Petungkriyono, Harapan Baru Ekowisata Pekalongan



Musik gamelan jawa yang lembut dan khas menyambut langkah kaki saya, suami, dan seorang kawan yang lebih tepat kami sebut adik di kota batik yang sebenar-benarnya, Pekalongan. Ini kali pertama saya bertandang kesini.

Mungkin kalau bukan karena Amazing Petung National Explore (APNE) 2017, saya belum sampai kesini. Selain hanya mengikuti ritme kereta api yang selalu berhenti di tiap stasiun kota besar yang dilewati.

Berangkat dari Jember pada sehari sebelumnya, 4 Agustus yang masuk hari Jumat itu, saya tiba sangat awal, jam 3 dini hari. Beruntung akhirnya bisa bertemu dan berkumpul bersama kawan-kawan blogger seluruh Indonesia yang nama mayanya sudah sangat sering saya dengar. Beberapa bahkan memang kawan perjalanan di cerita-cerita sebelumnya.

Di depan Sahid Oriental Pekalongan, akses pintu belakang. Foto : Bang Doel

Sempat mencicipi nasi megono yang menu utamanya adalah cacahan nangka muda dengan bumbu khas yang dimasak kering, mampir sejenak di Museum Batik Jatayu, akhirnya punggung yang lelah ini menemukan jodohnya, sebuah kasur empuk yang bernaung di sebuah hotel yang nyaman, Sahid Oriental di kawasan ruko-ruko persis depan Terminal Pekalongan.

***

“Sesuatu yang tengah-tengah itu baik-baiknya sesuatu…”, ungkap Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi saat memberikan ucapan selamat datang pada malam harinya kepada kami semua, peserta APNE 2017 yang berasal dari berbagai penjuru daerah.

Maksud Bapak Bupati adalah menegaskan posisi geografis Pekalongan yang berjarak 425 km menuju Surabaya, ibukota Jawa Timur, dan 435 km menuju ibukota negara, Jakarta.



“Sejak abad ke-8, Pekalongan sudah dikenal dengan sumber daya alam dan potensinya. Salah satu bentuk syukur adalah eksplorasi untuk menyebarkan pada yang lain,” tambah Pak Bupati yang baru saja menerima penghargaan sebagai peraih Adipura 2017 setelah absen 19 tahun lamanya.

Kata-kata Pak Bupati itu langsung membuat pikiran saya menerawang pada petualangan Petung Kriyono yang akan saya dan kawan-kawan blogger, fotografer, pilot drone, dan jurnalis lakukan keesokan harinya, Sabtu, 5 Agustus 2017.

Setelah mendengar dan membaca beberapa referensi seperti cintapekalongan.com, Petung ternyata berarti bambu dalam Bahasa Melayu, sedangkan kriyono dari kata karayan yang kemudian berubah menjadi rakyan. Disinyalir, kepala desa Sima Petung adalah rakyan Betung.

Daerah yang merupakan kaki Gunung Dieng ini sukses membuat saya penasaran berkat deskripsi yang diberikan malam itu lewat video dan obrolan ringan dengan seorang kawan baru dari Pekalongan yang kebetulan duduk di sebelah saya persis.

Istimewanya, Petungkriyono ternyata merupakan satu-satunya hutan alam sekunder yang masih alami di Jawa. Penjelasan kawan sebelah saya tadi persis seperti yang disampaikan Pak Bupati dalam sambutannya malam itu.




Kawan saya ini rupanya bukan sekedar tahu saja tentang Petungkriyono, ternyata wilayah hutan-hutan yang ada di dalamnya juga merupakan wilayah kerjanya yang sehari-hari mengabdi di Perhutani Pekalongan. Oh, pantas, batin saya. Saya beruntung dong dapat informasi dari sumber terpercaya, pekik saya lagi, tentu masih dalam hati.

Informasi pentingnya lagi, kali ini membuat saya tercengang. Ternyata Taman Nasional Baluran di Banyuwangi, juga kawasan hutan di Karimun Jawa mendapatkan benih tanaman sejenis beringin, yang akarnya bercabang dan terdapat semacam buah, berasal dari kawasan Petungkriyono yang saat ini telah dinobatkan sebagai national nature heritage ini. Wah, saya seketika langsung bisa membayangkan beragam varietas yang ada di dalamnya. Pantas saja, kalau beruntung saat berkunjung kesana, kita bisa mendapati elang Jawa, owa Jawa, bahkan macan Jawa.

Selamat datang di Petungkriyono

Usai bertandang ke pendopo Bupati Pekalongan yang terletak di Kajen, Kabupaten Pekalongan untuk pelepasan seluruh peserta, kami semua menuju daerah dekat Pasar Doro yang menjadi shelter Anggun Paris. Anggun Paris merupakan kepanjangan dari Angkutan Pegunungan Pariwisata yang serupa open kap saat saya mengunjungi Banyumas, Purwokerto beberapa waktu lalu.

Deplak. Begitu orang sini menyebutnya. Kebetulan saya berpisah dengan kawan-kawan yang menggunakan Anggun Paris. Menurut informasi, menaiki ANggun Paris ini merogoh kocek sekitar Rp. 33-34 ribu per orang, jika katanya satu armada bisa menampung 12 orang dengan biaya Rp. 500 ribu.


Saat itu, saya menerima ‘perlakuan khusus’ dengan menumpangi mobil bersama beberapa panitia. Maklum, lagi-lagi kondisi bumil yang 4,5 bulan ternyata juga menguntungkan di satu sisi. Hm, tapi ada juga ruginya, tak bisa berkumpul bersama kawan-kawan sambil seseruan ‘dikocok’ perjalanan.




Petualangan ‘resmi’ dimulai. Rasa penasaran berganti menjadi takjub. Kami sedang disambut oleh ‘paru-parunya’ Jawa. Salut juga di jaman yang semuanya mudah terkikis, kondisi alam dan habitat di Petung Kriyono yang seluas kurang lebih 6000 hektar ini berhasil dipertahankan keasliannya. Maklum, jumlah penduduk sekitarnya memang hanya 16 persennya, atau sekitar kurang lebih 119 hektar saja.

Hm, apa ini indikasi bahwa semakin sedikit manusia maka jumlah ‘predator’ yang sebenarnya makin berkurang? Entahlah. Ini kesimpulan asal-asalan saya.

Selamat datang di Petungkriyono.

Saat berada di pintu gerbang besarnya, ada tulisan PETUNGKRIYONO besar-besar menyambut kami semua. Kali ini cukup spesial, kami disuguhi Tarian Petung yang dibawakan dua gadis cantik yang luwes membawakannya.




Sambil sesekali menyeruput kopi petung yang diambil dari sejenis musang atau owa liar, saya bersyukur siang itu ada diantara orang-orang yang disambut sedemikian rupa, selain disuguhi fasilitas oksigen bebas. 




Kopi petung ini begitu diminum, hangatnya langsung terasa di badan, racikan yang pas juga ikut mempengaruhi. Mungkin karena proses fermentasinya alami dari musang atau owa liar tadi.



Destinasi pertama kami ragam air terjun bernama Curug Sibedug di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring dengan ketinggian 20 meter dan terdiri dari dua buah, bahkan bisa menjadi tiga saat musim hujan. Kabarnya, cuaca di Petung Kriyono ini sering tak terduga, dan sering terjadi kabut bahkan hujan lokal tiba-tiba. Berbeda dengan keadaan di Kota Pekalongan di waktu yang sama. 




Jembatan Sipingit dan Kedung Sipingit

Saya tak tahu menahu tentang destinasi kedua ini. Yang jelas, rombongan kami berhenti di jalan sebelum jembatan Sipingit. Mungkin karena pemandangannya sangat memanjakan mata.




Tiba di jembatan, banyak dari kawan-kawan yang turun, mungkin untuk sekedar merasakan sensasi air segar yang mengalir diantara bebatuan alam. Sedang sopir dan awak Anggun Paris asik menikmati makan siangnya, saya dan suami, juga beberapa kawan yang lain sibuk melihat pohon pinus yang ternyata bisa dideras getahnya, dan diwadahi.

Menurut penjelasan salah satu awak Anggun Paris yang menyaksikan kami berulang kali menciumi jari tangan yang sudah lebih dulu mencolek bekas getah yang dideras, ini bisa dijadikan bahan baku peralatan plastik seperti ember, dan sebagainya, juga sebagai bahan malam untuk membatik.




Tak terlalu lama kami di jembatan Sipingit, dan tak pula sampai ke Kedung Sipingit. Saya hanya mendengar dari kawan sekamar saya yang kebetulan juga asli Pekalongan, kalau sebenarnya ada destinasi bernama Kedung Sipingit, yang biasanya digunakan sebagai tempat berdoa atau meminta suatu permohonan. Mungkin dianggap tempat mujarab atau apalah, saya juga belum tahu pasti.

Welo River, Tempat Bagi Penyuka Wisata Air

Kalau kita suka bermain air, selain di pantai, sungai bisa menjadi pilihan. Di tengah rindangnya pepohonan, cicitan suara burung dan beberapa satwa lain, cobalah untuk mengunjungi wahana yang ditawarkan Sungai Welo.

Hanya dengan tiket masuk Rp. 3000, kita sudah bisa menikmati berbagai photo spot yang memang sedang kekinian untuk diposting di akun Instagram. Instagrammable, katanya. Saya sempat mencoba yang di ujung sana. Ada pula yang berlatar love, ada yang berupa replika sandal jepit, juga semacam jembatan selayang pandang.


Mencoba photo spot ini. Foto : Ryo Firdausy

Untuk sekedar melepas lelah dengan berwudhu dan menyempatkan shalat disini, juga tersedia musholla sederhana.

Selain berfoto, saya mengisi waktu bercakap-cakap dengan Mas Nur, penjaga loket Welo River yang penduduk asli Desa Kayupuring. Menurutnya, karena debit air yang kecil dan tidak stabil, kadangkala jenis olahraga air tidak semua bisa ditawarkan setiap saat.




Namun, kalau kondisi debit air mencukupi dan cuaca dalam kondisi mendukung, kita bisa mencoba river tubing dengan biaya 75 ribu dan minimal berjumlah 6 orang. Atau body rafting yang hanya mengeluarkan kocek separuhnya, 35 ribu. Kalau ingin menikmati river track juga boleh, hanya dengan 25 ribu saja. Rata-rata track selama 3-4 jam dengan jarak sekitar 2-3 km. Bagi yang ingin melakukan pendakian menuju Gunung Rogojembangan, lebih save saat ditemani pemandu yang hanya diganti dengan kocek 100 ribu.

Kalau sedang ingin bermalas-malasan di destinasi ini, memancing di alam bebas menjadi pilihan yang lain. Tapi, harap membawa sendiri peralatan pancingnya. Banyak jenis ikan wader, dan ikan sungai lainnya yang bisa didapat. Dan semuanya bisa dibawa pulang. Kita hanya membayar tiket masuk Rp. 3000 tadi.

Destinasi Welo River yang baru dibuka 1 tahunan ini memang menjadi harapan baru bagi penduduk termasuk pemuda desa setempat. Mereka mengelola tempat ini di bawah sebuah kelompok sadar wisata (pokdarwis). “Ya tapi tetep mbak, banyak anak-anak muda yang ingin pergi ke kota, penghasilannya kan bisa lebih banyak…”, ucap Nur pada saya saat saya menanyakan perihal antusias anak-anak muda seusianya.

Curug Bajing, Pesona Air Terjun yang Luar Biasa        

Tak sama dengan namanya yang agak membuat tanda tanya dan sedikit merasa ngeri (karena ternyata bajing diambil dari kata bajingan atau penjahat/perampok), pesona alamnya berkebalikan dengan namanya, sangat indah.

Destinasi ini berbeda dengan Curug Sibedug yang letaknya di pinggir jalan utama Petungkriyono. Menuju Curug Bajing, selain membayar tiket di loket Rp. 5000, kita harus terus turun ke bawah, sedikit track melewati batu-batuan kecil yang sudah tertata sedemikian rupa, meski memang belum bisa dikatakan mulus. Tapi, justru ini yang menjadi tantangannya. Photo spot juga banyak tersedia disini.

