Berpelesir Religi di Masjid Luar Batang

Pernah dengar tamasya ke masjid ? Aneh memang, tapi saya pernah meresensi buku yang berjudul sama. Apaan sih tamasya kok ke masjid ? He eh, saya paham, celetukan itu tak aneh. Bagi sebagian orang, mungkin masjid tak lebih sebagai tempat ibadah. Tapi bagi sebagian yang lain, jadi tempat pelesir oke juga. Tak hanya mata dalam arti organ tubuh yang disegarkan, tapi juga mata batin ikut terasah.

Selain senang mengunjungi masjid agung setiap kali singgah di satu kota tertentu, saya juga suka mengunjungi masjid atau surau bersejarah. Salah satunya adalah yang terletak di kawasan utara Jakarta dan cukup dianggap keramat, seperti namanya, Masjid Keramat Luar Batang. 
 
area masjid tampak depan, tampak penjual makanan di sebelah kiri

Samping kanan masjid, tempat wudhu, toilet, sekretariat, dan TPA
Namanya cukup aneh, setidaknya menurut saya. Ternyata Luar Batang adalah nama kampung yang terletak di Penjaringan, Jakarta Utara. Konon, nama Luar Batang mulai dijadikan julukan kampung saat Al Habib Husein bin Abubakar Alaydrus, pendirinya, meninggal pada 24 Juni 1756 M. Beliau adalah salah satu ulama yang berasal dari Yaman, dan menyebarkan agama Islam hingga wafat di kampung ini. Dan kampung yang luasnya sekitar 14 hektar ini disebut-sebut sebagai hadiah pemberian Gubernur Belanda kepadanya. O iya, nama Luar Batang berasal dari awal mula jenazah akan dimakamkan. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, jenazah Habib Husein awalnya akan dimakamkan di sekitar Tanah Abang. Namun, setelah sampai di pemakaman, jenazahnya tidak ada di dalam kurung batang, melainkan berpindah ke kamarnya. Karena peristiwa ini, kamar yang dulunya ditempati oleh Habib Husein kini menjadi makamnya, bersebelahan dengan makam muridnya, Haji Abdul Kadir. Sejak itulah, kampung ini terkenal dengan nama Luar Batang. Selengkapnya bisa dibaca disini

Hm, ngomong-ngomong tentang tamasya ke masjid tadi, sebenarnya berbeda dengan berziarah. Kalau saya suka mengamati arsitektur yang sering mengundang decak kagum, mengalami pengalaman beribadah di dalamnya, dan membaca sejarahnya. Beda dengan suami, yang menyukai ziarah. Sebelum kesini pun, saya dan suami harus sedikit berdebat dulu, eh tepatnya berdialog lah, hehe biar kesan romantisnya sedikit seksi :)

Kalau tidak karena nadzar suami yang katanya kalau diijinkan menikah tahun lalu (baca:2015) akan berziarah kesini, mungkin saya belum tentu menginjakkan kaki disini. Karena hukum ber-nadzar jika dikaitkan dengan ibadah sunah atau dalam rangka mendekatkan diri kepada Sang Khalik adalah wajib, katanya. Iya deh, nurut. Demi menyenangkan suami. Apalagi memang saat awal tahun baru 2016 yang lalu itu, kami tak ada agenda pelesir khusus.  

Makanya sebelum ini itu, saya tak lupa googling seperti biasa untuk memantapkan hati. Dan, ternyata, bila niatnya untuk dzikrul maut atau mengingatkan pada kematian dan mendoakan ahli kubur, itu sangat sah-sah saja. Alhamdulillah. Penjabaran lengkapnya tentang ini simak saja langsung kesini yah.

Maklum, saya tak ingin terjebak dengan stigma yang keliru atau disebut sebagian orang mendekati syirik bila niat berziarahnya untuk memohon sesuatu pada yang tidak semestinya. Ya, kira-kira begitu. Apalagi masih ada lagi yang menambah kekhawatiran saya adalah tentang sumur keramat, yang letaknya di dekat area meletakkan sandal, persis sebelum batas suci. Dan ada pula yg memajang dan 'menjual' air sumur tersebut, meski uang yang kita bayarkan atas air tersebut adalah seikhlasnya. Saat saya tanyai, kenapa disebut air keramat ? "Ya karena dari sumur keramat yang sebelumnya sudah didoakan. Air putih sendiri saja sudah bagus, apalagi kalau ditambah doa, " begitu penjelasannya. 

Dalam hati saya menelaah. Hm, masih sejalan sih dengan dasar ilmiah yang pernah saya tahu sekilas. Seperti hasil penelitian Doktor Masaru Emoto dari Universitas Yokohama yang telah melakukan penelitian tentang perilaku air. Hasilnya adalah bahwa air itu bisa melihat, mendengar, dan memahami segala bahasa. Atau dengan kata lain air ternyata hidup. Doktor Emoto menuliskannya di buku ”The True Power of Water”, “The Hidden Message of Water”, dan “The Secret Life of Water”. Singkatnya, bila diberi pengaruh kata-kata positif, termasuk doa-doa, air akan membentuk kristal yang indah saat dilihat menggunakan mikroskop elektron. Dan sebaliknya, membentuk kristal yang buruk dan bahkan hancur saat diberi pengaruh kata-kata buruk. Wallahu a'lam. Tapi saya membawanya pulang 1 botol, hehe.

Satu sudut yang memajang air keramat
Jadilah saat itu, saya ber-motor ria menuju lokasi, melewati Ancol yang ramai tak terkira, masuk menuju gerbang bertuliskan 12 Jalur Wisata Pesisir. Makin masuk, makin padat pemukiman penduduk, dan berakhir pada pelataran parkir yang agak semrawut menurut saya. Besok-besok kalau memang menjadikan salah satu jujugan wisata religi, sepertinya pemerintah harus menaruh perhatian lebih ke yang satu ini. Just suggest^^

Satu-satunya yang menarik perhatian saya adalah penjual bakso dan tahu gejrot, haha, panggilan alam kalau yang ini :D Jadilah saya menikmati semangkok bakso telur yang enak dan sebotol es teh, ah lega! Menurut si penjual, kalau masjid ini ramai dikunjungi, salah satu berkah buat warga adalah dagangan yang laris. Alhamdulillah, sesuatu ya pak!
Saatnya Pulang

Mulai memasuki area kampung Luar Batang pukul 3 sore, dan kemudian memasuki masjid pukul 5 sore untuk bersiap-siap shalat maghrib, dilanjutkan menunggu shalat isya' sampai jam 8 malam, membuat hati kami ayem tentrem. Di sela-sela shalat, kami menunggu dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Mendoakan keluarga yang sudah menghuni kampung akhirat lebih dulu, termasuk mama tercinta. 
Saat-saat berjibaku dengan bacaan-bacaan Al-Qur'an nan suci dan agung membuat saya merinding, mengingatkan saya juga betapa kadang kesibukan dunia mengalahkan segalanya, termasuk urusan berjumpa dengan-Nya lewat shalat dan bertafakur mengkaji ayat-ayat-Nya. 

Doaku selalu, "maafkan kami atas semua kekhilafan abstrak maupun non abstrak, disengaja ataupun tidak. Dan ingatkan kami keras-keras bila kami telah lalai..."

Tafakur diri yang hanya beberapa jam saja tadi membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang, kembali mengisi hari-hari dan waktu yang menantang untuk ditaklukkan di tahun 2016 ini.

Suasana malam hari Masjid Luar Batang


Teks : Prita HW
Photo : Nana W


Baca juga artikel berhubungan dengan masjid nih :

Prita Hw

4 komentar:

  1. ternyata seru juga ya mba ngeriview masjid yang kita kunjungi. wah, jadi terinspirasi nih. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai hai mbak,iya seru,lebih ke pengalaman rasa yg mungkin tiap orang beda2 gitu sudut pandangnya. ayo2 review masjid :) makasih ya udh mampir~

      Hapus
  2. aku termasuk yg suka bgt nyari mesjid kalo sdg traveling ke luarnegri.. pgn tau aja mesjid2 di sana seperti apa , truatama di negara yg bukan mayoritas muslim.. tapi ttp sih mesjid yg paling cantik, nyaman utk ibadah, itu mesjid2 di brunai darussalam mbak.. mewah, arsitekturnya keren, dan bagian dalam mesjid, duiingiiinnn.. bikin khusyuk tuh :D.. sayangnya blm prnh ke tanah suci, jd aku ga tau mesjid2 di sana gimana. ama blue mosque di turki jg cakep.. dan hagia sofianya yg dulu gereja, kemudian diubah jd mesjid, dan skr jd tempat wisata, jg bikin merinding.. merinding krn kagum ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbakkk, aku kaloke kota2 lain atau negara lain juga selalu nyari masjid agungnya gitu, cuma kalau ini spesial sama ziarah :)

      Hapus