Iman Suligi dan Kampoeng Batja

Iman Suligi Kampoeng Batja

Sosok menginspirasi kali ini datang dari kota kelahiran dan tempat saya dibesarkan, Jember. Pak Iman Suligi yang meski usianya tak lagi bisa dikatakan muda, namun memiliki energi yang melebihi anak muda kebanyakan dengan Kampoeng Batja-nya. Mari kita simak :)

--------

“Nanti Prit, saya ingin sekali pas saya pensiun, pindah ke tanah kosong di belakang rumah ini. Bikin rumah kecil, perpustakaan buat anak-anak...”, ucapnya menerawang saat itu. Niatan itu diucapkan sekitar 9 tahun lalu, tepatnya 2007 saat saya sedang bercengkerama bersama.

Adalah Iman Suligi yang sejatinya bukanlah guru di tempat saya belajar hingga SMA. Saya mengenalnya saat mengikuti lomba menulis dan Pak Iman bertindak sebagai juri. Nomor kontak yang dituliskan di papan tulis menarik perhatian saya, sebab beliau membubuhkan tawaran, “Bagi yang membutuhkan referensi apapun, boleh datang ke rumah saya.”, ujarnya.

Iman Suligi Kampoeng Batja
Selamat datang di Kampoeng Batja
Saya langsung mengunjungi rumah Pak Iman di Jl. Nusa Indah VI/7 Jember untuk berkonsultasi lomba menulis terbaru. Dengan telaten, pria yang juga mengajar Bahasa Inggris di SMK itu memilihkan referensi. Dari sinilah awal persahabatan saya dan bapak yang saya sebut sebagai orang tua sosiologis ini bermula. Kisah persahabatan itu saya rekam di Sahabat, Ini Buku Untukmu.

2009, pelan tapi pasti, niatan yang dulu terkesan hanya angan-angan itu benar-benar dikabulkan Allah. Dengan menyisihkan sebagian gajinya sebagai guru, dan rezeki lain yang tak pernah diduga, tanah itu terbeli. Doa itu ajaib, begitu kata Pak Iman. Satu dua saung dibangun, guguran daun-daun kering rajin disapu, debu yang beterbangan karena panasnya udara dan angin yang berhembus terus disirami. Tiap tahun pula kami bertukar cerita tentang perkembangan masing-masing. Keluarga, aktivitas, mimpi yang belum tercapai, apapun. Maklum, keputusan saya berkuliah di luar kota pada Jurusan Ilmu Informasi & Perpustakaan yang juga terinspirasi dari kiprahnya, membuat pertemuan nyata kami bisa dihitung. Meski di setiap tahun pula, Pak Iman yang lahir pada 7 Maret 1951 ini selalu menghujani saya hadiah berupa buku-buku.

Iman Suligi Kampoeng Batja
Saya dan Pak Iman Suligi sedang bercengkerama di depan guest house
Perpustakaan Penabur Hikmah, re-launching pada 2010 dengan nama Kampoeng Batja.  Siapapun boleh datang menikmati koleksi pribadi yang kini berkembang. Entah itu anak-anak, remaja, mahasiswa, dan masyarakat umum. Latar pendidikan Pak Iman yang lulusan diploma Seni Rupa menjadi pupuk yang terus menabur kesuburan untuk ide-ide kreatifnya.

Ia mengaplikasikannya pada perpustakaan mungil, saung baca, rumah pohon, lesehan diskusi, art decor, dan tanaman yang asri. Perpustakaan kebun memang tagline yang diusungnya. Ditambah, perbincangan mengenai buku, aktivitas literasi, disertai pula guyonan khas Pak Iman selalu membuat siapa saja larut. Dan kalau menginap, Pak Iman yang akrab dipanggil Kung dan istri tercinta, yang biasa dipanggil Uti, pasti tak pernah lupa menyiapkan sarapan sederhana yang selalu istimewa buat saya dan suami. Saya yakin teman-teman lain yang pernah berkunjung pun merasakan kehangatan yang sama.
Iman Suligi Kampoeng Batja
Suasana salah satu sudut Kampoeng Batja

Iman Suligi Kampoeng Batja
Salah satu sudut dinding Kampoeng Batja

Iman Suligi Kampoeng Batja
Saya dan suami menyempatkan bermalam di guest house, cozy :)

Dari niat sederhana, kemudian banyak pihak mendukung Kampoeng Batja. Volunteer dari multi kampus berdatangan, mereka berinisiasi menggelar lapak buku setiap hari Minggu di car free day alun-alun Jember. Pihak RRI Jember pun mengadakan acara khusus bertajuk Kampoeng Batja on air. Bahkan, seorang penyair dari Denmark, Katrine May Hansen, sempat hadir untuk poetry roadshow. Saat ini, Kampoeng Batja kerap menjadi jujugan komunitas ibu-ibu mengaji, kunjungan study tour sekolah, dan mahasiswa berdiskusi.

