Apa Bener Gerhana Matahari karena Kala Rahu ? : Fenomena #GMT2016


Semua orang lagi heboh soal gerhana matahari euy..!

Buku Dongeng Anak-anak tentang Gerhana

Lalu siapa Kala Rahu ? Ahaha, itu sebenarnya hanya kisah dalam sebuah dongeng. Mungkin tujuannya untuk menakut-nakuti anak-anak atau manusia supaya tak keluar saat gerhana matahari sedang berlangsung.

Kala Rahu diceritakan sebagai seorang raksasa yang mendapat kabar bahwa ada sebuah telaga bernama Kahuripan, Tirta Amerta di kayangan. Yang konon memiliki khasiat, barang siapa yang meminumnya, tidak akan mati selamanya. Itulah kenapa para dewa teratur meminum air ini.

Setelah melakukan segala macam penyamaran menyerupai dewa, si Kala Rahu akhirnya bisa meminum air tersebut, namun naas ada Batara Wisnu yang sedang berjaga-jaga dan melihat sesosok yang agak aneh.

Dihunuskannya cakra sehingga melesat di udara dan dipenggallah kepala Kala Rahu. Potongan badannya jatuh ke bumi berbentuk lesung, alat menumbuk padi. dan kepalanya tetap hidup karena sudah sempat teraliri air kayangan lewat mulutnya.

Ia marah dan mengamuk, segala bentuk di langit dilahapnya, dari awan, petir, hujan, bintang, hingga matahari.

Bumi menjadi gelap, manusia takut. Tak hilang akal, mereka beramai-ramai memukul-mukul lesung jelmaan Kala Rahu hingga kepalanya di angkasa kesakitan dan dimuntahkannya matahari.

***

Ada juga mitos yang mengatakan kalau perempuan yang sedang hamil juga nggak boleh menyaksikan peristiwa itu. Atau juga harus bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Katanya, bisa menyebabkan anak yang dikandungnya cacat.

Katanya siapa ? Katanya yang ngomong katanya, entah. Hahaha...

Jadi inget kalau kemarin persis, anak-anak yang sering membantu saya di rumah baca juga bertanya,"Kak, kalau orang hamil katanya harus di bawah kolong tempat tidur, tahayul ya kak kata Bu Guru ?", tanya mereka penasaran.

Hm, nampaknya legenda kuno terus ada hingga kini dan dilestarikan oleh beberapa orang. Tapi, sebagai bagian dari masyarakat beragama modern yang sudah well literate dan menelaah lebih dulu tentang segala sesuatu, tak ada salahnya kita cek dan ricek ya. Untuk tahu tentang mitos vs faktanya, bisa baca disini 

***

Terlepas dari segala macam mitos, saya yang pagi ini sudah berencana melakukan shalat gerhana matahari total di mushalla deket kontrakan, ternyata terlambat. Pas saya lewat, sepertinya sudah ceramah.

Hm, menurut informasi yang saya baca kemarin sih, hukumnya sunah muakkad ya, jadi aman. Paling tidak, niat sudah dianggap sebagai pahala ~ngarep :)

Lalu, akhirnya saya pun cus bersama suami untuk hunting momen langka ini. Langka karena dari berbagai sumber disebutkan gerhana matahari total terakhir dilihat pada 1983. Bahkan teman saya suatu malam di grup whats app pun bilang, "Jangan biarkan aku menunggu peristiwa ini 25 tahun lagi kak, seperti halnya menunggu jodoh.." ~ eaaa

Meskipun akhirnya teman saya dan beberapa kawannya yang lain jadi gagal menyaksikan peristiwa langka ini karena jalanan yang macet kayak lebaran saat menuju planetarium di daerah TIM. Yah, anda belum beruntung, gaes!

Minimal tulisan ini bisa menghibur kalian yah, karena akhirnya suami saya yang tiba-tiba bangun pagi-pagi, sibuk wara wiri mikirin harus pakai filter apa saat memotret. Dan, voila! akhirnya pilihan jatuh pada kaca nako yang berfungsi sebagai jendela kamar kami.

Memotret dengan filter kaca nako 4 lapis

"Dipinjem dulu, ah", katanya. Jadi, dicopotlah kaca nako dari frame nya, dan ditumpuk, lalu disatukan dengan lakban hitam. Nggak tanggung-tanggung, 4 lapis! Itu juga masih terkesan tipis pas praktek motretnya.

Kami memilih lokasi dekat sawah perumahan yang sedang dibangun di daerah Tarumajaya, Bekasi. Saya menggelar sajadah di atas tanah. Seketika perasaan saya jadi berbeda, hati saya bergetar. Merasakan betapa dekatnya dengan tanah jadi mengingatkan manusia berasal dari tanah dan akan kembali menyatu menjadi tanah.

Lantunan takbir, tahmid, dan kalimatullah lain dari pengeras suara masjid-masjid sekitar menambah rasa kecil kami sebagai manusia ciptaan-Nya yang sedang menyaksikan fenomena alam. Masya Allah, segala sesuatu terjadi karena ijin Mu!

Saya pribadi jadi sadar, semacam diingatkan. Melihat sinar matahari yang sedang dilalui bulan barang sejenak saja, mata saya sudah takut kesakitan karena silau lah, takut inilah itulah, bayangkan ketika kita bertemu dengan Sang Penciptanya... Maha besar Engkau ya Rabb dengan segala keagungan Mu.

 

***

Euforia untuk melihat fenomena alam ini sih buat saya nggak masalah asal dibarengi dengan perenungan yang dalam tentang alam semesta dan Yang Maha Menciptakan.

Jadi, masih berpikir kalau Kala Rahu yang memakan matahari ? Sepertinya sekarang kita perlu membuat dongeng atau legenda baru dengan dasar tuntunan-Nya dan sains yang cerdas. Kira-kira yang seperti apa ya? Selamat berimajinasi :)







Prita Hw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar