Dukungan Positif Internet 4G LTE bagi #KEBeragaman Aktualisasi Diri di Dunia Blogging




Apa kabar dunia? Semoga dan selalu baik-baik saja.

Sapaan pada dunia saat ini bisa begitu luas kita sampaikan pada obyek yang dimaksud, dunia yang sebenarnya. Kalau dulu, sapaan begini hanya frase hampa dalam deretan abjad di atas diary, jurnal pribadi, atau surat kepada seorang sahabat dekat. Semua serba personal, bahkan ada diary yang sampai dikunci gembok, inget kan? Itu dulu. Tapi, di tengah dunia yang tak terbatas ruang dan waktu, dimana batas personal semakin tipis, kini rasanya apa yang dulu menjadi rahasia bisa saja menganga lebar menjadi milik umum. Selain karena kemauan kita sebagai individunya, dukungan teknologi yang kian canggih juga ikut andil. Sejak istilah internet digunakan pada tahun 1982, internet telah bertransformasi dengan sangat gila. Menggerus semua lini kehidupan manusia millenial.



Bahkan, tak hanya lewat personal computer, laptop, notebook, tapi kini sudah merambah telepon seluler yang digadang-gadang sebagai smartphone yang banyak kita tenteng dengan bangga. Makin mudah? Pastinya! Tak usah merelakan waktu berjam-jam atau berhari-hari, menempuh jarak berkilo-kilo, dan menghabiskan tiket berlembar-lembar, setiap orang di seluruh belahan dunia bisa terkoneksi hanya dengan sentuhan jari. Tinggal klak-klik, like, share, dan sekejap urusan diskusi, rapat, sekedar ngobrol, sampai bertransaksi bisnis, beres.

Bad impact nya sudah pasti ada sih, seperti biasa, segala sesuatu di dunia ini pastilah bagai dua sisi mata uang. Ada positif dan negatif. Tapi, lebih baik stay focus saja sama positive impact nya. Itu cuma soal konsistensi pilihan hidup kok :)

Seperti halnya pilihan seseorang dalam beraktualisasi diri. Buat para emak yang dulunya aktivis banget dan terkenal ga bisa diem dengan cara ‘semedi’ alias ga keluar rumah, sudah pasti butuh penyaluran khusus ya maks :) Macam saya ini. Kondisi yang terikat dengan komitmen bernama pernikahan dan label baru sebagai seorang ibu (meski saya masih calon ibu), tentu tak bisa menghalangi fitrah kita untuk terus menjadi berarti. Paling ga, menyumbangkan ide dan pemikiran untuk dibagikan ke ranah publik. Harapannya. pastinya bermanfaat atau lebih jauh, mampu memberi inspirasi.



Terlebih, yang perlu menjadi highlight nih, saat ini namanya beraktualiasi diri dan berbagi sesuatu ke ranah publik sudah makin dipermudah dengan namanya jaringan internet. Apalagi yang sudah didukung 4G LTE, macam layanan dari XL misalnya. Hanya dengan modal kuota, kita sudah bisa ‘jalan-jalan’ menemui orang-orang dalam suatu forum, lokal, bahkan internasional. Tak terbatas teritori. Semua orang hidup di dua dunia, nyata dan maya. Keduanya menuntut perlakuan yang sama baiknya.



Sebenarnya, #KEBeragaman bukanlah hal baru. Perbedaan yang terjadi diantara manusia sudah dimulai jauh di masa lampau.

Tengoklah sejarah Menara Babylonia yang dikisahkan di dalam Al-Qur’an, Injil Perjanjian Lama, hingga Al Kitab Ibrani (Yahudi). Menara yang coba didirikan oleh kaum ‘Aad pasca banjir bandang saat zaman Nabi Nuh itu dimaksudkan untuk menandingi kekuasaan Tuhan, dengan membangunnya hingga jauh menembus langit. Menurut mitologi kuno, konon manusia dulunya hanya terdiri dari satu rumpun bahasa, dan Tuhanlah yang akhirnya menjadikan manusia dalam bahasa yang berbeda untuk menciptakan keberagaman. Hingga manusia tak sanggup menyatukan tujuan karena perbedaan itu dan menara atas nama keangkuhan manusia itu tak pernah berhasil diselesaikan.

See? Artinya, keberagaman juga fitrah loh maks. Termasuk kemudian disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan bersuku-suku bangsa. Apa ya maksud dari semuanya? Tentu supaya kita mencoba mencari makna dibalik itu. Sejatinya kita semua sama kok, makhluk Tuhan, tanpa sekat dan batasan.



Perbedaan membuat kita belajar saling menghargai, memahami kelebihan dan kekurangan hingga paham tuntutan saling melengkapi antar individu. Dan, pesan ini yang ditangkap cerkas oleh KEB (Kumpulan Emak Blogger) sebagai tradisi tahunannya.

#KEBeragaman yang multi ini juga ada dalam dunia aktualisasi diri sebagai seorang blogger. Dengan perkembangan dunia blogging yang kalau boleh saya bilang sudah penuh dengan manuver tanpa batas, sebutan blogger memang mampu menyatukan kita semua dalam rasa senasib seperjuangan. Semangat Bhinneka Tunggal Ika bisa kita sesap habis dalam konteks memasuki dunia blogging dan pilihan menjadi seorang blogger.

Seperti pengalaman saya awal-awal masuk ke dunia blogging yang makin ngehits di akhir tahun 2015 yang lalu. Meski sudah memiliki blog dengan platform blogspot sejak 2012, saya baru tahu kalau ngeblog bisa dijadikan profesi utama seorang  freelancer. 



Saya yang haus akan ilmu baru, nekat menceburkan diri dengan berbagai komunitas blogger yang bertebaran di media sosial, terutama Facebook. Tanpa ‘makelar’ atau perantara. Hanya, beberapa teman memang merekomendasikan KEB untuk saya ikuti. Meski saya sempat bertemu Mak Indah Julianti, salah satu co founder KEB di Jambore Relawan Pendidikan yang saya ikuti secara tidak sengaja di tengah masa kegalauan selepas resign bekerja kantoran.

Dengan modal nekat, saya ikuti kopdar demi kopdar berbagai komunitas, workshop baik gratis maupun berbayar, sampai kemudian mengikuti event-event dengan undangan eksklusif. Saat itu, saya hanya yakin bahwa sesama blogger pasti akan memberikan guidance yang tak menyesatkan. Pasti tak pelit berbagi ilmu. Pasti banyak nilai positifnya, dan sugesti positif lainnya yang terus saya suntikkan pada diri sendiri. 

Ga takut dibilang blogger newbie?

Ga takut disebut blogger goodie bag atau event hunter?

Haha, sama sekali ga. Sebab tujuan awalnya bukan untuk menyandang segenap label itu. Tapi, lebih kepada niat tulus untuk menimba ilmu, memperkaya pengetahuan diri, dan menghasilkan karya yang bisa bermanfaat buat banyak orang. Sekali lagi, semuanya ada pada niat. Sehingga whatever people say, just go with your ultimate goal.

That’s why, totalitas adalah segalanya.

Tapi, sekali lagi #KEBeragaman juga ada dalam pilihan seseorang untuk beraktualisasi loh maks. Ada yang menjadi blogger karena memang menekuninya sebagai profesi. Ada yang menjadi blogger untuk mengisi waktu luang dan menjadikannya etalase karya yang siap dibuka kapan saja. Atau malah ada yang menjadi blogger sebagai batu loncatan untuk pilihan yang lain lagi. Sekali lagi, perbedaan ini juga ujian untuk saling menghargai satu sama lain.  



Sejak diperkenalkan pertama kali, perkembangan internet langsung melesat bak roket luar angkasa yang terus menerus menjulang untuk menuntaskan rasa penasarannya. Di Indonesia sendiri, sejak teknologi 3G mulai dikomersialisasi pada tahun 2005-2009, selanjutnya di tahun 2009-2012, tercatat pengguna telekomunikasi seluler mencapai 175,18 juta. Dinaungi 10 operator seluler, yang salah satunya adalah PT. Excelcomindo yang berdiri pada tahun 1996 dan sekarang bernama XL Axiata.

Era 4G LTE kemudian mulai muncul di tahun 2013 hingga saat ini. Dan perkembangan pengguna internet di Indonesia boleh dibilang fantastis, peringkat ke-6 dunia setelah Cina (termasuk Hongkong), Amerika, India, Brazil, dan Jepang dengan jumlah pengguna 139 juta. Wow, hampir separuh lebih dari jumlah penduduk Indonesia yang kurang lebihnya 250 jutaan itu.



