Mengenal Karakteristik Media Sosial dan Tips Menulis untuk Bisnismu


 
Akhir-akhir ini saya lagi getol-getolnya mengembangkan jejaring lokal dengan bergabung bersama orang-orang dalam lingkar positif, salah satunya para entrepreneur muda di Yuk Bisnis (Yubi) Chapter Jember. Kalau belum tahu apa itu yubi, langsung saja stalkin di portal www.yukbisnis.com ya. 7 Maret lalu, saya berkesempatan untuk sharing pengalaman sekelumit di dunia blogging yang juga menuntut peran sebagai social influencer di media sosial (medsos). Selain saya praktekkan pada langkah awal sebagai knowledgepreneur di The Jannah Institute (TJI). Disepakatilah tema sharing session saya adalah “Mengenal Karakteristik Media Sosial dan Tips Menulis untuk Bisnismu”. Berikut rangkumannya ya.

Sekarang boleh dibilang kita hidup di zaman serba mudah, dimana overload informasi memang terjadi. Banjir. Ini karena teknologi bernama internet. Hasil survei 2016 dr APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), 97,4 % atau 129,2 juta orang mengakses konten medsos saat membuka internet.

Makanya kadang kita tahu sesuatu sedang viral hanya dengan membuka timeline medsos kita. Konten medsos yang sering dikunjungi menurut survei yang sama :






1 Facebook (FB) 54 % atau 71,6 juta

2 Instagram (IG) 15 % atau 19,9 juta

3 Youtube 11 % atau 14,5 juta

Sedangkan yang juga penting untuk dipunyai adalah Twitter, Linked in, dan G+. Sedangkan Pinterest, Path bisa saja hanya menjadi opsi karena frekuensi penggunaannya jarang. Umumnya ya tiga teratas itu plus Twitter.

Karakteristik Masing-masing Media Sosial


Pertama, Facebook (FB).

Jamaahnya 1,3 M, usia usernya rata-rata 25-54 tahun, dan 60 % perempuan. Tujuan utamanya untuk membangun relationship (antar teman yang lebih luas). Bagus juga untuk membangun loyalitas pada brand.

Kelemahannya ada pada jangkauan terbatas (misal akun personal hanya dibatasi 5000 friend, dan hanya bisa dilihat oleh sesama teman), tapi sekarang sudah terdapat fitur following ya di akun personal.

Grup dan fanpage juga tersedia di FB. Inti dari FB, tetap pada kekuatan membangun relationship. Rata-rata untuk bisnis, selalu punya official fanpage yang berinteraksi dengan customer atau calon customernya. Kekuatan relationship ini juga berpengaruh pada potensi suatu konten menjadi sangat viral di FB ini karena antar teman saling share suatu konten yang dianggap menarik, lucu, nyeleneh, atau bermanfaat. Tak jarang menimbulkan kehebohan. Masih ingat kan, kisah gadis desa dari Banyuwangi yang sangat viral hingga akun FB nya di banned itu? Begitu juga beberapa momen viral lainnya.

Kedua, Instagram (IG).

Jamaahnya 200 juta user dengan rata-rata usia 18-29 tahun. Tujuan utamanya, juga membangun relationship dan memperkokoh eksistensi mungkin ya, haha. Lebih luas, IG bagus untuk mengarahkan sebuah komunitas untuk do something, dan juga efektif untuk semua bisnis yang menyangkut lifestyle (food, art, fashion, entertainment, retail, dll).

Kelemahannya, sejak diakuisisi oleh FB, algoritmanya agak membingungkan. Misal, untuk bisa muncul di timeline followers kita, minim post kita harus sudah dilihat oleh 10 % followers. Hashtag (#) yg dipakai berturut-turut di dalam beberapa post, akan dianggap spam, dan bisa membuat akun kita di-banned sehingga tidak muncul di pencarian (explore). Tapi kabarnya, baru-baru ini sudah lumayan ada yang kembali ke pengaturan semula, seperti timeline yang muncul sesuai kronologis. Tapi, saya belum memperhatikan sih pasca sharing session ini. (kabarnya baru saja)

Kunci di IG adalah foto yang berbicara dan engagement. Jumlah like dan interaksi di komen akan memberikan keterikatan yang lebih kuat.

Ketiga, Youtube.

Jamaahnya 1 M dengan usia hampir semua range. Tujuannya biasanya untuk mencari tutorial how to (pada awalnya). Bagus juga untuk membangun brand awareness dan juga service industry.

Hampir semua brand juga memiliki channel utk mempererat engagement dalam bentuk audio visual (AV) bergerak. Dan nyatanya, Youtube sudah seperti pengganti TV sekarang ini. Kelemahannya, tidak mudah bagi semua orang untuk memproduksi konten.

Keempat, Twitter.

Jamaahnya 600 juta dengan rata-rata usia 18-29 tahun. Seperti namanya, tweet = kicauan, maka kontennya cenderung pendek. Dulu 140 karakter, sekarang, terbaru sudah bisa 280 karakter loh. Tujuan utamanya untuk share berita dan artikel (berbagi linknya) dan menciptakan percakapan. Bagus juga digunakan sebagai fungsi PR (public relation).

Kelemahannya, kalau dulu karena jumlah karakternya yang 140 itu, jadi membuat kita harus sering mengedit tulisan seperti menyingkat kata atau yang lainnya. Tapi sekarang dengan 280 karakter, lumayan lah ya.

Memilih Karakteristik Media Sosial yang Sesuai untuk Bisnismu


Nah, sekarang berkaitan dengan bisnis yang kita jalani, temen-temen bisa melihat 3 pertanyaan pada di bawah ini :

1 Who is your audience? - kenali segmen market yang akhirnya menjadi audience kita, siapa mereka?

2 How can you reach them? - bagaimana kita bisa menjangkau mereka? Lewat cara apa yang sesuai dengan karakter mereka?

3 What are your goals? - apa goals atau tujuan yang ingin kita capai? Brand awareness (kesadaran akan merk dagang/produk kita), brand loyality (loyalitas akan merk dagang/produk kita), closing (terjadi penjualan), atau yang lain?

Perlu diingat, sebenarnya closing adalah dampak otomatis alias bonus dari konten-konten media sosial kita. Jadi, misal temen-temen punya social media admin yang bekerja mengolah konten medsos usaha kita, goalsnya bukanlah closing, tetapi membangun kesadaran audience akan eksistensi bisnis kita. Kalau sudah oke disitu, jangan kuatir, closing adalah bonus yang akan datang dengan sendirinya.

Tips Menulis Chic di Media Sosial itu Seperti Apa?


Karena karakteristik yang berbeda tadi, jadi wajar kalau masing-masing media sosial punya cara sendiri-sendiri untuk lebih membangun hubungan yang kuat dengan audience nya. Berikut beberapa tipsnya :

Untuk FB

Ada dua macam, FB personal dan FP (Fan Page). Aktifkan keduanya. Seorang owner, founder, atau CEO suatu perusahaan ataupun lembaga harus mengelola akun pribadinya dengan sangat baik, karena menyangkut personal branding dirinya. Sehingga produk ataupun jasa yang dimiliki akan sangat melekat dan identik. Tidak bisa dipisahkan. Dengan begitu, popularitas produk akan naik dengan sendirinya.

Sebagai contoh, Merry Riana sangat identik dengan pengembangan sekolah kepribadiannya, Ippho Santosa sangat identik dengan bisnis yang berbau otak kanannya, Yoris Sebastian sangat identik dengan bisnis konsultan kreativitasnya, Hermawan Kertajaya sangat identik dengan bisnis konsultan marketingnya, dan sebagainya.

Itu contoh-contoh di bidang jasa ya. Tokoh-tokoh yang saya amati sebagai newbie di bidang knowledgepreneur 😉 Buat temen-temen yang punya produk secara fisik juga bisa lebih mudah. Misal seperti Mas Helmi Macarina di Jember, produk lokal Jember yang juga sudah merambah pasar internasional. Kalo lihat Mas Helmi, pasti langsung identik dengan Macarina.

Nah, cara mengemas status FB personal, jangan pisahkan dengan keidentikan itu.




Ada lagi nih contohnya, temen saya, bapak rumah tangga,yang istrinya bekerja kantoran. Dan, dengan keidentikan dia di bidang entrepreneur, dia bikinlah usaha wingko Surabaya. 


Pernah di suatu pagi, dia bikin status macam begini :

"Pagi-pagi udah disibukkan dengan tangisan anak, sementara istri udah berangkat. Bapak rumah tangga harus tetep semangat juga dong. Apalagi hari ini sudah menunggu si wingko yang siap diorder hari ini. Kata siapa bapak rumah tangga yang merangkap entrepreneur ga bisa survive?"

Lalu mengalirlah komen-komen yang berujung pada orderan untuk hari itu dan keesokan harinya. Artinya, keseharian kita sebagai seorang pribadi harus bisa di mix n’ match kan dengan bisnis kita itu. Dengan sangat soft dan natural, undang empati yang membacanya. Ingat, pada dasarnya, ga ada orang yang benar-benar suka dijuali sesuatu.

Lalu, bagaimana dengan Fanpage (FP) ? Saya pernah punya pengalaman pribadi menjadi seorang social media admin sebuah brand hijab yang rame banget meski likers-nya 500 an. How?

Tugas saya waktu itu, rutin posting. Konten quote atau tips saya buat sendiri. Selebihnya album product yang berasal dari ownernya. Tugas lainnya adalah responsif saat ada komentar di postingan. Langsung inbox personal, dan langsung dibantu closing.

Yang menarik, ternyata postingan rutin akan merawat hubungan yang kuat dengan likers kita. Saat itu, saya menggunakan schedule post juga untuk bisa rutin posting dengan jadwal harian yang cukup padat, yaitu :

Jam 6 - quotes selamat pagi, salam, tips, atau inspirasi
Jam 12 - album produk yang stoknya masih banyak
Jam 18 - album produk lagi, yang berbeda
Jam 21 - quotes penutup

Secara keseluruhan, berikut tips untuk mengelola FP secara organik dan belum menggunakan optimasi FB Ads (saya juga masih belajar, dan baru dibantu admin untuk FP The Jannah Institute) :

  • Undang temen-temen pribadi untuk like FP.
  • Share link tulisan di blog/web bisnis kita sendiri, tambahkan sedikit clue.
  • Selalu gunakan desain gambar, foto, atau video yang kualitasnya oke. Karakternya sekitar 100-250 karakter untuk interaksi yang bagus.
  • Ciptakan komunikasi dua arah dengan likers, misalnya dengan adakan survei/kuis/giveaway/diskon/bonus.
  • Membuat promo khusus di waktu yang pas, seperti hari besar, dan lain-lain. 
  • Post di waktu yang tepat saat timeline sedang ramai, biasanya di jam santai atau orang banyak beristirahat dan stalkin medsos.
  • Gunakan fitur schedule post dengan rapi.
  • Kalau perlu, bisa memakai bantuan FB Ads.
  • Pantau insight tiap postingan, lalu evaluasi dan jangan lupa riset ke FP lainnya.
  • Buat plan untuk selanjutnya.

Untuk IG

Pengalaman saya sebagai social influencer (beda dengan selebgram ya). Kalau social influencer itu selalu menciptakan konten. Memikirkan planning fotonya mau seperti apa dan caption yang sesuai dengan personal brandingnya. Dan yang terpenting, masih tetap bisa menyampaikan suatu ide, mempengaruhi orang lain, sampai promo cantik.




Kalau selebgram cenderung bermodal fisik oke, dia sebagai model yang kemudian difoto, tidak terlalu menciptakan konten sedemikian rupa. Terutama untuk caption (ini berdasar pengamatan ya, memang agak berbeda).

Khusus bagi blogger profesional, saat ini rasanya sudah menjadi tuntutan untuk memiliki media sosial yang reputasinya baik dan mewakili pribadiya secara utuh. Dampaknya, ia meng-influence orang dengan kontennya. 

Tips menciptakan konten di IG :
 

  • Foto yang berbicara (asal jelas dan tidak blur, meski angle nya tidak terlalu menggunakan kaidah fotografi banget). Lebih baik atau bahkan wajib untuk punya konsep yang kuat. Mengapa penting? Karena kesan pertama IG adalah foto. Foto yang menarik, baru caption dilirik.
  • Caption yang menarik. Bisa aja singkat kalau fotonya sudah sangat kuat. Bisa dengan quote atau sudut pandang kita atas sesuatu. Kalau agak panjang juga boleh. Tapi tetep ada alurnya ya. Very smooth kuncinya, orang digiring dengan halus.
  • Untuk caption, perhatikan ejaan, jangan banyak singkatan, hindari typo. Pisahkan antar paragraf dgn titik. Hashtag yang umum dan banyak diperbincangkan (bisa coba search dulu). Bisa juga membuat hashtag versi kita untuk memudahkan pencarian. Misalnya, kalau saya sih membuat hashtag #blogpostpritahw untuk setiap blog post yang saya share, ada juga #sharingpritahw untuk kesempatan-kesempatan saat menjadi public speaker atas undangan pihak lain, dan #dapurpritahw untuk sharing foto-fota masakan handmade dari rumah saat menjalankan tugas sebagai istri dan ibu, hehe.Bila perlu tambahkan emoji biar ceria dan ramah. Asal tidak berlebihan ya.
  • Sesuaikan foto dan caption. Harus ada benang merahnya. Meski fotonya tidak langsung mencerminkan apa yang akan kita tulis di caption, minimal ada benang merahnya. Misalkan saat kita ingin bercerita kebahagiaan hari itu, bisa dengan foto pose ceria atau menyimbolkannya dengan suatu benda yang identik yang menjadi obyek foto utama.

