4 Hal Ini Adalah Pusat Gravitasi yang Terus Menarik Saya dalam Pusaran Energi Tiada Batas





Mendengar gravitasi, ingatan saya langsung tertarik ke belakang saat saya duduk di tingkat sekolah dasar. Paling sederhananya, sebuah benda jatuh ke bumi terjadi karena adanya gaya gravitasi. Pun seperti apa yang dipikirkan Jacques Cousteau, seorang penyelam legendaris asal Prancis, karena diciptakan untuk menempati bumi, manusia sejatinya sudah membawa tanggung jawab sejak dari lahir. Membawa beban gravitasi di pundaknya.

Wow. Ini berarti manusia adalah makhluk yang sangat mulia. Hanya kitalah yang diberikan Tuhan pilihan-pilihan hidup untuk menentukan yang terbaik. Tentu dengan petunjuk Nya. Tak terkecuali pilihan untuk menjadi biasa atau luar biasa. Hidup cuma sekali, teman! Ketika usia sudah ditakdirkan, tak ada yang bisa membawa kita kembali ke pusaran waktu yang bisa kita ciptakan saat ini. Dasar inilah yang sering saya sebut sebagai hidup kita sejatinya sedang menunggu. Sudahkah bermanfaat? 



Saya sadar sekali tentang limit waktu yang kita punya, alasan ini membuat saya juga harus menentukan pilihan mengisinya dengan aktivitas seperti apa. Apakah kita mampu menjadi pusaran gravitasi yang memang memiliki energi besar untuk menarik orang lain menjadi terinspirasi, atau tidak. 

Ingat, gravitasi bukan saja soal melakukan profesi yang kita jalani dengan tulus, lebih jauh dari itu, benarkah 'kemewahan' yang kita punya itu bermanfaat bagi orang lain, dan kita tulus membagikan rahasia terdalam dari semua kesuksesan itu. Ataukah itu hanya sebagai pemuas hasrat kita belaka.
Lalu, apa pilihan yang bisa kita lakukan? Memilihlah untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, tidak saja bagi diri sendiri dan keluarga tercinta tapi bagi semesta. Bukankah sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain?



Empat hal ini sukses membuat hati saya terdobrak, seolah olah ditarik ke alam imajiner yang tak bisa dilukiskan. Ia hanya bisa dirasakan semacam ‘tarikan’ kuat yang terus memanggil jiwa ini.




Entah direncanakan atau tidak. Saya menulis awalnya jujur karena ‘dipaksa’ oleh eyang putri yang terus menggelorakan semangat mengarang rangkaian kata-kata. Saya masih ingat betul imajinasi yang terus dirawat lewat bacaan seperti Majalah Bobo, Asterix & Obelix, Deni Manusia Ikan, dongeng-dongeng eyang putri sebelum tidur, sampai kecintaan saya menulis catatan harian ala anak-anak.



Bagi saya menulis itu menyembuhkan. Sebuah terapi mengekspresikan diri.

Dan, bisa jadi apa yang saya lakukan sejak kecil, menjadi akumulasi saya saat ini. Hampir setiap bulan saat saya duduk di bangku SMP dan SMA, saya terus berkompetisi. Semuanya otodidak. Buat saya, mengikuti kompetisi adalah ajang mengasah skill. Hingga saat itu saya masih ingat, ada sebuah ajang meraih cita-cita bersama sebuah produk hand body lotion dan sebuah majalah remaja cewek. Saya dengan gamblang mentahbiskan cita-cita sebagai seorang penulis di usia 17 tahun. Hasilnya, saat itu saya masuk 80 semi finalis se-Indonesia. Rasanya, senang bukan mainnnnnn!

Yang paling berkesan juga, saat SMA, saya dan kawan-kawan di OSIS menggagas majalah sekolah perdana yang mempercayakan saya sebagai pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksinya. Semua mengalir begitu saja, sampai saya diterima di jurusan asing "Ilmu Informasi dan Perpustakaan". Dari sanalah, awalnya saya memulai menulis ke ranah yang lebih serius yaitu di jurnal perpustakaan universitas dan sempat juga di jurnal perpustakaan daerah, serta perpustakaan nasional.
Menyusul menulis kolom opini di surat kabar, hingga menekuni dunia kepenulisan freelance dan menerbitkan buku. Hingga pilihan saya kini berlabuh pada menjadi seorang fulltime blogger. 






Memang lewat tulisan kita berbicara. Saya meyakini tulisan lebih tajam daripada pedang. Saya juga meyakini akan banyak pembaca yang merasa terinspirasi dengan apa yang kita sampaikan. Selama, tulisan kita memang dimaksudkan untuk hal-hal yang positif :)

Tapi, bila secara nyata, kita mulai menyapa pembaca buku atau blog kita, penikmat apa yang sering kita bagikan di media sosial lewat konten-konten yang bermanfaat, gravitasi yang kita ciptakan akan dirasakan dua kali lipat. I said, lebih berenergi!

Ini saya rasakan betul setiap selesai mengisi sesi-sesi diskusi di forum formal, informal, ataupun undangan seminar maupun workshop. Percayalah, kalau sekarang prinsip talk less do more tak lagi bekerja dengan baik. Talk more do more bekerja jauh lebih baik.



Berbagi adalah berbicara dua kali. Menulis dua kali. Kita bisa secara langsung menjawab kegelisahan audience, mendengarkan keluhan mereka, dan membantu mereka menciptakan inovasinya sendiri. Saya sangat terkesan saat pasca sharing ada saja yang mengajak berdiskusi, menghubungi saya lewat chat pribadi, berkonsultasi, hingga berlanjut merajut jaringan pertemanan silaturrahim yang abadi. Di titik ini, saya meyakini, rezeki berlimpah juga berasal dari pertemanan yang tulus.

Seperti saat saya menerima curhatan seorang remaja yang masih SMA setelah berbagi tentang proses dibalik saya menulis buku terbaru di tahun 2016 yang lalu. 



Juga saat saya bisa memenuhi permintaan seorang ibu pengelola TPQ untuk memberikan motivasi anak-anak didiknya agar semangat untuk berprestasi, atau saat ibu yang sama meminta saya memberikan semacam insight yang berbeda di acara ice breaking kelompok kajiannya. Dan lagi-lagi, ibu yang sama, meminta saya berbagi tentang pengalaman berjibaku dengan anak-anak di perpustakaan komunitas tentang menemukan bakat terbaik mereka.




Saya memang sangat bahagia saat menyaksikan perkembangan pribadi seseorang dari minder menjadi percaya diri, dari pemalu menjadi pemberani, dari ke-tidak bisa-an menjadi bisa, dari kurang berdaya menjadi berdaya. Ada semacam kebahagiaan tersendiri saat melihat orang lain bahagia. Untuk kebahagiaan semacam ini, saya percaya akan mendapatkan sesuatu yang lebih, insyaallah. 

Termasuk saat kini saya memutuskan hijrah ke Jember, kampung halaman yang telah saya tinggalkan 14 tahun lamanya untuk merantau dan meninggalkan jejak di kota-kota orang. Saya ingin sekali membagikan pengalaman ngeblog saya selama di ibu kota dan seputaran Jabodetabek. 

Saya ingin menyampaikan pesan, menjadi blogger daerah juga bisa berdaya asal kita mau berupaya dan tidak under estimate pada diri sendiri dan daerah yang kita tinggali. Berbekal pengalaman berinteraksi dengan komunitas-komunitas blogger di ibu kota dan pengalaman saya berorganisasi, saya mengumpulkan teman-teman blogger di Jember untuk berkumpul dalam satu wadah.



Takjub juga saat menyimak beberapa penuturan bahwa kopdar adalah impian terbesar dan bahkan impian terlama mereka sebagai blogger. See? Apa yang menurut kita sesuatu yang biasa, boleh jadi menjadi luar biasa bagi orang lain.




Maka, saya sering menyebut berbagi juga proses bertambahnya pengetahuan. Karena sejatinya yang menjadi narasumber bukanlah saya, tapi semua peserta yang hadir. 





Saya salah satu penggila buku, ya memang benar adanya. Tapi, mencintai sekaligus dan menekuni ilmunya secara khusus, buat saya merupakan satu proses hidup yang saya syukuri.

Daripada bekerja di sebuah institusi formal, jujur saja saya lebih nyaman bekerja secara independen sebagai seorang relawan yang terjun di sebuah komunitas. Ilmu yang sebenarnya sederhana tapi dianggap cukup rumit itu memang ingin saya bagikan cuma-cuma untuk komunitas. Supaya lebih banyak orang bisa memiliki perpustakaan pribadi yang kemudian diperuntukkan bagi masyarakat di sekitarnya.

Saya gelisah dengan ‘doktrin’ minat baca yang rendah yang saya terima di bangku kuliah. Maka, saya pun melakukan sesuatu dengan mengumpulkan para pelaku literasi sebagai pengelola perpustakaan independen dan relawan lepas, bernama Insan Baca sejak 2007-2012, sebelum kemudian saya meninggalkan Surabaya. Di tahun 2010-2011 saya dan kawan-kawan dipercaya mengelola Taman Baca Masyarakat (TBM) di sebuah mall di Surabaya. Paralel dengan mendirikan Pondok Baca Bocah di tahun 2008-2012 di sebuah rumah susun yang saya tinggali.





Hingga, entah dinominasikan siapa, di tahun 2012 juga, saya mendapat kejutan sebagai salah satu pembaharu sosial versi Dinas Sosial Surabaya dan Forum Lintas Pembaharu bersama Insan Baca. 




Buat saya, ini amanah yang mengisyaratkan saya memang harus mengawal jalan yang sudah saya pilih. Maka saat saya di Semarang, saya sempat bergabung dengan Komunitas 1000 guru dan Pendaki Gunung Indonesia dengan menjadi relawan pengajar bagi adek-adek kecil di lereng gunung. Di Balikpapan, saya juga sempat mengikuti Malam Puisi Balikpapan dan menyumbangkan sebuah puisi. Meski keduanya sebenarnya adalah hiburan dari rutinitas kerja saat itu.

Ketika saya kembali powerfull sebagai freelancer di Bekasi, saya sempat dipercaya juga mengawal Rumah Baca HOS Tjokroaminoto, dan akhirnya hijrah ke Jember. Kampoeng Batja menjadi sebuah tempat yang saya pilih juga untuk terjun sebagai salah satu partner berkegiatan. Dan begitulah, perpustakaan dan literasi adalah nafas bagi saya.




  
Setelah melakukan hal-hal ‘aneh’ saat kecil, seperti membuat cerpen sendiri, membuat boneka Jepang dari kertas, membuat pembatas buku, yang semuanya kemudian dijual ke teman-teman, saya juga sempat membuka persewaan majalah anak-anak saat kelas 6 SD, membuka jasa pengetikan dan translate saat kuliah, dan sempat ikut MLM pula :)

Now, setelah bekerja 5 tahunan di bidang advertising dan ranahnya marketing, takdir juga membawa saya merintis usaha bersama suami yang kebetulan punya skill mendesain dan menjahit. Klop. Lapak The Jannah akhirnya lahir. Begitu juga lembaga rintisan knowledge center yang saya bangun bernama The Jannah Institute.


Tentu selain mengelola blog secara (berusaha) profesional di Dunia Gairah dan Traveling Jember Yuk bersama suami. Saya yang memikirkan konsep dan menulis, suami yang mendesain, memotret, dan urusan teknis lainnya. Banyak temen-temen saya berkomentar, “kamu kompak banget ya sama suami… kok bisa ya…” Jawaban saya, “ya alhamdulillah, semua sudah disiapkan dari sananya…”. Meski dibalik itu banyak perdebatan juga soal ide, haha..

Hm, lalu apa tipsnya untuk menjaga irama pusaran energi hingga menjadi pusat gravitasi ?
Tipsnya hanya satu : jadilah pribadi yang tahan banting, selalu berinovasi, memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk menciptakan perbedaan, dan karenanya ia menarik perhatian banyak orang. Lakukan dengan konsisten, dari hal kecil yang kita bisa. Ingat, a big steps start with 1 inch, isn't it?





Salam Dunia Gairah,

     
PS. Postingan ini mengalami perubahan dengan dihapusnya review positif tentang smartphone Luna yang saat itu menjadi salah satu syarat blogging competition yang diselenggarakan Luna Indonesia dengan C2Live. Karena adanya kecurangan-kecurangan dan masukan serta keluhan yang tidak mengubah apa-apa, maka saya memutuskan menghapus review positif tersebut sebagai bentuk ketidak berpihakan pada syarat dan ketentuan lomba yang dicederai dalam memutuskan pemenang, terutama juara 1 dan 2. - Jember, 4 Mei 2017.

Kronologi bisa dilihat di :

Fanpage C2Live  

Timeline Facebook saya 

Prita Hw

45 komentar:

  1. Alhamdulillah, semoga lancar, dan bisa terus berbagi ya mbakk, sukses terus

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya Faisol, kamu pun juga ya

      Hapus
  2. Semangat berbagi mbak pritaaaaa. Keep writing and sharing ya!