Dan, baru-baru ini, relawan Kampoeng Batja dengan inisiatif mandiri mencoba mengirimkan kisah tentang aktivitasnya di ajang Gramedia Reading Community Competition dan berhasil menjadi finalis di Region 5.

Iman Suligi Kampoeng Batja
Komunitas majlis taklim ibu-ibu
Iman Suligi Kampoeng Batja
Kunjungan anak-anak saat book time! (foto via FB Iman Suligi)
Iman Suligi Kampoeng Batja
Gelar lapak buku di alun-alun Jember saat CFD setiap hari Minggu (foto via FB Iman Suligi)

Iman Suligi Kampoeng Batja
Masuk Gramedia Reading Community Competition (foto via FB Iman Suligi)

Meski dinobatkan menjadi TBM Kreatif Rekreatif Tingkat Nasional oleh Kemendikbud pada 2014 lalu, bapak yang berusia 65 tahun ini masih memiliki impian yaitu menginisiasi stasiun radio streaming dan museum literasi. Ia ingin Kampoeng Batja menjadi jujugan wisata literasi Jember. “Membaca tidak saja tersurat berupa teks, tapi juga tersirat berupa replika, artefak, karya seni, dan lainnya.”, tuturnya bersemangat. Nanti, alat tulis menulis seperti yang digunakannya saat Sekolah Rakjat, mesin ketik kuno, pena berbulu, dan lain-lain bisa ditemui disini.

Iman Suligi Kampoeng Batja
Penghargaan Kemdikbud Tahun 2014

Iman Suligi Kampoeng Batja
Cikal bakal museum literasi
Iman Suligi Kampoeng Batja
Salah satu koleksi langka si cikal bakal museum literasi
Iman Suligi Kampoeng Batja
Hasil melukis dengan kapur Pak Iman Suligi yang juga ditularkannya (foto via FB Iman Suligi)

Harapannya, keintiman bapak tiga anak dengan buku dan perpustakaan ini dapat tertular dengan memberi manfaat bagi masyarakat. Bagi saya, Kampoeng Batja adalah oase bagi Jember yang memiliki tingkat buta huruf tertinggi di Indonesia, yaitu dinyatakan bahwa pada akhir 2010, 204.069 warga Jember yang buta aksara pada usia 15 tahun ke atas atau sekitar 10,74 persen dari jumlah angka buta aksara secara nasional (1,9 juta orang) (www.tempo.co). Jujur, saya juga ikut tertampar sebagai orang Jember.


Suatu kali di Facebook, Pak Iman membuat tantangan agar teman-teman mayanya menasehatinya karena biasanya si Kung lah yang memberikan nasehat. Saat itu saya pun memberikan nasehat kepada bapak saya ini, "Jangan lupa menciptakan Iman Suligi-Iman Suligi yang lain ya Pak, supaya Kampoeng Batja memiliki penerus...". Ia menjawab, "Ini juga nasehat yang bagus...". Percaya saja, doa itu ajaib.


Penasaran dengan Pak Iman Suligi dan Kampoeng Batja,
langsung saja meluncur ke :

Fanpage : Kampoeng Batja
FB Group : Kampoeng Batja
FB Group : Sahabat Kampoeng Batja


Prita Hw

10 komentar:

  1. Wahhhh luas banget area nya dan lengkap. Penasaran sama menabunh tulisan itu. Saya pnh ke jember tahun 2004 hihihi its been so long... mgkn kampung ini belom ada ya wktu itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, bener so long time mbak, itu masih awal2 mengungkapkan niat itu mbak, cikal bakal :) Nah, bs tanya2 ke Pak Iman tuh mbak di FB, ttg menabung tulisan :)

      Hapus
  2. Bener nih jadi penasaran
    jadi kepikiran buat kamar baca (di rumah) pastinya bukan di kampung hehe...
    Anak-anak sukar diajak membaca jaman sekarang ini, pengen banget ngajak anak-anak kampung juga suka baca...

    usaha usaha usaha! :) usaha dulu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. penasaran mau bikin perpus pribadi ya mbak? Dibikin sesimpel mungkin sesuai kebutuhan mbak, boleh konsul2 dimari kalo bingung :D semangat:)

      Hapus
  3. insiratif banget si bapak iman, saya juga ada cita-cita membuat taman bacaan, tapi kapan ya, sukses selalau untuk kampoeng batja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ayo mbak, nanti bisa aku support apa kek gitu inshaallah :) Semoga segera terwujud^^

      Hapus
  4. Waah salut ya dengan Pak Iman dan cita-citanya mendirikan kampoeng batja yang akhirnya terlaksana. Tidak banyak orang seperti Pak Iman yang mendedasikan hidupnya untuk kemajuan literasi di daerah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak betul :) Apalagi dedikasi seumur hidup dari uang pensiunannya, ga kenal usia deh bapak satu ini mbak :)

      Hapus
  5. indonesia butuh pemuda2 para mahasiswa dan mahasiswi yang berjiwa seperti pak iman suligi ini

    BalasHapus