Menjadi Fulltime Wife dan Fulltime Mom Patut Disyukuri. Ini Beberapa Kelebihannya



Menjadi seorang ibu terdengar seperti cita-cita yang sangat mulia. Tapi, begitu diubah menjadi seorang istri sekaligus ibu rumah tangga penuh waktu, mungkin bagi sebagian besar perempuan terdengar tak memihak pada kesetaraan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Untungnya, sebagian besar perempuan yang saya maksud, tak memasukkan saya sebagai bagian di dalamnya :)

Saya pernah diberondong pertanyaan seperti itu saat berbagi di sebuah acara peringatan hari perempuan sedunia, "kenapa semuanya dibebankan pada perempuan? Misalnya, kalau ada sekolah rumah tangga, kenapa ditekankan pada sekolah perempuan, sekolah ibu rumah tangga?" Saat itu, saya menanggapinya santai, "karena perempuan itu berharga dan mulia, makanya diprioritaskan. Untuk menjunjung tinggi itu." Lebih lengkap tentang reportasenya, bisa dibaca disini.

Memang, modernisasi dan tuntutan peran perempuan untuk setara dengan laki-laki yang banyak digaungkan para aktivis gender telah menimbulkan banyak salah kaprah. 

Akhirnya, mungkin, bisa jadi akan ada pemikiran untuk tuntutan seperti melahirkan harus dibebankan sama pada laki-laki juga? Atau bagi muslim, apakah perempuan harus menuntut bisa menjadi imam jamaah shalat demi disebut setara? Hehe, tentu tak bisa kan? Jadi, saya setuju perempuan dan laki-laki setara dalam akses pengetahuan. Sedangkan aplikasinya tergantung perannya masing-masing.

Karena itu, saat ini saya pribadi juga memilih untuk menjadi seorang fulltime wife sekaligus calon ibu bagi anak-anak saya kelak. Sering kan kita mendengar kalau madrasah pertama bagi anak-anak kita adalah ibunya sendiri? Iyap, itu betul banget. Lah wong pertama mbrojol sudah langsung ada dalam pelukan ibu, IMD (inisiasi menyusui dini) juga sama ibu. Dari situ, pembelajaran kita sebagai seorang manusia dimulai.




Bagaimana dengan bapak? Peran bapak adalah penanggungjawab, pemimpin, pelindung, penguat, pencari nafkah utama, dan pengontrol kesabaran sang ibu yang biasanya sangat dipengaruhi emosinya. Ya, semuanya punya peran sesuai sunnatullah yang sudah digariskan.



Jadi, berbahagialah para fulltime wife dan fulltime mom, kita masih bisa memberikan waktu terbaik untuk suami dan keluarga tercinta. Bukan waktu 'sisa' seperti yang pernah saya alami saat masih bekerja di sebuah perusahaan advertising. Berangkat jam 7 pagi, sampai di rumah jam 7 malam, membuat tenaga sesampai di rumah hanya tersisa ala kadarnya. Bagaimana kalau ada anak-anak ya?

Saya setuju dengan ungkapan family is not something, but everything. Dan, dari pengabdian kita sebagai istrilah, insyaallah pintu surga akan terbuka. Bukankah tujuan kita hidup di dunia hanya untuk beribadah mencari ridho-Nya?

Lewat tulisan yang juga terinspirasi dari fulltime wife sekaligus fulltime mom inspiratif dengan banyak karya, Mbak Ernawati Lylis, saya hanya ingin berbagi bahwa pilihan saya atau fulltime wife dan fulltime mom lain diluar sana sudah tepat. Bukan berarti yang ibu bekerja bukan pilihan yang tidak tepat loh ya. Itu tergantung dari bagaimana kita menyikapinya :)

Tak perlulah mak, jadi minder atau justru merasa terkungkung bagai katak dalam tempurung.  Atau malah menaruh rasa iri atau berandai-andai, atau merasa pilihan kita salah. Ini beberapa kelebihan yang patut kita syukuri :

  • Lebih banyak waktu dengan keluarga. Dan bisa merencanakan space waktu yang disediakan untuk berbagai kesibukan di rumah sebagai ibu, istri, atau freelancer atau pebisnis online yang bekerja dari rumah.

 
  • Bisa melibatkan anak dalam semua aktivitas, sehingga bonding juga lebih kuat. Karena aktivitas orang dewasa kadang juga menjadi stimulan yang ampuh untuk perkembangan anak.
  • Bisa tetap beraktulisasi diri dengan bekerja dari rumah, dan tidak terkejar target yang menguras tenaga dan pikiran seperti makin tingginya jabatan, makin tinggi pula tuntutan bila kita bekerja di sebuah perusahaan.
  • Bisa memberikan pendidikan terbaik untuk anak lewat hal-hal kecil yang kita ajarkan, sampai mungkin mencoba menjadi ibu homeschooling mandiri bagi anaknya.
  • Pengaturan waktu yang fleksibel untuk segala keperluan.
  • Membuat selalu bersyukur atas semua nikmat waktu dan tidak menyesal karena telah menggunakan waktu sebaik-baiknya bila kita melihat keberhasilan keluarga atau hal lain yang kita lakukan.
  • Dapat saling menginspirasi antara sesama fulltime mom dalam berbagai forum atau komunitas.
Jadi, sudah tak ragu lagi kan sekarang dengan pilihan menjadi fulltime wife dan fulltime mom? Selamat menjalankan peran mulia~




Salam Dunia Gairah,


Prita Hw

2 komentar:

  1. Yup, kita bisa tetap produktif dari rumah asal manajemen waktunya oke yaa..

    BalasHapus
  2. Duh, baca postingan ini jadi nyess gitu di hati mbak. Soalnya tetangga baru aja ngerese'in dengan nelefon ibu saya bagi-bagi info lowker CPNS. Lah, ortu saya sendiri santai2 aja anaknya memilih jadi fulltime mom and wife, yang penting bahagia. hehehee
    Salam kenal mbak

    BalasHapus