Cinta : Inilah Perjalanan Takdir

Sungguh, setelah sekian lama tak berjumpa di layar tulisan ini, aku ingin menuntaskan syukur yang tiada henti yang sampai saat ini terus terpanjat lewat ucap yang tak berbatas.
Setelah episode Catatan Kecil untuk Kamu, dan Selamat Datang Turbulensi Cinta yang memuat kisah dan rasa dengan orang-orang yang sudah pernah diupayakan, kali ini aku menulis tentang kisah dan rasa yang kemudian menemukan hilirnya, insyaAllah. 

Titik Takdir Itu

Pertemuan yang ditakdirkan ini dimulai pada 31 Mei 2015 lalu, hari yang dijadwalkan untuk bisa hadir berbagi materi fun writing dengan adik-adik berprestasi dari kalangan dhuafa di Rumah Baca (Rumba) HOS Tjokroaminoto dan SD Alam Anak Sholeh, Tarumajaya, Bekasi. Workshop yang digelar dua hari, dimulai dengan workshop Kamera Lubang Jarum (KLJ) dan workshop fotografi itu digelar atas kolaborasi tiga komunitas, Jurnal Khatulistiwa (Jurkhat) tercinta, Bekasi Foto partner yang paling setia, dan jaringan Sekolah Raya yang menginspirasi.

Awalnya semua berlangsung normal saja. Aku datang dari Semarang karena kebutuhan untuk memfasilitasi workshop yang baru kali ini semua pesertanya didominasi anak-anak. Selain ingin melepas kawan-kawan Jurkhat yang pada hari yang sama siap memulai perjalanannya dalam event Ekspedisi Nusantara Jaya yang sudah ditunggu-tunggu.

Sehari sebelumnya yaitu 30 Mei 2015, workshop berlangsung seru dan ramai. Kami bergembira bersama. Juga belajar bersama. Barter ilmu. Antara adik-adik hebat dengan kakak-kakak yang tak kalah hebat. (baca juga Barter Ilmu itu Seru!) Aku yang satu-satunya partisipan dari luar Jabodetabek, otomatis berencana menginap di homestay relawan yang disediakan. Ditemani Erlangga ‘Botak’, partner paling setia mengawal Jurkhat selain sahabat lamaku yang sedang ‘isra’ mi’raj’ dalam tugas jurnalistiknya, ikut bersama kami menginap, Bang Nana dari Bekasi Foto yang baru bergabung dengan kami malam itu dalam diskusi hangat di teras Rumba HOS Tjokroaminoto.
Semuanya mengalir, aku yang asli sangat capek karena jadwal yang estafet sejak dari Semarang, memilih tertidur hingga pulas dan tidak begadang di malam harinya. Hingga workshop fun writing selesai di siang hari diakhiri dengan makan siang bersama di homestay relawan yang dijamu oleh Bang Agus Tian, sang founder SD Alam Anak Sholeh, cerita ini dimulai.




Aku sangat appreciate atas kesediaan waktu Bang Nana yang sedari pagi 31 Mei saat itu mengawalku sebagai satu-satunya partner dari Jurkhat dan Bekasi Foto. Kawan yang lain sudah sibuk melanjutkan agendanya masing-masing yang tak bisa diganggu gugat, but show must go on! Ditemani dengan beberapa kawan baru dari jaringan Sekolah Raya, kami menuntaskan workshop siang itu. Sebelum kami semua berpisah, aku bilang secara spontan, “Bang, foto dulu dong kita!”. Cekrak cekrik dua kali. Aku senyum sendiri melihat hasil fotonya. Kaos abu-abu kami, Jurkhat dan Bekasi Foto bersanding, serasi juga, gumamku saat itu. Tiba-tiba dengan santainya, Bang Nana menanggapi, “Tinggal tentukan tanggalnya.” Hm, saat itu, aku langsung berpikir, jangan-jangan nih orang…



Episode Takdir Berikutnya

Sehari atau dua hari setelah kepulanganku dari Bekasi, deringan telepon dari seberang sana cukup mengagetkanku. Setelah sebelumnya dimulai dengan pesan singkat ala kadarnya.

Saat itu, kamu mulai menyampaikan maksud pendekatanmu. Dan, jujur, aku yang memang masih memasuki masa-masa peralihan untuk mengenal apa itu ikhlas lebih jauh lagi, masih gamang mendengar maksudmu. Ikhlas dalam arti apa, dalam arti menerima ketentuan-Nya yang tak sesuai dengan keinginan dan persepsi subyektif kita. Karena di hari yang sama juga, aku bertemu untuk yang pertama dan yang terakhir dengan seseorang yang juga membawa sedikit banyak warna dalam pemikiranku. It’s clear. Allah sudah mengatur semuanya.

