Menciptakan Dunia Tanpa Sekolah ala Anak 15 Tahun






Sindrom sekolah mengalir ke seluruh peredaran darah dan menekan otakku. Merampok kebahagiaanku. Aku semakin tidak betah di sekolah. Ditambah lagi dengan keberadaan guru penghancur mental. Guru yang mempermalukan murid di depan umum. Guru yang tidak mempergunakan jangka sebagai alat mengajar, melainkan sebagai alat menghajar. Guru yang membuat kelas jadi sesunyi kuburan dengan dalih menciptakan susasana kondusif.

***

Begitulah perasaan M. Izza Ahsin, seorang anak berusia 15 tahun saat menulis buku perdananya berjudul Dunia Tanpa Sekolah yang diterbitkan Read!, Kelompok Mizan, Bandung pada 2007.  

Apa yang kita lakukan bisa menjadi bumerang bagi orang terdekat kita. Begitulah yang terjadi pada orangtua Izza yang seorang guru dan terhormat di masyarakat. Orangtua Izza rajin membaca buku dan menerapkan konsep-konsep seperti quantum teaching, revolusi cara belajar, dan apapun untuk digali dan berguna melengkapi 'kemastahan' profesinya.

Buah tak akan jatuh dari pohonnya memang benar adanya. Karena kerap melihat tumpukan buku orangtuanya, hobi Izza yang amat melekat pastilah membaca buku. Bahkan buku-buku 'berat' yang melampaui anak seusianya. Bayangkan di usianya yang menginjak 15 tahun saat itu, penulis-penulis yang akrab dengannya adalah Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Hamka, Al-Qarni, Said Hawa, sampai JK Rowling.  Dahsyat bukan?

Wajar jika akhirnya ia terpengaruh oleh warna-warna pemikiran buku-buku yang dibacanya. Terlebih, darah remaja yang sedang mencari jati diri juga makin deras mengalirinya. 

Dan inilah yang dipikirkan Izza saat imajinasinya dipuaskan oleh bacaan-bacaannya :

"Pikiranku berjuluran, bercabang-cabang seperti pohon, semakin kompleks. Pikiranku yang penuh hasrat dan mimpi harus dipuaskan dengan menulis novel sampai beberapa seri tebal. Aku pun merasa tidak cukup memikirkan penggarapan novel ini hanya dengan sebelah tangan.  

Walaupun kedengarannya gila dan tidak masuk akal untuk seorang remaja yang sama sekali belum menerbitkan satu buku pun, aku harus menyerahkan seluruh hidupku semata-mata untuk menulis. Pemikiranku semakin peka dan liar karena menulis, membaca, dan berimajinasi. Inilah yang pertama kali mendorongku untuk memberontak dan menghendaki hal yang tidak umum dilakukan masyarakat negara ini : keluar dan bahkan bertekad selama hidup tidak lagi bergantung pada pendidikan formal!" (h.27)

Masa Mencekam itu Pun Dimulai


Memiliki orangtua yang menularkan hobi membaca dan menderas buku ternyata tak selamanya membawa keuntungan buat Izza. Ia yang menyangka akan didukung penuh oleh orangtuanya tentang pilihan hidupnya itu, ternyata malah mengalami penolakan yang entah sampai batas waktu kapan. 

"Inilah jawaban orangtuaku. JANGAN PERNAH BERPIKIR SEPERTI ITU! Tidakkah lebih baik bagimu hidup seperti air mengalir saja dan berhasil dalam menulis dan sekolah? Menyatakan diri tidak mau sekolah sama saja dengan ingin menanggung malu! ORANG AKAN MENGANGGAPMU SOMBONG, NAKAL, DAN TAK TAHU DIRI!"




Sementara Izza benar-benar tak bisa memahami apa yang dimaksud orangtuanya itu. Ia mengalami pukulan telak. Bagaimana mungkin orangtuanya yang haus akan buku-buku revolusi belajar tidak setuju dengan idenya untuk melepaskan diri dari belenggu yang bernama sekolah? 

Hingga kata-kata pamungkas yang lebih sebagai ancaman muncul dari mulut seorang ayah untuk Izza, "YA, SUDAH KALAU BEGITU! TIDAK USAH SEKOLAH!".

Sejak peristiwa yang alot itu, seisi rumah pun mencekam. Kedua adik Izza hanya bisa diam, terpekur, dan bahkan berteriak histeris. Sedangkan ayahnya lebih tertarik untuk memecahkan pecah belah yang menghuni dapur, piring dan gelas dipecahkannya satu persatu. Pembicaraan antara Izza dan ayahnya pun vakum, dan ibunya sering menghindar bila sudah membahas sekolah.

Sementara itu, kesimpulan Izza tetap sama. 

"Aku menganggap pilihan ini seperti pelari yang hanya mempergunakan sebelah kakinya. Sangat tidak efektif. Padahal, seorang psikolog kelas dunia pernah mengatakan bahwa pelajaran sekolah pada pendidikan dasar sekarang ini hanya mengotori otak karena melupakan hal-hal yang lebih esensial seperti character building atau pelejitan actus para siswa." (h.35)

"Untuk sementara ini, aku beranggapan bahwa orangtuaku benar-benar telah kalah sebelum bertanding melawan pandangan lingkungan. Lingkungan yang menilai kecerdasan berdasarkan tinggi atau tidaknya pendidikan formal seseorang. Tapi, aku belum mau kalah." (h.37)

Sekolah dan Penjara 

Hari demi hari selanjutnya dilanjutkan Izza dengan pasang surut. Pasang saat masa libur sekolah tiba, ia bisa sepuasnya membaca buku sepanjang hari, bermain dengan imajinasinya yang liar, dan kemudian menuangkan apa saja yang bisa dituangkannya. Salah satu aktivitas jalan-jalannya yang menyenangkan adalah pergi ke toko buku. Dan yang aneh, setiap masa libur sekolah pula, semua masa mencekam dan sikap orangtuanya yang aneh dan dingin langsung sirna.

Tapi ketika masa surut tiba, ketika Izza harus pergi ke sekolah (lagi) karena di sisi lain ia merasa dirinya masuk ke dalam penjara, masa mencekam itu tiba lagi tanpa diundang. Apalagi ia termasuk murid sekolah yang katanya favorit. Namun, dalam kenyataan yang ia rasakan, menurutnya justru itu yang membuat pandangan masyarakat buta terhadap kualitas gurunya.




"Mereka tetap mengajar dengan gaya konvensional yang hampir seperti praktik pendidikan kaum tertindas. Atau menurut istilah Freire, pendidikan gaya bank. Yakni, guru mengajar, murid diajar. Guru dianggap lebih mengetahui sedangkan murid tidak tahu apa-apa. Guru menerangkan, murid mendengarkan. Guru bertanya, murid menjawab. Guru memerintah, murid diperintah..." (h.46)

Meski, masih ada guru favort yang disukai Izza karena selalu membuat suasana kelas ceria dengan cerdas cermat ala televisi sebagai pendekatan pelajaran IPS. 

Kemudian, puncak dari rasa stres dan tak tahu lagi harus berbuat apa untuk meyakinkan pilihannya kepada orangtuanya, ia pun membuat nilai-nilainya menukik jatuh. Sebab memang tak ada gairah.

Sementara itu, naskah novel yang ditulisnya selama 3 bulan, mendapat balasan surat dari Gramedia, naskahnya ditolak. Kemudian, ia tetap menulis, meski sempat ragu karena ditolaknya naskahnya adalah umpan empuk orangtuanya untuk menganggapnya terlalu sombong.

Bagaimana Akhirnya ?

Kehidupan Izza terus berlanjut hingga 8 bulan lamanya dan menyisakan waktu hanya beberapa bulan untuk meluluskan statusnya memperoleh ijazah SMP favorit.

Namun, dengan segala keterpaksaan menjalani sekolah, orangtuanya pun mulai merasa kasihan. Tiap hari wajah Izza murung dan tertekan layaknya orang sakit. Sering pula ibunya terpaksa membuatkan surat ijin ke sekolah. Sedangkan Izza seorang diri di rumah. Bahkan rela bersembunyi di bawah kolong tempat tidur demi menghindari neneknya yang sedang mengasuh cucunya (yang juga sepupunya) yang memiliki kunci tersendiri masuk ke rumah Izza. 




Ia hanya takut neneknya berteriak-teriak histeris bahwa cucunya tak sekolah.

Hingga ayahnya bersikap lemah lembut dan bijaksana pada akhirnya, Izza pun terperangah. Setelah berbulan-bulan ia tak pernah bertatapan mata secara langsung dengan ayahnya. Ayahnya pun berkata, "Sekarang, kami telah memberimu kebebasan untuk memilih. Kamu harus membaca buku-buku yang ayah minta. Kmau harus membagi waktumu antara belajar agama dan sastra. Pendeknya, ini adalah kurikulum yang ayah buat.".

Meski banyak teman-teman sekolah yang datang mampir karena penasaran apa gerangan yang membuat Izza berhari-hari tak masuk sekolah, termasuk bujukan guru BK dan Kepala Sekolah, toh pada akhirnya ayahnya lah yang mengantarkan surat pengunduran diri Izza dari sekolah.

Hm, membaca buku setebal 248 halaman ini, saya menjadi ternganga dan membayangkan kejadian itu langsung di depan mata. Buku ini merupakan refleksi yang sangat tepat untuk para orangtua yang (kadang) memaksakan otoritasnya pada anak demi mempertahankan harga diri di mata masyarakat. 

Kejadian yang terjadi pada Izza dapat menjadi pelajaran bagi semuanya bahwa tak ada yang salah dengan pilihan seseorang. Lebih baik memberikannya ruang daripada membiarkan kreativitas mati di tempat yang salah. Toh, saat ini banyak pula sekolah yang seasik bermain, seperti homeschooling yang lebih memfokuskan diri pada kecenderungan  multiple intelligence dominan yang dimiliki sang anak. Memaksa anak untuk mampu dan excellent di semua bidang studi adalah pola pikir yang hanya menjadikan anak sebagai bahan baku industri, bukan seorang intelektual yang akan mengubah lingkungannya :)

"Tujuan hidupku adalah belajar sepanjang hayat, bukan cuma sembilan tahun."
(M. Izza Ahsin) 




PS. Artikel ini merupakan collaborative blogging bersama Ina Tanaya, Mengejar Ketertinggalan Pendidikan.

 

Salam Dunia Gairah,


  
      
      

Prita Hw

13 komentar:

  1. Syndrome Izza adakah salah satu sekian banyak anak yg merasa terpenjara dg sistem kinvensional

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul bu, hanya ga semuanya pernah dipublish :) Smg jd pembelajaran ya

      Hapus
  2. Suka dengan quote ttg guru penghancur mental dan mempermalukan murid d depan umum. Masih harus banyak belajar lagi ttg ini. Saya masih sering seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang mungkin para guru itu ga sadar mas, dianggapnya biasa, tapi melekat di alam bawah sadar muridnya.

      Hapus
  3. Akhirnya izza mendapatkan kebebasannya untuk melakukan apa yg ia suka. Sangat sulit emang mbak ya memilih untuk ttp mengikuti kehendak hati apa ikut arus yg ada di lingkungan. Banyak yg masih memandang bahwa keberhasilan dalam pendidikan formal memberikan kebanggan dan nilai lebih serta mengesampingkan pendidikan informal yg padahal jelas sama" bsa jd sarana menggali potensi diri. Semoga makin banyak org tua yg bsa lbh bijaksana mendukung kemauan anak dan tdak memberikan paksaan untuk mengikuti apa yg ortu inginkan.

    Makassiih bangeet sharingnya mbaak prita :') sangat bermanfaaat. Jd pengen baca bukunyaaa. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes Lucky, semoga banyak ortu yg sadar ya bahwa anak juga punya pilihan, dan lbh baik saling mengakomodasi kemauan anak dan ortu. Nah, cari aja bukunya kali masi ada di diskonan buku2, hehe. Thanks udh mampir yaaa

      Hapus
  4. Duh, aku merinding bacanya. Ya, tidak semua anak enjoy sekolah. Apalagi ditambah guru yang seperti itu. Dan mungkin lingkungan, teman-teman yang gak menyenangkan. Alhamdulillah sih, anak-anakku mah pada suka sekolah. Walopun salah satu alasannya adalah karena bisa punya banyak temen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, aku juga merinding. Bayangin itu kejadian di depan mata. Sebenernya tergantung gimana sekolah membentuk lingkungan yg menyenangkan, ya guru, sistem, ya temen2 nya :) Alhamdulillah mbak, minimal anak2 seneng dulu yaaa

      Hapus
  5. Maxy salah satu yg gak enjoy di sekolah, aku malah kepikiran mau nyobain homeschooling utk tahun ajaran baru depan.
    Utk ke depannya aku belum tau akan lanjut HS ataukah sekolah formal. Kalau HS risikonya emaknya kudu konse bener soale hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga enjoynya knp, Pril? Tapi kl HS lbh bis abikin enjoy, mak nya mesti berkorban, hehe..Tapi enaknya, waktu dia ga habis di sekolah toh Pril :)

      Hapus
  6. wew, aku moco sekilas mbak
    marine mampir maneh yooo hehehe

    BalasHapus
  7. Sejatinya, saya juga kian mempertanyakan sistem pendidikan kita di negeri ini, setelah saya lulus kuliah. Bagaimana sih sekolah itu yang seharusnya? Saya berulang kali 'kalah' dan 'takluk' pada pengajar-pengajar yang textbook, kolot, tak mau menerima dunia perubahan di luar buku-buku teks. Gaya belajar-mengajar yang sebagian besar kurang berinovasi, tak membuat siswa nyaman, bahkan hanya ada ketakutan-ketakutan akan PR, takut disuruh maju ke depan mendadak mengerjakan soal sulit yang tak dikuasai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan emang ini semacam bom waktu ya, rasanya tiap zaman punya tantangan sendiri, sayangnya kl dari sistem, ga ada perubahan yg bearti yg lbh open mind menanggapi persoalan2 yg ada

      Hapus