Menemukan Sebagian Diri pada Segelas Riuh Rempah

http://www.gandjelrel.com/2017/02/blogging-competition-jepret-kuliner-nusantara-dengan-smartphone.html



Awal Maret. Entah masuk musim kemarau atau penghujan. Akhir-akhir ini saya rasa batas musim tak lagi jelas, samar. Termasuk yang saya rasakan saat menghirup Jember, kampung halaman yang sudah 14 tahun saya tinggalkan untuk berkelana di kota-kota lain.

Seperti siang kemarin, cuaca terik menyambut saya dan suami yang melaju menggunakan kuda besi memecah jalanan kota dengan komoditas terbesar berupa tembakau ini. Kami sengaja keluar lebih siang, untuk menghindari sore yang biasanya penuh tumpah ruah air hujan. Setelah itu, bisa dipastikan rinainya mendadak konstan. Membuat udara lembap hingga di penghujung malam.

Ada baiknya juga sih, cuaca seperti ini jadi mendorong saya mencari sebuah ‘kehangatan’ yang berbeda dari biasanya :)

Saat kaki melangkah dan memilih untuk meletakkan tubuh di sebuah sudut kursi kayu di dekat pintu masuk cafe tak bernama dari luar ini, saya sudah merasa disambut. Suasana rumah yang nyaman dengan segala pernak perniknya yang tertata rapi langsung mendekap pikiran saya. Siang kemarin, saya melabuhkan pilihan untuk menyesap kehangatan pada segelas minuman bertajuk riuh rempah.

Jepret kuliner riuh rempah
Suasana Riuh Rempah yang syahdu, cocok dengan menunya

Namanya unik. Dan ternyata, nama itu juga menjadi nama tempat yang buka setiap hari pukul 8 pagi hingga 6 sore ini, kecuali Minggu, buka dari jam 6 sore hingga malam hari. Tepatnya di Jalan Bengawan Solo 27, sepanjang jembatan Semanggi.

Penasaran? Saya pun demikian. Sebagai penyuka minuman hangat akut (sebab saya sensitif pada minuman yang terlalu dingin), saya selalu mencari tahu apa yang bisa saya nikmati dengan ‘rasa’ khusus di setiap kota. Sekian lama, saya masih menempatkan jarem (jahe rempah) sebagai minuman hangat terfavorit di kota Semarang. Sedihnya saat saya sempat tinggal di kota asal suami, Bekasi, minuman berjenis itu hampir tidak bisa ditemui.

Beruntungnya saya saat bisa menikmati riuh rempah di Jember tercinta. Saat minuman hangat dengan bahan dasar air putih dengan gula khusus bernama cinnamon (nama lain dari kayu manis) menyatu dengan riuhnya rempah-rempah negeri, hmm wanginya langsung membuat urat-urat ketegangan mengendur. Rasanya, jangan ditanya. Saya tak bisa melukiskannya dengan persis.

Jepret kuliner riuh rempah
Kekayaan riuh rempah

Hanya saja, saat saya mencoba untuk meminumnya di sesapan pertama pada segelas yang tersaji di depan mata, saya merasa menemukan kembali sebagian diri yang hilang dalam segelas riuh rempah.

Terlalu berlebihan? Saya rasa tidak. Saya katakan sebagian diri ini hilang sesaat sebelum memutuskan untuk memenuhi ‘panggilan pulang’ ke kampung halaman. Kehilangan itu hanyut bersama arus urbanisme di kota penyangga Jakarta bernama Bekasi. Dan, rasa itu kemudian terobati saat saya berkenalan dengan si riuh rempah ini.

Segelas riuh rempah ini memang riuh seperti namanya. Setidaknya ada 5 jenis rempah-rempah yang berpadu membentuk rasa yang kuat di dalamnya, seperti serai, peka, cengkeh, kapulaga, kayu manis, dan irisan lemon juga daun mint. Kehangatan dan kesegaran di dalamnya merasuk melewati tenggorokan hingga ke dada.

Jepret kuliner riuh rempah
Ini loh beberapa bahan rempah-rempah yang menyehatkan itu :)

Jika kalian ingin menikmati balutan rempah-rempah dalam varian yang berbeda, cobalah untuk menengok nama-nama seperti moluccas, dorado/coklat rempah, teh rempah, teh cinnamon, canghe, cangsu, masala, hingga jahe lemon. Harganya sangat nyaman di kantong, mulai dari yang termurah Rp. 4 ribu hingga yang termahal Rp. 10 ribu.

