waktu yang panjang dan telah mewarisi satu karakter, yaitu Islam wasathiyah (Islam moderat) yang terbukti andal mengembangkan nilai-nilai Islam dalam lingkungan budaya yang plural dan toleran 
  • Kehidupan di UIII nantinya akan didasarkan pada tiga pilar nilai, yaitu nilai keislaman, wawasan dan proyeksi global, serta karakter kebangsaan Indonesia
  • Fungsi UIII tidak hanya sebagai penyelenggara proses belajar mengajar, riset, dan pengabdian masyarakat semata. Lebih dari itu, kampus ini dimaksudkan sebagai upaya membangun peradaban Islam Indonesia sekaligus mengontribusikannya bagi peradaban global melalui jalur pendidikan
bangun UIII dan hubungannya dengan islam moderat

Hm, dari sini sudah jelaslah bahwa kampus yang kabarnya juga akan menyediakan ruang bagi pemikir-pemikir Islam untuk melakukan kajian strategis ini benar-benar disiapkan untuk menjadi pusat pengembangan Islam wasathiyah atau Islam moderat. Dan jelas-jelas menghadang Islam ideologis 😣


Padahal ISLAM ya Islam. Islam bukanlah agama yang perlu dimodifikasi. Tidak ada Islam nusantara, Islam moderat, Islam radikal, atau Islam Indonesia. Islam adalah untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman, bagi semesta alam.

Apa itu Islam yang Moderat, Wasathiyah, dan Ideologis?

Jadi bingung dengan banyaknya istilah buatan manusia terutama kaum kufur yang sengaja melakukan propaganda dan framing media memang merupakan hal yang wajar. Tapi tugas kitalah untuk mencari kebenaran sejati tentang Islam itu sendiri.

Sebenarnya, secara istilah, Islam moderat berbeda dengan wasathiyah. Islam moderat adalah embel-embel yang dipilih barat untuk menjadi corong isu-isu pemikiran sesatnya. Umat muslim sendiri diadu domba untuk kemudian dibuat skeptis dengan kemurnian ajarannya. 

Banyak kan diantara temen-temen yang saat bergaul dengan lingkar pertemanan secara umum, mendapati banyak komentar :

"kalau berIslam jangan yang serius-serius lah. Jangan terlalu radikal"

"Islam yang tengah-tengah lah, yang sesuai dengan kultur dan warisan leluhur Indonesia"

"Islam yang biasa-biasa aja lah, jangan terlalu fanatik"

Sadar ga sih, bahwa komentar-komentar semacam itu adalah buah dari keberhasilan barat menancapkan ideologinya agar kebanggaan sebagai khairu ummah perlahan-lahan mulai luntur, tidak ada kebanggaan, apalagi semangat untuk mengusungnya. Jika sudah begitu, paham barat lewat western lifestyle akan akan lebih mudah diterima dan diyakini sebagai bagian dari akulturasi pemikiran dan budaya yang berkembang seiring majunya peradaban.

Wacana Islam moderat ini kemudian dihubungkan dengan frase yang lebih pas dan mengindonesia, yaitu Islam nusantara. Seperti diungkapkan Gus Najih, putra ulama terkenal, KH. Maemoen Zubair yang mengkritik keras istilah Islam nusantara dengan membuat makalah berjudul "Islam Nusantara dan Konspirasi Liberal", "Islam nusantara hadir untuk mensinkronkan Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Ada doktrin sesat dibalik lahirnya wacana Islam nusantara.", ungkapnya. 


Islam nusantara mengajak umat untuk mengakui dan menerima budaya sekalipun budaya tersebut kufur, seperti doa bersama antar agama, pernikahan beda agama, menjaga gereja, merayakan imlek, natal, dan sebagainya. 

“Dalam anggapan mereka, Islam di Indonesia adalah agama pendatang yang harus patuh dan tunduk terhadap budaya-budaya Nusantara. Tujuannya agar umat Islam di Indonesia terkesan ramah, tidak lagi fanatik dengan ke-Islamannya, luntur ghirah islamiyahnya,” jelas Gus Najih yang lama belajar ilmu agama dari Sayyid Maliki di Mekkah ini.


Gus Najih juga mengungkapkan fakta yang ada, budaya yang berasal dari tradisi Nusantara pra-Islam telah di-Islamkan oleh para ulama Nusantara termasuk Walisongo. “Bukan Islam yang diakulturalisasi dan di-nusantarakan oleh budaya Nusantara karena budaya tersebut sudah ada terlebih dahulu sebelum Islam datang,” papar Gus Najih lagi. (suaranasional.com)

Sedangkan, dari referensi mediaoposisi.com, saya menemukan hasil penelusuran tentang arti kata wasathiyah yang berasal dari kata al wasath yang berarti sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding, pertengahan. (Al Ashbahani, Mufradat Alfazh Alqur’an). Juga bermakna sesuatu yang terjaga, berharga dan terpilih, karena tengah adalah tempat yang tidak mudah dijangkau, tengah kota (At tahrir wa at tanwir, II/17).




bangun UIII dan hubungannya dengan islam moderat


Umatan wasathan
yang dimaksud dalam Q.S. Al Baqarah : 143 adalah umat terbaik dan terpilih karena mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Jalan lurus dalam surat Al Fatihah adalah jalan tengah di antara jalan orang yang dibenci (Yahudi) dan jalan orang sesat (Nasrani) (Tafsir al Manar, II/4).

