Jelajah Balikpapan, Perjalanan yang Hampir Hilang






Ada beberapa kisah perjalanan yang secara tak sengaja membawa saya dalam petualangan yang lain. Kebetulan, di kurun waktu 2011-2015, saya bekerja berpindah-pindah kota. Dan, bersyukur sekali saat ada penempatan di Balikpapan di tahun 2013. Meski, sebelumnya sempat khawatir tentang pikiran jauh, luar pulau, dan 'ancaman' jarang pulang ke kampung halaman. 

Saya merasa ada yang miss dari perjalanan saya ke Balikpapan ini. Why? Karena saya belum sempat menuliskannya sama sekali 😓 Padahal momen di salah satu kota yang katanya punya gaya hidup lumayan tinggi di Indonesia itu, ga bisa terulang lagi, Bahkan, sampai sekarang pun, saya belum pernah menjejakkan kaki lagi untuk kedua kalinya.

Tak ingin rasa kehilangan terlalu dalam, saya ingin membingkainya disini. Mungkin, kalau suatu hari nanti, temen-temen menginjakkan kaki di Balikpapan, tempat-tempat ini bisa menjadi tujuan. Atau saya sendiri yang akhirnya diberi kesempatan ke negeri Borneo lagi, lalu melakukan napak tilas? Bisa jadi.

***

Perjalanan yang diniatkan untuk melihat sisi lain kota urban Balikpapan sehari-hari, dimulai di hari libur pekerja kantoran. Iyap, di hari Minggu. Saya dan beberapa kawan sekantor merencanakan untuk melihat lebih dalam paru-paru kota ini. 

Petualangan dimulai saat kami mengunjungi Pusat Pendidikan dan Konservasi Beruang Madu. Beruang, berkaitan erat dengan identitas Balikpapan, begitu yang saya dengar. Kami berlima saat itu, memutuskan untuk menyewa mobil secara berpatungan. Lebih hemat, murah, dan nyaman. Sopir pun dari salah seorang diantara kami. Roda empat yang kami tumpangi membawa pada salah satu sisi Balikpapan yang agak menjauh dari kota, sekitar 23 km di sebelah utara. 



Dari situlah, saya akhirnya tahu bahwa masih ada hewan yang menjadi favorit dalam bentuk boneka ini. Saat roda mobil mulai menghentikan perputarannya, kawasan pusat beruang madu ini menyambut dengan suasana hijau pepohonan yang khas dan teduh. Saya lupa berapa tiket masuknya. Saat itu, kami langsung disambut petugas dengan ramah dan diberi edukasi singkat sebagai pembuka sebelum memasuki kawasan beruang.




Bukan berada di semak-semak lalu main kucing-kucingan. Tapi, akan ada jembatan kayu yang bisa dilalui untuk melihat tingkah pola beruang madu yang terlihat menggemaskan itu. Tapi hati-hati, beruang madu tak akan menampakkan diri atau menjadi marah saat ada suara riuh. Jadilah kami berjalan berjingkat-jingkat dan bicara berbisik sambil sesekali mengarahkan kamera. 



Selesai menyusuri jembatan kayu, pergilah ke pusat edukasinya yang seperti laboratorium hidup. Disana juga, saya tahu bahwa beruang madu mulai diperkenalkan sebagai maskot kota Balikpapan pada 2002, berasal dari sebuah proyek penelitian yang pertama kali dilakukan pada beruang madu di Hutan Lindung Sungai Wain di perbatasan kota Balikpapan.

Ternyata Balikpapan memiliki pesona lain selain gedung perkantoran dan mall yang bagian belakangnya berlatar pantai di tengah kota. Petualangan pun berlanjut. 

Semacam ketagihan dengan segarnya suasana hijau Balikpapan, kami meneruskan perjalanan ke Bukit Bangkirai di kawasan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kalau saya tak salah ingat, perjalanan memakan waktu 1-1,5 jam dari arah kota. 