Saya betah berlama-lama disini. Sambil terus mendengarkan salah satu penduduk lokal bercerita, mata saya terus menekuri air terjun yang berada di Dusun Kembangan, Desa Tlogopakis ini.




Menurut cerita si mas-mas yang saya tak ketahui namanya, dulunya ada sekawanan perampok yang suka mencuri hasil pertanian dan bersembunyi dibalik Gunung Bajing. Lama kelamaan penduduk sekitar geram dan memutuskan untuk pindah ke desa terdekat.

Baru dibuka sebagai destinasi wisata pada 2014 lalu, air terjun dengan ketinggian 75 meter dan debit air yang besar dan bahkan tidak pernah surut saat kemarau tiba ini, berhasil menyedot 300-700 orang saat weekend tiba. Ini masih menurut penuturan si mas. Sedangkan puncak keramaian terutama berada pada musim Syawalan. Tertinggi pernah mencapai sekitar 3000 orang pada 2015 dan 2016.

“Harapannya kepada Pak Bupati untuk meningkatkan akses ekonomi kami disini, hanya perbaikan akses jalan, supaya lebih mudah menuju kesini. Itu saja,” ungkap si mas menutup penjelasan pada hari yang sudah beranjak sore itu. Tapi sepertinya harapan si mas tak akan lama terwujud, karena kabarnya Pemkab akan memperbaiki akses jalan dan juga membuatnya terintegrasi dengan jalur wisata Dieng. Ah, semoga ya :)




Satu lagi yang tak boleh dilewatkan adalah taman-taman kecil yang ditata sederhana namun sudah lengkap dengan nama jenis tanamannya. Kita bisa mencoba dua photo spot utama, berlatar kupu-kupu raksasa nan cantik, dan satu lagi berlatar Gunung Bajing. Untuk musholla disini, cukup luas daripada di Welo River, pilihan warung makan juga beragam. Kita juga bisa membeli sejumlah hasil olahan organik warga seperti Welo Coffee dan kolang kaling organik. Saya dan beberapa kawan-kawan juga membawanya, selain untuk oleh-oleh, juga untuk menghargai upaya mereka dalam berproduksi. Semoga semakin bersemangat.

Spot kupu-kupu yang cantik. Foto : Salman Faris

  Curug Lawe, Makanan yang Maknyus, dan Payung Warna Warni

Sebenarnya, Curug Lawe berada di bawah Curug Bajing. Tepatnya di Dusun Cokrowati, Desa Kasimpar. Namun, sore kemarin, kami menjadikannya destinasi terakhir. Maklum, disana juga dilakukan closing ceremony dengan Ibu Wakil Bupati Pekalongan.



Curug Lawenya sendiri bisa dinikmati dengan menyusuri jalan setapak hutan dan melewati sungai kecil. Kurang lebih, air terjun dengan ketinggian 100 meter ini bisa ditempuh tracking selama 1 jam untuk menikmati view nya. Dan, sayang karena hari sudah hampir gelap, kami tak sempat menjajal track nya.
  
Perut yang sedari siang sebenarnya sudah meminta jatahnya, terpaksa harus bersabar. Termasuk jabang bayi yang ada dalam perut saya :) Alhamdulillah, si jabang bayi sangat bisa diajak kompromi.

Tak seberapa mempedulikan suasana yang sedikit crowded sore itu, saya langsng menuju hidangan yang tersedia. Selain penganan lokal seperti kacang rebus, singkong rebus, dan pisang rebus, menu utamanya langsung membuat jatuh hati dan membuat menahan air liur lebih lama saat mengambil beberapa lauknya.




Dan, saat sudah menikmatinya, maknyus… Perpaduan nasi beras hitam dan nasi jagung putih halus tanpa warna kuning yang biasa saya lihat, terasa berbeda di lidah. Begitu juga sayur singkong yang dimasak santan, urap-urap, tempe tahu, ikan asin, telur bumbu bali, dan ayam bumbu kuning. Hmm, andai saja menu ini dinikmati di siang terik tadi, pasti nikmatnya ganda. Tapi, tak apalah. Menu ini menutup sore yang sebentar lagi memunculkan senja. Sayang, saya tak memiliki dokumentasi saking rasa menuntaskan lapar sudah sedemikian besar :)

Akhirnya…

Saya lagi-lagi mendapat kesempatan lebih dulu untuk kembali ke hotel. Alhamdulillah. Saya bersyukur dilahirkan di bumi Indonesia yang menyimpan banyak pesona. Sama seperti rasa syukur bisa merasakan pesona alam Petungkriyono yang masih sangat alami dan disebut-sebut sebagai the heart of Java oleh mayoritas wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda.



Tempat yang masa lalunya sempat menjadi tempat pembuangan PNS bergelar 'nakal' di jaman Belanda itu kini sedang bertransformasi menjadi sebuah eko wisata yang diharapkan tetap terjaga seperti fungsi utamanya, paru-paru Pulau Jawa. Selain, tentu harus beriringan dengan kesejahteraan masyarakat setempat yang identik dengan : masyarakat hutan itu kantong kemiskinan.

“Disini juga sebagai upaya mencegah anak-anak desa pergi ke kota. Jadi, ayo berikan ilmu seluas-luasnya untuk mengelola hutan…”, ungkapan Pak Bupati saat membuka acara kemarin kembali terngiang. Dalam hati saya mengamini.



Baca Juga tulisan lain dari perjalanan ke Pekalongan :

Mengenal Sejarah Batik di Museum Batik Pekalongan
Melongok Padepokan Batik Pesisir H. Failasuf


***
Tulisan ini merupakan catatan perjalanan dalam Amazing Petung National Explore (APNE) 2017 yang diselenggarakan oleh Pemkab Pekalongan dan Kajen Unique. Perjalanan ini juga didukung oleh Sewa Kamera Jember (foto kecuali yang ber-caption, oleh Nana Warsita-suami tercInta yang mengikuti kategori fotografi), dan juga didukung Warna Indonesia Tours & Travel Jember. Keduanya sebagai sponsor lokal untuk perwakilan Blogger Jember Sueger.



Salam Dunia Gairah,
    

Prita Hw

39 komentar:

  1. Wah bisa ketemu teman blogger seIndonesia sambil jalan2 menikmati indahnya alam yg masih asli itu rejeki banget ya mbak. Meskipun sampainya dini hari dan dari Jember pula. Perjuangan banget itu xixi. Tapi terbayar lah ya dengan pemandangan alam yg indah dan pastinya jadi kenangan tersendiri bisa foto dengan spot kupu2nya. Duhhh akupun cuma bisa kepengen haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbakk, kl soal perjalanan panjang ya begitulah..Kl spotnya emang kecee

      Hapus
  2. Mupeng bgt.. Bisa jalan-jalan bareng teman blogger di luar Makassar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuk mbak.kapan2 ngetrip bareng kita :)

      Hapus
  3. Dan sukses buat aku pengen ke pekalongan mbk hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk barengan Cin, kayaknya aku pengen balik lagi, yg ritme santai, hehe

      Hapus
  4. Asyiknyaa, asri banget ya hutannya. Sehat selalu bumiil..

    BalasHapus
    Balasan
    1. banget mbak kl soal hutannya. Makasi mb dew, kapan2 ngetrip bareng yakk

      Hapus
    2. Mbak Dew mustinya ikutan nih, kok malah batalin. Hihihi.
      Btw, waktu setengah hari buat eksplorasi Petungkriyono terasa kurang banget ya, Mbak Prita. Next time kudu nginep di sana nih kayanya, jadi pagi-pagi habis Subuh sudah bisa jalan-jalan menikmati embun pagi hutan pinus Petungkriyono. Pasti bakal refreshing bannget tuh.

      Hapus
  5. seger ya mbak. saya belum pernah ke pekalongan.

    tempat pembuangan PNS zaman belanda? maksudnya gmn tu mb?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah sepertinya hrs aku edit dikit, maksudnya tempat pembuangan PNS "nakal" jaman dulu mbak, katanya biar dimakan macan gitu harapannya, nyatanya ya ga, wkwk. Kan masih asli bgt ini hutan. Tapi habitatnya terjaga.