Katamu, kau mencari seorang calon. Bukan sekedar calon kekasih bualan, tapi kekasih pendamping hidup untuk bisa mengarungi bahtera kehidupan yang maha dahsyat di depan sana. Wow. Keberanianmu perlu diuji rupanya. Di titik ini, aku tak lagi ingin berharap banyak hal. Karena pasti aku belum mengenalmu dengan baik, selain dirimu yang ada di circle pertemanan yang sama.
Aku sangat menghargai upayamu yang intens membangun komunikasi denganku. Aku yang benar-benar  tak punya persepsi dan pengharapan apa-apa tentangmu. Hanya saja pikiranku berusaha menelaah, apa ini yang namanya takdir?

Hingga 5 Juni 2015. Di ujung sambungan kabel telepon yang memenuhi ruang hampa udara untuk kesekian kalinya, aku melihat dirimu sebagai satu sosok yang mendekati utuh untuk bisa membangkitkan rasa yang ada dalam hatiku.

Kau bilang, ada rasa yang menjalarimu begitu saja, ada hati yang digerakkan untuk memilih. Ada bisikan yang mencoba memberi petunjuk untuk memilihku. Ya, aku dipilih. Bukan memilih. Itu perbedaannya. Kau bilang, aku adalah cerminan masa lalu dan masa depanmu. Entah. Kau bahkan bisa menilaiku tanpa aku menceritakan detail tentangku. Meski tentu aku tak sepenuhnya percaya.
Potongan kata-katamu yang terngiang malam itu, “Kamu kuat, tapi ada jiwamu yang belum kuat. Ada aku yang berusaha menuntun kamu untuk menguatkan itu. Dan ada kelebihan kamu yang bisa melengkapi kekuranganku. Melihat kamu, aku merasa menjadi laki-laki, aku berani, dan kamu perlu dilindungi.” Kata-kata yang mungkin terkesan seperti rayuan tapi di saat yang sama, juga menampar sisi hati terdalam. Lalu, kau masih meneruskan, “Aku bukan melihat kamu sebagai kamu yang dikenal sebagai salah satu founder Jurkhat, kamu yang team leader di management apa, bukan. Karena kalau aku melihat itu, semua itu bisa hilang seketika. Dan kamu bukan siapa-siapa, kecuali yang ada di dirimu…”. Saat itu juga, air mataku mengalir. Hatiku juga meleleh. Aku tahu ada kejujuran yang amat sangat disitu.



Aku menemukan kesamaan visi dan jati diri pada dirimu juga. Apa sih tujuan kita hidup di dunia ini? Melalui diskusi yang panjang dan menghabiskan malam dari hari ke hari, kamu dan aku bersepakat. Ya, kesepakatan kita adalah visi hidup bahwa, kita diciptakan berasal dari mana dan oleh siapa? Di dunia ini untuk berbuat apa? Dan nantinya akan kembali kemana? Yang perlu kita siapkan adalah bekal. We got it! Insyaallah, ketika semuanya dimulai dari titik keimanan dan ketaatan pada Sang Khalik, semuanya akan berjalan lancar, semesta dan semua isinya yang digerakkan oleh Allah pun akan mendukung.

Subhanallah, betapa Allah menjanjikan yang terbaik saat waktunya tepat dan kita siap. Janji Allah adalah benar ketika kita bisa melewati berbagai macam ujian untuk sabar, tawakal, dan ikhlas menjalani takdir-Nya. Aku percaya, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu pula sebaliknya.

Ketika kau sampaikan itu, aku banyak meminta pertimbangan dari para sahabat juga orang-orang yang berkompeten. Jawabannya semua sama, ini yang namanya takdir. Ini yang namanya laki-laki. Dan, kata seorang teman yang menjadi guru mengkaji ilmu Islam, doakan, “Jika dia yang terbaik buat keimananku, lancarkanlah, mudahkanlah…”, sungguh menyelami seseorang ketika sudah dalam ikatan suci akan lebih indah, tambahnya. Tambahkan istikharah, ketika hati bertambah mantap setiap harinya, itulah jawaban dari Allah.

Ketika kulakukan itu, dan engkau pun melakukannya. Disitulah doa-doa kita terpanjatkan dan bertemu.




Hingga suatu ketika di percakapan kita yang berlembar-lembar bila ditulis, kau menutup dengan QS. At-Taubah (9) : 128-129, dank au memintaku membacakan artinya, “… Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” . Di ujung telepon, kamu terharu dan akupun sama, air mataku tak terasa membasahi pipi.

Di malam itu juga, keyakinanku meningkat. Kau dan aku adalah jalan takdir. Disatukan oleh semesta dan disiapkan oleh Allah. Ajakanmu selalu, sabar dan tawakal menjalani semuanya hingga hari suci itu tiba.

Terimakasih Allah. Terimakasih semesta.
#love #berkah

Prita Hw

2 komentar: