Cerita Lebaran Asyik Hijaber Backpacker : Dari Berpetualang, Bikin Blog, sampai Silaturrahim

Cerita lebaran asyik diary hijaber


Tak terasa waktu sudah menuntun kita untuk sampai di akhir Syawal, bulan yang seharusnya penuh kemenangan karena Ramadhan telah berhasil dilalui. Tapi meski sudah hampir berlalu, kenangan tentang Syawal selalu saja membuat gagal move on. Dari apa? Dari serunya cerita lebaran asyik yang sudah dilalui dengan mengharu biru. Termasuk saya :)

Alhamdulillah tahun ini saya sudah naik level, bukan jabatan loh ya, tapi status (ehm!). Dari yang tahun lalu masih calon pengantin (karena baru sebulan setelah lebaran menikah), dan di tahun ini bertransformasi menjadi berstatus seorang istri. Spesialnya lagi, buat suami saya yang lahir dan besar di Bekasi, praktis mudik kali ini menjadi cerita bersejarah dalam hidupnya. Mudik perdana euy, ditemani istri lagi :) Tak tanggung-tanggung, mudiknya dari ujung Jawa Barat ke ujung Jawa Timur, yaitu Jember, yang dikenal sebagai kota tembakau, selain world fashion carnaval nya 15 tahun terakhir ini.

Ada banyak cerita lebaran asyik yang saya capture baik-baik dalam memori, tapi biar lebih asyik, saya bagi beberapa sesi ya (halah, kayak pemotretan aja), haha...

Pertama, saya mulai dari cerita asyiknya mudik.
Mudik pasangan suami istri baru yang meninggalkan Jember pas saat kami baru pertama diresmikan sebagai pasangan seumur hidup, Agustus 2015 yang lalu. Tak heran kalau kangennya sampai ke ubun-ubun. Kangen banget sama suasana rumah yang home sweet home juga ketenangan kota Jember yang selalu menyejukkan hati.Ya udara segar beraroma sentuhan pegunungan, ya suasana orang-orangnya, semuanya.

Kami mengendarai kereta api, transportasi massal paling diminati era ini. Karena rute yang jauh, kami harus mengambil dua rute kereta api, layaknya rute estafet yang disertai transit jika disamakan dengan rute pesawat. Rute pertama adalah perjalanan Jakarta Pasar Senen-Surabaya Gubeng pada 22 Juni 2016, pukul 09.30, dan tiba pukul 01.30 dini hari. Rute kedua adalah perjalanan Surabaya Gubeng-Jember pada 23 Juni 2016, pukul 09.00, dan tiba pukul 13.00.  Dan itu artinya, kami harus menunggu 7,5 jam dalam rangka transit. Lumayan pake banget :)

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Suasana Stasiun Pasar Senen Jakarta menjelang mudik Juni lalu

Tapi mungkin karena tipe saya selain perencana adalah just do it person, jadilah saya tak membayangkan kepenatan perjalanan dan sebagainya. Bisa bad mood dari awal berangkat kalau begitu mah... Saya ingat kalau lagi hiking bareng temen-temen, jangan pernah tanyakan, “masih lama nyampenya ya?” atau “masih jauh ga?” karena itu sama saja dengan tanda-tanda stress, haha.. Tapi just do it dan enjoy the process. Hm, oke :)

Saking kangennya sama Surabaya yang bagai kota kenangan kedua bagi saya setelah Jember, saya bersemangat banget pas sampai tujuan. Segala penat hilang begitu saja. Menguap ke dalam khusyuknya memori yang berjejalan di kepala saya saat kembali mencium aroma kota Pahlawan. Maklum, sejak 2003 selepas lulus SMA, saya berkesempatan kuliah di salah satu universitas di Surabaya, hingga lulus dan bekerja sampai tahun 2013. Sepuluh tahun saya hidup menyaksikan perkembangan kota ini. Metropolitan yang tetap kukuh memegang tradisi kelokalan penduduknya. Ini yang saya suka dari kota ini.

Dini hari itu, kami menuntaskan sahur dan memesan menu nasi goreng Jawa dan mie godhog (mie rebus Jawa) yang sudah saya bayangkan sejak berangkat, di Depot Gubeng Pojok yang melegenda, persis di sebelah Hotel Sahid Surabaya. 

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Nasi goreng jawa dan mie godhog yang menggiurkan, slurrppp...

Meski rekaman kenangan tentang kota ini terus melintasi pikiran, ternyata lelahnya perjalanan tak bisa dipungkiri. Mata mulai merasakan kantuk. Sedang subuh masih tersisa dua jam lagi. Kami kebetulan turun di Stasiun Gubeng lama yang tak menyediakan cukup tempat di dalam stasiun untuk menunggu. Beda dengan Stasiun Gubeng baru yang cukup luas. 

Akhirnya, dasar kami berdua ini sudah kerasukan virus bolang dari sananya, kami rebahan di pelataran stasiun yang tersisa, yang langsung berbatasan dengan trotoar dan jalan raya. Tahu-tahu, sayup adzan Subuh membangunkan kami, dan kami sudah terlelap sekitar 2 jam, hahaha... Mencoba cuek meski mungkin dilihat orang, mbak-mbak hijaber kok tidur di emperan stasiun ya :) Namanya juga hijaber backpacker :) Saya yang sudah kurang lebih setahun hijrah menggunakan hijab syar’i (alias tidak bercelana panjang dan berbaju panjang minimalis, serta kerudung menjulur ke dada) sudah sedikit memodifikasi gamis saya supaya ga kepanjangan, khusus untuk traveling. Saya potong gamis sampai di atas mata kaki, supaya aman saat harus aktif berjalan. Lumayan membantu.

Petualangan dilanjutkan selepas shalat Subuh, saya mengajak suami menyusuri beberapa spot penting di sekitar stasiun. Kami menyeberang jalan, menuju pemandangan Kali Mas yang bersih dan dikelilingi gedung pencakar langit kota. Di sebelahnya dengan gagah, berdiri Monumen Kapal Selam (Monkasel) yang biasanya dijadikan kunjungan wisata kota. Melangkah lagi berjalan di trotoar, saya merasa Surabaya sudah seperti Singapura saja di pagi hari. Trotoarnya lebar-lebar, setiap ada lahan kosong, pastilah dimanfaatkan menjadi ruang terbuka hijau. Di depannya, tak lupa disediakan bangku taman permanen yang tak bisa digeser untuk sekedar menunggu atau menikmati suasana. Aih, saya terpesona.
Cerita lebaran asyik diary hijaber
City scape Kali Mas diantara gedung pencakar langit

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Monkasel yang gagah di tengah kota

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Trotoarnya keren
Kami memutuskan kembali menuju Stasiun Gubeng baru, berjalan sedikit memutar lewat belakang jalan rel yang ada di tengah-tengah jalanan umum. Saya hafal sekali karena dulu sering berjalan kaki dari stasiun ke kost-an :) Kami bersiap menuju Jember.

Jam 1 siang tepat, welcome to Jember. Aroma sejuk meski di siang hari dengan pemandangan kota yang teratur dan kepadatan normal, membawa saya kembali bersemangat untuk segera sampai rumah, dan mencium tangan eyang putri dan papa. Tinggal mereka berdua, mama saya sudah wafat sejak 2008 yang lalu.

Setelah menikmati asyiknya perjalanan mudik, kedua, saya akan mengajak temen-temen untuk menikmati asyiknya berkeliling Jember. Maklum, kami pulang H-14. Sengaja, ingin menikmati lebih banyak waktu santai. Ga santai juga sih sebenarnya, karena kami tetap melakukan pekerjaan depan netbook saat di Jember, kan remote worker ceritanya :)

Saya mengajak suami yang hobi fotografi untuk hunting street photography di Jember. Berjalan menyusuri jalan protokol Gajah Mada dekat rumah orang tua saya, kemudian menyusuri pasar tradisional, hingga melewati Masjid Agung Jamie Al Baitul Amien dan alun-alun Jember. Dan saya juga terkagum-kagum dengan kota kelahiran saya ini, setiap taman kota kini memiliki branding tersendiri dan cukup rapi. Bagus lah kalau kota-kota lain mulai terinspirasi inisiator kota hijau, siapa lagi kalau bukan Surabaya :)


Cerita lebaran asyik diary hijaber
Street photography yang diambil dari JPO Jember pagi hari

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Pedagang jajan tradisional di Pasar Pelita menjelang hari raya ketupat H+7

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Masjid Agung Jember di malam hari
Cerita lebaran asyik diary hijaber
Salah satu taman kota di Jember, Semanggi

Surprisenya, ada sesuatu yang baru juga di Jember, Masjid Muhammad Cheng Hoo. Waa, wisata religi baru, gumam saya, Jadilah saya menyempatkan diri ber-hunting ria dengan suami pas panas-panasnya hari-hari terakhir Ramadhan. Alhamdulillah masih diberikan kelancaran. Hingga keseruan ini membawa kami memiliki ide baru, membuat blog khusus tentang Jember yang lagak-lagaknya punya potensi menjadi kota pariwisata masa depan. Traveling Jember Yuk akhirnya pun lahir dari ide kami berdua. 

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Ga ketinggalan wefie edisi hunting

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Tampilan laman blog baru kami

Masih penasaran dengan masjid yang dikelola muslim Tionghoa Indonesia tersebut, saya dan suami menyempatkan diri melaksanakan shalat Ied disana. Dan ternyata, perdana pula shalat Ied dilakukan disana. Lumayan, masuk jadi bagian dari sejarah. Pemandangan langkanya adalah, banyaknya aktivitas selfie dan wefie selepas shalat Ied, selain bersalam-salaman. Wah, begini ini kalau masjid sekaligus jadi tempat wisata, seru juga :)
Cerita lebaran asyik diary hijaber
Semua orang asyik ber-selfie dan wefie selepas shalat Ied
Cerita lebaran asyik diary hijaber
Kami ga mau kalah dong ikutan wefie selepas shalat Ied

Sampai di rumah, setelah bersungkem ria dengan eyang putri dan papa, ritual yang tak kalah ditunggu adalah menikmati lontong kare ayam sepuasnya. Beda dengan opor sepertinya ya, ini bumbunya kuning, lebih mirip kare. Asli resep warisan eyang yang khas, disertai sayur kacang tahu dan telur petis sebagai pelengkap, dan bumbu koya dari kelapa. Hmmmm, enaknya ga bisa saya ungkapkan disini, lebih enak kalau mencicipinya langsung, hahaha...

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Lontong favorit paling enak sedunia :)

Hari pertama, masing-masing saudara, kakak kandung laki-laki, kakak kandung perempuan, dan keluarganya masing-masing masih sibuk. Begitu pula adik kandung laki-laki saya. Barulah pada lebaran hari kedua, semuanya bisa berkumpul. Kangen dengan ponakan-ponakan yang lucu-lucu dan beberapa sudah beranjak dewasa :) Time flies.

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Atas : keluarga kakak laki-laki, kiri : suami dan keponakan laki-laki, kanan : kami dan keponakan perempuan


Karena masa kepulangan kami ke Bekasi mendapat jatah tiket kereta api pada 20 Juli 2016, artinya kami masih ada waktu dua minggu lagi di Jember. Jadilah saya memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. 

Nah, ketiga, saya akan ajak temen-temen menikmati asyiknya bersilaturrahim. Silaturrahim pertama yang sudah seperti ajang reuni tahunan adalah kunjungan saya ke rumah sekaligus jujugan wisata literasi Jember Kampoeng Batja, milik Pak Iman Suligi. Pak Iman adalah sahabat sekaligus orangtua ‘sosiologis’ saya sejak saya duduk di bangku SMP. Dari beliaulah, saya terinspirasi untuk mengembangkan wawasan menulis dan menginisiasi berdirinya perpustakaan komunitas yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Saya juga sempat bergabung menggelar lapak buku lesehan di alun-alun Jember saat seminggu pasca lebaran. Saya sungguh terharu, sebagai orang Jember, baru pertama saya melapak buku di kota saya sendiri. Sedang di kota lain, malah sudah berkali-kali :) Warga kota macam apa saya ini...

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Saya diapit Pak Iman dan istri tercinta
Silaturrahim kedua, wajib banget untuk reuni dengan sahabat-sahabat perempuan saya, yang sekarang kami namai Ladies :) Meski semuanya udah emak-emak, tepatnya emak-emak muda (tetep). Kami berkumpul di rumah Astrie, salah satu sahabat terbaik saya yang saat ini satu-satunya single setelah bercerai dari suaminya tiga tahun lalu. Saya, dan dua kawan saya yang lain, Anita, dan Indah, sengaja berkumpul untuk memberikan support tentang jodoh. Saling bertukar cerita sampai membuat whats app group khusus kami berempat akhirnya kami lakukan selepas heboh-heboh bersama. Betul banget kalau teman yang baik adalah juga rezeki dari Allah :) Kebersamaan kami semenjak SMA hingga saat ini tak lekang oleh zaman :)

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Kami saling melengkapi sejak SMA. Ki-ka : Anita-Astrie-saya-Indah

Silaturrahim ketiga, saya dipertemukan dengan sepupu saya yang sudah lama sekali menghilang kabarnya. Terakhir, kami bersama saat saya duduk di bangku SD kelas 6, tahun 1996. Saya baru bisa menemukan tempat tinggalnya setelah bertanya sana-sini ke ibu-ibu penjual pisang di dekat Pasar Sabtu di Jember yang kemudian saya ketahui sebagai mertuanya. Maklum, ayahnya yang juga om saya juga sudah lama tak ada kabar. Aneh memang. Akhirnya, kami menyambung tali silaturrahim kembali, ternyata sepupu saya bernama Yoan itu sudah memiliki dua anak, dan bahagia bersama suaminya yang berasal dari keluarga amat sangat sederhana, syukurlah :)

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Yoan, saya, dan anak keduanya (16 bulan)

Silaturrahim keempat, saya menengok guru Bahasa Inggris saya yang sekaligus pemilik Texas English Course. Dulu, kelas 4 SD di tahun 1994 saya sudah kursus disini gara-gara selebaran brosur di gerbang sekolah. Sampai perjalanan panjang, saya berhasil lulus dengan ijazah nasional di tingkat advance pada tahun 2003. Dari Ibu Lucy lah, saya belajar percaya diri mengikuti berbagai ajang speech contest sejak kelas 6 SD. Bagaimanapun, Ibu Lucy ini juga sosok penting dalam perjalanan hidup saya. Melihat Texas makin berkembang, saya jadi ikut bangga :)

Cerita lebaran asyik diary hijaber
Saya saat berkunjung ke Ibu Lucy bersama sahabat saya, Anita

Itulah kesemua kisah cerita asyik lebaran saya, temen-temen :) Bagi saya, semuanya berkesan, dan penting untuk diabadikan lewat tulisan. Sekaligus sebagai pengingat, apa saja hal bermanfaat yang sudah saya lakukan di momen lebaran kemarin. Saat saya kembali di Bekasi seperti sekarang, saya jadi punya energi lebih untuk berbuat lebih baik lagi. Termasuk, sebagai seorang hijaber yang juga ingin selalu update info terbaru sekaligus menambah silaturrahim lebih luas lagi, saya senang sekali begitu tahu ada agenda bagus dari Diary Hijaber yang perlu temen-temen catat :

Nama Acara: Hari Hijaber Nasional,
Tanggal: 07 Agustus - 08 Agustus 2016
Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat


Cerita lebaran asyik diary hijaber

Be there ya temen-temen, boleh juga janjian ketemu disana :) Bukankah silaturrahim tak mengenal batas maya dan nyata ?

           

Prita Hw

19 komentar:

  1. aSAsyiknya bersilaturahmi bersama orang-orang tersayang dan bisa merasakan mudik ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bagitulah mb, ceritanya selalu beda^^

      Hapus
  2. Romantis banget,jalan2 backpakeran masa2 pebgantin baru,seru pasti yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iya mbak, menikmati masa2, wkwkwk

      Hapus
  3. wah transit 7,5 jam lama bangetzzz

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbakkk,jadwalnya ga ada yg langsung, hiks. kl naek bus, jatohnya sama aja. dr stasiun ke terminal bs sejaman sendiri..

      Hapus
  4. Balasan
    1. kerjaan misua tuh mbak, haha, makasih mbak :)

      Hapus
  5. paling suka deh sama cerita petualangan kaya gini, seruuuu, lebaran plus petualangan, eh pose pertamanya kece banget lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, makasih mbak udah mampir :) petualangannya sepaket, haha..waduh, jd malu, pose pertama itu blm mandi abis subuhan itu :D

      Hapus
  6. wah kak pita lebarannya banyak ketemu sama orang2 keren ya asyik juga sempat hunting foto2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah lengkap pas lebaran kemaren, mbak :)

      Hapus
  7. seru banget mba Prita kegiatannya.., dapet semua ya, dari kulineran, nulis, sampe silaturahmi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes mbak, alhamdulillah nyenengin banget :) Thanks udh mampir

      Hapus
  8. Cerita lebarannya seruu... kalau pas mudik gini, kalo bisa semua keluarga di kampung halaman ditemui ya mbaak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah mbak, apalagi keluarga yg udah luamaa ga ketemu mbak..

      Hapus
  9. silaturahmi pasti selalu membawa keseruan ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mbak, rezeki dari Allah bukan saja uang :)

      Hapus
  10. traveling ato jalan bareng suami memang paling seru ya mba.. akupun hobi traveling..dan travelmate sejatiku tetep suami :D.. y paling seru diajak ngapain aja, yg bisa bikin perjalanan lbh berkesan, yg bikin aku ngerasa aman juga slama jalan :D..

    biasanya kita jg ga prnh ketinggalan mudik, cuma thn ini aja bolong dulu ;p.. soalnya si baby baru 4 bulan pas lebaran kmrn, makanya kita pikir masih terlalu kecillah :)..nikmati lebaran di jkt jadinya

    BalasHapus