Best Traveling Moment 2017, Unpredictable!

Kalau di momen 2016 lalu, saya sempat posting tentang Best Traveling Moment 2016 yang bertabur nikmat, 2017 ini saya merasa nikmat itu makin bertambah, berkali-kali lipat.

Meski begitu, namanya manusia, kadang lupa yang namanya bersyukur. Atau lebih tepatnya, tak tahu caranya bagaimana melipat gandakan syukur. Astaghfirullah.  

Saya sendiri merasa awal 2018 ini diuji lagi, dengan semacam a little worry menyambut kedatangan buah hati perdana saya dan suami. Dan, saat saya menulis ini, saya kembali diingatkan, betapa 2017 adalah tahun yang penuh pencapaian dan nikmat buat saya. Ah, maafkan :( Inilah gunanya mundur ke belakang sedikit. Mungkin, jejak yang kadang ditelan waktu dan rutinitas membuat kita lupa sudah sejauh mana kaki ini melangkah.

Ini dia catatan perjalanan saya di 2017 :

Januari 

Welcome to Jember. Tepat menjelang tahun baru 2017, saya dan suami membuat keputusan yang tak pernah sama sekali muncul dalam benak saya selama merantau. Saya akan kembali menjadi warga Jember. Bayangan saya waktu itu, saya akan pindah penduduk mengikuti suami saya. Ternyata, Allah punya rencana lain.

Berkat acara pernikahan seorang sahabat lama, saya dan suami mantap untuk sekalian berhijrah dari Bekasi ke Jember. Disinilah kami kembali menelusuri langkah-langkah yang kemudian mempertemukan kami dengan aktivitas literasi di Kampoeng Baca, tempat dimana orangtua kedua kami berada. Tempat dimana hati kembali berkontemplasi. Kemanapun kami melangkah, aktivitas ini memang sudah mendarah daging. Berjibaku dengan buku, tawa riang anak-anak, dan sebuah kehangatan relasi relawan.

Bersama relawan skuad dan Pak Iman Suligi di panggung Kampoeng Batja

Kampoeng Baca yang syahdu

Begitu pula saat kami menemukan tempat cozy lainnya dengan jaringan teman-teman baru di Bengawan Solo 27, tempat multi komunitas berkumpul sekaligus menikmati kopi di Srawung Kopi. Ada suasana homey yang saya rasakan disana. Begitu pula saat berkunjung ke markas Berbagi Happy, tempat dimana anak-anak berbagi menumbuhkan mimpi dan belajar. Ah, Jember ternyata memiliki banyak 'harta karun'. 

Secangkir kopi susu sehangat suasananya

Maret   

Lagi-lagi sebuah undangan pernikahan teman sekantor saya dulu datang menyapa. Petunjuk mengatakan rasa-rasanya saya dan suami memang harus berangkat ke kota Lumpia itu. Semarang memang selalu menawarkan kenangan yang selalu ingin diulangi.



Berangkatlah kami dengan transportasi favorit masa kini, kereta api. Sesampainya di Semarang, benar saja, saya bernostalgia ke lingkungan kampus yang sering saya kunjungi karena 'tugas negara', Undip. Menyempatkan diri bersilaturrahim dengan pegiat literasi nan gigih di Kabupaten Semarang, Bu Tirta dari Warung Pasinaon yang juga room mates saya ketika di Kendari menghadiri event Hari Aksara 2014 silam. 

Bonusnya lagi, saya juga sempat menginap di rumah seorang kawan blogger yang juga room mates saat kami sama-sama di Kepulauan Seribu Desember 2016 lalu. Dan, siapa sangka juga bisa kopdar bareng komunitas blogger hits Semarang, Gandjel Rel. 



Dan juga, mengunjungi angkringan favorit dengan jahe rempah kesayangan saya, Angkringan ing Teras, tak jauh dari Sam Poo Kong. Spesialnya, saya ditemani ex tim andalan saat saya masih bekerja di advertising dulu. Rasanya... perjalanan ke Semarang ini benar-benar perjalanan ukhuwah.    

April

Bulan ini, kembali saya diberi kejutan istimewa. Kembali menekuri kenangan di kota kedua yang membesarkan saya selain Jember, Surabaya. Wow. Ada rencana apalagi? Ternyata rezeki yang tak terduga datang. Saya diminta untuk mengisi sebuah workshop blogging untuk rekan-rekan Bank Indonesia secara nasional yang diadakan di kota Pahlawan sebagai titik tengah. Hah? Saya hanya ternganga dan mengucap alhamdulillah tak henti-hentinya. 



Saya bersilaturrahim ke tempat teman dekat saya semasa kuliah, dan kemudian 'numpang' menginap di JW Marriot Hotel sebagai fasilitas sekaligus tempat penyelenggaraan workshop. Allah memang luar biasa memberikan hiburan dan pelajaran. Saat itu, saya baru sedikit desperate karena tak masuk sebagai pemenang lomba blog yang saya incar. Ternyata, Allah sudah menggantinya dengan yang lebih baik menurut cara-Nya. 

Malamnya, saya disambangi sahabat-sahabat kantor tahun 2010 yang sekarang sudah bertransformasi jadi mama-mama muda. Kami menghabiskan ngobrol berkualitas malam itu di lobby dan lounge hotel. Perjalanan ke Surabaya ini juga membekas amat sangat.



Juli

Setelah absen 3 bulan lamanya dari aktivitas wara wiri karena saya lagi hamil muda (akhirnya, doa-doa saat hari milad saya di bulan April sepertinya berhasil mengetuk pintu langit dan dikabulkan oleh-Nya), pasca lebaran, saya menantang diri menikmati Pantai Payangan, salah satu destinasi favorit di Jember.

Eksotisme Payangan dari Bukit Samboja, masyaAllah!

Bersama 3 kawan Blogger Jember, kami memutuskan untuk nge-camp 2 hari semalam. Meski pas masang tendanya sempat kabur-kaburan dibawa angin dan akhirnya masang tenda pas di sebelah warung, haha. Pengalaman ini tak terlupakan. Kami juga berhasil menyusuri Bukit Samboja yang di ujungnya terdapat petilasan seorang ulama yang dulu dikenal 'menjaga' pantai ini. 
 
Dan, sepulang dari Payangan, tiba-tiba saja ada pengumuman bahwa saya dan suami terpilih untuk mengikuti fam trip yang dinamakan Juguran Blogger Banyumas, Purwokerto! Alhamdulillah. Hadiah lagi dari-Mu ya Rabb. Berangkat dan pulang di-support sebuah tour & travel di Surabaya, kami menikmati semua fasilitas gratis. Kisah lengkapnya bisa dibaca disini



Agustus

Kembali lagi ke Jember, bernafas sejenak. Dan, (lagi) saya dan suami dikejutkan dengan pengumuman lolos fam trip berikutnya. Tapi, fam trip ini sebenarnya sudah lama kami lupakan. Daftarnya sudah sekitar 3 bulanan lalu, dan ternyata baru pengumuman! Kali ini, dari Pekalongan, masih di Jawa Tengah. Awalnya sempat ragu untuk berangkat atau melewatkannya, tapi mengingat ini pilihan dan saya lihat banyak kawan-kawan blogger yang sudah saya akrabi tapi belum pernah kopdar, akhirnya saya dan suami memutuskan berangkat.


Fam trip kali ini, perjalanan PP nya, di-support sebuah tour & travel dari Jember. Dan, kami berangkat juga dengan kawan blogger Jember termuda, 16 tahun, Faisol, yang baru pertama kali melakukan perjalanan terjauhnya tanpa orangtua dan perdana naik kereta api! Herannya lagi, saya berhasil lolos seleksi kategori blogger, dan suami lolos kategori fotografer. Sebuah kebetulan? Saya rasa ga sih ya :) Cerita lengkapnya bisa dibaca juga disini.



O iya, di bulan Agustus juga, Jember sedang dihebohkan oleh pagelaran Jember Fashion Carnaval (JFC) yang baru pertama saya ikuti di kota sendiri. Meski, saat itu, saya dan komunitas Blogger Jember diundang untuk menghadiri JFC Conference yang membahas potensi pariwisata Jember yang bisa dikembangkan dengan memanfaatkan momentum JFC di hotel hits Jember, Aston.