Tempat ini populer dengan canopy bridge atau jembatan gantung yang berada di tengah hutan Kalimantan yang masih rimbun. Ingatan langsung membawa saya pada bayangan jembatan bergoyang-goyang nan panjang dan memicu adrenaline seperti di film petualangan. 

Sampai disana, bayangan itu tak salah. Menuju canopy bridge adalah tujuan kami. Jembatan gantung setinggi 30 meter itu ternyata cukup panjang. Untuk mencapainya, terlebih dulu, kami berlima harus menaiki bertangga-tangga kayu yang cukup berkelok. Ppffuuh, tapi bukan saya namanya kalau menyerah di tangah jalan. Meski sempat ngos-ngosan, akhirnya saya berhasil melewati jembatan gantung sepanjang 64 meter itu. Alhamdulillah lancar, meski seorang kawan perempuan saya yang lain, sempat ragu. 

Sesampainya di ujung jembatan, nikmatilah pemandangan hijaunya hutan, birunya langit, disertai merdu suara owa, beruk, terkadang monyet, dan rusa. Dari sini, saya bisa melihat jembatan gantung ini terdiri dari empat bagian yang menghubungkan lima pohon bangkirai. Kabarnya, tak perlu kuatir berlebihan jika tiba-tiba angin berhembus saat kaki sedang melangkah di atas jembatan, karena jembatan ini terjamin keamanannya. Pembuatnya, kontraktor Amerika, sudah tergabung dalam Canopy Constraction Associated (CCA).




Mungkin saat ini, fasilitas berkunjung kesini sudah bertambah. Kalau saya dan kawan-kawan kala itu, meneruskan petualangan dengan menyusuri rimbunnya hutan dengan sensasi berbagai suara alam. Lumayan, udara yang sangat segar bisa jadi tabungan melapangkan paru-paru yang sehari-hari dipenuhi asap deru perkotaan. 

Saya, Temmy, Andi, Dwi, juga Dian, dan seorang lagi kawannya merasa mulai harus mengisi perut yang keroncongan. Pertimbangan waktulah yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk beristirahat di tujuan selanjutnya, tempat penangkaran buaya Teritip. Terletak di Jalan Mulawarman, menuju arah kota Balikpapan, mobil sewaan kami pun mengarah menuju kesana menjelang waktu yang makin siang dan makin terik. 

Jujur saja, saya sebenarnya paling jijik menuju tempat tujuan yang satu ini. Tapi demi melengkapi jelajah kota Balikpapan, saya terpaksa kompromi. Tempat ini jaraknya sekitar 25 km dari pusat kota, namun masih menyisakan trayek angkot no. 7 menuju kesini. Meski tentu lebih nyaman dengan kendaraan pribadi. Menurut Dwi, Dian, dan kawannya yang asli Balikpapan, tempat ini dekat dengan Pantai Manggar dan Pantai Lamaru. Sayang, waktu kami tak cukup kalau harus mampir. 

Memasuki penangkaran buaya Teritip, tak langsung menemui buaya dimana-mana, pemandangan masih tetap dipenuhi beberapa lahan hijau. Salah satunya, saya melihat ada gajah yang bergerak bebas di tanah lapang. Begitu juga bunga-bunga teratai yang tumbuh di kolam atau tumbuh liar, saya tak begitu paham. 




Makin masuk ke dalam, barulah kami tahu di area seluas 5 ha ini ada 4 kategori kandang, seperti kategori anakan, penggemukan, remaja, dan induk. Penangkaran ini memang badan usaha di bawah sebuah CV sejak tahun 1993. Sudah ada sekitar 1450 ekor yang ditangkar, mulai dari buaya muara, dan dua jenis buaya langka (buaya air tawar dan buaya supit). Saya ngeri-ngeri sedap hampir di setiap kandang yang kami lalui 😒 Ini lebih memicu adrenaline versi saya. Apalagi saat ada yang menjajakan sate buaya. Ugh, untungnya itu bukan pilihan kuliner kami siang itu. Tak bisa dibayangkan. 




Sore, sambil menunggu senja, kami memilih terus saja ke arah pusat kota. Memanfaatkan waktu sewa mobil yang hampir limit. Kelebihan Balikpapan ini memang unik. Untuk menemukan pantai, tak harus jauh-jauh. Ada sebuah mall bernama Balcony yang nyaman untuk sekedar melihat pantai dari sudut sebuah kafe.

Atau melangkahlah lebih jauh, menuju daerah yang disebut Klandasan, ada banyak kafe yang menjajakan pemandangan indah. Salah satu favorit saya, Kemala Beach dengan pasir putihnya yang cantik. 




Kalau punya banyak waktu, sedikit berjalan dari arah Kemala Beach, terdapat Masjid Agung At-Taqwa yang merupakan Masjid Agung Balikpapan. Saya hanya sempat lewat dan tak sempat menunaikan shalat disana.




Di perjalanan yang lain lagi, di saat benar-benar sangat santai menunggu waktu senja, saya sering menghabiskan waktu di Pelabuhan Semayang, Balikpapan. Tak terlalu jauh dari pusat kota. Sambil menikmati ragam kuliner jalanan semacam jagung bakar sampai makanan berat, saya menghadap birunya laut sambil mengamati satu-satu kapal pulang berjangkar. Kalau cuaca cerah dan tak sedang mendung, pemandangan disana benar-benar sangat memanjakan mata, membuat hati tenang dan merasakan syahdunya pergantian menjelang malam.





Ah, Balikpapan. Waktu yang hampir setahun bertugas itu, untung saja masih menyisakan waktu buat saya mencicipi keelokan negeri Borneo yang diciptakan Allah. Saya tak tahu kapan lagi Allah mengijinkan saya singgah di kota yang sempat membuat saya stres dua minggu pertama itu. Maklum, perbedaan harga di Pulau Jawa dengan di kota ini cukup mencolok. Terimakasih untuk semua kenangannya, Balikpapan. Saya belajar bagaimana hidup di perantauan yang sesungguhnya selama di kota beruang madu itu.

Jelajahi Balikpapan dengan Skyscanner


Saking melted nya saya mengenang Balikpapan yang baru sekarang sempat saya tuliskan, saya jadi mencari tahu kemungkinan untuk berangkat kesana dari kota domisili saat ini, Jember.

Yes, alhamdulillah Jember saat ini sudah memiliki bandara, meski masih mini. Bandara Noto Hadinegoro namanya. Saya mencoba searching harga tiket pesawat dari Skyscanner, aplikasi perencana perjalanan yang lagi hits saat ini. Sudah pernah denger belum? 

Saya sih sudah pernah tahu tentang Skyscanner, tapi belum pernah mencobanya secara langsung. Kali ini, saya coba cek perjalanan dari Jember ke Balikpapan. Saya coba di tanggal 20 bulan September, siapa tahu jadi doa kan ya 😉 Sepertinya di September itulah saya sedikit 'bernafas' dari agenda yang padat sampai Agustus nanti. Saya pun memilih tiket pesawat Garuda Indonesia demi kenyamanan maksimal.




Sst, saya pernah naik Garuda sekali saat perjalanannya ditanggung oleh organisasi yang saya ikuti pas perhelatan peringatan hari aksara internasional yang diadakan di Kendari. Saat itu saya transit via Makassar. Rasanya? Berbeda sekali saat saya menaiki maskapai lain yang pernah saya tumpangi sebelumnya. Yang paling berkesan, saat ada pramugari bertanya, "Mau jus jambu, susu, teh, kopi, atau air putih?" Ini kalau saya ga salah ingat. Saat itu saya membayangkan jus segar, ternyata jus instan kemasan yang disuguhkan di gelas bening 😅 Dasar ndeso, kan! Maklum, baru pertama naik Garuda. Wuih, tamu adalah raja memang terasa disini. Jadi terbayang-bayang nyamannya naik Garuda lagi.

