Jodohmu Udah Dimana?



timeline undangan pernikahan yang suami desain sendiri

Alhamdulillah. Bulan November ini, genap 3 bulan sudah aku dan suami menjalin ikatan suci. Ehm! Masih seumur jagung sih katanya. By the way, umur jagung emang berapa yah? Haha. keliatan banget kan cuma ngikut doang:)

Meski baru 3 bulan, tapi rasanya perjalanannya panjang. Bukan pacaran sebelum menikahnya tambah masa-masa galaunya, bukan yah, karena kami menikah tanpa pacaran. Yang ada, pacarannya makin mesra setelah menikah. Alhamdulillah.

Jadi begini, aku menulis ini karena seringnya sharing sama beberapa kawan yang sampai saat ini katanya jodohnya masih jauh. Nggak tahu lagi sampai di terminal atau stasiun mana, atau masih liburan ke luar pulau atau luar negeri kali jodohnya, hehe.. Daripada pas ketemu, banyak banget yang nanya, atau penasaran yah, jadi sekalian ditulis disini.

Balik lagi soal jodoh, pasti Allah sudah menetapkan yang terbaik dari yang terbaik. Menurut standar siapa? Ya pastinya standar Allah dong. Kalau standar manusia mah nggak ada ukuran puasnya, nggak ada rasa syukurnya. Sedikit flashback, pernikahanku yang kedua dan inshaallah yang terakhir ini juga merupakan kehendak Allah. Kalau gitu, jodohku ada dua dong yah? Hm, mungkin begitu. Walllahu a'lam. Yang jelas, aku jadi paham bahwa di pernikahan sebelumnya, aku yang sempat mempertanyakan soal takdir dan hadist yang berbunyi, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya, kembali disadarkan dengan jalan takdir itu sendiri. Berarti kalau dulu aku bersuamikan orang yang agak 'bermasalah' soal kejujuran dan sikap lain yang mendukung rasa sayang jadi berkurang, berarti.... apa hayo? Tandanya, aku pun masih di level yang sama. Masih belum tahu sejatinya diri sendiri ini siapa dan akan melangkah kemana. Masih disibukkan hal-hal duniawi. Tidak atau belum ada di tingkat mengenali diri dengan baik.

2012 hingga 2015. Cukup lama juga. Sekitar 3 tahun aku berjalan di atas kaki sendiri untuk survive semenjak perceraian itu. Dan aku bertekad untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun. It's called, pacaran. Kenapa? Aku mulai ingin melakukan hubungan serius yang sebenarnya. Tanpa sakit hati dan semacamnya. Selain, perasaan berdosa yang selalu muncul menjalani masa-masa seperti itu. Dengan bertambahnya usia dan waktu, tak ada alasan untuk tak konsisten dengan pilihan.

bahaya pacaran

Lalu, kenalnya dari mana dong kalau nggak pacaran ? Sabar lah, Allah pasti membuka jalan. Prinsipku waktu itu adalah buka jalan seluas-luasnya untuk pertemanan. Dulu, juga aku pernah dinasehati seseorang unuk memaafkan masa lalu dan buka hati. Begitu ada yang mendekat, tantang untuk menghalalkan. Dan disitulah kamu bakal melihat keseriusannya. Saat itu, aku cuma manggut-manggut. Paham secara bahasa, tapi tak paham prakteknya seperti apa.

Tetapkan Kriteria

Di masa-masa galau juga, aku bertemu dengan seorang kawan lama yang dulu sama-sama sekampus dan baru saja menikah. Saat itu, aku yang baru bercerai, dinasehati panjang lebar. Dikasih masukan, panjang tapi berarti. "Prit, kamu tuh nggak bisa nikah sama orang yang 'biasa-biasa'. Harus yang punya social interest sama, yang bisa melakukan apapun seperti yang kamu lakukan. Saranku, tetapkan kriteria. Ketika ada yang deket, intip lagi kriterianya, kalau nggak masuk, tinggalin aja." Wow, setegas itu, pikirku. Tapi, aku melakukan itu kok. Lumayan, ada penjagaan.

