Pre Marriage Talk : Apa Saja Persiapan Sebelum Menikah?



Sahabat saya, tepatnya yang mengenalkan saya pada indahnya alam Promasan di Kabupaten Semarang, awal November kemarin akhirnya telah dipersatukan secara halal dengan belahan jiwanya. Senang rasanya dapat kabar sebahagia itu. Apalagi, banyak temen-temen yang menghadiri The Jannah Wedding - begitu saya dan suami menyebut pernikahan kami - satu persatu dari dua tahun lalu, terus menyusul langkah kami. Ah, barakallahu ya :) 

Memang benar jika kita datang ke sebuah acara pernikahan, terlebih akad nikah yang begitu sakral dan suci, malaikat akan merahmati dan mengamini semua doa-doa yang diterbangkan angin untuk disampaikan ke langit. 

Jadi, to be married, of course bukan soal kemeriahan pesta pernikahannya semata. Misalnya, sejak beberapa bulan, atau bahkan tahun, menyiapkan serangkaian to do list : mau di gedung mana, pakai WO atau di-handle sendiri, tema dan warnanya apa, baju pengantinnya pesan di mana, maharnya se 'wah' dan se-customize apa, catering, souvenir, dan berbagai persiapan artifisial lain. Lalu, apa kabar dengan persiapan hati? Masuk to do list ga?

Hm, persiapan hati itu bukan saja tentang gumaman, "Ow iya, aku sih sudah paham kok kalau nikah itu bagian dari ibadah...Bismillah aja". Ga cukup dengan ucapan lisan aja sih. Tapi juga gimana pemahaman kita tentang niat menikah, buat apa atau untuk apa menikah, dan mau dibawa kemana ujungnya? Hanya karena membuktikan rasa cinta pada pasangan dan sekedar pembuktian ke semua orang "Eii, akhirnya aku ga jomblo loh, aku bisa nikah loh..". Hm, please deh. Sekalian bikin press conference :)
Pernah denger kan, suatu ayat dalam Al-Qur'an :   



Dulu, saat saya gagal di pernikahan pertama yang sudah saya jalani selama kurang lebih 4 tahun, tepat sesaat setelah saya wisuda di 2008, saya sempat mempertanyakan atau "menggugat" Allah, mana bukti dari ayat itu? Kenapa saya justru tak merasakannya. Sekarang, saya sadar kalau baik saja di mata manusia itu ga cukup. Ada baik menurut versi Allah yang harus ditelisik dari mata hati terdalam.

Saat saya di masa-masa gamang, di pertengahan 2012, saya mencoba menekuri semua yang saya alami. Perjuangan mempertahankan pernikahan yang tak mudah, hanya karena pemikiran ya kali mau nikah lebih dari dua kali, apa kata dunia. Lah wong orang tua saya aja sekali, bisa bertahan bertahun-tahun. Dangkal? Banget! 

Sampai suatu ketika, seorang teman dekat yang lain, yang juga akhirnya berhasil dipertemukan dengan belahan jiwanya saat dia penempatan tugas sebagai dokter gigi di ujung Sumatra, mengajak saya bertemu di sebuah cafe untuk sesi curhat dan nasehat yang nampol buat pilihan saya berikutnya.

"Gini Prit, ibaratnya kalau kamu udah ada di jalur yang lurus nih. Lalu, pasanganmu ternyata beda rel, berat lah mau jalan barengan. Atau gini, kalau kamu sebagai seorang pribadi, bisa mencapai A-Z, tapi pasanganmu hanya bisa mencapai A-E, ya jalannya ga bisa seimbang, pasti berat banget.Apalagi kitanya sebagai perempuan. Kecuali yang A-Z nya itu laki-laki, perempuannya masih bisa ngikutin.", panjang lebar dia sampaikan argumennya menanggapi keputusan saya divorce yang diamini oleh hampir semua kawan terbaik saya.


Baca Juga : Jodohmu Udah Dimana?


Satu kesimpulan yang saya ambil saat masa-masa itu : semua tergantung pada NIAT. Niat saya menikah pertama saat itu "hanya" karena tak ingin orang berprasangka macam-macam karena sudah sering saya dan mantan suami saat itu, runtang runtung jalan berdua. Terlalu terburu-buru dan ga ambil pusing pendapat orang yang bisa diterjemahkan sebagai restu. Terutama dari keluarga dan sahabat. 

Move on dong ya, alhamdulillah 2012-2015, saya merasa ada pada the best carrier as a woman saat itu. Dan, di titik usia yang hampir memasuki kepala 3, siapa sih yang ga pengen membentuk sebuah keluarga?

Lebih lengkap tentang kisah awal pertemuan saya dan suami tercinta saat ini yang memang tidak pernah ada di skenario seperti satu kantor, satu teman sekolah, satu komunitas, dan sebagainya itu, tiba-tiba saja, kun fayakuun. Di titik ini, saya kembali paham tentang isi ayat yang saya "gugat" dulu. 

Jadi, sempat ga sih saya melakukan pre marriage talk seperti yang ditulis kawan blogger saya, Virly KA?

Sempatlah! Cuma awali semuanya dengan NIAT yang benar, dan CARA yang benar. Dalam malam demi malam, saya berdoa untuk dipertemukan dengan Imam yang tepat lewat cara terbaik-Nya, bukan terbaik menurut saya. Saya luruskan NIAT, menikah hanya karena Allah, melaksanakan sunnatullah supaya bisa menyempurnakan separuh ibadah. You know lah ya, tantangan pergaulan sebelum married itu memang menempati porsi yang sebegitunya.




Karena niatnya sudah terpatri, saya ingin melakukannya dengan cara yang benar, yaitu menghindari pacaran dengan meminimalisir pertemuan. Saat itu, memang saya di Semarang, dia di Bekasi. Kami bertemu pertama saat pertama kenal di Bekasi, kedua, dia menegaskan maksud dengan datang ke Semarang selama satu hari, dan ketiga, H-1 menjelang akad nikah keesokan harinya.

Lah, lewat apa pre marriage talk nya? 

Lewat telepon, dan stalkin media sosial :) Percakapan kami pertama kalinya adalah, kami sama-sama tidak mencari pasangan buat sekedar having fun dengan dalih jalani saja dulu tanpa tahu arahnya kemana. Absurd kan yang macem begitu :) Saya langsung tegas bilang, "Aku carinya suami, jadi kalo niatan kamu ini cuma untuk pacar-pacaran ga jelas, maaf ya..", kedengerannya sadis ya :)

Dia menjawab, "Aku juga sama, cari istri, alhamdulillah." 

Poin percakapan berikutnya adalah, "Visi misi kamu dalam hidup apa?"




Dan, lagi-lagi, Allah membukakan semuanya. Jawaban kami sama, "Ya visi misi sebagai seorang muslim dan makhluk Allah. Harus bisa menjawab pertanyaan : dari mana kita berasal, mau ngapain aja dalam hidup, dan setelah itu mau kemana". 

Jawaban kompak ini sudah cukup bagi kami untuk mengukur sejauh mana nanti kami mengarungi seumur hidup berdua. 

Kalau soal selera artifisial seperti passion nya apa, lagu kesukaan genre apa, bacaan-bacaannya sejauh apa, isi pikirannya gimana, dan lain-lain yang sebenarnya ga terlalu prinsipil juga sih, itu semua sudah selesai saat stalkin media sosial dan juga cari referensi dari orang-orang yang mengenalnay dengan baik. Untungnya memang kami dalam circle pertemanan yang beberapa sama. 

Jadi, jangan khawatir soal percakapan-percakapan selanjutnya seperti mau punya anak berapa, kamu suka gaya pakaian apa, nanti siapa yang kerja di kantor dan siapa yang di rumah, makanan favorit kamu apa, aku ga bisa masak, dan tetek bengek lain itu. Kalau soal yang paling mendasar udah catch the point, ya it's called IMAN, maka insyaallah semuanya bisa didiskusikan dan diputuskan bersama dengan memperhatikan karakter masing-masing.

Kan yang mempersatukan kita, Allah kan, jadi percaya saja dengan pilihan terbaik-Nya. 




Buat yang masih galau dengan pre marriage talk macam begini, semoga ya pengalaman ini bisa memberi pencerahan atau masukan berharga :)



Salam Dunia Gairah,
 

  




 

Prita Hw

9 komentar:

  1. Mbak, ehm.. aku mampir sini karena ya gitu deh hehehe...
    Yang pasti nggak pengen juga seperti beli kucing dalam karung. Nebak-nebak kucingnya galak atau penakut. Kucingnya bulu bagus atau kotor. Kucingnya besar atau kecil.
    Yang pasti buatku pengenalan itu penting sekali. Dengan apapun cara yang dipilih masing-masing individu. Karena kita akan memilih parter hidup selamanya. :) Dan aku setuju, minimal satu visi dan misi. Kemudian Kenyamanan itu juga penting. :D Thanks for sharing ya mbak...

    BalasHapus
  2. Berat nih, kalau saya ingat2 saya gak ada bicara2 beginian sama istri hahaha

    BalasHapus
  3. Jadi mengenang mba.. kata orang perkenalan kami seperti beli kucing dalam karung. Baru satu bulan kenal. Langsung dikhitbah suami. Tapi bener penjelasan mba prita. Saya malah wakyu sebulan itu tanya macem2 ke calon, temandan keluarga calon. Semuanya. Dan yg paling penting visi misi..

    Moga pernikahan mbak prita dansuami till jannah :)

    Mbak jadi pngen nulis ttg ini..

    BalasHapus
  4. nasihat teman dekatmu yg dokter gigi itu enjleb mak :)

    pernah membahas tentang divorce dgn seorang teman yg memilih cerai dgn alasan "pernikahan yg dijalani ternyata bukannya menjadi ladang ibadah tapi malah memperbanyak dosa2 kecil,"

    thanks sharingnya mak

    BalasHapus
  5. pernikahan memang sebuah peristiwa super penting yang melibatkan kedewasaan berpikir dan bertindak. termasuk dalam hal membicarakan hal fundamental ya. tfs mbak.

    BalasHapus
  6. Bentar lagi udah nggak berdua lagi ya mba, tapi bertiga dengan dedek bayi :)

    BalasHapus