Karakter umat wasathiyah yaitu umat yang adil dan pilihan (Q.S. Ali ‘Imran : 110), terbaik dan pertengahan, antara ifrath (berlebihan) dan tafrith (mengurangi) (Tafsir ar Razi, II/389–390).  


Sampai disini, tentu sudah jelas ya, bahwa makna wasathiyah yang disejajarkan dengan moderat dalam persepektif barat udah jauh banget maknanya. Penggunaan wasathiyah hanya mengambil arti pertengahan sebagai pembenarnya.

Padahal munculnya "jalan tengah" yang merupakan awal mula dari sekulerisme pertama kali terjadi di Eropa pada akhir abad ke-19. Saat itu, terjadi pertentangan antara gereja dengan para ilmuwan yang dianggap menghasilkan penemuan dan ilmu pengetahuan baru yang bertentangan dengan teologi kristen dan kebijakan gereja. Maka, diputuskan untuk memisahkan kehidupan sehari-hari termasuk dalam urusan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai dasar agama. Pantas saja, bila saat ini, temen-temen sering mendengar kalimat yang kira-kira bernada cibiran seperti : "ga usahlah bawa-bawa agama dalam kehidupan. Agama ya agama. Ga ada hubungannya sama kita ngomong dunia."

Kalau begitu, jika dihubungkan dengan ngototnya pemerintah untuk tetap mendirikan UIII dan berupaya kerasa agar cepat rampung, apakah ada udang dibalik batu ?

Jelaslah sudah, Indonesia lewat UIII dijadikan "proyek laboratorium" pusat pengembangan Islam moderat dunia untuk menghadang kebangkitan Islam ideologis atau Islam yang menerapkan syariat Allah secara sempurna (kaaffah).

Harapan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin dengan pendirian UIII akan mengurangi intoleransi yang terjadi di masyarakat Indonesia boleh dibilang pernyataan yang usang. Karena tanpa framing Islam moderat pun, sejatinya dari zaman dahulu kala Islam diemban oleh Rasulullah SAW, sudah terbukti Islam sangat toleran dan damai karena sifatnya yang rahmatan lil 'alamin. Dan, sudah banyak shirah Rasulullah SAW yang mencontohkan akhlak luhurnya, baik sebagai individu yang penuh kasih sayang dan lemah lembut kepada sesama, maupun sebagai kepala negara yang tegas dan adil kepada seluruh umat yang dipimpin beliau. 

Hanya dengan menjadikan Islam lebih dari sekedar agama, tapi ideologi yang punya cara pandang dan peraturan hiduplah, yang akan menjadikan Islam diterapkan secara sempurna. Dan itu hanya bisa terjadi dalam naungan daulah khilafah yang sangat ditakutkan para pengemban ideologi kapitalis saat ini.😊😇

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]

Maka, langkah-langkah siapakah yang akan kita ikuti? Sudah saatnya, kita sebagai umat muslim yang diciptakan Allah dengan peran khalifatullah kembali kepada kemurnian Islam yang sejati. 

Rasanya pembangunan UIII yang futuristik dengan segala "kemewahan" semu itu ga perlulah kita jadikan sesuatu yang istimewa, apalagi membanggakannya, bukannya udangnya udah keliatan ya 😆


Wassalam,









Prita Hw

6 komentar:

  1. Buang2 duit segitu cuma bangun universitas yang sebenernya udah banyaakkkk

    BalasHapus
  2. Kasihan generasinya, sudahlah mereka dibuat jauh dari pemahaman Islam kaffah. Islam yang mengintegralkn kehidupan dan politik. eeh bikin universitas yg justru menjadikn islam wasatiyah sbg rujukan.

    BalasHapus
  3. Terus mahasiswanya yang menganut Islam apa ya mb

    BalasHapus
  4. Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim memang sdh sjk lama dijadikan slh satu negara yg mjdi pilot project penyebaran Islam moderat. Makanya terminologi2 baru hasil 'memodifikasi' Islam dg budaya, atau dg demokrasi, atau dg sekularisme, liberalisme dll subur di Indonesia. Dan emang sengaja disuburkan. Pdhl bagi mereka yg mempelajari Islam dg benar, memiliki ilmu tntg Alquran, Assunnah dan ilmu2 ushul dg benar, apalagi dutambah pemahaman politik, akan faham bahwa : terminologi2 tsv sengaja diciptakan dan disebarkan demi menjauhkan umat Islam dari Islam. Yg mnrt kapitalis yg sedang ebrkuasa itu berbahaya bagi existensi mereka

    BalasHapus
  5. Makasih Mba Prita, pagi-pagi udah kasih bacaan 'berat' yang mencerahkan ini :) Barakallahu

    BalasHapus
  6. Wah ini kalau di FB bakalan rame mbak. Saling serang antara pendukung dan penolaknya. Biasanya sih kemudian dihubung-hubungkan dengan politik. Yaaa...begitulah.

    Saya sih ga ngerti bedanya wasath dan moderat (gimana sih, padahal dah baca juga. Maafkan 😁). Tapi memang dari dulu sudah ada itu orang-orang yang memisahkan agama dengan urusan dunia dengan bahasa yang bermacam-macam. Sekarang ditambah dengan orang yang kurang ilmu tapi berteman dgn orang fasik. Rusak jadinya.

    BalasHapus