Kemarin, saya mencoba juga minuman hangat bernama moluccas. Moluccas ini mirip dengan riuh rempah original nya. Semacam kembar, tapi bukan kembar siam. 5 jenis rempah tanpa serai tadi ditambah jahe dan secang. Warnanya jadi lebih hidup, coklat berbau oranye seperti warna secang.

Jepret kuliner riuh rempah
Ini saudara kembar (tapi bukan siam) nya riuh rempah, moluccas

Buat kalian yang penyuka minuman dingin, jangan khawatir. mas barista yang juga owner Riuh Rempah ini kreatif menyajikan menunya dalam menu dingin juga. Hm, ini semacam pembuktian sih kalau menurut saya, siapa bilang minuman kaya rempah yang identik dengan minuman hangat hanya sah dinikmati kalangan berusia renta seperti kakek nenek kita? Haha :)

Buktinya, mas barista sekaligus owner yang belakangan saya ketahui bernama Yogi ini penasaran dengan eksperimen minuman rempah. Katanya, berawal dari hobi nongkrongnya di suatu kedai di kota Malang, kota asalnya.

Dugaan saya benar. Racikan riuh rempah dan moluccas yang segelas dibandrol dengan harga Rp. 10 ribu saja itu, tentu diracik oleh seseorang yang penuh cinta terhadap rempah-rempah. Dan nyatanya, it’s true. Yogi yang terdampar di Jember karena berkuliah ini memang tak berhenti untuk bereksperimen dengan ramuan rempah-rempahnya.

Jepret kuliner riuh rempah

Yogi yang mencintai rempah-rempah


Ini sih keren di mata saya. Ada ya, di jaman yang serba instan seperti ini, anak muda yang mau peduli dengan warisan negeri yang dulu sempat menjadi primadona bangsa asing, bernama rempah-rempah?

Bukti berikutnya, selain saya, seorang teman yang saya ajak kemarin (yang juga masih muda dan sedang berjibaku dengan skripsinya), juga terkesan dengan pilihan minuman dinginnya, teh cinnamon yang di dalamnya dicelupkan kayu manis.

Beberapa yang lain, saya lihat juga banyak anak muda yang menyempatkan diri untuk mampir, meski memang belum sukses membuat tempat ini penuh hingga antri :)

Memotret Riuh Rempah dalam Jepretan Kamera Smartphone         


Apa yang biasanya kalian bayangkan saat ada sajian di depan mata? Langsung menikmatinya begitu saja? Hm, saya rasa ga ya :) Selain berdoa, sekarang sih jamannya sebelum melahap sesuatu, jepret kulinernya dulu. Yap, it’s a must! Tak terkecuali saya :)

Lebih praktis lagi kalau jepretnya memakai smartphone, lebih simple dan siap posting di media sosial. Semudah itu. Tapi pastinya, kamera smartphone yang dipakai mesti kualitas bagus. Bersyukurnya saya, saat mengunjungi Riuh Rempah kemarin, seorang teman memakai kamera smartphone dari ASUS ZenFone 3 Max  ZC520TL. Kualitas jepretan kameranya jangan ditanya, sebening kelopak mata memandang tanpa debu apalagi bulu mata yang ga sengaja jatuh menghalangi mata, haha.

Jepret kuliner riuh rempah


Berkat teknologi PixelMaster Camera nya yang memungkinkan memilih berbagai mode pemotretan, kita bisa memotret gambar sesuai keinginan.Ini dia mode kamera smartphone yang kemarin saya pakai. Saya sendiri memilih mode otomatis karena cahaya masih cukup terang siang itu.


Jepret kuliner riuh rempah


Mau tahu kualitas jepretannya, saya bocorin dikit prosesnya ya :) Selain sedikit sok akrab dan sok dekat dengan Yogi, suami saya yang mengambil gambar sampai rela naik-naik kursi sementara saya memotret cantik menggunakan ASUS Zenfone :) Teman saya, sukarela mengatur properti tambahannya. Tim yang tiba-tiba bergerak begitu saja, karena kecintaan yang sama pada jeprat jepret kuliner nusantara, apalagi menggunakan smartphone ASUS Zenfone 3 Max  ZC520TL yang memiliki spesifikasi kamera 13 MP, f/2.2, autofocus, dan LED flash. Pas lah sudah :)

Dan inilah hasilnya :)

Jepret kuliner riuh rempah
Saat memotret si kembar bukan siam

Jepret kuliner riuh rempah
Keseluruhan menu yang kami pesan

Untuk menemani riuh rempah atau minuman lainnya, saya memilih menu mie goreng dan omellete yang pas banget dinikmati dengan minuman hangat. Sst, kabarnya sebentar lagi, Riuh Rempah ini bakal mencoba sajian makanan mie nya dengan bahan dasar mie organik seperti wortel dan bayam. Ah, jadi ga sabar.O iya, buat penyuka minuman kopi, tempat ini ceritanya juga duo loh. Riuh Rempah dan Srawung Kopi. Sesuai namanya, meski namanya cafe, srawungnya tetep ala street lover dengan obrolan ngalor ngidul campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pandalungan Jember :)

