Radio, Empowering Me



Halo all! Meski sekarang sudah masuk Oktober, tapi saya ingin bernostalgia sejenak dengan momen bulan September ya. 11 September lalu pasti tiap orang punya momentum sendiri untuk mengingat serangkaian peristiwa di tanggal itu. Terlepas dari apapun memori temen-temen, saya menyimpan sebuah memori baru di kepala pada tanggal itu. Ternyata 11 September adalah hari radio nasional yang cikal bakalnya berasal dari Radio Republik Indonesia (RRI).

Bukan, bukan karena saya bekerja di instansi itu. Saya lebih merasa sebagai pendengar radio biasa yang dulunya bagi anak era '90-an, radio itu sesuatu banget. Bisa dibilang representasi dari simbol anak gaul pada masa itu. Kehadirannya merupakan hiburan tersendiri. Bener apa bener nih buat yang seangkatan? :)

Saya masih ingat sekali saat masih duduk di bangku SMP, setiap malam, suara penyiar dan program kesayangan selalu menemani saya yang berjibaku di meja belajar. Meski namanya meja belajar, tapi aktivitasnya ya ga melulu belajar mata pelajaran. 
Lebih sering curhat lewat buku diary pribadi, corat coret, sampai membuat DIY (do it yourself) ala-ala. Aktivitas me time seperti itu bagi saya adalah prime time. Sampai menjelang tidur, dan bahkan sampai terlelap pun, saya tak mau radio yang saya dengar lewat tape recorder itu mati. Kalau ada orang yang mematikannya tiba-tiba, entah mama, papa, atau eyang putri yang tiba-tiba masuk, saya langsung terbangun dan marah :) Reflek begitu saja.




Radio, kemudian hadir kembali dalam hidup saya setelah sekian lama 'mati suri' adalah saat saya menerima beberapa undangan talkshow di Surabaya untuk berbagi pengalaman tentang aktivitas di dunia literasi bersama komunitas Insan Baca. Kalau ga salah, waktu itu dengan radio Suara Surabaya FM.

Tak hanya itu, sejak saya tergabung sebagai relawan dan kemudian menjadi staf Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, saya sering 'ditodong' Pak Direktur buat ikut-ikutan on air. Pernah tuh, yang sampai saya harus belajar banget adalah pas ngobrolin tentang musim banjir di Surabaya di sebuah radio bisnis, JJ FM.

Tapi ternyata 'ditodong' semacam itu membuat saya ketagihan juga :) Saat lagi musim-musimnya global warming, saya dan temen-temen di WALHI Jatim juga mendapat tawaran untuk mengawal sebuah program bertajuk Eco Feminism di radio Kosmonita FM, sebuah radio yang diperuntukkan bagi para wanita. Kalau saya tak salah ingat, hampir 3 bulan lamanya, kami membawakan program tentang lingkungan dilihat dari sudut pandang wanita. Script pertanyaan dan bahasan pun menuntut saya untuk terus belajar. Mengesankan, itu pengalaman saya saat itu.


Reportase tentang bedah novel Existere

Tak berapa lama, bersama komunitas Insan Baca yang saat itu dipercaya mengelola taman baca di mall yang bernama TBM@Mall Surabaya Membaca di Kapas Krampung Plaza, saya menginisiasi Bedah Buku Plus Plus tentang novel Existere karya Shinta Yudisia. Lagi-lagi, radio juga menjadi corong informasi untuk mengabarkan bedah karya yang berlatar kehidupan perempuan di lokalisasi terbesar di Asia Tenggara saat itu, Gang Dolly.
See?

Cukup tergambar kan ya, ternyata radio bukan sekedar memiliki fungsi hiburan saja, lebih dari itu, ia adalah sebuah corong perubahan. Mengantarkan informasi terkini yang dampaknya bisa melakukan transfer pengetahuan dan mengubah pandangan. 

Persis seperti sejarahnya, sejarah dibalik 11 September 1945 bermula saat prediksi kalau Jepang akan menerima kekalahan dari Sekutu, sebab angkatan muda Indonesia rajin mendengarkan siaran radio luar negeri, dimulai pada akhir Juli 1945. Dan, tepat 14 Agustus 1945, BBC mengumandangkan dengan lantang penyerahan Jepang tanpa syarat, meski pemerintah Jepang di Jakarta masih juga menutupinya. 

Terlihat betul bahwa sejarah bertutur bahwa radio adalah corong perubahan kala itu. Sekarang, apa radio masih seperti itu?


Bersama relawan Rumah Baca HOS Tjokroaminoto Bekasi di Dakta FM
Bersama komunitas Pena Hitam di Literacy on Friday Pro 2 FM Jember


Hm, meski gaungnya tak lagi sesemarak dulu, tapi saya sih percaya kalau fungsi radio sebagai corong perubahan itu tetap ada. Kenapa? Indonesia dan dunia ini luas banget, pastinya ga semua daerah bisa menikmati layanan yang layak untuk mengakses primadona kemajuan teknologi informasi bernama internet. Kalau mau bukti, silakan tanyakan ke temen-temen yang tersebar diluar pulau Jawa, apa mereka masih mendengarkan radio?

Kekiniannya, sekarang radio-radio, terutama di kota-kota besar juga mulai melakukan transformasi loh. Bukan sekedar memuat acara remeh temeh seperti salam-salaman dan putar lagu, tapi juga ada diskusi, talkhow, pembelajaran jarak jauh, sampai acara musik yang dipadu informasi yang padat. Bahkan, tak jarang setiap radio, saat ini sudah bisa dinikmati dengan memanfaatkan internet berupa radio live streaming atau berupa aplikasi yang bisa di-download di app store maupun google play store.


Salah satu program kreatif Prambors FM. Via IG @pramborsfm

Saya jadi ingat, saat datang ke suatu sharing session dimana ada seorang program manager Radio Prambors FM Jakarta yang juga bilang bahwa saat ini radio juga mesti banget terhubung ke dunia media sosial untuk bisa meraih engagement lebih banyak. Misalnya, dengan membuat hashtag-hashtag hits untuk menyelenggarakan kuis, atau konten yang akan tersaji di suatu program dibuatkan semacam teaser nya. Kadang, juga banyak loh yang memadukan event offline selain mengandalkan on air. 

Bahkan, di Yogyakarta, ada sebuah Radio Buku yang aktif menyuarakan persoalan literasi. Di tangan mereka, literasi jadi makin kelihatan seksi. Saya pernah mengunjungi radio yang diinisiasi oleh Perpustakaan Iboekoe ini dan lagi-lagi 'ditodong' untuk bercerita buku-buku yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Tak hanya lewat radio, mereka juga aktif menuliskan literacy campaign di blog. Belakangan, juga sempat membuat literacytaintment dengan menggabungkan konser musik dan buku. Keren sekali!

Radio Buku juga menghimpun relawan-relawan yang tanda kelulusannya adalah dengan menerbitkan buku. Dan, alangkah kagetnya saya saat tiba-tiba inbox dari inisiator Iboekoe sekaligus salah satu punggawa literasi di Indonesia muncul di Facebook saya. Katanya, ada relawan yang mau mewawancarai. Berselang sebulan dari itu, profil saya muncul di edisi Aku & Buku #3 : Yang Menulis, Yang Mencintai Buku, dan bukti terbitnya sudah sampai dengan selamat di rumah saya. Good job!


 

Dengan semua perjalanan saya dengan radio, ternyata salah satu life path saya memang ditakdirkan selalu berhubungan dengan radio. 

Kehidupan saya di Jember mulai'dirasuki' (lagi-lagi) radio.

Tapi kerasukan kali ini sangat menyenangkan dan semacam saluran refreshing buat saya dan juga suami. Kalau biasanya, saya cuma diundang sebagai tamu saja, kali ini saya dan suami dipercaya sebagai host sebuah program langsung. Yey! Meski kadang males berangkat karena jadwal siaran yang termasuk pagi buat ukuran freelancer kayak saya (padahal ya jam 8 pagi aja sih), tapi setelah bercuap-cuap di depan microphone, rasanya itu semacam saluran ekspresi banget. Ada rasa lega dan juga enjoying life sesudahnya.

Ceritanya, saya ditawari untuk mengisi program literasi yang masih dalam satu rangkaian dengan program Pro 2 Morning Show. Setelah diskusi via online dan juga offline, lahirlah program yang digawangi saya dan suami, atau disebuat Kak Prita dan Kak Nana :) Namanya, Literacy on Friday. Kami mendapat ruang berkreasi dan bisa berdiskusi dengan bebas topik-topik apapun tentang literasi, dari ngobrol seseruan berdua, sampai mengundang narasumber kece yang menjadi tamu spesial.

Ini beberapa topik-topik yang kami bawakan :


Kolase topik Literacy on Friday bersama Pro 2 FM


Lalu, ada cerita apalagi dengan radio?

Entahlah, biarkan sang waktu yang membawa perjalanan ini dengan kuasa-Nya. Yang jelas, buat saya, radio sudah berhasil empowering me. Memberdayakan diri saya untuk terus belajar dan belajar, termasuk melibatkan diri dengan menjadi bagian dari corong perubahan.   

Teruntuk radio nasional, tetaplah jaya dengan tagline khasmu yang gagah, "Sekali di udara, tetap di udara".


Salam Dunia Gairah,

    

Prita Hw

24 komentar:

  1. seru banget, aku belum sekalipun masuk radio nih..selain telpon kirim salam hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kl di Jember, udah aku undang nih Nay jadi narsum :D

      Hapus
  2. Makasih ya mbak, aku pernah diajak bergabung, berkontribusi sambil berbagi di tema NGABUBUWRITE pas bulan puasa tahun 2017 silam. Dan selamat Hari Radio Nasional...! Hihi telat ucapinnya. Aku malah baru tahu, huhu... Maafkan aku, Indonesia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes Vin!, tar gantiin aku sementara pas cuti lahiran gitu Vin, wkwk. AKu juga baru tau 11 Sept hari radio, trus ngedraft dan baru nulis, haha

      Hapus
  3. kaan yaaa aku bisa nonton mba rita siaran hehehehhe....semoga ada waktu main ke temat mba pprita yaaa..aku suka dengar radio dulu, skrg sudah jarang...sangat jarang....

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah kl Mas Indra ke Jember, nanti kutodong siaran pasti, wkwk

      Hapus
  4. Radio termasuk salah satu agen perubahan sosial yang Mbak Prita. Masyarakat berubah radio mengikuti. Kalau radio seperti tahun 80-an yang jemahannya kirim lagu dan kirim salam Sekarang pasti akan ditinggalkan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener mb, kl dulu fungsi utamanya dapet bgt. Kalo sekarang,adatasi dgn kekinian

      Hapus
  5. Radio itu tak lekang d makan jaman
    Walau skrg udah banyak kecangihan moda hiburan tetap aja radio punya sense tersendiri

    Kisahnya inspiratif banget
    Thanks for share yaa

    Raiyani.net

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, tetep punya sense tersendiri. Makasih udah mampir mbak

      Hapus
  6. Sampai sekarang pun saya masih sering dengeri radio, terutama radio Delta FM. Ada juga sih beberapa radio lokal yang tidak kalah kerennya. Yah sekarang program-program radio sudah banyak berubah. Dulu seingat saya, dari pagi-malam kebanyakan radio hanya nyetel lagu saja. Tapi sekarang sudah banyak banget talkshow keren malahan kuis-kuisnya makin yahut. Dan yang paling saya seneng kalau bahas masalah kekinian macam teknologi dan diskusi bareng komunitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Delta FM, Sidoarjo apa Sby ya mas? iya sekarang talkshow dan acara2 seseruan lain udah bedaaa bgt kayak jaman dulu mas.

      Hapus
  7. Ah aku dah jarang banget denger radio, Mbak.

    Wah asyik banget ya on air langsung

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah rata2 begitu anak jaman sekarang, Jrin, wkwk. Etapi bs streaming loh, tetep bs mobile sih sekarang dengerin radio. Kpn ke Jember, aku ajakin on air yaaa

      Hapus
  8. Sejujurnya, radio sekarang mmg makin berkembang dan seru, tapi ada beberapa hp yang gak ada radio nya, sedih sih menurit saya meskipun tinggal download, tapi beda ajah rasanya, pengalaman saya pakai yg unduhan, eh gada sinya radionya mati. Huhu

    BalasHapus
  9. Emang ngena banget "radio" itu mbak, emang punya banyak kenangan juga, buat kids jaman now sih sudah makin jarang yah, tapi tetep eksis kok radio, mancapp

    BalasHapus
    Balasan
    1. heyyyaaaaa faisol ini termasuk kids jaman now yang baik
      XP

      Hapus
  10. hiihihiii
    kapan-kapan aku nulis ah tentang radio
    kalo kuceritain di sini, panjang ntar jadinya
    mulai dari cerita dengerin radio, request2 lagu, sampai radio terlupakan
    eh terus diundang-undang buat siaran.
    mumpung pamflet dan foto2nya ada semua, hehehe

    btw, aku baru tau loh kalo ternyata taglinenya radio sekeceh itu

    BalasHapus
  11. Keren mbak e.... Seperti penyiar radio bahuela bilang...
    Jaya terus diudara mbak prita....

    BalasHapus
  12. Wah, jadi narsum di mana-mana nih mbaknya. Keceeee!
    Aku juga gak bisa lepas dari dunia radio nih kayaknya Mbak. Sejak SMP aktif dengerin radio (karena pengen update lagu terbaru), pas udah kuliah malah jadi penyiar & keterusan sampai sekarang karena masuk RRI. :D

    BalasHapus
  13. Samapai sekarang pun saya masih aktif mendengarkan radio kok mbak, ya mungkin karena anak 90an juga kali ya.

    Seberapa banyak pun saya menyimpan lagu di HP, pasti akan bosan juga, namun tidak dengan radio. Lagu-lagu di radio itu seolah hidup dan mengajak untuk terus bernyanyi.

    Thanks for sharing mba :)

    BalasHapus
  14. Radio masih jadi teman saya hingga sekarang terutama saat di perjalanan :)

    BalasHapus
  15. Terakhir sharing di radio itu, 2014 deh kalau gak salah. Dan itu lumayan ngobatin kekangenan berbicara dengan mic dan microphone yang gede.
    Aniwey, kapan aku diundang ke sana mih. Heheheh

    BalasHapus
  16. Radio itu pny bnyk makna jg utk saya selain pernh nulis buku sosok2 penyiar, radio itu pnyelamat ksndrian trutama klo abis ptah hati haha. Tp bnr skrg emg radio bnyk yg mkin kren suka dtngin narsum2 expert yg bkin kita bljr

    BalasHapus