Sebuah Panggilan Mencintai Bumi dari Delia von Rueti dan Love and O2

“Bumi dan seisinya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tapi bukan keserakahan semua orang” – an ecosentric perspective


Love and O2 - Berapa banyak pohon yang bisa kita lihat saat ini? Apakah sebagian dari kita mengenal nama-nama pohon itu? Seberapa banyak ruang terbuka hijau yang bisa kita lihat di tempat kita tinggal saat ini? Apa kita semakin sulit untuk menjelaskan keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna yang ada di sekitar kita? Lalu apa yang bisa kita wariskan untuk generasi mendatang?

Pertanyaan ini mungkin berjejalan di kepala kita semua, termasuk saya. Kehidupan yang serba instan dan menuntut percepatan dimana kecanggihan teknologi menjadi syarat mutlak, ternyata di sisi lain juga mengikis kesadaran lingkungan. Semua orang mungkin akan berteriak ‘hanya’ saat bencana alam datang. Kenapa bisa banjir? Kenapa bisa longsor? dan pertanyaan-pertanyaan serupa terlontar begitu saja dengan mulusnya.



Padahal, semuanya kembali lagi pada kita, manusianya, sebagai pengelola dan aktor utama dalam persoalan menjaga lingkungan, termasuk pelestariannya. Miris sekali saat ini ketika kita menyaksikan banyak anak-anak yang kehilangan identitas, tidak mengenal alamnya sendiri. Hutan beton mungkin lebih akrab daripada hutan dalam arti sebenarnya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Banyak hal. Terutama menyikapi persoalan lifestyle untuk selalu green living, eco life, atau apa saja penyebutannya. Artinya, setidaknya tindakan kecil yang kita lakukan akan berdampak dan diikuti oleh banyak orang untuk menuju sebuah perubahan besar.

Semangat ini yang membuat saya tertarik untuk bertemu dengan seseorang yang punya kepedulian besar terhadap lingkungan bagi generasi mendatang.

Adalah Delia von Rueti, seorang wanita yang berasal dari Pematang Siantar, Sumatera Utara yang dibesarkan dalam keluarga petani. Dengan sebuah gerakan bernama Love and 02, ia menyebut apa yang dilakukannya ini sebagai sebuah panggilan untuk mencintai bumi.


Delia saat di depan audience, cantik ya :)

Delia yang memang suka menanam dan bahkan memunguti sendiri sampah yang ada di sekitar rumahnya ini mulai merasakan keresahan saat melihat semakin berkurangnya lahan hutan di Indonesia yang diikuti dengan berkurangnya populasi flora dan faunanya. 

Lewat kegelisahan itulah, Delia bermimpi besar untuk membangun taman hutan hujan tropis pertama di Indonesia. Taman hutan hujan tropis ini memang dikenal sebagai kontributor terbesar bagi paru-paru dunia. Nantinya, diperkirakan 40 % produksi oksigen dunia akan berasal dari hutan hujan tropis yang salah satunya berada di Kalimantan. Di tempat ini pulalah, Delia rela mendonasikan lahan pribadinya seluas 2500 hektar di Muara Teweh, Kalimantan Tengah, tak jauh dari Bandara Baringin.




Luar biasanya, lahan itu pada awalnya memang tidak diperuntukkan untuk konservasi karena berada di sekitar area yang masih termasuk zona kota. Tapi, ini tak membuat Delia mengurungkan niatnya. “Dengan segala kerendahan hati, saya sebagai individu, seorang istri, dan seorang ibu dari tiga orang anak, ingin membantu dan mengajak kita semua agar dapat menikmati kondisi yang lebih baik bagi planet kita yang indah ini. Dan bersama Love and O2, kami juga ingin meningkatkan kesadaran dan menyebarkan cinta untuk bumi kita sehingga kita tidak pernah lupa betapa berharganya bumi ini,” ujarnya saat ditanya motivasinya menggagas sebuah niat mulia ini di Media Gathering yang berlangsung di Majapahit Penthouse, Grand Hyatt Jakarta pada 23 Desember yang lalu. 

Suasana yang santai tapi elegan

Saat memasuki ruangan, kami disambut desain-desain cantik ini

1 T-shirt for 1 Tree Movement

Terus terang saya jadi merinding saat mendengar gagasan yang lahir murni dari kesadaran seorang Delia, yang selain ibu rumah tangga juga merupakan desainer perhiasan. Istilahnya, hari gini ada orang yang mendonasikan lahannya untuk keperluan konservasi, buat saya bagai bermimpi di siang bolong. Tapi, nyatanya ini terjadi, dan inilah fenomenanya.

“Untuk menanam pohon mungkin sangat mudah ya. Bibit juga harganya mungkin cuma berapa. Tapi pemeliharaannya yang susah dan butuh perhatian ekstra,” tandas Delia pada kesempatan pagi itu. 

Bahkan, pemeliharaan itu mulai dari tahap mengadakan workshop, melatih dan mengajarkan pada kurang lebih 620 Kepala Keluarga (KK) yang ada di sekitar lahannya tentang culture yang dibangun. Karena nyatanya, sebelumnya warga disana punya kebiasaan memotong kayu yang hasilnya kemudian dijual pada siapapun, termasuk pemilik lahan. Seperti Delia contohnya, ia pernah ditawari kayu yang berasal dari pohon yang ada di lahannya sendiri!

Untuk menyokong pelestarian pohon-pohon yang nantinya akan ditanam di lahannya itu dan menbangun culture masyarakat di sekitarnya, Delia meluncurkan sebuah gagasan 1 T-shirt for 1 Tree Movement yang bisa diikuti dan didukung oleh semua kalangan di seluruh Indonesia, bahkan dunia. 


Desainer perhiasan ini rela belajar otodidak untuk mendesain t-shirt yang awalnya diadaptasi dari melihat fotonya saat berada di hutan. T-shirt cantik dan unik ini dijual untuk publik dengan harga Rp. 100 ribu dan hasil yang terkumpul dari gerakan ini diperuntukkan untuk penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon di lahan yang akan terbuaka untuk umum, kapanpun. Menurutnya, lahan itu milik bersama, “Jangan bayangkan ada security, dan lain-lain. Saat ingin berkunjung, berkunjung saja selayaknya menyambangi kebun sendiri,” begitu katanya menegaskan.  

Pohon-pohon yang akan ada disana seperti pohon kayu besi/kayu ulin, meranti, dan jenis pepohonan lain yang dapat tumbuh cepat di hutan hujan tropis. Selain tanaman keras berbuah seperti pohon manggis, nangka, tamarin, flamboyan, ketapang, kemuning, dan masih banyak lagi. Harapannya, pohon-pohon dan buah-buahan yang dihasilkan ini akan menjadi habitat bagi satwa yang ada.

Dengan adanya lahan ini, Delia antusias menyampaikan bahwa dirinya very proud bisa berbuat tiga hal yang menjadi dampak lanjutan dari gagasannya ini, yaitu bangga ada sesuatu yang dibayarkan pada pemerintah (semisal pajak, karena Delia bertekad ‘kebun kecilnya’ bisa mengikuti semua peraturan di Indonesia bahkan dunia), ada pekerjaan yang muncul untuk orang-orang di sekitarnya, dan ada pohon yang ditanam. Wow! 

Buat yang ingin mendapatkan t-shirt berdesain otentik dengan tagline movement-nya There is Hope ini bisa langsung mengunjungi websitenya disini atau akun instagramnya @loveando2. Ke depan, t-shirt ini akan bisa didapatkan di Plaza Indonesia selain secara online. Dan semoga akan bertambah outlet-oulet lainnya.


Kalau kamu suka yang mana?

Dukungan untuk 1 T-shirt for 1 Tree Movement

Dalam acara yang berlangsung Rabu (23/11) itu, hadir pula Titi DJ yang ternyata merupakan teman semasa SMA Delia namun baru bertemu lagi setelah sekian lama, ada pula Teuku Zacky, juga Aming dan istrinya, Eveline. 

Mereka semua adalah perwakilan dari public figure yang mendukung  1 T-shirt for 1 Tree Movement dengan sukarela alias tanpa dibayar sepeserpun. Bahkan, Teuku Zakcy ikut memanajemen berbagai event  gerakan ini di bawah bendera EO pribadinya. Mereka yang hadir juga mengungkapkan bahwa aksinya ikut ambil bagian dalam movement ini karena memang murni tergerak dari dalam diri, tanpa paksaan siapapun. Menurut Titi, Teuku Zacky, dan Aming beserta istri, selama ini mereka juga menerapkan pola hidup go green dalam keseharian. Sehingga, tak perlu pikir panjang untuk mendukung hal sepositif ini.


We support this movement!

Di akhir acara yang berlangsung santai dan elegan tersebut, Delia berpesan bahwa jika ada yang bahkan tidak mampu untuk membeli t-shirt nya, tanam saja 1 pohon di halaman belakang rumah atau pekarangan depan. Jika tak ada pohon, potonglah cabang  dari sebuah pohon dan tanamlah. Itu menurutnya juga bentuk sebuah dukungan. 

Wanita cantik yang telah diperistri seorang pria berdarah Swiss ini juga yakin bila seseorang seperti dirinya yang bukan siapa-siapa melakukan hal kecil, semoga yang lain seperti perusahaan atau pemerintah yang punya kekuasaan dan sumber daya lebih besar  juga terpanggil untuk melakukan hal yang sama.


Delia dan suami tercinta yang sangat mendukung mimpi besarnya

Hari itu saya pulang dengan membawa inspirasi dari seorang Delia. Tak perlu menjadi seorang aktivis lingkungan dulu baru bisa bertindak, ternyata hanya dengan menjadi diri sendiri dan bertindak semampu yang kita bisa, kita pun telah berkonstribusi nyata untuk bumi yang kita cintai.





“My life story grows on trees, where will your story be?” – Delia von Rueti

Prita Hw

16 komentar:

  1. Aku suka tulisannya Mba Prita ^^, puitis dan rapi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, puitis yg bagian mana nih mbak? hihi, makasi yahh :)

      Hapus
  2. Bajunya cantikk-cantik ya jadi pengen hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, unik :) Langsung ke TKP aja mb buat order, haha

      Hapus
  3. Inspiratif banget. Bener, kek mimpi di siang bolong. Ada yang berbaik hati dan mau berbagi untuk alam. Huhuhu~
    gw klik linknya gak bisa mba.

    Semoga kita juga bisa menolong di mulai dari sekitar kita dulu :))

    oia, salam kenal yah mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal balik mbak :) ow iyakah, waktu itu bisa linknya, oke noted aku cek. makasih ya^^

      Hapus
  4. Sekali baca tulisnya ga pengen berenti. Keren tulisan dan inspirasi nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banyak mb, semoga bermanfaat ya

      Hapus
  5. Tulisan mba prita emang selalu enak dibaca, pantesan juara yaak hehe. Aku suka semua kaosnya mba haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mb Mei, alhamdulillah mb kalo juara, yg penting share aja krn kmaren itu juga sesuai ma aku banget :) kaosnya lucu2 kan ya^^

      Hapus
  6. Mau kasonya. Keren plus ramah lingkungan. Uh!

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus
  7. Emang bagus ya baju dan kaosnya :D

    BalasHapus