Dusun Promasan, Dusun Penghasil Teh yang Menyejukkan Mata dan Hati



Malam itu semuanya berkumpul di satu titik. Saya mengikuti saja rombongan kawan-kawan baru yang saya kenal dari seorang teman. Mereka berasal dari Pendaki Gunung Indonesia (PGI) Korwil Semarang. Saya melihat tulisan Mawar Camping Ground yang terkena sorot lampu. Kalau soal jalanan, saya manut saja. Iya, saya sebagai pendatang perantauan di Semarang kala itu memang butuh semacam refresh dari rutinitas harian.

Jujur, kalau tracking di malam hari, sebenarnya mata saya kurang awas. Minus 7 dan 6 disertai silinder 1.25 dan 1.5 memang kurang bisa diajak kompromi. Malam itu, saya hanya mampu mengawasi jejak-jejak kaki saya dengan bayang-bayang lampu senter dari jejeran rombongan yang mengular dari arah depan dan belakang. Hujan rintik-rintik juga makin membuat suasana mencekam, meski kami berusaha menciptakan guyonan supaya lebih rileks dan tak terus menyalahkan waktu yang mungkin dirasa terlalu lama.

"Kita sudah sampai. Tapi ga ada kunci. Tunggu dulu ya, kita hubungi warga dulu.", ujar salah seorang diantara kami yang jadi pemimpin rombongan.

Rupanya malam itu, tenda bukanlah tempat peraduan yang tepat karena hari sudah gelap sekali. Kami akan merebahkan tubuh yang sudah diajak bekerjasama untuk berjalan kaki kurang lebih 2,5 jam dari camp Mawar menuju sebuah titik yang kemudian saya ketahui bernama Dusun Promasan.

Rasa kantuk, lelah, dan hasrat untuk mengenal kawan-kawan yang sedari tadi beriringan bersama-sama melakukan perjalanan bercampur menjadi satu. Ada obrolan dengan logat Semarangan yang medok sahut menyahut, tawaran bergelas-gelas kopi dan teh, juga makanan ala kadarnya yang kami bawa secara potluck. Rumah panggung dari bilik bambu menjadi semakin hangat saja meski kami berada di lereng Gunung Ungaran yang memiliki ketinggian 2050 meter di atas permukaan laut (mdpl). 

Tak sabar rasanya menunggu pagi tiba. Berharap ada sunrise di saat mendung sepertinya berharap keajaiban terjadi. Tapi paling tidak, saya bisa menikmati warna kelamnya malam yang berganti hijaunya kebun teh dan hawa segar pegunungan. Bukankah ini yang dirindukan?

***

Ketika membuka pintu rumah panggung yang menjadi persinggahan nyaman semalaman, harapan saya sebelum memejamkan mata alhamdulillah terkabul. Sisa-sisa air hujan tampak masih bergelayut manja di dedaunan teh yang menghampar layaknya penampakan sebuah kebun. Kebun teh Medini, banyak orang menyebutnya begitu. Baru saya ketahui, ternyata kebun teh ini merupakan kawasan dari PT. Rumpun Sari Medini. Pantas saja, banyak orang juga menyebutnya begitu. Tak heran, sebagiAn besar warga disini memang bermata pencaharian sebagai pemetik teh nan segar itu. 


Pemandangan ini yang saya lihat pas membuka pintu rumah panggung. Segarnya...

Beberapa kawan masih tampak meneruskan episode mimpinya setelah terpotong aktivitas begadang semalaman. Sementara beberapa yang lain memang berniat menghirup udara pagi yang cukup menggigit kalau kita tak bisa bersahabat. Untung saja, subuh masih tersisa sedikit lagi untuk saya tunaikan. 


Bersama seorang ex teman kerja yang kemudian menjadi sahabat, saya menyusuri jalanan yang masih setengah gelap karena kabut dan mendung. Tujuan kami, menuju sumber air yang dilengkapi tempat MCK seadanya. 

Karena agak lama menunaikan hajat yang tak bisa dihindarkan, ketika saya keluar dari kamar mandi, mulai tampak sedikit terangnya sinar mentari. Ternyata saya berada di sekitar candi yang juga menjadi tetenger dan kemudian menjadi nama dusun ini, Dusun Candi Promasan. Hanya kata candi sering dihilangkan dalam penyebutannya. Mungkin supaya lebih cepat, pikir saya asal.

Sebelum beranjak jauh dari tempat ini, saya menyempatkan berkeliling sebentar dan melihat-lihat seperti apa peninggalan yang termasuk bersejarah ini. Ada sedikit bayangan tentang bagaimana orang-orang di peradaban masa itu survive dengan kearifan alamnya. Sambil membayangkan itu, saya kok jadi merasa ada suasana sedikit mistis ya. Mungkin karena terbawa suasana pagi yang senyap juga.

