Indonesia, Buku, dan Budaya Membaca*

Peradaban dunia yang telah bergerak semakin modern dewasa ini merupakan hasil peradaban manusia di dalamnya yang terus berkarya dari zaman ke zaman secara berkesinambungan. Begitu pula dengan kemunculan buku, maha karya anak manusia yang tak lekang oleh zaman, yang hingga saat ini masih diakui peranannya sebagai sarana mengembangkan ilmu pengetahuan, wawasan serta sarana perekam peristiwa bumi yang terus berlangsung.

Esensi Penting Sebuah Buku
Buku yang secara fisik dapat didefinisikan sebagai kumpulan kertas yang terangkum menjadi satu bagian ini tidak dipungkiri lagi merupakan sesuatu yang sangat penting dari masa ke masa, begitu pula bagi perkembangan manusia. Mengapa disebut penting ? Banyak orang yang mengatakan buku adalah jendela dunia dan jendela pengetahuan, karena berawal dari buku-lah awal pembukaan cakrawala berpikir untuk masuk ke dunia yang lebih kaya dan lebih luas. Disebut jendela dunia, sebab hanya dengan duduk ditemani sebuah buku dan secangkir teh manis kita bisa menjelajah dunia kemanapun kita mau, bahkan yang belum pernah kita kunjungi secara fisik pun, dan tentu saja hal ini meminimalisasi batasan ruang dan waktu.  
Diantara beragam kecerdasan yang dikenal dalam psikologi, seperti kecerdasan bahasa, logika, visual, auditoris, kinestetis, komunikasi verbal, spiritualitas, dan yang lain, kesemuanya dapat dirangkum, dimunculkan, ditumbuhkan, dikembangkan, sekaligus direkam oleh buku. ( Budi Susilo, Gunawan : Buku dan Budaya Membaca : Indonesia yang tertunda )

Meski arus global yang banyak memasukkan unsur teknologi saat ini sedang menggema di mana-mana, sebuah buku yang secara awam terkesan manual karena masih dianggap paper-based, tetap tidak akan kalah pamor. Hal tersebut dikarenakan sebuah proses pembelajaran yang panjang sepanjang masa tidak akan pernah lepas dari kegiatan membaca yang di dalamnya sangat kental melibatkan peran buku. Sejarah telah bertutur bahwa di masa lampau, nenek moyang kita dengan sungguh-sungguh menyempatkan diri untuk menuliskan ilmu pengetahuan ataupun pesan penting di zaman itu pada batu, kulit binatang, kayu, ataupun daun, bahkan dibuat prasasti. Hal itu menunjukkan pada kita bahwa peranan media tulis yang kemudian dibaca banyak orang menjadi sedemikian penting, sehingga tak heran bila warisan budaya masa lampau sampai hari ini masih merupakan barang berharga yang mendatangkan added value. Buku akan tetap berjaya dalam kebudayaan masa kini, bergantung pada bagaimana manusia menempatkan tataran buku menjadi bagian dari sebuah kebudayaan modern.

Selain media buku yang merupakan kanal bagi aktivitas membaca, aktivitas membaca sendiri ternyata memiliki banyak manfaat yang mungkin secara ilmiah belum banyak diketahui masyarakat kita sacara universal. Sebuah studi mengatakan bahwa aktivitas membaca dapat meningkatkan fungsi otak manusia. Yang melatar belakanginya adalah manusia terlahir dengan 100 – 200 milyar sel otak yang siap dikembangkan secara optimal, sehingga dapat menentukan intelegensi, kepribadian, dan kualitas hidup seseorang. Dan dikatakan juga, produksi sel neurogial ( = sel khusus yang terdapat pada unit dasar otak ) berkembang lebih tinggi karena aktivitas membaca disebabkan adanya akselerasi proses berpikir. ( Thompson, Berger, Berry dalam Clark, 1986 )