Saat saya mencoba Skyscanner ini, yang paling saya suka adalah bisa melihat hasil pencarian dari 3 kategori, Terbaik, Tercepat, dan Termurah. Ugh, sangat memudahkan traveler modal minimal seperti saya.

Belum lagi, layanan informasi yang sepaket dengan info hotel dan sewa mobil. Wah, luar biasa membantu ini buat para traveler yang memang sangat butuh dua info itu saat ada di luar kota yang asing baginya. 

Iseng-iseng saya pun mencoba info hotelnya. Dan, saat klik untuk pilihan termurah, muncullah hasil yang memuaskan jiwa raga. Harga ramah kantong di kota dengan biaya hidup yang lumayan mahal. Ini screenshot untuk 4 hari kalau saya tak salah. Sesuai dengan lamanya saya berencana tinggal di kota itu.



Ah, doakan saya ya semoga bisa kembali ke Balikpapan suatu saat nanti. Semoga di tahun ini sesuai pencarian info penerbangan tadi, hehe. Jelajahi Balikpapan dengan Skyscanner, siap lah, insyaallah 😊



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner Indonesia. 



Salam Dunia Gairah,








 

Prita Hw

19 komentar:

  1. iya mbak, skyscanner emang mantabbbb deh pokoknya komplit banget hhee

    BalasHapus
  2. seru banget ya mbak prita.. wisatanya banyak pemandangan yang ijo-ijo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Ko Deddy udah mampir. Betul ko, sueger bangettt

      Hapus
  3. Buayanya gede banget mbak prita... Wuihhh aku cuman bisa ngeliat dari jauh.. Wkwkwkwkwk, semoga berkah perjalanannya ya mbak, menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Sol gede bgt, duh kalo lihat langsung itu udah berasa ngeri Sol. Amin amin, semoga kapan2 nge trip bareng lagi ya

      Hapus
  4. Paling gak tahan kalau udah lihat canopy walk/bridge kayak gitu. Bawaan narsis muncul seketika haha. Balikpapan ini udah lama aku incar. Tertariknya sih karena namanya yang unik hwhwhw, tapi apapun yang namanya destinasi baru, pasti menarik perhatian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener om ndut, disini tuh bikin aura narsis otomatis muncul, wkwk. Insyaallah destinasi Balikpapan ini ga bikin kecewa.

      Hapus
  5. Di Balikpapan itu komplit, pntai, gunung, sungai, mall semua ada. Syangnya sekarang lagi musibah tumpah minyak yaa.. semoga segera teratasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyap betul, meski agak ke metropolisan wilayah kotanya, tapi unsur lokalnya masih terasa. Oh iya itu ada musibah itu, duh sedihhh banget. Yg mencolok dari Blkppn ini, kotanya kaya, banyak penghasil minyak dan tambang di deket sana, tapi sayangnya suplai utamanya bukan untuk kota penghasilnya :(

      Hapus
  6. Jarang orang menulis tentang Balikpapan, nyatanya banyak spot yang di indah di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau diexplore lagi, banyak mungkin yg bs ditulis dari Balikpapan. Ini blm pasar tradisionalnya

      Hapus
  7. peh huuuuayune bundane tangguh rek
    pantesan mas nana klepek2 yooo
    :D

    BalasHapus
  8. beh baru kali ini mampir di blognya mbak prita, langsung kaget liat perjalanannya ini. jadi tambah ngiler ke Luar Jawa mbak

    BalasHapus
  9. Kenapa jijik dengan penangkaran Buaya mbak? *penasaran*

    BalasHapus
  10. Aku fokus ke foto-foto jadulnya Mbak Prita malah ini wkwk. Ampuun mbak.

    BalasHapus
  11. Aku salah fokus, asik melihat foto Prita waktu itu, masih imut2 banget.

    BalasHapus
  12. hikss
    jadi kangen balikpapan, mbaakk
    wes tahu kabeh ke tempat yang sampean sebutkan untungnyaa

    BalasHapus
  13. wishlist nih pengenn ke balikpapan,

    BalasHapus