Sabtu, 01 April 2017

Aku dan Buku Adalah Aku dan Pilihan Hidupku

Litracy on Friday Pro 2 Jember


Aku dan Buku - Buku buat sebagian orang mungkin semacam pengganti kekasih, andai bisa. Keintiman seseorang dengan buku boleh jadi membawa pengaruh yang luar biasa bagi perkembangan pribadi maupun hidup seseorang.

Sebegitunya ya?

Padahal buku sejatinya mungkin memang benda mati, hanya sebendel kertas yang dicetak tinta hitam atau dengan varian warna, dibubuhi sedikit ilustrasi. Dan diberikan sampul yang menarik.

Tapi jangan salah, ternyata dampak buku memang demikian besar. Karena kata-kata di dalamnya lah yang terus menyala dalam laku dan pikir seseorang. Kata-kata yang merupakan buah pemikiran atau buah hati ideologis dari sang penulis.

Dari bacaan, seseorang bisa sangat tergila-gila terhadap buku. Alam pikirannya liar, bebas, dan tak dibatasi pakem-pakem mainstream. Tapi, ia tetaplah santun sesuai dengan upayanya mereproduksi bahan bacaan sebagai bekal menjalani hidupnya.

Keintiman dan kegilaan semacam ini yang saya temui pada sosok-sosok muda pegiat literasi di Jember saat mengawali Literacy on Friday di RRI Pro 2 Jember, 89,5 FM.


Literacy on Friday Aku dan Buku


Slot khusus selama satu jam yang dimulai sejak jam 8 hingga jam 9 pagi ini, memang dimasudkan sebagai program mingguan dalam Pro 2 Morning Show yang mendaulat saya dan suami sebagai host nya. Katanya, supaya lebih berwarna.

Hm, meski saya bukan pertama kalinya on air di radio, menjadi host sendiri di sebuah program khusus menjadi pengalaman pertama saya. Deg-degan juga melanda lah ya :)

Untungnya, di Literacy on Friday yang pertama, Jumat, 17 Maret 2017 lalu dan mengundang nara sumber ini, suasana bisa seasik ngobrol di warung kopi. Bedanya, tempatnya berkaca, berpendingin ruangan, ditemani seperangkat alat audio, dan segelas air mineral di depan kami. Nara sumber yang saya dan suami undang adalah Fitri Hamasah dan M. Sahlul Ulum.

Fitri Hamasah
Fitri, gadis asal Tulungagung yang saat ini lagi berjibaku dengan skripsinya di Fakultas Pertanian Universitas Jember ini, mengaku jatuh cinta dengan buku saat duduk di bangku SD kelas 4. Saat itu, ia mengaku senang sekali ada sudut baca di kelasnya, dan rajinlah membaca segala sesuatunya. Tapi saat ditanya, bacaan apa yang paling diingatnya pertama kali, jawabannya mengejutkan. Buku pelajaran Bahasa Indonesia yang berisi karya fiksi semacam puisi atau cerpen. Langka!   

M. Sahlul Ulum


Lain lagi dengan Sahlul, mahasiswa Teknologi Pertanian Universitas Jember yang juga relawan Kampoeng Batja ini. Ia mengaku baru menyukai buku pertama kali saat kelas 3 SMA di kota asalnya, Gresik. Dan itu dipicu oleh sebuah karya fenomenal Andrea Hirata yang sangat populer, Laskar Pelangi. 

Amazing nya, Gea Deborah, penyiar RRI Pro 2 Jember yang ada dibalik layar dan selalu rajin nemenin kita di Jumat pagi, juga ikutan nimbrung tentang Laskar Pelangi ini.

“Aku juga bisa kuliah gara-gara Laskar Pelangi loh… Waktu itu, ga tau gimana caranya, dengan keterbatasan biaya, yang penting aku bisa kuliah. Aku ikut semua tes, sampai yang terakhir, baru aku diterima di Fakultas Sastra Unej. Beneran loh…”, katanya antusias pada kami semua.

Yap, saya percaya kalau buku itu menggerakkan.

Sama dengan cerita saya saat pertama kali jatuh cinta dengan bacaan. Saya takjub saat melihat eyang putri tidak langsung membuang bungkus tempe atau cabe yang dibeli dari warung, melainkan dibacanya dulu. Saat itu, saya masih ingat, ada artikel tentang daun pegagan di sebuah lembaran koran lusuh. Karena membaca khasiatnya, keesokan paginya, eyang putri pun benar-benar mencari, merebus daun pegagan, dan meminumnya. Wah, saya yang masih kelas 4 SD saat itu terperangah, sedemikian dahsyat ya efek informasi :)

Asiknya ngobrolin buku
Asiknya ngobrolin buku, sampe muka say aketutupan microphone, haha. Mbak Gea yang baju pink tuh :)

Lain lagi dengan suami saya, si Aa Nana Warsita. Ia melihat kakak sulungnya yang rela berjam-jam di perpustakaan atau curi-curi waktu untuk membaca di toko buku. Karena penasaran, ia pun bertanya. Sejak itu, kakaknya rajin “memaksanya” membaca judul buku dan sinopsis yang ada di cover buku. Sesederhana itu, tapi membuat rasa ingin tahunya menjadi makin besar dari hari ke hari.

Apa Buku-buku yang Paling Berpengaruh dalam Hidupmu?

Setelah asik ngobrol ngalor ngidul diselingi beberapa lagu hits, tak lengkap rasanya kalau tak bertanya tentang buku-buku yang paling berpengaruh dalam hidup. Artinya, sedikit banyak, apa yang tertulis di buku itu membantu kita menapaki masa demi masa dan terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang lain lagi.

Saat ditanya apa 5 buku saja yang berpengaruh pada kehidupan Fitri yang bernama asli Nur Fitriani ini? Dengan bersemangat, aktivis pers Kampus Tegalboto ini menjawab,

Room to Read
via bukabuku.com

"Kalau saya, buku-buku berpengaruh itu seperti : 1) Room to Read, John Wood, 2) Novel O, 3) Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer, 4) Laskar Pelangi, Andrea Hirata, 5) Perahu Kertas, Dee. Nah, yang buku Room to Read itu memberikan inspirasi kalau nanti suatu saat saya juga harus punya sebuah ruang baca yang dibuka untuk umum.”, begitu penuturannya. Tak heran, meski bergelut di keilmuan pertanian, Fitri juga aktif di dunia literasi, hingga saat ini telah menerbitkan satu novel berjudul Merpati dengan Sejuta Mimpi.

Sahlul juga tak kalah antusias. Bahkan masing-masing dari mereka juga membawa serta buku favoritnya ke ruang siar pagi itu, hehe.. Buku-buku pilihan Sahlul ini cukup mencengangkan saya, suami, dan juga Fitri. Beberapa terdiri dari buku terjemahan yang jarang diminati umum, dan pembahasannya lumayan berbobot kalau tidak mau dikatakan berat :) Kok bisa heran? Haha, ini mengingat pembawaan Sahlul yang cenderung lugas dan apa adanya, jauh dari kesan filosofis seperti bacaan-bacaannya. Salut!

Revolusi Sebatang Jerami
via pendidikanrumah.com
 
Buku-buku yang ada dalam pilihan Sahlul adalah 1) Laskar Pelangi, Andrea Hirata, 2) Muhammad, Martin Lings, 3) Revolusi Sebatang Jerami, Masanobu Fukuoka, 4) Omnivor's Dilema, Michael Pollan, 5) Steal Like An Artist, Alexis Klein.    

Buku ketiga adalah buku yang sedang dibacanya sekarang dan sedang diterapkannya dalam keseharian. Pesannya,mengetahui masa tanam dan masa panen dengan mengenal musim ternyata penting untuk memaknai makanan. Amanat Rasulullah untuk berhenti sebelum kenyang dan makan ketika lapar juga benar adanya ketika dibuktikan secara ilmiah. Menurutnya, pola hidup seperti ini yang sedang ia pelajari untuk diterapkan pada dirinya sendiri. Keren, kan?

Kalau saya dan suami? Ga mau ketinggalan banget yak? Maklumlah host, karena jarang yang bertanya, kami ikhlas kok woro-woro sendiri, haha..

Ini buku-buku yang berpengaruh dalam hidup saya, selain Majalah Bobo, dan juga Mengubah Dunia, kisah-kisah para oembaharu sosial di berbagai penjuru dunia, saya lupa pengarangnya :)

Aku dan Buku #3 Prita Hw
Itu buku-buku yang berpengaruh dalam hidup saya saat diwawancarai mendadak di Radio Buku Jogjakarta dan kemudian dibukukan dengan judul, Aku dan Buku #3 : Yang Menulis, Yang Mencintai Buku, Ageng Indra dkk, Iboekoe, 2017

Saya meyakini, apa yang menjadi pilihan jalan hidup saya sebagai seorang pegiat literasi yang sangat cinta dengan social movement berbasis masyarakat sedikit banyak juga berasal dari buku-buku itu.

Bagaimana dengan si Aa Nana? Bisa ditebak, semangat Yes Man yang berasal dari sebuah film yang dibintangi Jim Carrey, juga pilihan passion nya di bidang fotografi, juga dipengaruhi buku-buku favoritnya seperti : 1) Anda adalah Apa yang Anda Pikirkan,  Doug Hooper, 2) Jepret! : Panduan Fotografi dengan Kamera Digital dan DSLR, Yulius Widi Nugroho, 3) Deep Thinking, Harun Yahya,  4) Andaikan Buku itu Sepotong Pizza, Hernowo, 5) Mind Mapping,Tony Buzan.