Ada satu dua orang yang aku dekat, aku langsung lihat kriteria. Kadang di tengah aktivitas padat yang aku lalui sehari-hari, sebenarnya ada rasa gelisah dalam diri. Akan berlabuh kemanakah hati? Akan tinggal membangun rumah tangga dengan siapakah diri?

Kegelisahan ini muncul saat aktivitas mulai tak begiu padat, atau malam hari. Dari malam ke malam, dari hari ke hari. Saking nggak ada kerjaannya, sering sekali antar teman sekantor, saling ngobrol siapa diantara kami yang bakal duluan ke pelaminan. Pasti saat itu semua jawaban dan prediksi menuju ke yang sudah memiliki calon. Dalam arti dekat atau bahkan ada yang sudah pacaran bertahun-tahun. Dan saat itu sih, aku cuma manyun. Pasrah.

Kenali Diri dan Perbaiki Diri

Sampai suatu hari, aku datang ke sebuah pameran buku, dan mataku tertuju pada satu buku, judulnya Jodoh Dunia Akhirat. Sampulnya ungu lucu dengan karikatur sepasang burung. Aku penasaran dan akhirnya memasukkannya dalam daftar belanja. Judulnya benar-benar bikin aku menebak-nebak apa saja pembahasannya.
 
Sumber : www.martaliaws.wordpress.com
Mata dan hatiku kembali tertohok saat disitu tertulis, bahwa kita harus ikhlas mendengar kabar gembira pernikahan. Perasaan iri saat menerima undangan teman, dan dalam hati berkata, kapan ya giliranku? Itu sama sekali nggak perlu. Atau pernyataan ingin menikah karena perasaan-perasaan yang kurang benar. Misalnya seperti faktor usia, tuntutan keluarga, ingin keluar dari rumah supaya bisa bebas dari aturan keluarga, dan alasan lain yang sejenis. Wih, aku langsung berpikir. Luruskan niat.

Akhirnya aku berefleksi ke kehidupan yang aku jalani beberapa tahun terakhir. Aku sadar bahwa kadar keimananku berkurang. Shalat dan ibadah ritual ya tetep, tapi dengan kualitas seadanya. Maksudnya? Aku berhijab sejak duduk di bangku SMP kelas 3. Kurang lebih 16 tahun sudah. Dan alhamdulillah nggak pernah melepas hijab di depan umum. Tapi, ternyata kurang lebih 2 tahun di pekerjaan kantoranku saat itu, aku memilih praktis karena harus tinggal di kontrakan bersama cowok cewek yang disebut mess. Jadilah di dalam mess, hijabku aku tanggalkan, dan berpakaian layaknya muhrim semuanya. Astaghfirullah, langsung aku sadar dan terhenyak.

Ampuni aku ya Allah, aku berniat mengembalikan kadar keimananku lebih lagi. Malam itu pun aku berpesan pada cowok-cowok se-mess untuk mengetuk pintu lebih dulu karena aku akan keluar dengan hijab. Mulai dari sekarang. Agak berat saat pertama mengikrarkan, tapi harus.

Malam itu juga, tiba-tiba aku bermimpi sedang ditunggu oleh satu jama'ah untuk memimpin bacaan dari sebuah ayat Al-Qur'an. Semua mengejar-ngejarku. Sampai akhirnya aku membaca :

Sumber : www.petualanganzara.com
Selesai membaca ayat di atas, aku langsung terbangun dari tidur. Hari sudah pagi, dan aku langsung browsing artinya. Subhanallah. Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Mungkin ini hidayah keduaku, setelah sekian lama. Aku lupa tanggal persisnya. Saat itu, aku niatkan untuk istiqamah menjaga hijab di dalam mess, dan otomatis di luar.

Ternyata nggak selesai sampai disana. Saat iseng mampir ke toko buku, mataku juga tertuju sama satu kata yang sudah lama kukenal : KHILAFAH. Khilafah adalah satu sistem pemerintahan Islam yang menjalankan seluruh aturan Allah secara kaffah (sempurna) dan komprehensif. Satu kepemimpinan untuk satu dunia, seperti zaman Rasulullah SAW, hingga para sahabat, dan terhenti pada 1924 M. Dulu, aku dapat pengetahuan ini dari mbak kandungku yang alumni IPB dan juga mendapatkan hidayah saat berkuliah disana. Kubuka buka isinya, infographic khas buku Ust. Felix Siauw sebelumnya. Asli nagih!

                                      
 
               Sumber : www.www.monilando.com

Semalaman aku tak bisa tidur. Kubaca isi bukunya. Dannnnnn, logika berpikirku, folder ilmu pengetahuanku menjadi runtut dan sistematis. Ada tiga pilar kejayaan Islam seperti sedia kala, yaitu : 1) Individu yang berakhlak, 2 ) Masyarakat yang 'amar ma'ruf nahi munkar, dan 3) Pemimpin dan sistem kepemimpinan yang menerapkan sistem Islam. Selama ini banyak kekhawatiran sosial, banyak femomena di sekitar yang membuat hati berteriak, dan banyak pula karya komunitas maupun masyarakat berprestasi yang sudah menjejali jagad, lalu kenapa kita tetap terpuruk? Logikaku mencari, dan ini jawabannya. Selama 1 dan 2 berjalan, namun yang ke-3 tidak berjalan, maka silakan menikmati segala kesimpang siuran hari ini.

Lantas, otakku berpikir keras, untuk apa selama ini aku muslim, aku yang merasa termasuk kaum yang dianugerahi intelektual lebih dibanding yang lain, tapi ternyata hasil kepintaranku bukan untuk kemajuan Islam? Subhanallah, aku menangis sejadi-jadinya. Selama ini aku bodoh dan hanya memikirkan kepentinganku saja.

Malam itu pula aku tekadkan untuk berhijrah menuju Islam kaffah. Aku yang biasanya susah sekali dinasehati soal hijab syar'i, yang tidak memakai celana dan rok terpisah dengan baju-baju modis yang biasanya berukuran mini dan kerudung pendek dengan ragam model, tapi lebih pada baju gamis panjang satu helai dan kerudung simpel menutupi dada serta berkaos kaki. Malam itu logikaku hancur. Aku tak kuasa menolak kebenaran Allah. Allah yang menciptakan manusia dan menyediakan serangkaian aturan untuk manusia bisa sejahtera. Lalu, kenapa aku menyangkal?

Selanjunya, ku sortir baju-bajuku yang tak masuk kriteria hijab syar'i, dan kusederhanakan kerudungku, juga menutup aurat kedua belah kaki. Aku tunduk pada MU ya Rabb yang menciptakanku.

Semuanya Menjadi Mudah  

Entah apa yang terjadi kemudian, Allah Maha Pengatur segala sesuatu. Menjelang lebaran tiba, masa-masa ta'aruf (perkenalan) itu datang dengan seorang hamba yang nggak pernah ada dalam prediksiku. Jauh dari logika apapun. Orang yang baru kukenal 31 Mei 2015, sering menghubungi dan menyampaikan maksudnya untuk menikahiku dengan segala latar belakangku. Bukan karena siapa aku, tapi nilai yang ada dalam diriku, begitu katanya. (baca : Cinta, Inilah Perjalanan Takdir)

Awalnya, aku bilang akhir tahun saja menikah sambil menumbuhkan chemistry. Karena pertama kali memakai sistem ta'aruf, jujur aku bingung harus mulai dari mana. Keluarganya dan keluargaku malah memberi restu, kenapa nggak sehabis lebaran aja? Dan saat aku menghubungi sahabat-sahabat terdekatku untuk memohon restu dan diberi petunjuk yang terbaik, semuanya reflek mendoakan dan langsung mengajukan diri meng-handle urusan baju pengantin, souvenir, dan lain-lain. Aku terhenyak. Secepat inikah, Allah? Segalanya berjalan begitu saja. Dengan ijin Mu.

Doa yang disarankan tutor kajian Islamku saat itu,  "Ya Allah, kalau dia yang terbaik untuk keimananku, maka mudahkan..."

Akhirnya, pertemuan aku dan dia yang akhirnya menjadi suamiku saat ini sebelum benar-benar resmi, berlangsung tiga kali. Pertama, saat kami dipertemukan dalam acara komunitas yang kami tak saling kenal sebelumnya. Kedua, saat dia menyampaikan maksud untuk menikahiku dengan langsung datang ke kantorku di Semarang, sekaligus kami menyusun rencana pernikahan. Juga berkenalan via telpon dengan keluarganya maupun keluargaku. Ketiga, H-1 sebelum akad. Kaku semua saat kami bertemu, tapi itulah penjagaan kami.

Hingga setelah akad nikah, aku menangis teharu bukan karena apa-apa, tapi karena mengingat waktu yang singkat tapi dengan perjalanan hidayah dan hati yang panjang dan sikap yang selalu kami jaga dalam mengawal proses hingga diresmikan Allah. Saat selesai akad, mata kami bertemu, tak saling bicara, tapi mata itu penuh syukur dan lega. Aku mencium tangannya dan dia mencium keningku untuk yang pertama kali.

Selesai akad, memegang mahar
Desain kamar pengantin kami dan tema pertemuan dua komunitas


Saat artikel ini ditulis, usia pernikahan kami genap 3 bulan, menjalani bulan keempat, aku sangat bersyukur memiliki suami pilihan Allah itu. Sakinah, mawaddah, warahmah selalu tercermin dalam keseharian kami, inshaallah kini dan nanti. Bagaimana kami bisa saling menghidupkan cinta yang tulus karena Allah dan selalu menikmati setiap detik pernikahan lewat takdir yang Allah gariskan.

Semoga buat kamu yang lagi baca dan belum jelas gambaran jodohmu seperti apa, nggak perlu galau berkepanjangan, coba aja tips berikut yah :

  1. Kenali karakter diri kamu, terutama kadar keimanan kamu di mata Allah, cek udah bener-bener ikhlas atau masih setengah-setengah menjalankan perintah-Nya.
  2. Memperluas relasi seluas-luasnya. Ikuti komunitas yang positif dan berkaryalah.
  3. Tetapkan kriteria calon pendamping hidupmu sesuai dengan tuntunan Allah, bukan standar diri manusia, seperti banyaknya harta atau sempurnanya rupa.
  4. Jauhi pacaran.
  5. Luruskan niat menikah hanya karena Allah, bukan karena faktor lain. 
  6. Tegas pada setiap lawan jenis yang mendekat, tanya tujuannya apa. Saat tujuan banyak membawa pada hal yang diluar aturan Allah, tinggalkan.
  7. Berdoa yang terbaik untuk diberikan jodoh yang terbaik untuk keimanan.
  8. Saat sudah ada calon, kumpulkan informasi dari orang-orang terdekatnya, cari tahu profil dirinya dari medsos atau blog, minta restu dari orang tua dan sahabat terdekat.
  9. Istikharah untuk memantapkan hati.
  10. Jika sudah mantap, tak usah berlama-lama, tetapkan rencana, dan jagalah pergaulan sampai harinya tiba.
Aku doain yah buat semuanya, cepat dipertemukan dengan jodoh terbaik menurut-Nya. Amin. Semoga bermanfaat sharing ini:) 


Prita Hw

2 komentar:

  1. kaaaaaak, baru baca postingan ini.sempet terharu *hikssss. mudah mudahan aku bisa melakukan penjagaan untuk diriku sampai nanti dipertemukan������

    BalasHapus