September

Masih di Jember, saya yang sudah memasuki usia kehamilan 6 bulan, menyempatkan diri menghadiri undangan event Festival Egrang yang tiap tahun diadakan komunitas belajar dan edu wisata, Tanoker. 



Meski agak ngos-ngosan juga saat mengikuti alur peserta festival yang berjalan kaki, saya senang sekali bisa hadir dan merasakan atmosfernya langsung. Sebuah movement yang berangkat dari desa dan banyak menarik perhatian masyarakat luar, termasuk dihadiri Menteri Pemberdayaan Anak dan Perempuan kala itu.

Oktober

Belum sempat jalan-jalan melihat Kampung Warna Warni di Jodipan, Malang, ternyata saya malah bisa melihat kampung yang di-branding dengan nama Kali kelar kelir di Jember. Tepatnya di Gang Sawahan, menuju Jalan Trunojoyo. Saya mengikuti prosesnya sejak bersih-bersih kali, pengecatan, sampai launching nya. Saya berharap ini bisa menjadi local spot yang bisa mendatangkan manfaat positif buat warga sekitar.

Kali kelar kelir yang berarti kali warna warni

Di bulan yang sama, ternyata obsesi jaman dulu untuk berkunjung ke Banyuwangi setelah sekian lama, kembali dikabulkan Nya. Lewat apa? Bukan saya sengaja sih untuk merencanakan pelesiran ke Banyuwangi di usia kehamilan 7 bulan, lagi-lagi undangan untuk mengisi workshop creative writing di sebuah hajatan komunitas literasi menyapa saya. Seperti biasa, awalnya ragu, dan akhirnya berangkat. H-1, saya dan suami sudah berada disana, dan surprisingly, acaranya dilaksanakan di pinggir pantai. Hmm...



November

Bulan ini, usia kehamilan genap 8 bulan. Berharap sudah mengurangi ritme karena bobot perut yang jujur makin berat, haha. Tapi, kejutan justru datang dari kota tercinta ini, Dinas Pariwisata perdana mengadakan fam trip mengundang warganet di Jember, termasuk blogger. Amazing! Hal lama yang cuma bisa saya batin sih, kapan ya diundang fam trip di kampung halaman sendiri? Dan, here is the time.. Mau melewatkan ini, rasanya kok sayang banget. Jadilah, bismillahirrahmanirrahim, saya ditemani suami (pasti sepaket!) ikut juga dalam rombongan. Penasaran cerita jadi turis di kampung halaman sendiri, baca disini ya.





Ah, akhirnya selesai juga momen-momen perjalanan yang mengesankan di sepanjang tahun 2017. Desember saya sengaja memang mengurangi aktivitas, maklum sudah road to launching ya.

Desember dan awal-awal Januari ini saya gunakan untuk merefleksi semuanya yang sudah mewarnai perjalanan saya. Tak hanya momen perjalanan, tapi juga momen pencapaian, dan apa yang masih perlu saya usahakan. Tapi di tahun 2017, memang ada satu yang sedikit mengganjal kalau ngomongin namanya traveling. Merekam momen pastinya tak bisa hanya dengan ingatan kan, kita pasti membutuhkan bantuan alat perekam lain seperti mata kamera. 

Kamera andalan suami yang DSLR tua itu jujur sudah mengibarkan 'bendera putih', lensanya mengalami kerusakan. Untuk beli yang baru, rasanya kok ya sayang, mending sekalian beli kamera baru dengan aneka kamera digital pilihan. Karena, saking urgent nya si kamera ini, kemaren-kemaren ini kami banyak menyewa kamera, hiks. Lumayan juga kan kalau dikalikan sekian hari :(

Maka, salah satu resolusi yang semoga saya dan suami bisa wujudkan tahun ini adalah mengoleksi kamera mirrorless terbaru 2018. Semoga ini bisa diwujudkan dengan mengatur waktu yang lebih produktif lagi. Selalu ada kejutan yang kita tak akan tahu seperti apa wujudnya, kan?

Belajar dari best traveling moment 2017, saya yang mengalaminya masih tak percaya sampai detik ini. Allah benar-benar memudahkan setiap langkah, bahkan dengan kondisi hamil yang tidak mengalami gangguan berarti dan bisa survive di segala situasi. Terimakasih, terimakasih, terimakasih Allah. Semoga 2018 makin bisa melipat gandakan rasa syukur.



Salam Dunia Gairah,





Prita Hw

20 komentar:

  1. waah... perjalanan yg asyik ya... semoga th 2018 perjalanannya lebih asyik lagi. betewe saya kok mupeng sama kopinya ya hehe

    BalasHapus
  2. Mantep banget nih, Teh. Sala fokus pas baca ke nasgor, salah satu makanan favorit saya bikin laper dipagi hari..hehe

    Ini bener-bener perjalanan yang mengasyikan, terlebih bisa dibaca banyak orang. Dan di tahun 2017 kemarin juga aku bisa kenal, Teh Prita. Bahkan mengikuti lombanya. Alhamdulilah..

    Sukses selalu ya, Teh.. aamiin..

    BalasHapus
  3. Mantap nih mba Prita, hamil masih aktif beraktifitas. Perjalanan demi perjalanan yang nggak akan terlupakan ya mba. Smoga makin sukses th 2018 ini.

    BalasHapus
  4. wah lagi hamil ya. hebat masih kuat jalan2.
    kalo saya lebih seneng bobok2an dikasur wkt hamil kmrn. hehe.

    semoga lancar ya mba persalinannya.

    BalasHapus
  5. Kok seneeenggg ya baca rekap traveling gini.
    Kapan2 mau bikin juga aaahhh
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  6. 2018 bakal Travelling bertiga neh insyaAlloh... Hehehe.. semangatmu hebat mbak.. lagi hamil tapi produktifnya greng.. masyaAlloh..

    BalasHapus
  7. Seru ya mbak, bisa traveling unpredictable gitu

    BalasHapus
  8. Wih mbaaaak keren banget. Tough mommy :D
    Semoga 2018 lebih asik lagi ya mbak :D haha
    Oia smoga bayinya yg masih di dalam perut sehat selalu, sampai lahiran nanti.

    BalasHapus
  9. Kereeeen. Semoga bisa ngetrip bareng lagi ya mbak :D

    BalasHapus
  10. baca dari awal sampai akhir sih intinya iri, hehehe, ternyata 2017 sudah melanglang buana kemana-mana, sedangkan saya masih berkutat di jember dan bondowoso saja. sepertinya 2018 ini harus mengikuti jejak mbak prita, semoga bisa bergerak bebas mengikuti hembusan angin :p.

    BalasHapus
  11. semoga jadi inspirasi saya untuk memperbanyak aktivitas yang bermanfaat di tahun 2018 ini

    BalasHapus
  12. Di antara hotel2 di Surabaya yg pernah saya singgahi untuk urusan kerja (tapi nggak pernah nginep �� karena dulu aku tinggalnya memang di Surabaya), JW Marriott adalah salah satu hotel yg belum pernah saya masukin. Mba Prita beruntung, dech ��.

    Btw Mba udah pernah ngeliput acara Jember Fashion Carnaval belum?

    BalasHapus
  13. Wahh..ternyata nama trianggulasi banyak ada diberbagai tempat ya. Soto Taoco di pantura juga ternyata luas ak pikir dr cirebon-tegal aja..trnyata masih terus ke timur 😀

    BalasHapus
  14. Bumilnya setrong bangeet, nanti dedek jadi baby traveler yang tangguh yaa aamiin..

    BalasHapus
  15. Seru banget memang bisa melihat moment kebelakang dan bersyukur atas semua nikmatNya

    Terima kasih sudah berbagi moment setahun kemarin :)

    BalasHapus
  16. Jalan-jalan teruuuuuss... Tahun yang berkesan ya mbak... Dan kehadiran Tangguh memang membuat Mbak Prita Tangguh menyusuri tempat-tempat yang tak terduga. :D

    BalasHapus
  17. pernah denger kampung pare dimanakah

    BalasHapus
  18. Kece sekali momen2 travelingnya. 😀

    BalasHapus
  19. Ih ,,kayaknya cinta bngat sama jember 😂😁

    BalasHapus