Dari beberapa bacaan, saya ketahui ternyata Candi Promasan yang juga dikenal dengan nama Sendang Pengilon ini adalah situs petirtaan yang terdiri dari tiga tingkatan dengan tiga pancuran. Candi ini menurut penuturan warga juga masih erat kaitannya dengan Candi Argosomo dan Candi Gedong Songo yang menjadi sejarah tersendiri bagi perjalanan pemeluk Hindu di zaman itu.



Penampakan Candi Promasan yang sempat diabadikan. Foto : Hekso Liany, my travelmates in Semarang :)
 
Setelah semua mata rasanya sudah terbuka pada tahap normal, dan suhu tubuh mulai terasa hangat, saya ikut berkumpul dengan kawan-kawan PGI yang ternyata juga sudah kedatangan tamu dari komunitas lain. 

Pagi ini, kami semua akan sharing tentang satu wadah bernama sareng yang merupakan akronim dari sinau bareng atau belajar bersama. Rupanya, para relawan yang tergabung dalam sareng ada beragam latar belakang. Selain PGI, ada pula 1000 Guru Semarang, dan lainnya yang saya tak hapal betul. Maklum, ini sudah terjadi sekitar dua atau tiga tahun lalu. 

Sareng saat itu bersepakat untuk mengatur jadwal mengajar untuk anak-anak Dusun Promasan yang berasal dari kurang lebih hanya 19 KK. Ini sebagai aktivitas lanjutan yang memberikan sedikit konstribusi di bidang pendidikan setelah sebelumnya para relawan dari multi komunitas membantu pengadaan tenaga mikro hidro untuk penerangan dusun yang belum dialiri listrik kala itu.


Pengalaman tak terlupakan saat ketemu adek-adek ini saat inisiasi Sareng


Saya bersyukur berada disini, di tengah orang-orang yang ternyata masih mau menyisihkan tenaga dan waktu untuk memikirkan dinamika di dusun penghasil teh ini. 

Hari sudah mulai beranjak siang, setelah bercengkerama dan menikmati sarapan pagi ala kadarnya, kami bersiap untuk kembali berjalan menyusuri track yang sudah mulai tampak jelas dibanding malam sebelumnya. Apalagi cuaca mendung juga masih menghantui.

Bagaimana Menuju Promasan?


Kalau dari arah pusat kota Semarang, kurang lebih perjalanan bisa ditempuh sekitar 1 jam, dengan menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Sebenarnya untuk sampai kesini, ada beberapa jalur. Pertama, bisa melalui Bandungan, atau jalur menuju wisata Umbul Sidomukti, kemudian tanyakan saja arah menuju Mawar Camping Ground yang letaknya persis berada setelah cafe bernama Pondok Kopi.

Kita memarkir kendaraan di Mawar Camping Ground serta membayar retribusi tiket masuk yang sangat murah, hanya sekitar 3000 rupiah saja. Kalau kita ingin menikmati berkemah atau camp di Mawar saja saat tiba di malam hari, dan melanjutkan perjalanan pada pagi harinya, hmm, kita akan mendapatkan "bonus" pemandangan Semarang dengan kerlap kerlip lampu kotanya yang menawan. Dijamin, pasti pengalaman ini akan membawa kita candu untuk datang kembali.


Pintu masuk menuju Mawar Camping Ground selalu terbuka bagi siapa saja. Foto : startdarisemarang.blogspot.com

Semarang view dari Mawar Camping Ground. Asli bikin kangen. Foto : gojeng.com

Kalau tak membawa peralatan camp sendiri, tanyakan saja di loket tiket masuk atau petugas parkir tentang persewaan dan rate nya. Untuk warung makanan, tenang saja, sudah berjejer aneka warung yang siap memenuhi rasa lapar.

Sedangkan jalur kedua, melalui jalur Medini yang bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor yang siap-siap melewati jalanan terjal dan cukup berkelok-kelok. Itu pengalaman teman saya, saya sendiri belum pernah mencobanya :) Sebelum masuk ke area kebun teh, kita pun bisa membeli tiket masuk Bumi Perkemahan Medini yang kira-kira bernilai sama dengan di Mawar Camping Ground.

Sebenarnya tak hanya menuju Promasan saja yang paling dinantikan, tapi juga pemandangan hijau yang kita dapat saat menyusuri kawasan track menuju Gunung Ungaran. Yap, Promasan memang semacam basecamp untuk beristirahat bagi para pendaki yang akan melanjutkan perjalanannya ke Gunung Ungaran. Kira-kira memakan waktu 2-2,5 jam lagi menuju puncak, katanya.


Saya sendiri belum pernah menuju Gunung Ungaran karena kendala waktu :) Dan ketika saya beranjak pulang saat itu, baru saya ketahui kalau ternyata Dusun Promasan juga menyimpan destinasi wisata anti mainstream lain selain hamparan kebun tehnya, yaitu Goa Jepang dan juga kebun kopi yang berada tak jauh dari kawasan tersebut.