Jadi, apa yang terlintas di pikiran kalian? Ingin mencoba sajian kuliner tradisional seperti minuman riuh rempah? Selain menghangatkan badan, rempah-rempah juga terbukti menyehatkan. Jadi, kalau kalian berkunjung ke Jember, ga ada alasan buat saya untuk menolak mengantarkan ke tempat yang punya display sekeren rasa menunya ini. Sampai ketemu di Jember!


Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel

   

Prita Hw

30 komentar:

  1. Gimana sih mbak bisa atur komposisi foto sekeren itu. Pake alas gulung atau meja betulan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu meja betulan mbak :) Kebetulan bahannya memang dari kayu, pas sama warna warni rempah2 nya juga :) Jeprat jepretnya beberapa kali, tinggal pilih aja dan edit, yang penting display dan tanagn mantep aja pegangnya mbak, wkwk

      Hapus
  2. Balasan
    1. apalagi pas minumnya a, slurrp :)

      Hapus
  3. loh loh mbak, aku kok gak tau riuh rempah itu dimana. duh, kurang hits berarti nih aku


    hayuks kulineran bareng mbaaaaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah sekarang udah tau kan, yuk yuk :)

      Hapus
  4. mamaku rajin mencampur teh dengan sereh ato klo lagi masuk angin teh pake jahe, pasti blio seneng klo diajak ke riuh rempah

    btw namanya lucuk ya riuh rempah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pasti penyuka wedangan atau rempah2 bakalan jatuh cintrong makkk

      Hapus
  5. Aku suka banget wedangan, biasanya kalo jalan ke Jogja suka mmapir beli wedang uwuh. Mirip ama Molusca kayaknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku suka juga uwuh, tapi mollucas lebih komplit mbak, mampir yuk

      Hapus
  6. Sudah bisa bayangin gimana sedapnya minuman hangat yang bahan bakunya dari sereh begitu. Pastinya seger banget, dan hangat di tenggorokan juga badan. Saya pernah baca di salah satu buku, konon minuman para raja di Jawa dulu ada campuran serehnya, juga jahe dan gula merah sebagai pemanis. Hmm, jadi pengen nyicipin. Tapi kok jauh sekali di Jember :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, aku bayangin juga, dulu rempah2 itu bahkan jadi rebutan bangsa lain kan ya, pantes sih kalau jadi minuman para raja di Jawa. Sayang ya, sekarang generasi muda tuh jarang tau dan menganggap ini bagian dari kuliner yg ga ngehits. Untung ada riuh rempah. Ga jauh mas, masi di Indo, wkwkwk

      Hapus
  7. ada kayu secang juga ya mbak? kangen minuman rempah deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbakkk ada, coba eksperimen di rumah mungkin mbak, hehe

      Hapus
  8. Saya milih yang hangat aja mbak riuh rempahnya. Kebayang hangatnya ya. Apalagi musim penghujan spt sekarang :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, ga cuma di tenggorokan, tapi sampai ke dada

      Hapus
  9. Jadi pengen menimmati segelas riuh rempah panasnya nih Mba... pas banget tenggorokan lagi grok-grok

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, enak banget kalo udah minum itu di tenggorokan, badan juga. Kalo rutin apalagi :) Coba bikin mbak, bahan2nya bisa beli juga di toko jamu

      Hapus
  10. unik mba. riuh rempahnya, Selera Indonesia bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mbak, nemuin yg jual ini kayak nemuin harta karun :)

      Hapus
  11. ngebayangin minumnya pas lagi ujan begini di bogor... slurppp

    BalasHapus
    Balasan
    1. bikin sendiri enak pasti ya mak, slurrp

      Hapus
  12. Wah ada ya namanya Riuh Rempah. Unik! :D

    BalasHapus
  13. ahhh itu hasil fotonya keren banget, udh kaya yang dibuku resep makanan hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. buku resep masakan, hehe, makasih :)

      Hapus
  14. bagus bgt hasil jepretanya, itu ori atau ada sentuhan dikit dr photosop mbak ?

    BalasHapus
  15. Hasil potretnya bagus..ini karena skill motret yang udah oke atau karena asus zenfone yang kece yak? Hehe. Kalau cek harga di priceza.co.id harga ponsel ini udah turun, tapi peminatnya masih banyak. Mungkin karena kualitasnya kali'ya

    BalasHapus