    BalasHapus
  3. Semoga menang Mbak Prita dan semoga bisa semakin menarik banyak orang dan memberikan manfaat ke orang-orang tersebut. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin amin mas, makasih supportnya

      Hapus
  4. Penutup yang 'nendang' banget
    Tak butuh usaha ekstra untuk menampilkan diri, karena menjadi pribadi seperti Luna sudah menunjukkan 'kelas' kita.
    give applause bua Mbak PRitaa,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. give applause buat Rohmah yang udah 'nendang' balik, wkwkwk

      Hapus
  5. Suka sekali dengan fitur kamera dari Luna ini karena katanya setara iPhone 6. Saya jadi penasaran :)

    BalasHapus
  6. percaya diri "we can do it" bagian menciptakan gravitasi :)

    BalasHapus
  7. Senang bisa mengenal Mba Prita.
    Love youuu

    BalasHapus
  8. sangat menginspirasi ini. semoga menang ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas. Nothing to loose aja mas :)

      Hapus
  9. Catatan yang keren, sekeren Luna yang penuh gravitasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga udah baca tulisanmu mas, kisahnya keren juga :) Tetap semangat!

      Hapus
  10. wuizzz...mbak Prita emang keren, ya prestasinya ya kegiatannya. senang bisa kenal mbak deh. semoga makin berjaya dan penuh berkah mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mak Di. me too mbak, seneng kecemplung grup WA barengan emak2 yg haus belajar :) amin amin doanya, u too mak :*

      Hapus
  11. Mbaak pritaaa kereeen bangeeet. Sukaa banget sama tulisannya mbak. Terus berkaryaa dan berbagii biar gravitasi ke lingkungan sekitaar makin kuaat yaa mbaak. Salaam kenal mbak pritaa 😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Lucky, aku juga udah baca loh tulisanmu, ciamik jugaaa. Amien mbak, semangat berkarya dan berbagi yak

      Hapus
  12. mbak, aku wes komen iki
    ndang komen pisan nang blogku
    >.<

    BalasHapus
  13. Terus bergiat di dunia literasi ya kak, sukses jg utk usahanya yg dibangun sm suami, emang luna ini bikin kita makin kuat jd gravitasi :) mampir jg yu k blog saya, ikutan #bethegravity jg hehr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku udah mampir mbak :) Dua kali, yg pertama ternyata blm berhasil komen, haha..aminnn, semangat berkarya jg bareng keluarga ya^^

      Hapus
  14. Mbak, fotoku yang di blogger jember kok pake foto yang gendut sih mbak? gak ada foto lain apah? stoknya banyak kok

    BalasHapus
  15. Aku beum pernah melihat fisik HP Luna ini jd penasaran kok katamu tipis :D
    Kapan2 kalau lewat counter hp mau pegang2 ah hehehe
    sukses lombanya ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, tipisnya itu bikin penasaran juga pengen megang langsung, kl bisa dibawa pulang, hahaha. Sip sip, suwun^^

      Hapus
  16. Wuih Mba keren banget udah mejeng dimana-mana, gudlak ya^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, majang di lokal2an mbak :) makasih mb Sandra

      Hapus
  17. gak nyangka mbak prita pernah tampil di media cetak. keren mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebetulan mas, haha, udah jadul pula yak

      Hapus
  18. Menulis dan kamu itu memang udah melekat jadi satu mbak...mau lari kemana juga akhirnya nemunya kamu lagi. Semangat kakak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, muter2 kayak labirin ya mbak. Yuhu, semangat juga nulis n bisnisnya ya!

      Hapus
  19. mbak Prita ini kecil-kecil pedes, eh cabe rawit dong. Semoga menang yaa. Powerful banget urusan lomba dan nulis menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. mb Helena Mantra yg namanya selalu kuinget *tutup muka* amin amin, semangat powerfull mb, baterenya charge terus, wkwk

      Hapus
  20. Maju terus, Nong ku. Insyaallah sama2 kita :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeyeyey, aa makasihhhhhhhhh :*

      Hapus
  21. Keren mbak tulisannya, harusnya juara ini, tapi sayangnya gak tau maunya juri milih yang itu..tuh, bikin banyak yang kecewa. Salam kenal mbak, sukses selalu.

    BalasHapus
  22. Dan kayaknya lebih bagus gini mbk,,, tulisan yang menginspirasi (titik) tanpa ada embel2 ulasan product (yang mengecewakan pada akhirnya)

    BalasHapus
  23. Menulis adalah takdir atau pilihan ? :D
    aku selalu merasa takdir dan pilihan itu beda...

    BalasHapus