Andaikan Buku itu Sepotong Pizza
via mizanstore.com

Ah, pagi itu rasanya buku-buku yang kami perbincangkan seakan-akan menari-nari memenuhi ruangan siar yang dingin, tidak saja dalam imajinasi kami masing-masing. Buku itu tidak saja menggerakkan, tapi juga menghidupkan. Ia tak hanya memenuhi rasa ingin tahu, melengkapi imajinasi, tapi juga membuat pembacanya berdaya. Tak ada kami yang sekarang andai kami tak membaca buku-buku.  


Literacy on Friday
Tak ada kami yang sekarang andai kami tak membaca buku-buku

17 komentar:

  1. hmmm... dulu aku gak dicekcoki banyak buku sih mbak, maksudnya buku bacaan. cuma dibelikan buku pelajaran ajaaa, bukan buku informasi. Kalau pas masih kecil banget ya pasti pernah laaah, buku tentang dinosaurus. Tapi mulai sd kelas 3 udah jarang banget dibelikan buku bacaan.

    jadinya... pinjem deh..
    kelas 6 sd itu lagi favorit2nya baca buku karya Fahri Asiza, yang judulnya cuma satu kata, kayak Bara, Bom, Dia
    novel tersebut, mesti saya nantikan kisah cintanya, tapi gak muncul2, hahaha
    lebih ke penanaman nilai2 moral siiih yang dibungkus dalam bentuk cerita yang enak dah pokoknya
    hahaha

    sayangnya saya cuma pinjem, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku yang penting informasinya nyanthol sih, Ros, hehe.. AKu juga dulu minjem2 gitu di perpustakaan, sama persewaan majalah. Sama juga, ga dicekoki banget, tapi maksain dicekoki, wkwkwk..

      Hapus
  2. terimakasih mba Prita, dan sekarang mba prita sudah ketambahan mas nana dalam hidupnya, jadi ''Aku, Buku dan Kamu''
    hihihi

    BalasHapus
  3. Apa Buku-buku yang Paling Berpengaruh dalam Hidupmu? kalo sekarang buku rekening nih mbak hehehehe.
    Pada akhirnya buku yang bagus adalah teman diskusi yang paling mengasikkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. buku rekening bs ditambahkan kayaknya ya, hahaha

      Hapus
  4. Waktu sekolah aku suka banget beli dan baca buku sampai diprotes ibuku. Katanya kok habis-habisin duit, beli buku melulu. Dulu fasilitas perpus ga sebagus sekarang jadi ya harus beli. *alasan
    Sekarang bukuku seputar buku anak semua, nemenin Sid baca.
    Btw, mbak kok di Jember sih???

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya kl dulu, buku adl kemewahan mbak ya. Tapi sekarang masi sih ya, bagi anak2 yg aksesnya kurang :( Asik kan mbak, jadi 'balas dendam' masa lalu sambil nemenin Sid, hehe.

      Iya nih, pulkam, ceritanya mau berkarya buat kampung *uhuk

      Hapus
  5. aku baru punya buku sendiri pas lulus SMA, zaman sekolah selalu beli buku pelajaran

    BalasHapus
  6. Orang tua adalah teladan yang baik untuk anak-anaknya. Kedua orang tua saya juga suka baca, mereka ga pernah nyuruh secara langsung dengan kata2 pd anak-anaknya harus rajin membaca tapi memberi contoh. Waktu kecil juga suka majalah bobo. Ibu saya yang seorang guru TK selalu membawa majalah bobo dari sekolahnya (majalah edisi lama, yang sudah digudangkan) atau kalau lagi ada uang dibelikan majalah bobo edisi baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah bagus dan efektif emang mbak kl langsung kasih contoh :) Pantesan mbak Nunu jd gila buku jg sampe sekarang kan :)

      Hapus
  7. Pingin jadi penulis, tp gk pernah telaten :3

    BalasHapus
  8. aku suka baca buku. tapi skr kok yaa susah banget bagi waktu buat baca buku. kebanyakan riweuh sendiri di dapur, hihihi

    BalasHapus
  9. Kadang buku yg difilmkan itu tak seseru dibandingkan membaca langsung bukunya. Imajinasi yg terangkai setiap membaca kata demi kata di buku itu memberikan keasyikan tersendiri ya Mbak Prita.

    BalasHapus
  10. Sekarang susah baca buku, jdnya bukuku numpuk bnyk yg blm kebuka plastiknya :(
    Moga bisa disiplin lg baca buku sampai tuntas

    BalasHapus
  11. Sekarang bacaanku ga jauh-jauh dari buku anak, hihi. Tau dirilah ya, punya balita 2, mau ga mau kudu pegel bacaainnya, sampe ga sempet baca buku yg udah ku beli, huhu...

    BalasHapus