Dari sekian banyak, pastinya ada pengguna internet yang aktif dan pasif. Pengguna pasif pastilah lebih banyak, karena mereka termasuk pengguna yang memang membutuhkan informasi-informasi cepat yang bertebaran dinamis dengan dukungan internet. Tak terkecuali kita sih maks :) Sehari ga googling aja rasanya tangan udah kegatelan kan yak :)

Sedangkan yang aktif, siapa mereka? Merekalah penyedia informasinya, atau orang-orang yang memang produktif menghasilkan konten-konten di jaringan internet. Kerennya, saat ini blogger juga cukup memiliki posisi yang penting disini. Keberadaannya mulai diperhitungkan seiring community marketing yang berkembang dan menuntut dunia industri ikut berubah. Hampir setara dengan media? Bisa jadi :) Plusnya, sentuhan personal di setiap cerita blogger lah yang menjadi incaran.

Tak heran, sekitar 3,8 % (sekitar 3 juta) dari total pengguna internet aktif di Indonesia adalah blogger. Yey!

Apalagi dengan adanya jaringan internet 4G LTE, semua urusan sharing menjadi semakin mudah. Berkembanglah saat ini blogger dengan berbagai niche seperti food blogger, travel blogger, beauty blogger, mom blogger, parenting blogger, book blogger, edu blogger, hingga yang gado-gado seperti lifestyle blogger. Saya termasuk di dalam kategori terakhir :)




Tak berhenti di urusan ngeblog, blogger hits sekarang juga dituntut untuk punya performa yang mumpuni di media sosialnya, dari status atau postingan singkat hingga berkembang menjadi postingan interaktif macam videogram atau vlog. Tahu sendiri kan intensitas interaksi orang-orang sekarang dengan medsos? Rancak bana! Aliran informasinya sangat cepat. Meski, ini juga mengharuskan kita untuk selektif sehingga tak terjebak keburu nyinyir di informasi yang ujung-ujungnya hoax.

Kembali lagi menyoal #KEBeragaman nih maks, saya yakin setiap blogger juga memiliki trademark yang kalau dikembangkan maksimal, konstribusinya juga banyak. Misalnya saya yang merasa beruntung banget bisa belajar tentang pengalaman emak-emak lain dalam menjalani proses kehamilan dan persalinan, sehingga saat saya mengalami kejadian hamil diluar kandungan tahun lalu, saya juga merasa terbantu. Dan jujur, jadi banyak mendapat support yang tiada banding karena kecepatan jaringan internet. Meski tak hadir secara fisik, support itu sangat terasa bersemayam di hati.




Lain lagi cerita saat saya mulai belajar serius menjadi seorang blogger, tak semua workshop offline bisa saya ikuti karena keterbatasan waktu. Bersyukur rasanya ketika ada workshop online ataupun alumni workshop yang terus keep contact melalui whats app messenger. Berkat grup itu, kami sesama blogger terus berbagi informasi sehingga kemampuan kami di dunia blogging mulai merangkak naik, dan harapannya memang menjadi blogger profesional. Selain ilmu, kami juga berbagi informasi tentang job disana, saling memberi ucapan jika ada yang karyanya mendapat apresiasi, ataupun mengalami hari-hari penting dalam hidup.

Ah, untung ada internet ya!


Sejak awal ngeblog, saya memang bertekad bahwa jalan yang telah saya pilih ini adalah ajang untuk berbagi. Terlebih, pengalaman saya bertemu orang-orang luar biasa saat berjibaku sebagai staf di sebuah NGO lingkungan hidup dulu. Juga live in karena sebuah pekerjaan di beberapa kota, pengalaman mengikuti MLM saat mahasiswa, dan segudang potongan kisah lainnya rasanya menjadi ’kemewahan’ yang harus dibagikan. Biar tak terlampau egois. Siapa tahu, apa yang saya alami ternyata adalah informasi yang berharga bagi orang lain.

Bukankah pengalaman adalah guru yang paling berharga?

If you learn by the book, you are the people,

if you learn by experience, you are the master - Anonymous


Karena itu, dalam blog Dunia Gairah yang saya kelola bersama suami, saya memuat apa saja yang menjadi gairah (passion) yang saya sebut sebagai ‘jalan pulang’ setelah saya berkelana di bidang kerja yang saya geluti. Meski niche saya gado-gado, saya juga fokus menulis tiga tema besar, yaitu kisah inspirasi, aktivitas literasi, dan kisah perjalanan. Kira-kira semacam ini :

Inspirasi saya yakini bisa datang dari mana saja, bahkan hanya dengan memandang langit, di atas kendaraan umum, bertemu orang-orang hebat, menjadi pendengar untuk kisah orang lain, hingga bermain dengan alam pikiran saat menatap fenomena sosial sehari-hari. Untuk inspirasi, saya pernah menulis kisah seorang teman yang baru saya kenal dan ternyata praktisi gentle birth yang sepak terjangnya oke banget, dan komentar yang masuk membuat saya senang karena kontennya bermanfaat bagi banyak orang.

Bidan Yuli gentle birth




Ada lagi inspirasi soal opini nikah muda yang sempat viral itu, saya membuat wacana tandingan atas sebuah tulisan yang saya anggap kurang pas. Dan responnya juga alhamdulillah banyak yang tergerak memikirkan fenomena ini. Contoh yang lain, bisa langsung eksplorasi di kategori utama Inspirasi ya, atau sub kategorinya, yang saya bagi menjadi Inspirasi Tokoh, Inspirasi Sehat & Hijau, dan Inspirasi Cinta :)


  



Aktivitas literasi lain lagi. Aktivitas yang lekat dengan ‘cap’ saya di mata kawan-kawan secara luas ini memang sesuatu yang menjadi ‘panggilan jiwa’. Sebab, persoalan membaca, mereproduksi bahan bacaan, dan menyuarakan aktivitas itu sebagai suatu budaya memang butuh perjuangan. Termasuk menyebarkan virusnya melalui dunia maya.

Saya senang saat bisa menulis tentang komunitas yang concern di persoalan literasi seperti tentang Rumah Pelangi di Bekasi ini. Pengalaman saya di bidang ini juga perlu untuk dibagi karena tak banyak orang yang memiliki akses untuk berjibaku di dunia ini.


Rumah Pelangi Bekasi


Kisah perjalanan juga punya latar belakang sendiri. Saya termasuk orang yang travel addict. Setiap mencium aroma perjalanan, adrenaline saya meningkat. Dan saya gandrung dengan gaya penulisan slow travel yang memiliki visi merawat nalar melalui perjalanan dengan memaknai apa makna dibalik perjalanan itu sendiri. Bukan sekedar how to, karena sudah banyak konten yang menuliskannya. Dan, saya baru sadar untuk menulis yang lebih baik lagi saat beberapa karya dari kategori ini duluan mendapat apresiasi sebagai pemenang lomba seperti kisah perjalanan ke Ciremai ini. Lagi-lagi alhamdulillah.




Itulah tiga tema besar yang saya anggap sebagai niche, maks. Karena itu, mau menulis untuk konsumsi sehari-hari, lomba, review, ataupun sekedar kontemplasi, saya tetap berpegang teguh pada kebermanfaatan konten. Bukan sekedar untuk tujuan update blog post demi personal branding saya, tapi dampak apa yang akan timbul bila pembaca membaca dan kemudian menyebarkannya ke orang lain.

Akhirnya, #KEBeragaman bukan saja beragam dari segi tujuan ngeblog, niatan menjadi blogger, atau niche, tapi blogger juga beragam dalam soal ide dan sudut pandang, meski situasi yang dihadapinya sama ;) Jadi, kenapa takut untuk berbagi dan menjadi diri sendiri? Teknologi internet yang didukung 4G LTE sudah siap mendukung langkah kita!




Referensi :

www.id.wikipedia.org
“Menyambung Batas, Merayakan Keberagaman” -  www.whiteboardjournal.com
“Dampak 20 Tahun Hadirnya Teknologi Informasi dan Komunikasi di Bidang Sosial, Pemerintahan, dan Ekonomi” - www.ceritajengyuni.blogspot.com



Tulisan ini diikutsertakan dalam


Prita Hw

34 komentar:

  1. Mba Prita mah blogger hebat, kapan kapan mau berguru saya, biar ga di cap blogger godybag hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, mak Riaaaa, hebat apaan, baru setahuanan ini belajar mbak, dan hasil belajarnya dibawa pulkam sekarang :) boleh mak sharing2 onlen kita, kan ada internet :)