Hm, jadi ada ide nih untuk membuat semacam rekomendasi destinasi anti mainstream di kawasan lereng Gunung Ungaran ini. Sehingga tak hanya para penghobi pendakian saja yang berhak menikmati suasana alamnya, tapi juga keluarga yang ingin mengenalkan kenekaragaman hayati pada anak-anaknya, sekedar kemping ceria, atau lainnya. Terutama untuk mensyukuri segala penciptaan Allah, Sang Maha Pencipta. 

Ah, Promasan memang memberikan kesan yang menyejukkan tidak saja mata, tapi juga hati. 

Kira-kira ide macam apa ya yang ada di kepala saya tentang destinasi Promasan ini. Baca tulisan berikutnya ya, Dusun Promasan, Destinasi Wisata Anti mainstream di Lereng Gunung Ungaran.






Salam Dunia Gairah,

Prita Hw

26 komentar:

  1. Butuh waktu berapa lama perjalanan dari pusat kota Semarang ke Dusun Promasan? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah ditambahin di atas, hehe. Sekitar sejaman, Dee :)

      Hapus
    2. Nggak terlalu jauh ya buat destinasi refreshing warga Semarang Kota hehehe :)

      Hapus
  2. Aku malah belom nyampe sini lo mbak..mupeng ih :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, mesti nyampe mbak, mumpung di Semarang kan :)

      Hapus
  3. Ajakin aku mbak pritaaaa😂

    BalasHapus
  4. pemandangannya baguus... kabutnya bikin dingin brrr :)

    BalasHapus
  5. Ungaran itu nama gunung ya mbak, aku baru tau hehehe.. aku pikir itu nama salah satu kecamatan/desa di Semarang sana. Soalnya ke Jawa Tengah aku cuma pernah ke Kudus, Jepara dan Demak belum sampe main ke Semarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama ibu kota Kabupaten Semarang, mas, namanya ungaran, dan dijadikan nama gunung juga :) wah, mesti mampir bgt ke Semarang sih kl udah sampai di kota2 itu :D

      Hapus
  6. Foto terakhirnya epik banget! Ngebayangin daerah pegunungan Dempo di Pagar Alam dibikin kayak gini juga, eh kayaknya udah ada sih, tapi orang lebih memilih ke penginapan karena dinginnya luar biasa kayaknya haha

    omnduut.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. tantangan tersendiri dong om nduut, hihi

      Hapus
  7. Waaah... jadi tau ada kawasan hijau ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wajib mampir mbak kl ke Semarang yaa

      Hapus
  8. 19 kk saja? yang jadi pemetik teh bukan cuma warga situ jadinya ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya warga situ aja mbak, soalnya kan ada bapak, ibu gitu sekeluarga. Nanti kutanya lagi deh kl kesana lagi, hehe

      Hapus
  9. Cuma 1 jam dari kota Semarang ya? Tau gitu kemarin saya ke sini waktu berkunjung ke Semarang.

    Saya juga suka naik gunung dan mndaki di malam hari itu emang gak enak, gak keliatan apa-apa selain kaki teman pendaki lainnya.


    Terima kasih mba untuk infonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, kurleb 1 jaman, ga jauh2 banget kok. Motoran malah 45 menitan ke pusat kab smrg alias Ungaran nya. Nah, next mesti mampir lagi brarti :)

      Hapus
  10. Selain goa kreo menurutku goa jepang tempat paling recomended untuk dikunjungi buat menapak tilas sisa2 sejarah yg ada di semarang nih ��,apalagi dibalut dengan suasana alam yg sangat memanjakan mata rasanya ingin berlama-lama menikmati panorama alamnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener So, wisata alam dan sejarah iku wis gathukan'e ya, hehe.. Btw, yang ke Goa Kreo blm sempet ditulis. Menyusul :)

      Hapus
  11. total biayanya berapa nih mbak perpaket?

    BalasHapus
  12. Belum pernah explore jateng mbak. :( Baru ngeh dan tahu kalo di semarang ad ada tempat keren kaya gini..

    BalasHapus
  13. Dulu aku pernah ke Semarang tapi ga jalan-jalan sampai siniiii... enak liatnya hijau-hijau udaranya kayaknya sejuk yaaa

    BalasHapus
  14. Wow itu foto terakhir, view Semarang saat malam hari bener-bener cakeup.
    Belum pernah kesini, ke Semarang nya pernah dua kali, cuma sempet kuliner aja krn waktunya mepet :D

    BalasHapus
  15. Lihat tenda aku jadi ingat pas kemping tempo hari sama kantooorr.. aaahh rindu dehh!
    Mbak, serius minus 7 & 6??

    BalasHapus