Untuk Twitter


Ada kabar gembira untuk Twitter. Apa itu? Karakternya bertambah. Yang dulunya hanya 140 karakter, saat ini sudah bisa menampung sampai 280 karakter. Yey! Meski sempat agak ‘sepi’ dibanding IG, dengan adanya penambahan karakter, user jadi bisa lebih leluasa untuk berekspresi.

Twitter masih relevan untuk pembentukan citra suatu opini tertentu tentang sesuatu yang sedang viral atau ramai diperbincangkan. Trending topic nasional masih terus diburu untuk membentuk opini publik.

Tips menulis di Twitter :

  • Bagi link artikel dari blog/web
  • Planning untuk hari-hari khusus sharing, misal kultweet.
  • Masih soal kultweet, breakdown konten yang mau diangkat. Misalkan, sedang ada produk baru, lalu kita akan memperkenalkan product knowledgenya. Nah, sebaiknya, jangan langsung main tembak. Bisa dimulai dengan menyapa dulu, melempar pertanyaan, dirangsang untuk sharing pengalaman,, membandingkan (compare) fakta di lapangan, memberi tips, baru terakhir, kenalkan produk. Jangan lupa untuk urutkan kultweet dengan lebih dulu menulis angka 1), 2), dan seterusnya ya.
  • Foto juga penting sesekali, tapi tidak di semua postingan
  • Gunakan 1 hashtag identik untuk pencarian kembali (bila dibutuhkan suatu saat)
  • Misal ingin jd TT (trending topic), gunakan 1 sampai 2 hashtag saja, nge-tweet di jangka waktu tertentu (tentukan berapa jam). Ini sering dipakai brand dengan membayar buzzer.
  • Saat mengadakan acara tertentu yang bersifat online, buatlah Twitter storm dengan goals TT (trending topic) untuk meningkatkan brand awareness.

Ah, akhirnya lengkap sudah rangkuman sharing yang saat itu saya bagi di WAG Yubi. Kalau ada pertanyaan, apa saya sudah menerapkannya untuk bisnis saya di Lapak The Jannah (custom merchandise) dan The Jannah Institute? Jawabannya, saya sedang berproses, hehe. Karena proses belajar memang learning by doing, kan? Tapi kalau untuk personal branding pribadi sebagai blogger dan penulis, juga knowledgepreneur bersama suami di The Jannah Institute, insyaallah sudah lebih dulu memulai. Bagaimana dengan kamu? Yuk, sharing! 



Salam Dunia Gairah,

Prita Hw

7 komentar:

  1. Jadi intinya, website pribadi utk bisnis onlen itu emg dibutuhkan banget ya mba?


    Makasi Mbak udah dirangkumin dg bahasa yg mudah dimengerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. He.em kak sekarang apa lagi klo udah di Instagram banyak followersnya trus sudah punya fans atau coustemer yang klo 6000pcs produk habis bisa dibuitin web kak hehe apa lagi klo di web itu tidak hanya sekedar produk tapi Ada kontenya Ada isinya duhhh barokah Dah

      Hapus
  2. Sangat bermanfaat I'm in love sama postingan ini.

    BalasHapus
  3. "Khusus bagi blogger profesional, saat ini rasanya sudah menjadi tuntutan untuk memiliki media sosial yang reputasinya baik dan mewakili pribadiya secara utuh."

    Seperti tertampar wkwk.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. kalau sendiri lebih suka sharing di FB dan WA saja. Ada sih beberapa akun lainnya cuman tidak serame dengan dua hal di atas. Rasanya pengen juga sih ngembangin bisnis online.

    BalasHapus
  6. konstrain selanjutnya adalah perangkat..
    dulu sebelum 2010's , akan sangat sukar mengakses media sosial tanpa perangkat komputer.. perkembangan perangkat serta aplikasi penunjangnya yang tidak terkendali hari ini menggeser kebiasaan tersebut..

    BalasHapus