      Hapus
  2. Wow ternyata di Indonesia pengguna internet terbanyak blogger yaaaa :D

    BalasHapus
  3. blogger emang oye banget,,,seruuu. good luck mb Prita, doakan saya juga haha..salam dari kalimantan

    BalasHapus
    Balasan
    1. aminnnn mbak, wish us luck yah..Wow di Kalimantan yak

      Hapus
  4. Mantep sekali ya mbak. Dari tulisan-tulisanmu ternyata ada orang yang senang dan merasakan manfaatnya. Good job!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah Koh, itu bener2 balasan yg ga ada duanya, nyess di ati dan bikin tambah semangat

      Hapus
  5. Tulisannya keren banget sih mbak, gak terasa saya baca dari awal sampai akhir,

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhhaaaaaa, makasihhh banget mbak udah baca dari awal sampe akhir. Aku aja deg2an ngebosenin apa ga mbak, hehe

      Hapus
  6. Gak nyangka pengguna internet terbanyak di kita adalah blogger. Blogger emang oye...
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, tepatnya pengguna internet aktif, hehe

      Hapus
  7. Keren tulisannya Mba... saya kok ketinggalan lomba ini yak heuheu... kurang gaul emang hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak Ida udah mampir.. Haha, update aja di grup2 nya mbakk :)

      Hapus
  8. Waaaa Mba Prita rapi sekali tulisannya, enak pula bacanya. Seneng ya kalau blog yang kita buat ada yang baca, lebih seneng lg kalo mereka ngerasain pula manfaat tulisannya. hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Uluuuu, tulisanmu juga oke 'jahitannya' dgn ciri khas sendiri :)Iya, kepuasan pembaca adl segalanya, wkwk

      Hapus
  9. Alhamdulillah yaaa bisa berbagi lewat blog ya Prita amazing rasanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betullll mbakkkk, rasanya bikin merinding :) as you told di semarangcoret mbak^^

      Hapus
  10. nggak tau tulisannya panjang apa pendek tapi kok gak terasa, baru baca udah habis ajha. goodluck mbak Prita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mas Theo udah mampir dan baca (semoga) sampe abis. Gudlak juga buatmu ya^^

      Hapus
  11. Belum ketemu Mba Prita, malah sudah satu buku dengan Mba Prita. (silaturahmi melalui internet)

    Paas beneran ketemu, sama-sama lagi di event blogger.

    Dunia internet jadi menyatukan kita ya Kakak

    :)
    Semangat menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, pas pertama kopdaran ga sengaja, lewat tweetmu nenglisojung :D

      Hapus
  12. Manfaat internet luas banget ya kak. Apalagi didukung sama org org yg menggunakannya dg tepat hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. benerrrr di, kl digunakannya ga tepat, hasilnya juga emboh loh :)

      Hapus
  13. Keren mba tulisan dan infografis nya.. naru tahu ternyata jumlah blogger di Indonesia buanyak banget ya mba, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasihhh mbak Dinaaa, infografis masi ala ala amatiran, haha.. Iya mbak, 3 jutaan itu kira2, bangga ya :)

      Hapus
  14. Mbaaaaa keren iihh infografisnya. Aku mau nyoba buat yg gerak2, gagal maning gagal maning. Hehehe

    Klo diibaratkan, mungkin 4G LTE dengan sinyal yang kenceng merupakan salah satu nyawa dari para blogger.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga belajar2 otodidak ma suami mbak soal gerak2in gitu, kl gagal, malah ketawa bareng :) Yes, noted, nyawa para blogger!

      Hapus
  15. banyak berarti blogger di Indonesia ya mbak. wah, senang rasanya jadi anggota komunitas besar. cuma anehnya kok ga banyak orang tau apa blogger itu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kl ga banyak orang tau apa blogger itu gegara common sense kali mbak, jd profesi yg belum umum buat org kebanyakan yg selain blogger :)

      Hapus
  16. keragaman memberi warna dlm sisi kehidupan ya Mba. seperti KEB yg jd wadah berinergi profesi blogger dari segala peofesi dan penjuru

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak bener bgt, keberagaman malah banyak memberi warna

      Hapus
  17. format penulisanya bagus dan ditambah lagi gambar yang digunakan lucu2. saya jadi betah baca2 artikel di blog mbak prita

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mas udah mampir dan betah selonjoran :D

      Hapus