Refleksi Setahun Episode Perjalanan The Jannah Wedding



Halo all! Tulisan kali ini adalah surat terbuka sebagai pengingat kejadian setahun silam dan yang terus berjalan sampai hari ini bersama suami tercinta. Ceritanya lagi anniv-anniv-an :) Boleh disimak, boleh juga speed reading, apapun, yang penting tulus... :)

-----------------------------------------------------------------------

15 Agustus 2016, tepat hari kemarin kita telah menapaki perjalanan satu tahun yang kita tempuh bersama. Ulang tahun atau anniversary memang tak layak dirayakan, apalagi jika gegap gempita yang nyaris tanpa arti. Yang kuingin hanya sekedar memutar slide layaknya film berseri yang entah seri keberapa akan menemukan episode utuhnya. Semua itu tak lain untuk kembali mengukuhkan perjalanan yang mungkin perlu dievaluasi.

Persis layaknya perjalanan, packing disertai mencek dan ricek barang tentu tidak saja dilakukan saat pertama hendak berangkat, tapi juga saat telah sampai tempat tujuan. Kadangkala kita harus membongkar isinya kemudian menata ulang, membuang apa yang dianggap tidak penting, kemudian mengemasnya ulang agar perjalanan selanjutnya lebih efektif. Begitulah kira-kira yang ingin kulakukan pada perjalanan kita setahun ini.

Iseng-iseng saat menjelang hari ini, aku tanyakan padamu, kalau diungkapkan dalam tiga kata, apa yang mewakili perjalananmu denganku selama setahun. Jawabmu, bersyukur, tenang, dan bahagia. Sedangkan aku menjawab, bersyukur, memahami perbedaan, dan sabar. Hampir sama memang. Simpulan yang tidak saja dirasakan olehmu, tapi juga olehku adalah bersyukur. Atas apa? Atas semua yang telah Allah anugerahkan kepada kita...

Sedikit throwback, Agustus lalu hingga September, kita sempat berpisah sebulan untuk mempersiapkan kepindahanku dari Semarang ke Bekasi. Masih ingat saat kita bertemu di Jatinegara? Seperti sepasang kekasih yang lama tak bertemu. Oktober, kita memulai adaptasi lagi, menyatukan serakan apa saja yang bisa kita ingat di perkenalan kita yang dimulai Mei dengan hanya tiga kali perjumpaan fisik termasuk akad nikah. Rasanya sangat indah dan dipermudah... Meski memang aku perlu beradaptasi saat bertemu keluargamu di sebuah kampung di Kabupaten Bekasi yang sungguh jauh berbeda budaya denganku :)

Hingga November tahun lalu, aku merasakan kegelisahan yang amat sangat tentang beban pekerjaan menjalani rutinitas kantor yang makin lama membuatku tak menjadi diriku sendiri, bahkan sampai di rumah bertemu dirimu. Hanya aku tak berani mengambil keputusan karena berat meninggalkan timku. Hingga kau menasehatiku, “Kalau orang mau sampai puncak gunung, ransel gedenya dibawa ga? Ga kan? Cuma bawa seperlunya dan yang terpenting, bawa diri sendiri dulu. Kadang harus ada beban yang ditinggal untuk menyelamatkan diri sendiri...”. Ah, kekuatan ini yang selalu menjadi suntikan yang tak kupunya. Seperti yang pernah kau bilang dulu, ada titik lemah yang kamu tahu pasti.

Baca Juga : Cinta, Inilah Perjalanan Takdir

Bulan berikutnya, aku kembali menjadi diriku sendiri. Bebas dari rutinitas kantoran yang telah kujalani lima tahun di sebuah perusahaan advertising. Mulai dari mencicipi door to door ke rumah, ruko, kantor, mall, dan tempat umum lain sampai pada puncak prestasi merasakan empuknya kursi manager. Berat, iya. Tapi, ada pertanyaan besar : akan menemukan bentuk seperti apakah diri? Bermanfaat sebanyak apakah nanti?

Bulan itu hingga bulan-bulan berikutnya, aku benar-benar merasakan nikmatnya menjadi full wife. Rutinitas memasak yang juga absen selama itu kembali aku lakukan. Kesenangan menuangkan kata-kata lewat tulisan juga kembali menghampiri. Sesekali kamu datang untuk menikmati makan siang di rumah. Dengan lauk seadanya dan tentu balutan cinta, kita makin memaknai bahwa proses adalah segalanya. Terbukti, masakan ala cafe atau restoran yang setiap weekend selalu kunikmati bersama tim kantorku tak mampu memberikan sensasi yang sama. Karena, tentu semuanya tak melewati proses bernama RASA. Gusti Allah, nikmatMu yang mana yang aku dustakan?




Di awal-awal bulan itu pula, sebelum akhirnya aku memutuskan resign, aku sempat mengalami penyakit lama yang tiba-tiba kambuh karena bakteri dari air-air yang menjadi persinggahan saat aku ke kamar mandi, ditambah stress berkepanjangan karena terlalu memikirkan semua hal. Ada pembengkakan yang disebabkan bakteri. Kukumpulkan energi positif, selain berobat, dan mendengarkan lagi nasehat khasmu. Katamu, “Bakteri itu taat, Nong... Mereka melakukan tugasnya dengan baik. Sekarang kita, apa kita sudah seperti mereka...?” Jleb. Sejauh itukah aku tak paham?

Baca Juga : Percaya Saja dengan Sesuatu yang Tiba-tiba


Alhamdulillah semuanya kembali seperti sedia kala. Aktivitas normal kita lalui. Aku mulai menelusuri jalan yang lama tak kulewati, jalan sunyi seorang pegiat literasi. Termasuk menentukan arah karirku yang telah lama terenggut sebagai seorang freelance writer yang sempat kutekuni pada 2010-2011 dan beberapa menghasilkan karya batu loncatan bagiku. Sayangnya kadang realita tak sejalan dengan idealisme yang kita pegang teguh.

Bersyukur kemudian aku mengenal komunitas literasi di Bekasi, Jaringan Sekolah Raya yang merupakan saksi perkenalan kita. Ketika mereka meminangku menjadi penanggung jawab sebuah rumah baca yang menurutku berpotensi untuk menjadi lebih dikenal, akhirnya kita memutuskan pindah lokasi kontrakan. Pekerjaan harianmu sebagai buruh jahit kala itu ternyata cukup menghidupi kita, kalau boleh dibilang untuk menyebutnya pas-pasan. Memang Allah menjamin rezeki setiap umat-Nya, bahkan seekor burung dan ulat, apalagi manusia. Iya kan?

Selalu sadar dan sabar, ucapmu setiap kali. Akupun sama, “Sabar ya A’, aku baru memulai lagi jalan freelance. Butuh waktu...”, pintaku supaya kamu mengerti. Kulakukan apa saja, menggagas Lapak The Jannah yang awalnya semacam garage sale koleksi baju yang masih bagus tapi jarang terpakai, sampai menerima job tulisan yang pernah tak terbayarkan hingga kini, dan kemudian aku menemukan kehidupan sebagai fulltime blogger yang mengasyikkan dan membentuk pertemanan baru yang produktif. 

April, selepas kita dari Jogjakarta untuk mengikuti sebuah event nasional mewakili Jaringan Sekolah Raya, ternyata menyadarkan kita akan sebuah episode yang lain lagi. “Ternyata aku bisa hamil...”, ucapku saat mengetahui positif di sebuah klinik di Jogjakarta. Cerita tentang kehamilan tak terduga ini bisa dibaca disini.

27 April, tepat usiaku ke-31 tahun, kau dan aku menghuni kamar baru sebuah rumah sakit swasta yang tak pernah kita sangka. Menginap seminggu, dan kemudian kembali ke rumah. Sesuatu yang menguji kesabaran dan keberanian kita dalam waktu singkat dan alhamdulillah berkat pertolongan-Nya, kita lulus ujian. Terimakasih Allah...



Mei, aku menjadi seseorang yang berbeda, seorang perempuan yang kusadari memiliki arti besar bagi kehidupanku selanjutnya, generasiku yang akan datang. Aku mulai memasang prioritas.

Lagi-lagi, ujian kita bersambung, kau pun resign dari pekerjaanmu karena terlalu lama menemani dan mengurusku juga :) Aku yang mulai menemukan jalur karirku yang masih belum seberapa sebagai penulis freelance meyakinkanmu bahwa kita bisa untuk fight.

Benar kan akhirnya kau bisa produksi dan menggunakan skill mu untuk usahamu sendiri. Meski aku harus berulang kali berdiskusi denganmu soal personal branding, kehidupan freelance, dan bla bla bla yang lain. Aku akui aku juga harus sabar menghadapimu. Kadang aku egois, menganggap semua orang harus langsung mengerti apa yang aku sampaikan. Orang harus sepola pikir dan secepat aku dalam menerima semua informasi. Maafkan aku ya... Kesabaranku masih jauh dari kata sabar yang sebenarnya.

Ketika kita sampai pada Ramadhan pertama sebagai pasangan halal, rasanya menyenangkan dan penuh syukur. Mengingat saat jomblo, banyakan ngenesnya katamu :)

Idul Fitri juga begitu, kau melakukan perjalanan mudik pertamamu menuju kampung halamanku, yang juga kampung halaman kita, Jember tercinta :) Disana kita banyak menerima masukan kakak-kakak dan sahabat-sahabat yang menyayangi kita hingga menawarkan berbagai macam kemungkinan. Kata mereka, “Pindah ke Jember lebih enak, semuanya dekat, murah, juga kota santai. Ga keburu-buru seperti disana...Bisa usaha apa saja disini kalau memang ga terikat kantor...”, ucap seorang kakak perempuanku yang sangat care terhadap kita.

Lalu, akan bermuara kemanakah episode kehidupan kita selanjutnya, A’? Entahlah, yang kita lakukan hanya berusaha dan berdoa yang terbaik mengikuti jalan takdir-Nya. Ketika istikharah sudah dilakukan, perkara selanjutnya adalah kemantapan hati lewat keyakinan yang ditunjukkan Allah...

Terimakasih telah menjadi suami, sahabat, dan partner yang sangat berpengaruh besar dalam kehidupan pribadi, juga perkembangan karirku. Tetap menjadi fotografer andalan, tukang permak bajuku yang kebesaran, dan juga desainer amatiran untuk project-project ku yang sok penting ya, juga pengingat soal ilmu rasa mengimani apa yang tak tampak yang sering kau ingatkan. Love you~ Semoga pernikahan ini mengantarkan kita menuju surga-Nya, The Jannah Wedding :) Amien.



--------------------------------------------------------------------------

Itu saja kisah 1 tahun yang saya tulis di blog ini sebagai sebuah catatan dan jurnal perjalanan ya, duh jadi malu. Kalau temen-temen yang sudah lebih dulu mengarungi bahtera rumah tangga nih, seperti apakah di tahun-tahun pertama? Katanya ujian akan datang silih berganti di 5 tahun pertama ya? Hehe... Boleh di-share ya :)

Prita Hw

4 komentar:

  1. Semangat mbak, insya Allah selalu ada solusinya di setiap ujian dalam berumah tangga.

    BalasHapus
  2. hepi 1st eniperseri ya. moga hepi selaluu

    BalasHapus