      Semoga kapan2 ke Pekalongan ya mak, recommended^^

      Hapus
  6. Andai bisa ikutan dftar waktu itu.
    .
    .
    .
    Aaaa btw baca prrjalan crita nya Mbk Prita, udh mewakili ksulurhanacara di Pekalongan mbk.
    Alhamdulillahhnya debay bisa diajak kompromii 😍😍😍
    Subhanallah banget loh liat pemandangannya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Rohmah, masyaAllah bagusss banget deh.. hayuk lah kita explore Pekalongan, tar ma debay juga kl udah lahiran, wkwk :) amienn

      Hapus
  7. Seru ya? Destinasi wisata yg perlu ditingkatkan. Potensinya besar banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul bun, ga nyangka selain batik, punya potensi luar biasa si Pekalongan

      Hapus
  8. akkk, masih merasa banget keseruan pengalaman di sana.. pingin balik lagi=)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengen balik lagi yg slow travel ya mbak, ngerasain tubing atau mancing, hehe

      Hapus
  9. Wah keren banget pokonya petungkriyono, jadi pengen kesana lagi Mbak ^^ kangamir dot kom

    BalasHapus
  10. Wahh Mengagumkan sekali... pengen deh kesa.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. haishh Ryo, balik lagi yukk, kamu guide nya, ga mau tahu :D

      Hapus
  11. Jadi tahu kali Pekalongan juga punya air terjun dan gunung. Selama ini pahamnya Pekolangan identik dengan batik, hehehe.
    Salam kenal mba Pritha. BTW boleh usul ya, kalo ukuran foto diperbesar, kayaknya bakal lebih ca'em lagi deh. Sukses terus ngeblongya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo salam kenal juga mbakk. Iya mbak, aku jg baru tau, di pekalongan, ada selain batik :0

      Btw, ini udah xlarge fotonya mbak. Bisa lbh besar tampilan layarnya aja mb, ctrl + hehe

      Hapus
  12. Pekalongan nggak jauh-jauh dari keindahan curugnya. Pengen ke sana suatu saat.

    BalasHapus
  13. alhamdulillah kalau kerasan di Pekalongan ya...

    BalasHapus
  14. wehhh seru banget kak acaranya. Btw aku juga pernah jalan ke sana motoran dari semarang itu pegel banget. tapi smpai sana g kecewa dengan tempatnya yg asik sihh

    BalasHapus
  15. Enak nih bumil bisa naik mobil ber-AC sebagai bonusnya, eh tapi melewatkan sensasi dari guncangan selama perjalanan nadik Anggun Paris nih hehehe. Omong-omong aku baru tahu ada model di Curug Bajing, wah sepertinya daku keburu turun waktu mbak-mas modelnya asyik berdiri di panggung di atas.

    BalasHapus
  16. Piknik di alam itu emang enak yaa..manjain mata. Udaranya piye mbak pelosok pekalongan ?

    BalasHapus
  17. Bagus mbak pemandangan alam nya mbak... Jadi pengen kesana

    BalasHapus
  18. Waah...mba Prita ki lg mbobot ta.. Wiih..saluuut... Oya smoga lain kali bs mampir2 lg di Pekalongan ya mba..

    BalasHapus
  19. Absen dulu deh, salam kenal ��


    Salam Cinta Pekalongan

    BalasHapus
  20. Bener2 surga dunia, dan saya beruntung sekali bisa ikut explore Petung bersama blogger dari seluruh Indonesia "thebestmoment :)

    BalasHapus
  21. Duhh..fotonya romantis banget dah..
    Sebuah kesempatan yg luar biasa ya mba bisa explore indahnya alam dlm balutan kebersamaan. Jadinya seruuuuu bangeeeet

    BalasHapus
  22. Salut banget sama bumil yg satu ini. Sampe sore pas di Curug Lawe mukanya masih sumringah aja. Debay nanti pasti seneng menjelajah kayak Ibu dan Bapaknya. Balik ke Petung lagi yuk Mba...ngecamp di Lawe

    BalasHapus
  23. Wuih, nggak batik doang, ternyata, Pekalongan.

    BalasHapus