David C McLelland mengembangkan teori Max Weber, The Protestan Ethic, yang menguraikan bahwa bangsa Eropa Barat yang kini pun berkembang di Amerika adalah bangsa yang paling sukses dalam meraih kesejahteraan di dalam sistem kapitalisme selama ini, dan teori Abraham Maslow, Theory of Hierarchy Needs ( yang terdiri dari the need for self-actualization, the esteem needs, the love needs, the safety need). Ia menelaah lebih jauh lagi, bahwa ternyata  tiap masyarakat yang sukses meraih kesejahteraan adalah yang memiliki kandungan need of achievement (n-ach) atau dorongan untuk berprestasi yang tinggi. Dapat ditarik benang merah bahwa dorongan berprestasi (need of achievement) yang tinggi yang terdapat pada masyarakat yang sukses diawali dengan kebiasaan gemar membaca dan memiliki sense of interest dan sense of cares yang tinggi terhadap masalah buku. Dengan kata lain, tidak ada orang yang sukses maupun bangsa yang besar yang terlepas dari kebiasaannya menghargai buku dan membiasakan diri untuk memiliki budaya membaca.

Buku dan Budaya Membaca
Yang patut dipertanyakan saat ini adalah “ apakah buku dan budaya membaca menjadi bagian yang penting di negara ini ? “ dan “ dalam tataran bagaimana bangsa ini menempatkan buku sebagai bagian dari sebuah kehidupan modern ? “
Negeri ini patut berbangga bila melihat prosentase angka melek huruf yang mencapai 87 % ( menurut penelitian Jane Campbell ), namun yang memprihatinkan dan  yang juga harus membuat negeri ini tidak cepat berbangga adalah kenyataan yang mengatakan bahwa melek huruf pada masyarakat Indonesia sampai saat ini hanya sampai pada tataran melek huruf secara teknis, dalam artian mereka hanya tahu bunyi sebuah tulisan atau rangkaian huruf yang ada untuk dibaca. Padahal, masih terdapat dua tahapan selanjutnya dalam proses membaca, antara lain : tahapan membaca secara fungsional, artinya mereka tahu apa yang dibacanya dan tahu implementasinya untuk pekerjaannya, sedangkan yang berikutnya adalah tahapan membaca secara budaya, artinya mereka tahu apa yang dibaca dan lebih kritis, serta dapat memberikan wacana untuk pencerahan. Masih sedikit sekali bila dilihat dari total penduduk Indonesia yang masuk dalam tahapan kedua dan ketiga seperti yang tersebut di atas. Kedua tahapan membaca tersebut sebagian besar masih melibatkan kalangan intelektual negeri ini, bisa mereka yang mengenyam pendidikan formal yang memadai, para pendidik, mahasiswa, maupun praktisi. Fakta ini semakin menunjukkan bahwa pemerintah selaku pembuat kebijakan tertinggi negeri ini belum mampu berbuat banyak dalam tahapan proses membaca secara lebih jauh.

Selanjutnya, masalah yang masih cukup kompleks sekaligus menyedihkan adalah fenomena minat baca yang rendah pada hampir seluruh masyarakat kita. Mengapa demikian ? Sudah menjadi fenomena umum di negeri ini bahwa budaya lisan atau budaya mendengar lebih kuat mengakar dalam tradisi masyarakat dibandingkan budaya membaca. Hal ini terlihat pada realita yang sering kita temui di masyarakat, semisal lebih suka mendengar cerita dari orang lain daripada membaca sendiri, lebih nyaman mengisi waktu luang saat menunggu ataupun tidak melakukan aktivitas yang berarti dengan ngerumpi daripada menjatuhkan pilihan pada membaca, lebih senang pada tayangan-tayangan yang di-dubbing daripada harus membaca teks terjemahan tertulis dalam suatu tayangan, lebih riang menonton versi layer lebar dari sebuah cerita atau mendengarkan pembacaan puisi ataupun cerpen daripada membaca teks tertulis atau bukunya sendiri, dan sederet realita yang lain. Mengutip apa yang dikatakan Gunawan Susilo, norma dan etika sosial masyarakat belum menempatkan tulisan sebagai bagian dari keberadaban. Menyedihkan bila mengingat budaya yang seperti ini secara perlahan-lahan pasti juga akan berimplikasi pada perkembangan budaya membaca generasi selanjutnya, yaitu anak-anak dan remaja. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menghargai buku dan aktivitas membaca, dapat dikatakan sangat beruntung mengingat arus budaya lisan yang sulit untuk ditebas sampai ke akarnya, namun hanya dapat diminimalisir. Sedangkan bagi yang tidak, mereka harus rela mengikuti pola tradisi orang-orang terdahulunya, padahal sebenarnya mereka belum tentu ingin dan tahu apa yang dimaksud. Maklum memang, abak memang cenderung menjadi duplikat orang yang mendidiknya sejak kecil. Ketika anak menginjak usia remaja, selain keluarga, pengaruh lingkungan pergaulan dan komunitas sehari-harinya akan sangat memberikan warna pada pemahamannya pada buku dan aktivitas membaca.

Dan lagi, penetrasi media elektronik yang dengan gencar dipublikasikan dimana-mana semakin membuat media tertulis ditinggalkan. Mulai dari radio, televisi, play station, media player game, handphone, sampai komputer sangat memberikan pengaruh yang apabila tidak dapat menempatkannya pada tataran yang sewajarnya, seseorang bisa saja terjebak ataupun diperbudak teknologi. Pada dasarnya, teknologi diciptakan dengan tujuan untuk mempermudah kehidupan manusia, sehingga segalanya bisa ter-automasi, canggih, cepat, dan efisien. Namun, sekali lagi negeri ini bukanlah inovator sebagian besar kemajuan teknologi tersebut, sebagian besar berasal dari negara-negara maju, seperti negara barat, Amerika, atau raksasa teknologi Asia, seperti Jepang dan Cina. Sehingga bisa diraba bahwa masyarakat kita tidak siap dengan ledakan yang begitu dahsyat, mangalir tanpa henti di tengah kegersangan inovasi dan budaya yang saat ini terjadi. Alhasil, banyak yang menjadi korban teknologi, berupaya west minded, mem’bebek’ life style masyarakat negara maju, tetapi malahan salah tujuan.

Hal ini membawa angin segar bagi dunia teknologi di Indonesia. Di saat minat baca masyarakat rendah, teknologi datang menawarkan sesuatu yang menarik. Dominasi televisi tampaknya menjadi perhatian tersendiri. Televisi yang mengalahkan buku dalam menarik perhatian sebagian besar masyarakat ini sepintas memang tampak lebih menarik, bagaimana tidak, jika buku hanya menyajikan konsep visual karena harus dilakukan dengan membaca, televisi menyajikan konsep audio visual. Audio yang cukup mendukung budaya lisan dirasa tepat, dan secara visual, telavisi berbentuk gambar bergerak, kaya warna, dan sangat memanjakan penontonnya dengan tayangan-tayangan yang kebanyakan memuaskan gairah pragmatis dan memberikan wacana yang tidak terlalu dalam. Dengan konsep yang demikian, televisi bersifat linier, sejurus, simplistik, pasif, dan kurang kritis. Selain itu juga menawarkan kreativitas imajinatif dan perkembangan kognitif yang rendah. Lain halnya buku, yang dengan konsep visualnya, membuat otak berpikir karena sifatnya yang dua arah melibatkan pembaca dalam wahana bahasannya, sehingga buku lebih bersifat kritis, memacu kreativitas, dan evaluatif. Selain televisi, permainan-permainan elektronik juga cukup memberikan ancaman yang mengerikan jika terus berlangsung menjadi aktivitas mengisi waktu luang di kalangan anak-anak. Anak-anak menjadi kurang mobilitasnya, introvert karena jarang membina hubungan dengan sesamanya, serta sulit untuk mengungkapkan pendapatnya. Seluruh inovasi teknologi bila tidak disikapi dengan baik memang pada kenyataannya akan lebih berimplikasi negatif. Pengikisan hubungan interpersonal dalam pergaulan dengan aling-aling efektifitas waktu dalam dunia tekonogi, akan dapat memberikan dampak yang serius, yaitu mengikisnya nilai-nilai kemanusiaan pada seseorang yang esensinya diciptakan sebagai makhluk sosial.

Lebih jauh lagi, minat baca yang rendah juga berakar dari daya beli masyarakat yang rendah. Tingkat ekonomi yang tidak memungkinkan memikirkan keperluan lain selain sandang, pangan, papan, atau ketidak tahuan masyarakat tentang masalah buku, atau pula tidak dijadikannya buku sebagai prioritas atau dengan kata lain tidak pernah terlintas sedikitpun untuk memasukkan buku sebagai daftar belanja bulanan sebuah rumah tangga maupun seseorang. Faktor-faktor tersebut bisa jadi menjadi alasan daya beli masyarakat yang rendah. Mengingat masalah perbukuan di Indonesia yang mirip benang kusut, penerbit tentu tak mau mengambil resiko dengan menerbitkan jumlah buku yang belum tentu terjual habis sesuai waktu yang diperkirakan. Selain itu, penulis yang kesejahteraan dari profesinya masih terus diragukan, juga menunggu penerbit yang hendak menerbitkan karyanya. Juga masalah distribusi buku yang tidak merata di seluruh pelosok negeri sehingga harus mengorbankan sebagian masyarakat yang harus rela kehilangan akses terhadap buku dan ketersediaan bahan bacaan lain.

Secercah Harapan di Masa Depan
Sebuah problema tentu masih menyisakan sebuah harapan yang mungkin untuk terealisasi bila ada satu langkah pasti untuk memulai langkah yang panjang dan melelahkan. Siapa pun yang memperhatikan dunia perbukuan dan kondisi budaya membaca masyarakat kita tentu tak menolak bila harus menyebut fenomena ini sebagai fenomena yang ‘semrawut’, susah ditemukan ujung pangkalnya bila tak ada yang menguraikan satu persatu.

Indonesia, sejak zaman dahulu kala hingga kini selalu menarik untuk menjadi perhatian publik di seluruh dunia. Faktor utama yang menjadikan negeri ini selalu menjadi ‘target operasi’ beberapa proyek, entah proyek sebenarnya atau proyek yang memiliki udang di balik batu, tidak lain adalah jumlah penduduk Indonesia yang luar biasa melimpah dan masuk dalam lima besar tingkatan negara berpenduduk terbanyak di semesta ini, selain kekayaan sumber daya yang banyak tereksploitasi oleh masyarakat asing demi kepentingan negeri asalnya. Jumlah penduduk Indonesia yang sampai tahun 2005 terakhir ini mencapai + 200 juta jiwa merupakan pasar yang potensial, yang dalam kacamata dunia perbukuan dan upaya yang mangarah pada proses pembudayaan membaca, merupakan sesuatu yang bisa dikembangkan menjadi pembaca potensial. Hal ini barangkali bisa diawali dengan gerakan yang gencar untuk merubah image buku yang masih dianggap kuno, manual, berdebu, tidak modern, ataupun nggak gaul dalamn masyarakat kita secara umum. Image buku bisa dirubah dengan kampanye yang dapat menggambarkan bahwa buku merupakan bagian dari kehidupan modern, bisa sebagai sarana penjelajahan dunia, teman di kala luang yang siap memberikan kita kenikmatan luar biasa, dan dapat meningkatkan daya kreatif serta dorongan untuk berprestasi di semua aspek bagi semua tingkatan usia, mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa, bahkan lansia. Tentunya hal ini juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas buku yang makin menarik, seperti beragamnya topik dan jenis buku, berkualitasnya isi di dalamnya, full colour-nya cover, serta icon kampanye yang seharusnya tak kalah dengan icon iklan fashion atau produk yang digemari masyarakat. Jika perlu buku dapat menjadi pengganti permainan-permainan yang sedang menggejala ataupun membaca buku diibaratkan menikmati es krin dan merasakan kelezatan yang tek terhingga di dalamnya. Sehingga nantinya seseorang yang akrab dengan buku tidak lagi dijuluki ‘kutu buku’ tetapi lebih pada istilah yang dianggap modern dan smart dalam pergaulan, misalnya ‘anak gaul itu suka baca buku !’ Ini bisa jadi suatu langkah awal untuk dijadikan kunci pembuka menyusuri jalan yang berliku di depan sana. Paradigma berpikir yang menganut pemahaman kuno tentang buku dan aktivitas membaca harus diubah terlebih dulu.

Secercah harapan juga ditunjukkan dengan dimulainya masa reformasi bangsa ini sejak tahun 1998 hingga kini. Masa ini bisa dijadikan momentum untuk membuka peluang bagi dunia perbukuan nasional untuk mengepakkan sayapnya di tengah-tengah masyarakat. Saat masa orde baru, hampir sudah menjadi rahasia umum bila dunia perbukuan mendapatkan perlawanan di sana-sini, terutama bila karya tertulis tersebut dikategorikan termasuk dalam golongan kiri yang dianggap bisa mengancam keberlangsungan rezim yang berkuasa pada saat itu, sehingga tak ayal banyak buku yang terpaksa harus ditari dari pasaran, tidak diijinkan terbit, penulis yang diasingkan, dan lain sebagainya. Setelah rezim orba tumbang, perkembangan yang cukup menggembirakan adalah maraknya buku-buku populer, seperti fiksi, kisah-kisah kehidupan, komik, dari dalam maupun luar negeri, yang seakan membangkitkan gairah membaca masyarakat kita, terutama anak-anak dan remaja, meski tidak semua, cukup untuk dijadikan batu loncatan bagi masalah minat baca dan perbukuan di negeri ini. Setidaknya, peristiwa yang terjadi pada masa orba tidak akan terulang lagi di masa reformasi seperti saat ini, meskipun problema kini beralih dalam konteks lain yang juga kompleks. Namun, setidaknya ini bisa menjadi helaan nafas yang cukup melegakan.

Esensi buku yang akan terus menyertai proses pembelajaran seumur hidup juga memiliki keberuntungan tersendiri. Proses belajar tidak akan berhenti, baik secara formal maupun non formal. Buku akan terus digunakan sebagai alat rekam proses berpikir dan inovasi manusia, juga berbagai peristiwa, serta tingkah pola kehidupan, yang nantinya akan menjadi mata rantai warisan budaya yang terangkum dalam sejarah. Meski teknologi kini sedang membanjiri sendi kehidupan kita, buku tidak akan ada duanya, mengingat efek keterlupaan dan error system yang minim, yang biasanya justru terjadi pada produk teknologi. Namun, preservasi yang baik sangat diperlukan untuk melestarikan bahan bacaan berbahan dasar kertas tersebut.

Ketiga faktor yang telah dikemukakan di atas, yaitu jumlah penduduk yang merupakan pangsa pasar potensial, masa reformasi yang memberikan angin segar, serta esensi buku yang akan terus menyertai proses pembelajaran seumur hidup, disadari atau tidak merupakan potential lost yang selama ini dimiliki negara kita. Seandainya ini bisa dijadikan cambuk untuk lebih keras lagi mengeksplorasi harapan-harapan yang tersisa, bukan tidak mungkin kita akan menjadi sebuah bangsa yang besar dan sejahtera sebab masyarakatnya berhasil menempatkan buku dan budaya membaca sebagai bagian dari elemen sinergi ke arah kemajuan tingkat kecerdasan bangsa.

Gerakan Pembudayaan Membaca dan Menghargai Buku  
Untuk meneruskan langkah awal yang telah ditempuh dalam memulai proses pembudayaan membaca dan menghargai buku sebagai bagian dari kehidupan modern, diperlukan suatu upaya yang berbentuk gerakan secara konstruktif dan berbasis elemen masyarakat secara keseluruhan. Gerakan ini harus memiliki konsep yang komprehensif sebagai bentuk dari kampanye nasional.
Tidak ada yang harus menjadi kambing hitam untuk sebuah problema di dunia perbukuan dan budaya membaca. Namun, seluruh komponen memang harus melakukan introspeksi dan cepat-cepat berbenah. Seluruh komponen itu terdiri dari orang tua, guru dan pihak institusi pendidikan, pustakawan dan perpustakaan, penulis dan penerbit, toko buku, serta komunitas relawan dan masyarakat secara menyeluruh. 

Kampanye nasional ini nantinya harus melibatkan kerja sama seluruh komponen tersebut, kebijakan-kebijakan yang dibuat haruslah berkesinambungan satu sama lain, sehingga tidak ada kebijakan yang bertentangan. Misalnya, kurikulum pendidikan sekolah yang memasukkan banyak aktivitas membaca pada konsep joyfull learning, semangat senang membaca haruslah benar-benar diimplementasikan dalam dunia pendidikan, sejak usia dini dalam lingkup sekolah, anak-anak harus dibiasakan memiliki tugas membaca, membuat jurnal sederhana, membuat laporan bacaan atau membuat resensi buku yang telah dibaca. Bila ini dilakukan, daya kritis dan daya nalar anak-anak akan terasah sejak dini dan tidak ada kata terlambat atau penyesalan saat usia mereka menginjak remaja. Kampanye nasional ini nantinya akan memiliki program-program yang melibatkan masyarakat yang ingin berpartisipasi secara sukarela, serta melibatkan komunitas relawan yang sudah ada seperti 1001 Buku, Sanggar Anak Akar, Pustakaloka Rumah Dunia, dan masih banyak lagi.

Perpustakaan dengan pustakawannya, toko buku, penerbit dan penulisnya dapat menjadi panitia penyelenggara acara-acara seperti Book Fair, Cuci Gudang Buku, Seminar, Kompetisi Membaca, Meresensi, Menulis, Mendongeng, Diskusi Interaktif mingguan, Bengkel Penulisan Kreatif, Bedah Buku, Pertemuan Peresensi, Penulis, dan Pembaca, serta sosialisasi masyarakat melalui pembinaan-pembinaan keluarga yang terhimpun dalam kelompok-kelompok guna menumbuhkan minat membaca. Sosialisasi perlu dilakukan mengingat minat membaca akan muncul berawal dari motivasi diri sendiri yang tidak dapat dipaksakan oleh orang lain. Pembuatan Koran Kecil yang khusus diterbitkan untuk kalangan anak-anak juga perlu untuk dicoba.

Orang tua sebagai satu-satunya pember pengaruh terbesar harus juga memanjakan anak-anak mereka dengan bahan bacaan pilihan, mendongeng untuk anak, serta mengajari anak membaca secara nyaring sejak dini. Bila saat ini tuntutan berkarir menjadi prioritas yang lebih penting daripada memanjakan anak-anak dengan didikan untuk perkembangannya, lembaga seperti perpustakaan seharusnya peka dengan membuat program mendongeng, mengajari membaca, dan sebagainya agar anak-anak tidak menjadi korban. Lembaga juga perlu untuk membentuk Klub Baca tersendiri yang memberikan fasilitas-fasilitas menarik bagi anggotanya, serta menciptakan suasana sharing antar anggotanya.

Pemerintah berperan besar dalam pembuatan kebijakan yang di-paten-kan seperti Gerakan Wajib Belajar 9 Tahun atau Program KB yang bisa dibilang cukup sukses. Promosi melalui media massa, seperti surat kabar, radio, tevisi, dan internet perlu dilakukan dengan membuat iklan layanan masyarakat dengan menampilkan image buku dan budaya membaca yang baru, segar, dan fun.  

Kesimpulan 
Esensi buku yang sangat penting dalam membuka wawasan, pengetahuan, serta cakrawala berpikir, dan pendamping proses pembelajaran seumur hidup, hendaknya dipahami sebagai suatu penghargaan yang tinggi dalam menempatkan buku dan budaya membaca sebagai suatu bagian peradaban dari kehidupan modern dewasa ini. Apalagi ditambah dengan mengingat manfaat membaca yang sangat baik dalam melatih sel-sel otak menuju pribadi yang selalu bersemangat untuk menjadi lebih baik dan membuahkan prestasi yang lebih tinggi. Membaca dapat pula memberikan manfaat dan nilai guna yang semata-mata bukan hanya demi meningkatkan indeks melek huruf, melainkan juga melengkapi aspek kerohanian masyarakat Indonesia. Aspek rohani inilah yang nantinya akan menjadi sumber energi bagi intelektualitas, sikap hidup, dan kepribadian manusia yang positif.

Pertanyaan sampai sejauh mana buku dan budaya membaca menjadi bagian yang penting dalam masyarakat kita, agaknya harus membawa kita untuk menganaliasa ketertinggalan negeri ini dalam hal tersebut. Yang melatar belakangi hal tersebut adalah : (1) masih banyaknya angka melek huruf penduduk Indonesia, yaitu 87 % berada pada tahapan membaca secara teknis, belum masuk pada tahapan membaca secara fungsional, apalagi secara budaya, (2) budaya lisan yang mengakar lebih kuat dalam tradisi masyarakat ketimbang budaya membaca, (3) penetrasi media elektronik yang masuk seiring dengan rendahnya sense of interest masyarakat pada aktivitas membaca, dan (4) daya beli masyarakat yang rendah, yang banyak melibatkan kebingungan antara masyarakat yang mengabaikan buku, penerbit yang takut gulung tikar, penulis yang tidak terwadahi dengan baik, dan distribusi buku yang tidak merata.

Secercah harapan yang muncul di tengah problema yang kompleks ini bertolak dari potential lost yang banyak tidak disadari, diantaranya : (1) jumlah penduduk Indonesia yang mencapai + 200 juta jiwa yang merupakan pangsa pasar potensial untuk diubah menjadi pembaca potensial, (2) masa reformasi yang cukup memberikan hawa segar badi dunia perbukuan dan minat membaca masyarakat dengan terbukanya akses bahan bacaan tanpa ada pencekalan, dan (3) buku yang masih akan menjadi rekan setia proses pembelajaran seumur hidup yang mengenyampingkan aspek keterlupaan dalam perekaman peristiwa kehidupan dan tidak adanya efek error system disbanding media elektronik, namun tetap diperlukan preservasi yang memadai. 

Terakhir, akan terasa lebih melegakan bagi kita semua bila Gerakan Pembudayaan Membaca dan Menghargai Buku benar-benar direaliasaikan dengan konsep yang jelas dan secara signifikan didukung oleh seluruh komponen, mulai dari orang tua, guru dan pihak institusi pendidikan, pustakawan dan perpustakaan, penulis dan penerbit, toko buku, serta komunitas relawan dan masyarakat secara menyeluruh. Langkah awal bisa dimulai dengan merubah image buku yang kuno, tidak modern, dan statis menjadi icon baru yang menyatakan buku sebagai suatu yang gaul, modern, dan dinamis.

Referensi 
Anthon, Tonggo, “Untuk Apa Bersastra?”,
http://www.indomedia.com/poskup/2005/07/13/edisi13/1307pin1.htm
Budi Susilo, Gunawan, “Buku dan Budaya Membaca :
Indonesia
yang Tertunda”, Mata Baca Volume 2, No. 12, Agustus 2005.
Bukhori, Ahmad, “Menciptakan Generasi Literat”
Bunanta, Murti, “Menjadikan Anak Pembaca yang Baik”, Kompas 2 Mei 2004.
Faqih HN, Ahmad, “Sekilas tentang Motivasi Berprestasi”,
http://www.google.com/search?hl=id&q=need+of+achievement+%28n-ach%29+&btnG=Cari&lr=lang_id
Pustakaloka, Kompas, 17 April 2004.
Pustakaloka, Kompas, 22 Mei 2004.
Sukur, Silvester G, “Benang Kusut Distribusi Buku di Indonesia”, Mata Baca Volume 2, No. 12, Agustus 2005.

*dimuat di Buletin Perpustakaan Universitas Airlangga, Mei-Juni 2008 

Prita Hw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar