Tatemo Jember dan Green School Bali untuk Aksi Lokal yang Lebih Baik



Tatemo dan Green School di Jember - Jember mulai bergeliat. Setidaknya ini yang saya rasakan saat tahu ada gelaran Tatemo yang berarti pertemuan dalam bahasa Madura, yang juga banyak digunakan sebagai bahasa alternatif di Jember.

Jujur, saya sempat bingung. Pasalnya, informasi tentang Tatemo saya ketahui dari seorang teman yang komunitasnya terlebih dulu ikut bergabung dalam ajang Tatemo ini. Ingin lebih jelas tentang Tatemo, barulah saya menawarkan panitia untuk on air dalam Literacy on Friday, program weekly yang saya jalankan berdua dengan suami di Pro 2 FM Jember.

Dari obrolan santai dalam studio itulah, saya baru ngeh apa yang dimaksud dengan Tatemo yang perdana diselenggarakan pada Jumat, 28 April 2017 yang lalu itu. 


via IG @atrisputri

“Jadi kalau ditanya Tatemo itu punya siapa, ya bukan punya siapa-siapa. Ini merupakan wadah bagi kita semua untuk saling berkoneksi, berkolaborasi, dan merayakan kebersamaan,” begitu ungkap Samsul Hadi dari Rumah Pintar Ambulu yang juga merupakan inisiator Tatemo bersama tiga komunitas lainnya, yaitu Kelas Inspirasi Jember, Sekolah Alam Raya, dan Pemuda Pemudi Condro.

Rupanya, Tatemo merupakan sebuah pertemuan yang mengundang seluruh komunitas hobi, komunitas kreatif, serta start up business (yang tak melulu di bidang teknologi rintisan, tapi usaha rintisan dalam bidang apapun) di Jember.

Alasan yang mendasarinya menurut Samsul Hadi, Nurdin, dan Atris yang saat itu hadir di studio, Jember dinilai punya potensi besar sebagai kota komunitas, namun sayangnya seringkali berjalan masing-masing tanpa ada ruang untuk berkolaborasi. Kendalanya, kadang banyak komunitas yang masih menyangsikan tendensi dibalik disatukannya mereka. Hm, menurut saya ini hal yang wajar sih ya :) Mungkin karena semangat komunitas yang memang mandiri dan kolektif.

Karenanya, lewat Tatemo, para inisiator berusaha membuktikan bahwa Tatemo murni adalah ruang berkumpul dan berkolaborasi tanpa tendensi. Sesuai dengan tagline yang diusungnya, connect, collaborate, dan celebrate.

Menghadiri Tatemo Jember


Tak hanya berhenti di ruang kaca berpendingin ruangan di kawasan Letjend Panjaitan saja, akhirnya saya dan suami juga berkesempatan hadir dalam gelaran akbar perdana yang melibatkan setidaknya 20-an komunitas lebih sore itu. Diantaranya Jember Aero Modelling, Pelangi Budaya, PEDAL, KPAI, Sudut Baca Bedadung, Jendela Jember, WIS, Peace Leader, Musik Pesisir Puger, Blogger Jember Sueger, GPAN, Komunitas Pecinta Reptil, Jeruk Semboro, Berbagi Happy, Kampoeng Batja, Komunitas Perupa Jember, UKM Kependudukan Unej, KohJe, dan sebagainya.



Komunitas yang hadir di Tatemo perdana. Via whats app dengan panitia penyelenggara

Bertempat di Rumah Pandhalungan, Waroeng Kembang Jember, sore itu saya bersama komunitas Blogger Jember Sueger juga semangat menyaksikan ajang kolaborasi yang aromanya bakalan seru ini.

Dan benar saja, dengan suasana alam terbuka, seluruh komunitas berkumpul di suatu tanah lapang di sisi gazebo-gazebo Waroeng Kembang, dan duduk di kursi kayu sederhana yang ditata apik. 



Bersama temen-temen Blogger Jember Sueger

Fresh. Itu kesan yang saya dapatkan.

Meriahnya lagi, masing-masing komunitas dipersilahkan untuk memperkenalkan diri atau memasarkan produk lokal yang menjadi andalannya. Seingat saya, ada Komunitas Hidroponik Jember (KohJe), Kampoeng Batja, UKM Kependudukan Unej, dan Jeruk Semboro yang kebagian slot agak panjang. Maklum, waktu juga terus diburu oleh senja yang sudah menanti kami semua. Senangnya, produk-produk lokal Jember yang ditata sedemikian rupa di sebuah meja kecil sore itu, juga bebas kami cicipi. Mulai dari kurma salak, jeruk Semboro, sampai keripik tempe Lumajang. Tak hanya enak di lidah, rasa bangga juga menyelimuti dada saat saya sendiri mencoba beberapa produk penganan lokal itu. 



Batik tulis Jember ternyata juga ada loh

Kurma salak, yang ini saya pernah baca liputannya di koran, hehe

Sabun sereh enak juga buat sabun mandi, saya udah pake nih di rumah :)

Semangat kesederhanaan yang melekat pada spirit komunitas juga terasa pada hidangan dan kudapan yang disajikan. Seperti teh, kopi, dan coklat hangat, serta berbagai macam palawija rebus. 


Ini suguhan khas yang mewakili spirit komunitas banget, sukakk :)

Bagi saya, warga asli Jember yang telah merantau 14 tahun terakhir, dan pulang kembali ke kampung halaman 5 bulan ini, Tatemo merupakan sepercik harapan dan ketetapan bahwa pilihan saya tak salah :) Saya merasa benar-benar kembali ke rumah.

Bio Bus dan Performance Ramayana Green School Bali Menutup Acara dan Menginspirasi Jember

Selepas adzan maghrib, acara ini masih terus berlanjut. Serunya, akan ada sesuatu yang tak biasa. Dibuka dengan penampilan egrang dari Tanoker, Ledokombo, Jember, suasana menjadi makin semarak.




Selanjutnya, kami semua berkenalan dengan sekitar 25-30 anak muda yang berasal dari Green School Bali, ditemani beberapa guru mereka. Sekolah berkonsep green life itu ternyata sedang melakukan roadshow ke Jawa Timur, diantaranya ke Surabaya, Probolinggo, Gunung Bromo, dan terakhir, berlabuh di Jember. Roadshow ini tentu bukan tanpa tujuan. Kali ini, mereka mensosialisasikan tentang bio bus, selain agenda untuk mengunjungi Sekolah Alam Raya yang memang sudah menjadi mitra Green School sejak lama.

Apa itu bio bus? 


Guru dan murid Green School Bali dengan latar bio bus sesaat setelah tiba di Waroeng Kembang

Bio bus merupakan proyek beberapa alumni Green School yang saat ini diteruskan oleh generasi selanjutnya. Uniknya, bus yang dipakai oleh seluruh warga sekolah ini memakai minyak bekas yang biasa kita sebut dengan minyak jelantah sebagai bahan bakarnya. Setiap minggunya, mereka berhasil mengumpulkan 225 liter minyak jelantah yang sebagian besar berasal dari restoran-restoran di Bali yang mendukung program ini. Dengan begitu, mereka berhasil mengurangi penggunaan 36 mobil per hari di Bali. Tak hanya itu, ternyata recycle dan reuse minyak jelantah ini juga berhasil menemukan bentuk barunya, yaitu sebagai body care seperti sabun yang wajib dipakai oleh seluruh warga belajar Green School. Wah! Lebih lengkap tentang proyek bio bus, silahkan berkunjung kesini.

Puluhan murid Green School yang berasal dari 4 benua yaitu Asia, Amerika, Eropa, dan Australia ini tak hanya membuat kagum dengan inovasi sosialnya yang sudah dirintis sejak 2015 itu, tapi juga menyuguhkan performance yang membuat penonton tak beranjak dari tempat duduk meski malam semakin larut. 




Sekitar 1,5 jam dan berakhir pada pukul 9 malam, sekolah yang setingkat dengan level SMP dan SMA serta bertempat di Badung, Bali ini menampilkan cerita Ramayana yang dikemas dengan gaya modern. Meski tanpa microphone, background yang memuat latar gambar untuk menguatkan cerita, juga tata musik, tata lampu, serta kostum yang dibuat sendiri oleh mereka, berhasil menyedot perhatian penonton hingga memotret dan memvideokan penampilan Ramayana ini berkali-kali. 

Dengan mix Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia sebagai narasi, cerita Ramayana yang kemudian diakhiri dengan menghilangnya jasad Ramayana di sebuah sungai ini dapat ditangkap dengan jelas selain membuat perasaan penonton hanyut dalam cerita.




Saya sendiri membatin dalam hati, dahsyat amat ini sekolah, menampilkan semua ini menjadi bagian dari pelajaran di sekolah. Dan pada saat yang sama, saya jadi miris mengingat pembelajaran di sekolah negeri ini yang jauh dari kreativitas.

Penasaran dengan dibalik layar performance menakjubkan tadi, di akhir acara, saya sempat berbincang dengan pemeran Rama yang saya ketahui bernama Jason dan seorang temannya yang saya lupa namanya. Saat ditanya kenapa mementaskan lakon Ramayana sebagai pilihan, ia menjawab bahwa salah satu gurunya seorang Hindunese yang sangat menyukai legenda Ramayana. Dengan sedikit modifikasi olehnya dan teman-temannya, ia pun menyulap cerita Ramayana menjadi lebih populer.

"How about costumes and all about funding?," tanya saya penasaran tentang kostum-kostum apiknya yang saya duga menyewa dan juga pendanaan keseluruhan acara.

"Costumes are made by ourselves. And all about funding come from our school.", jawabnya tegas.

Wah, kostum segambreng yang hebring-hebring itu ternyata bikin sendiri! Salut! Dan, mereka hanya perlu untuk memikirkan konsep karena seluruh sumber dana sudah berasal dari sekolah. Tak heran mengapa dialog yang mereka mainkan seakan-akan hafal diluar kepala, ternyata di tiap tempat yang mereka singgahi, mereka memang membawakan performance Ramayana ini. Wow, pantesan ya. Salut juga untuk energinya.
Menurut Jason, dirinya melabuhkan pilihan untuk bersekolah di Green School karena isu lingkungan menjadi isu yang sangat penting untuk masa depannya dan ia harus ikut ambil bagian. Ini jawaban saat saya bertanya kenapa jauh-jauh dari Australia ia memilih bersekolah di Green School Bali.
Hm, rupanya saya sepakat dengan pernyataan Riyadi Ariyanto, penggagas Sekolah Alam Raya yang diminta memberikan welcome speech di awal performance Green School Bali ini, "Your school very amazing, guys. And you are the future...", ungkapnya.
Kehadiran Tatemo dan kunjungan Green School Bali ini memberikan sebuah tugas rumah untuk semua hadirin yang rata-rata berasal dari komunitas di Jember. Sudahkah aksi lokal yang kita lakukan membawa perubahan yang lebih baik untuk Jember sendiri?


Sumber foto :
Jepretan temen2 Blogger Jember Sueger 
kecuali yang sudah tercantum sumbernya



Salam Dunia Gairah,
 

Prita Hw

9 komentar:

  1. Ide Tatemo ini bagus nih, menyatukan seluruh komunitas yang ada di Jember. Seperti kata pepatah bersatu kita kuat dan bercerai kita runtuh. Ada banyak yang bisa dihasilkan oleh sebuah kolaborasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya mbak, pepatah jadul tapi ngena yah! Doakan banyak impact positif dari Tatemo ini yah mbak :)

      Hapus
  2. Keren, terus berkarya teman-teman Blogger Jember. Makasih kerjasama samanya next event TATEMO POLE ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasihhh kak, sampe tatemo poleh yahhh, hehe

      Hapus
  3. Masih gabisa Move On mbak, kapan ya ada acara itu lagi ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mei ini ada, Sol. Tgl 25 Mei ga asalah :)

      Hapus
  4. Ngiri sama Jember yang hidup banget kotanya oleh berbagai komunitas dan kegiatan keren. Mungkin karena punya kampus-kampus oke kali ya, jadi ambience-nya kuat buat berjejaring. Lamongan mah sepi, panas pula haha. #sedih
    Komunitas bisa ngumpul jadi makin sinergis kan, saling mengenal, saling memperkuat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi Lamongan deket dengan Sby loh mas, dan potensi wisatanya yg cukup terkenal juga kan belakangan terakhir ini *eh bbrp tahun lalu ding . Coba bentuk komunitas blogger disana aja mas :)

      Hapus
  5. Wuih kreatif banget acaranya, unik, nambah jaringan pulak yaaa...

    BalasHapus